LOGIN
Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya. Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum, lalu duduk kembali di sofa sambil memijat tengkuknya pelan, namun baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama di layar membuat alisnya sedikit terangkat. Rini. Adik almarhum mendiang istrinya. “Halo?” “Mas... maaf ganggu.” Suara Rini terdengar ragu. “Iya, Rin. Ada apa?” “Ini soal Aya.” Om Budi langsung diam. Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu. “Aya kenapa?” “Dia jadi kuliah di kota, Mas.” Rini menarik napas kecil. “Aku kepikiran kalau dia ngekos sendirian. Pergaulan sekarang serem. Jadi... kalau Mas nggak keberatan... Aya boleh tinggal di rumah Mas dulu?” Om Budi menyandarkan tubuhnya perlahan. Aya. Anak perempuan yang di adopsi adiknya, Sudah hampir sepuluh tahun mereka tak bertemu. “Kalau Mas nggak nyaman sih nggak apa-apa...” lanjut Rini hati-hati. Om Budi mengusap dagunya pelan. “Dia datang kapan?” “Lusa mungkin.” Beberapa detik hening. “Ya udah,” jawab Om Budi akhirnya. “Biar tinggal di sini dulu.” Nada lega langsung terdengar dari suara Rini. “Makasih ya, Mas.” Telepon itu tak berlangsung lama. Setelah sambungan terputus, Om Budi masih duduk diam memandangi ruang tamu yang makin sepi. Aya. Entah seperti apa anak itu sekarang. Om Budi tersenyum tipis sendiri sebelum akhirnya bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya. ** Keesokan paginya, Om Budi sudah berada di teras rumahnya sambil berolahraga. Kaos tanpa lengan yang dipakainya basah oleh keringat. Nafasnya masih stabil meski barbel di tangannya terus bergerak naik turun, meski usianya sudah kepala lima, tapi tubuhnya masih bugar jauh dari kata tua. “Pagi, Om.” Suara perempuan membuat Om Budi menoleh. Mirna berdiri di depan pagar sambil membawa kantong belanjaan. Wanita itu tersenyum kecil sebelum masuk ke halaman. “Pagi,” jawab Om Budi santai. “Eh Mir, nanti tolong siapin kamar tengah ya.” Mirna mengangkat alis. “Ada yang mau tinggal?” “Iya, keponakan.” “Cewek?” Om Budi terkekeh kecil. “Iya.” Mirna mendecih pelan sambil berjalan masuk ke dapur. “Wah... berarti rumah ini bakal rame lagi.” Om Budi hanya tersenyum samar. Sejak istrinya meninggal, Mirna memang jadi orang yang paling sering datang ke rumah itu. Awalnya hanya membantu memasak dan bersih-bersih, tapi lama-lama hubungan mereka berubah semakin dekat. Mirna masih muda untuk ukuran janda. Tubuhnya padat berisi, kulit sawo matangnya terlihat manis, dan cara bicaranya sering kali menggoda tanpa sadar. Om Budi masuk ke dapur mengambil air minum. Mirna yang sedang memotong sayur melirik sekilas ke arah tubuh pria itu yang masih basah oleh keringat. “Om kuat juga ya olahraga pagi-pagi gini,” godanya pelan. Om Budi meneguk air sebelum tersenyum tipis. “Kalau badan nggak dijaga, nanti cepat tua.” Mirna terkekeh kecil. “Pantes Om keliatan muda terus.” Om Budi tersenyum, dan seketika gairahnya mulai bangkit, perlahan ia mendekati Mirna, namun baru saja hendak mencium pipi wanita itu, Mirna langsung menepis. “Om mandi dulu sana. Acem tau.” Om Budi malah terkekeh, lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya masih basah, sementara tetesan air turun melewati dada bidangnya. Langkahnya terhenti saat melihat Mirna sedang mengepel lantai ruang tengah. Tubuh wanita itu membungkuk pelan mengikuti gerakan pel. Om Budi mendekat tanpa suara. Tangannya langsung melingkar di pinggang Mirna dari belakang. “Om...” napas Mirna langsung tercekat kecil. Bibir Om Budi menyentuh tengkuk wanita itu dengan lembut. “Saya udah nggak tahan dari tadi” bisiknya. Mirna menggigit bibirnya pelan. Ia tahu tatapan Om Budi seperti itu berarti pria itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Tanpa banyak bicara, wanita itu