Share

Hangatnya Dekapan Om Budi
Hangatnya Dekapan Om Budi
Author: Pena Malam

1.

Author: Pena Malam
last update publish date: 2026-05-04 23:09:22

Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya.

Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum, lalu duduk kembali di sofa sambil memijat tengkuknya pelan, namun baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama di layar membuat alisnya sedikit terangkat.

Rini.

Adik almarhum mendiang istrinya.

“Halo?”

“Mas... maaf ganggu.”

Suara Rini terdengar ragu.

“Iya, Rin. Ada apa?”

“Ini soal Aya.”

Om Budi langsung diam.

Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu.

“Aya kenapa?”

“Dia jadi kuliah di kota, Mas.” Rini menarik napas kecil. “Aku kepikiran kalau dia ngekos sendirian. Pergaulan sekarang serem. Jadi... kalau Mas nggak keberatan... Aya boleh tinggal di rumah Mas dulu?”

Om Budi menyandarkan tubuhnya perlahan.

Aya.

Anak perempuan yang di adopsi adiknya, Sudah hampir sepuluh tahun mereka tak bertemu.

“Kalau Mas nggak nyaman sih nggak apa-apa...” lanjut Rini hati-hati.

Om Budi mengusap dagunya pelan.

“Dia datang kapan?”

“Lusa mungkin.”

Beberapa detik hening.

“Ya udah,” jawab Om Budi akhirnya. “Biar tinggal di sini dulu.”

Nada lega langsung terdengar dari suara Rini.

“Makasih ya, Mas.”

Telepon itu tak berlangsung lama. Setelah sambungan terputus, Om Budi masih duduk diam memandangi ruang tamu yang makin sepi.

Aya.

Entah seperti apa anak itu sekarang.

Om Budi tersenyum tipis sendiri sebelum akhirnya bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya.

**

Keesokan paginya, Om Budi sudah berada di teras rumahnya sambil berolahraga.

Kaos tanpa lengan yang dipakainya basah oleh keringat. Nafasnya masih stabil meski barbel di tangannya terus bergerak naik turun, meski usianya sudah kepala lima, tapi tubuhnya masih bugar jauh dari kata tua.

“Pagi, Om.”

Suara perempuan membuat Om Budi menoleh.

Mirna berdiri di depan pagar sambil membawa kantong belanjaan. Wanita itu tersenyum kecil sebelum masuk ke halaman.

“Pagi,” jawab Om Budi santai. “Eh Mir, nanti tolong siapin kamar tengah ya.”

Mirna mengangkat alis.

“Ada yang mau tinggal?”

“Iya, keponakan.”

“Cewek?”

Om Budi terkekeh kecil.

“Iya.”

Mirna mendecih pelan sambil berjalan masuk ke dapur.

“Wah... berarti rumah ini bakal rame lagi.”

Om Budi hanya tersenyum samar.

Sejak istrinya meninggal, Mirna memang jadi orang yang paling sering datang ke rumah itu. Awalnya hanya membantu memasak dan bersih-bersih, tapi lama-lama hubungan mereka berubah semakin dekat. Mirna masih muda untuk ukuran janda. Tubuhnya padat berisi, kulit sawo matangnya terlihat manis, dan cara bicaranya sering kali menggoda tanpa sadar.

Om Budi masuk ke dapur mengambil air minum.

Mirna yang sedang memotong sayur melirik sekilas ke arah tubuh pria itu yang masih basah oleh keringat.

“Om kuat juga ya olahraga pagi-pagi gini,” godanya pelan.

Om Budi meneguk air sebelum tersenyum tipis.

“Kalau badan nggak dijaga, nanti cepat tua.”

Mirna terkekeh kecil.

“Pantes Om keliatan muda terus.”

Om Budi tersenyum, dan seketika gairahnya mulai bangkit, perlahan ia mendekati Mirna, namun baru saja hendak mencium pipi wanita itu, Mirna langsung menepis.

“Om mandi dulu sana. Acem tau.”

Om Budi malah terkekeh, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya masih basah, sementara tetesan air turun melewati dada bidangnya.

Langkahnya terhenti saat melihat Mirna sedang mengepel lantai ruang tengah.

Tubuh wanita itu membungkuk pelan mengikuti gerakan pel.

Om Budi mendekat tanpa suara.

Tangannya langsung melingkar di pinggang Mirna dari belakang.

“Om...” napas Mirna langsung tercekat kecil.

Bibir Om Budi menyentuh tengkuk wanita itu dengan lembut.

