공유

17

작가: Pena Malam
last update 게시일: 2026-05-31 08:20:05

Sementara itu.

Om Budi sudah berada di hotel setelah hampir setengah jam menempuh perjalanan dengan motornya. Pria itu duduk santai di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya. Namun meski terlihat tenang, matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar.

Jelas sudah tak sabar.

“Lama juga…” gumamnya pelan sambil melihat jam di layar ponsel.

Sudah hampir setengah jam ia menunggu.

<
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   44

    Keesokan paginya, Aya mengantar Dea ke depan rumah, dimana ojek online sudah menunggu gadis itu. “Nanti aku nginep lagi ya,” ucap Dea sambil senyum nakal. “Iya,” jawab Aya santai. Dea lalu mendekat lagi sedikit sambil menahan tawa. “Salam buat Om Budi ya. Bilang aja aku nggak sempat pamit.” Setelah itu ia sengaja mengedip genit. Aya langsung mendengus kesal. “Genit banget sih.” “Hehehe… salah sendiri om kamu ganteng,” balas Dea tanpa dosa, lalu cepat-cepat naik ke atas motor sebelum Aya mencubitnya. Aya cuma geleng-geleng kepala sambil melambaikan tangan ketika motor itu mulai melaju meninggalkan rumah. Setelah Dea menghilang di tikungan, Aya kembali masuk ke dalam r

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   43

    Suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar. "Om, liat Aya nggak ya?" tanya Dea dari balik pintu. Aya langsung keringat dingin, tubuhnya menegang. Matanya panik, tapi Om Budi cepat memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir, agar gadis itu diam jangan bersuara. Ia bangkit, buru-buru mengenakan sarung dan kaos, lalu melangkah ke pintu. Dengan hati-hati, Om Budi membuka pintu hanya setengah, menahan daun pintu dengan bahunya agar Dea tidak bisa melihat isi kamar. "Kenapa, Nak Dea?" tanyanya tenang, meski napasnya masih berat. Dea menatapnya sebentar, lalu buru-buru menunduk. "Eh, Om… maaf ganggu. Aya kemana ya, kok di kamarnya enggak ada.?" "Oh, anu…" Om Budi berpikir cepat. "Mungkin di kamar mandi, Biasa dia suka lama kalau lagi di sana." "Oh…" Dea mengangguk kecil

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   42

    Om Budi tersenyum tipis sambil menahan tubuh Aya yang sudah terlihat tidak sabar. “Sabar, Ay. Jangan buru-buru.” Pria itu lalu berdiri dari ranjang dan mulai membuka baju dan celananya satu per satu. Aya yang terbaring di ranjang hanya memperhatikan, pandangannya jatuh ke tubuh Om Budi yang mulai telanjang. Gadis itu meneguk ludahnya sendiri. Wajahnya memanas, sementara jantungnya berdetak makin cepat saat melihat batang pria itu yang sudah mengeras dengan ukuran yang sangat besar. "Kenapa Ay,?" tanya Om Budi yang paham dengan reaksi gadis itu. Aya tidak menjawab. Namun hatinya mulai ragu. “Apakah milik Om Budi bisa masuk,” batinnya. Om Budi yang melihat itu hanya tertawa pelan, lalu naik ke atas ranjang mendekati tubuh Aya. “Rileks aja Ay, jangan tegang.” Tangannya langsung mengusap paha Aya dengan gerakan pelan. “Om mau kita sa

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   41

    Aya sempat ragu sepersekian detik, tapi nafsu langsung mengalahkan logikanya. Wajahnya memerah, napasnya tersengal-sengal saat ia mengikuti langkah Om Budi menuju kamar. Pintu kamar langsung ditutup dan dikunci. Belum sempat Aya berdiri tegak, Om Budi sudah menarik tubuhnya mendekat, lalu memeluknya dengan erat. Bibir pria itu langsung menyerang leher Aya, menciuminya, menjilat dan menggigitnya pelan, sementara tangan besarnya masuk ke balik kaos Aya, meremas dan mencubit puting gadis itu yang terbungkus bra. Aya menjerit kecil, suaranya tertahan di tengah ciuman dan sentuhan itu. Tapi ia tidak menolak bahkan tangannya mulai melingkar di leher Om Budi menariknya lebih dekat. “Om…Ahh” Om Budi kemudian mendorong tubuh Aya ke ranjang.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   40

    “Apa maksudnya, Ay?” tanya Om Budi seperti ingin memastikan kalau ia tidak salah mendengar. Aya gugup. Dadanya naik turun cepat. Namun ia tidak mundur, juga tidak berniat menarik kembali kata-katanya. “Om pasti ngerti maksud Aya.” Jawaban itu terdengar jelas di telinga Om Budi. Pria itu terdiam sesaat. Tatapannya menajam ke wajah gadis itu, seolah mencari tanda bahwa Aya hanya sedang bercanda. Namun ekspresi Aya tetap terlihat serius. “Ay...” ucap Om Budi pelan. “Jangan main-main sama omongan kamu.” Aya menatap balik pria itu. Napasnya mulai tidak teratur, sementara dadanya bergemuruh hebat. Ia sadar betul ucapan tadi bukan hal kecil, bisa me

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   39

    Aya masih belum bisa memejamkan matanya. Entah kenapa, kedekatan Om Budi dan Dea sejak tadi terus mengusik pikirannya. Ia menggeliat ke kiri kanan, berusaha memejamkan matanya. Namun semakin di paksa semakin sulit terpejam. “Ih kenapa susah banget sih tidur.” gerutunya. Sementara itu, Dea yang tidur di sampingnya sudah terlelap tanpa beban. Tiba-tiba Aya merasa haus. Akhirnya ia bangkit pelan dari kasur lalu berjalan keluar kamar menuju dapur. Suasana rumah sudah sepi. Lampu dapur yang redup menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan malam itu. Saat Aya sedang menuangkan air ke dalam gelas, suara Om Budi tiba-tiba terdengar dari belakang. “Kamu belum tidur, Ay?”

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status