berbalik lalu membantu melepaskan handuk yang melilit pinggang Om Budi. Napasnya langsung tercekat. Meski sudah beberapa kali bersama, entah kenapa jantung Mirna selalu berdebar tiap melihat pria itu dalam keadaan seperti ini. “Ayo sini, Mir...” suara Om Budi terdengar berat dan parau. Mirna tersenyum tipis. Tangannya melingkar di leher pria itu, sementara bibir mereka mulai saling bertaut penuh gairah. Suasana ruangan perlahan memanas. Tangan Om Budi mulai bergerak liar di pinggang Mirna, membuat wanita itu beberapa kali menahan desah di sela ciuman mereka. “Om...” lirih Mirna pelan. Namun bukannya berhenti, Om Budi justru semakin terbawa suasana. Ia mengangkat tubuh Mirna lalu membawanya ke sofa dengan tatapan penuh nafsu. Mirna yang sudah sama bergairahnya hanya bisa mengikuti permainan pria itu. Baru saja Om Budi hendak melanjutkan lebih jauh— TOK! TOK! TOK! Keduanya langsung tersentak. Mirna buru-buru menjauh sambil merapikan bajunya dengan wajah panik. “Om, ada orang datang!” bisiknya cepat. Om Budi mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajahnya frustrasi. “Siapa sih pagi-pagi begini...” gerutunya kesal. Dengan enggan, ia kembali melilitkan handuk di pinggang lalu berjalan menuju pintu. Namun begitu pintu dibuka— langkah Om Budi langsung terhenti. Seorang gadis muda berdiri di depan rumah sambil membawa koper besar. “Pagi, Om...” ucap gadis itu pelan. “Aku Aya.” Dan untuk beberapa detik… Om Budi hanya bisa terpaku menatap Aya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang jauh berbeda dari terakhir kali ia lihat.Yongki tersenyum melihat anggukan itu, kini ia sadar situasi sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Aya, gadis cantik dan polos yang sejak lama memenuhi fantasi liarnya—kini duduk diam di depannya tanpa mencoba menjauh, bahkan terlihat pasrah. Hal itu membuat hasrat Yongki semakin sulit ditahan. Di balik celananya, kejantannya sudah menegang sejak tadi. Ia ingin sekali memperlihatkannya pada Aya, ingin sekali melihat bagaimana reaksi gadis polos itu. Namun Yongki cukup pintar untuk menahan diri. Ia tahu, terlalu terburu-buru hanya akan membuat Aya takut. Dan Yongki tidak ingin itu terjadi. Aya masih menunduk, tak berani menatap wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas paha, sementara napasnya terdengar pelan namun tidak teratur. Melihat sikap itu, hati Yongki dipenuhi rasa puas. Akhirnya. Ternyata semudah ini membuatnya luluh. Pelan, jari Yongki mulai menyentuh kancing blouse pastel yang dikenakan Aya. Satu per satu ia buka dengan gerakan tenang dan hati-hati,
Yongki lalu duduk di dekat Aya. Jarak mereka hanya selebar telapak tangan. Matanya menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu kamar yang redup, terutama bibir Aya yang merah mungil terlihat sedikit mengilap karena lip balm. “Ay... jujur ya,” ucap Yongki pelan dengan suara bergetar halus. “Makin hari hidup aku tuh rasanya makin berwarna.” “Kenapa begitu?” tanya Aya pelan. Wajah gadis itu menunduk, menyembunyikan debaran jantungnya. “Nggak tahu...” jawab Yongki sambil tersenyum kecil. Tatapannya tidak lepas dari wajah Aya. “Apalagi sejak kamu datang ke kota dan kita akhirnya ketemu langsung. Rasanya dunia jadi kayak lebih berpihak sama aku.” Aya semakin terbuai oleh kata-kata itu. Semua terasa hangat dan secara perlahan menyebar sampai ke dadanya. Namun napas Aya langsung tertahan saat ia menyadari tangan Yongki mulai menyentuh jemarinya. Sentuhan itu begitu lembut. Pelan. Seolah meminta izin. Aya tidak bergerak. Ia tidak menarik tangann