“Saya udah nggak tahan dari tadi” bisiknya.

Mirna menggigit bibirnya pelan. Ia tahu tatapan Om Budi seperti itu berarti pria itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran.

Tanpa banyak bicara, wanita itu berbalik lalu membantu melepaskan handuk yang melilit pinggang Om Budi.

Napasnya langsung tercekat.

Meski sudah beberapa kali bersama, entah kenapa jantung Mirna selalu berdebar tiap melihat pria itu dalam keadaan seperti ini.

“Ayo sini, Mir...” suara Om Budi terdengar berat dan parau.

Mirna tersenyum tipis. Tangannya melingkar di leher pria itu, sementara bibir mereka mulai saling bertaut penuh gairah.

Suasana ruangan perlahan memanas.

Tangan Om Budi mulai bergerak liar di pinggang Mirna, membuat wanita itu beberapa kali menahan desah di sela ciuman mereka.

“Om...” lirih Mirna pelan.

Namun bukannya berhenti, Om Budi justru semakin terbawa suasana. Ia mengangkat tubuh Mirna lalu membawanya ke sofa dengan tatapan penuh nafsu.

Mirna yang sudah sama bergairahnya hanya bisa mengikuti permainan pria itu.

Baru saja Om Budi hendak melanjutkan lebih jauh—

TOK! TOK! TOK!

Keduanya langsung tersentak.

Mirna buru-buru menjauh sambil merapikan bajunya dengan wajah panik.

“Om, ada orang datang!” bisiknya cepat.

Om Budi mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajahnya frustrasi.

“Siapa sih pagi-pagi begini...” gerutunya kesal.

Dengan enggan, ia kembali melilitkan handuk di pinggang lalu berjalan menuju pintu.

Namun begitu pintu dibuka—

langkah Om Budi langsung terhenti.

Seorang gadis muda berdiri di depan rumah sambil membawa koper besar.

“Pagi, Om...” ucap gadis itu pelan.

“Aku Aya.”

Dan untuk beberapa detik…

Om Budi hanya bisa terpaku menatap Aya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang jauh berbeda dari terakhir kali ia lihat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Abas Artana
Bagus ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   118

    Andri menarik selimut itu hingga terlepas dari tubuh Aya. Kini, kaos tipis dan rok sepaha yang melekat di tubuh gadis itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Aya spontan meringis. Ia buru-buru mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya, seolah tak sanggup menatap Andri. "Mas... badanku semakin gerah, panas..." Melihat keadaan Aya yang sudah masuk kedalam perangkapnya, Andri perlahan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah gadis itu. Tatapannya tak lepas sedikit pun. "Kalau gitu buka aja baju kamu, Ay." Aya menggigit bibir bawahnya. Kepalanya langsung menggeleng pelan, sementara kedua bahunya ikut menegang. "Tapi, Mas... aku malu..." Napas Aya mulai tidak teratur, rasa panas semakin menyeruak dari tubuhnya. Andri tidak segera menjawab. Ia mengangkat satu tangan, lalu mengusap perlahan lengan Aya dengan

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   117

    Aya membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Cairan bening di dalamnya tampak dingin, embun masih menetes di permukaan gelas. "Minum dulu, Ay," ucap Andri yang masih berdiri di dekat meja. Nada suaranya dibuat tenang. "Biar kamu lebih rileks. Badanmu pasti capek." Aya menatap gelas itu cukup lama. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Bibirnya sempat bergerak hendak menolak, tetapi tak ada kata yang keluar. Jemarinya justru menggenggam selimut semakin erat. Melihat itu, Andri melangkah pelan mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, hanya berjarak sejengkal dari Aya. Tubuhnya sedikit condong, lalu jemarinya menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. "Ayolah... cuma minuman dingin. Kamu butuh itu. Percaya sama Mas, ya?" Aya menunduk sambil menarik napas panjang. Hatinya masih dipenuhi rasa gelisah, sementara pikirannya terasa kacau. Setelah beberapa saat, i

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   116

    Kepala Aya menggeleng cepat. Air matanya terus menetes. Ia berdiri lalu mundur dua langkah sambil merapatkan kaos tipis yang dikenakannya. "Enggak, Mas. Aku nggak mau. Sekarang atau kapan pun. Mas ngerti nggak?!" Andri mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar kesal dengan sikap Aya. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tidak ingin gadis itu sampai membencinya. Perlahan, ia menatap Aya dengan wajah seolah penuh penyesalan. Kedua tangannya terangkat pelan, menunjukkan bahwa ia tidak akan memaksa lagi. "Ya udah, Ay... maafin Mas, ya. Mas kebablasan barusan. Mas cuma... nggak bisa nahan. Tapi Mas janji, Mas nggak bakal maksa kamu lagi." Aya menunduk, tetapi tubuhnya masih tegang. "Maafin Aya, Mas. Aya beneran nggak mau..." ucapnya lirih dengan suara yang nyaris pecah. Andri menepuk bahunya pelan, berpura-pura menenangkan. "Iya, iya... Mas ngerti. Kamu butuh tenang. Istirahat aj

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   115

    Sementara itu, di hotel, suasana malam sudah sepi. Andri duduk di tepi ranjang, sejak tadi ia tidak bisa tenang. Tubuhnya dipenuhi hasrat yang sudah lama ia pendam. Malam ini, ia yakin kesempatan akhirnya datang. Dalam pikirannya, tidak akan ada lagi yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan Aya, gadis yang sudah membuatnya hampir gila. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebotol kecil jamu kuat. Tutup botol dibuka, kemudian isinya langsung diteguk hingga habis. Setelah itu, botol kosong tersebut ia letakkan di atas meja samping ranjang. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Aya," gumamnya lirih. "Aku harus lebih dulu dapatkan tubuh kamu... baru setelah itu aku kasih kamu ke si tua bangka itu." Ia menyandarkan tubuh sejenak, lalu menundukkan kepala. Tangannya mengangkat sedikit ujung celananya untuk melihat kejanta

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   114

    Sementara itu, di rumah Om Budi... Suasana ruang tengah masih dipenuhi ketegangan. Om Budi duduk berhadapan dengan Diana. Wajahnya tampak letih, sementara sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan. Di sisi lain, Diana duduk dengan wajah datar. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Budi. Namun karena terus diminta, akhirnya ia memilih duduk meski dengan perasaan enggan. Om Budi mengembuskan napas panjangnya sebelum membuka suara. "Dengan adanya informasi itu... Menurutnya Om, kalian itu terlalu cepat menyimpulkan. Om nggak pernah punya niatan nyakitin istri Om, apalagi sampe membuatnya meninggal." Diana tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Awalnya ia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun, tetapi semakin lama duduk di sana, hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   113

    Lobi hotel kecil itu tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis wanita berambut panjang tergerai dengan bibir merah menyala yang sedang asyik mengetuk layar ponselnya. Begitu melihat Andri dan Aya masuk, ia langsung mengangkat kepala dan melemparkan senyum tipis. Tatapannya menyapu keduanya sekilas, lalu berhenti beberapa saat pada wajah Aya yang tampak murung. "Cari kamar, Mas?" tanyanya dengan nada genit sambil mengunyah permen karet. "Iya," jawab Andri singkat. "Yang sepi. Atas kalau bisa." Resepsionis itu sedikit mencondongkan tubuh, dagunya bertumpu di telapak tangan lalu mengedip nakal. "Bisa, Mas. Biasanya tamu pasangan lebih suka kamar ujung. Lebih tenang." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum penuh arti. "Kalau mau... data check-in juga bisa saya simpan manual aja, biar nggak masuk sistem." Andri mengeluarkan beberapa lembar uang

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   12

    Sementara itu, saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, motor Om Budi berhenti di depan kos miliknya. Ia turun dari motornya lalu memarkirkannya seperti biasa di bawah pohon mangga depan kos. Mesin dimatikan, helm dilepas, kemudian pria itu berjalan santai menuju teras. Ia duduk di kursi panja

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   10

    Yongki sudah tidak mampu menahan diri lagi. Tangannya bergerak cepat ke balik punggung Aya dan, dalam satu sentuhan, ia berhasil membuka bra gadis itu. Payudara Aya terbuka sepenuhnya. Yongki menelan ludah. "Dada kamu indah sekali, Ay." Aya spontan mengangkat kedua tangannya untuk menutupi dada.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   34

    Obrolan mereka terus berlanjut, mengalir begitu saja tanpa terasa berat. Kemudian berpindah topik, dari cerita kampus, makanan favorit, sampai hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tapi justru terasa menyenangkan saat dibicarakan bersama. Tanpa sada

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   22

    Sementara di tempat lain. Setelah mengantar Aya pulang ke rumah Om Budi, Yongki memutuskan untuk mampir sejenak. Keduanya duduk di bangku teras dengan pencahayaan redup yang membuat suasana malam terasa semakin sepi dan sunyi, seolah mendukung keintiman di antara mereka. Aya duduk di samping Yong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status