Sementara di rumah om budi, pria itu belum selesai melampiaskan hasratnya pada Mirna. Pria itu terus bergerak. Iramanya naik turun, kadang cepat, kadang pelan—seperti ingin menghukum sekaligus menikmati setiap inci tubuh Mirna. Keringat mulai membasahi dahinya, menetes ke dada, lalu jatuh ke tubuh Mirna yang sudah basah oleh peluh dan gairah. "Om… oooh…!" Mirna menjerit pelan, suaranya serak. Sudah dua kali ia mencapai puncak, tapi Om Budi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Batangnya masih keras, masih tegang, masih bergerak tanpa ampun di dalam rahimnya. "Belum, Mir… Om masih belum puas," gumam pria itu dengan napas tersengal. Mereka sudah berganti posisi berkali-kali. Dari telentang, ke samping, lalu Mirna di atas—tapi tetap saja Om Budi tak kunjung puas. Kini, Mirna dalam keadaan nungging di atas sofa. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menahan sandaran, sementara pantatnya terangkat sempurna di depan Om Budi. "Nah… gini baru mulai enak," bisik Om Budi s
Sementara itu, di kampus, Aya baru saja selesai melakukan proses pendaftaran sebagai mahasiswi baru. Gadis itu berjalan santai mengelilingi area kampus sambil sesekali melihat gedung-gedung tinggi dan taman yang tertata rapi. Wajahnya terlihat cerah dan penuh semangat. Baginya, semua ini terasa baru. Dunia baru. Tempat yang nanti akan menjadi bagian dari hidupnya. Langkah Aya terlihat ringan. Sesekali senyum kecil muncul di bibirnya saat melihat para mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Saat itulah Yongki datang mendekatinya. “Aya.” Aya menoleh, lalu wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat pria itu. “Kak Yongki...” ucapnya sambil tersenyum manis. Yongki ikut tersenyum. Hari itu pria itu tampil santai dengan kaos hitam dan jaket tipis yang membuatnya terlihat lebih dewasa di mata Aya. “Gimana pendaftarannya? Lancar?” tanyanya. Aya mengangguk cepat. “Udah semuanya lancar.” “Bagus,” ucap Yongki sambil menatap wajah gadis itu lekat-leka
Om Budi mulai kehilangan kendali. Gairah yang ia pendam dari semalam kini meletus dalam satu sentuhan. Tangannya merayap turun dari pinggang Mirna, menyusup ke balik daster tipis yang hampir tembus pandang itu. Jari-jarinya mengelus paha bagian dalam Mirna—perlahan, dengan tekanan penuh nafsu, hingga wanita itu menggeliat di buatnya. “Oh, Om…” desah Mirna, suaranya serak, setengah tertahan. Dadanya naik turun cepat. Kain daster tipis itu menyembul. Om Budi tak sabar lagi. Ia menyibak daster Mirna ke atas dengan kasar, memperlihatkan perut mulus dan pahanya yang terbuka lebar. “Buka,” perintahnya, suara berat seperti geraman. Mirna menurut. Perlahan—sengaja memperlambat gerakan untuk menggoda—ia menarik daster tipis itu melewati kepala, lalu melepaskannya. Kain jatuh ke lantai. Kini tubuh Mirna hanya tertutup bra hitam yang nyaris transparan dan celana dalam berwarna hitam. Om Budi menatapnya tanpa berkedip. “Kamu memang sengaja, ya?” gumamnya, jari telunjuknya menyusur
Motor matik besar milik Om Budi melaju membelah jalanan pagi dengan kecepatan sedang. Udara masih terasa sejuk, sementara beberapa kendaraan mulai memenuhi jalan menuju pusat kota. Tujuan mereka pagi itu adalah kampus tempat Aya akan mendaftar. Di boncengan belakang, Aya duduk dengan wajah cemberut sejak tadi. Kedua tangannya memegang ujung jaket yang dipakainya, sementara tatapannya menatap kesal ke arah jalan. Jujur saja, ia masih kesal setengah mati. Kalau bukan karena ancaman Om Budi yang bilang akan melapor ke mamanya, ia pasti sudah berangkat bersama Yongki sejak tadi. Dasar tukang ngatur, batinnya kesal. “Awas aja...” gumam Aya dalam hati. “Aku nggak bakal diem terus.” Sementara di depan, Om Budi tetap terlihat santai mengendarai motornya. Sebelah tangannya sesekali mengetuk setang. Pria itu sebenarnya sadar Aya sedang marah besar. Namun Om Budi juga tahu, gadis seusia Aya memang sedang berada masa masa puber dan bisa salah arah. Untuk itu ia tetap nekat mesti







