Share

Hangatnya Ranjang Suami Pengganti
Hangatnya Ranjang Suami Pengganti
Author: Erumanstory

Sebuah Takdir

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-04-20 13:59:44

Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu.

"B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlambat laju mobilnya.

"Astaga, itu pengeroyokan?"

Di dalam gang, lima orang pria berbadan besar sedang membabi-buta memukuli seorang laki-laki yang terlihat sudah tergeletak tak berdaya. 

"Bu Adista, jangan bertindak macam-macam. Kita telepon polisi saja! Saya tidak mau ibu kenapa-kenapa." Hana cemas. 

Adista suka bertindak di luar dugaannya. Terkadang ide di kepalanya terlalu liar bagi Hana. 

"Kelamaan kalau nunggu polisi. Keburu mati orang itu. Aku harus menolongnya," ujar Adista.

Sebelum Hana sempat mencegah, Adista sudah melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil.

"Bu Adista! Ingat, anda sekarang pakai rok span, ya Tuhan! Bu Adista! Bu, jangan!" jerit Hana histeris dari dalam mobil.

Adista tidak peduli. Dia berjalan dengan langkah tegap memasuki gang. 

"Hei, kalian! Beraninya lima lawan satu? Memalukan! Maju sini lawan aku!" teriak Adista lantang.

Kelima preman itu berbalik, menatap Adista dengan pandangan meremehkan. Salah satu dari mereka yang bertato ular di lehernya maju sambil terkekeh. 

"Wah, ada neng cantik mau minta diserang? Tidak usah sok jago, bagaimana kalau kita ke hotel saja untuk bersen—"

Brak!

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, tendangan  Adista mendarat telak di rahangnya. Pria itu langsung terjungkal dan pingsan di tempat.

"Kurang ajar! Serang dia!" teriak preman yang lain.

Empat orang sisanya maju bersamaan. Adista bergerak dengan lincah. Dia merobek sedikit belahan rok spannya agar pergerakannya lebih bebas. 

Dalam waktu kurang dari tiga menit, kelima preman itu sudah terkapar di tanah, mengaduh kesakitan.

"Masih ada yang mau mengajakku ke hotel?" tanya Adista sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, napasnya bahkan tidak tersengal.

Melihat lawan mereka bukan manusia biasa, para preman yang masih bisa bergerak langsung tertatih-tatih melarikan diri, meninggalkan bos mereka yang masih pingsan.

Adista mengembuskan napas panjang, lalu buru-buru mendekati laki-laki yang menjadi korban. Dia berlutut di samping tubuh yang tak berdaya itu.

"Hei, kamu bisa mendengarku?" Adista menepuk pipi laki-laki itu pelan.

Laki-laki itu terbatuk pelan. Luka lebam di sekujur wajahnya. Meski dengan penampilan berantakan, Adista tahu pria ini cukup tampan. Badannya tegap dengan otot yang padat di balik kaos longgarnya, wajahnya memiliki garis rahang tegas.

Saat merapikan rambutnya yang menutupi wajah, Adista merasa wajah laki-laki itu sangat familiar.

"Bu Adista! Anda nggak apa-apa?! Ada yang luka?" Hana berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi.

"Hana, bantu aku," kata Adista cepat, suaranya terdengar mendesak. "Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat."

Saat Adista hendak merangkul tubuh pria itu, tangan pria itu bergerak dan sontak mencengkram lengannya.

"Jangan… rumah sakit."

Adista mengernyitkan kening. "Lukamu parah begini, apa mau dibiarkan aja?"

Pria itu tidak menjawab dan bernapas dengan berat, terlihat kesakitan. Tapi tangannya tidak melepaskan cengkramannya. Kelihatannya dia sangat tidak mau dibawa ke rumah sakit, entah apa alasannya.

"Baiklah. Kita bawa saja ke rumahku."

Hana melotot. "Apa? Ke rumah ibu? Bu Adista, kita bahkan nggak tahu dia siapa! Bagaimana kalau dia penjahat? Ibu jangan gegabah."

"Nggak papa, bantu aku papah dia ke mobil. Hubungi juga Dokter Bram, suruh dia stand-by di rumahku."

Hana menghela napas panjang, tahu bahwa jika Adista sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa membantahnya. "Baik, baik. Tapi bagaimana kalau pak Stevan tahu ibu membawa laki-laki asing ke rumah seminggu sebelum pernikahan? Dia akan salah paham, Bu."

"Itu urusanku, Hana. Ikuti saja perintahku."

Satu jam kemudian, suasana di kediaman mewah Adista sudah lebih tenang. Dokter Bram baru saja keluar dari kamar tamu setelah mengobati luka-luka laki-laki itu.

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Adista yang menunggu di luar kamar bersama Hana.

"Tidak ada luka dalam yang serius, Non Adista. Hanya memar di permukaan dan kelelahan ekstrem. Saya sudah membersihkan lukanya dan memberikannya infus nutrisi. Perawat juga sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dia hanya butuh istirahat sampai besok pagi," jelas Dokter Bram ramah.

"Terima kasih banyak, Dok."

Setelah mengantar Dokter Bram keluar, Adista merasakan tubuhnya sendiri sangat lengket. "Hana, kamu bisa pulang sekarang. Terima kasih bantuannya hari ini. Aku mau mandi dulu."

"Sama-sama, Bu. Ingat, jangan sampai lupa makan malam dengan pak Stevan. Dia pasti sudah menunggu ibu," ingat Hana sebelum berpamitan.

Adista tersenyum dan mengangguk. Dia segera masuk ke kamarnya, melepaskan pakaian kerjanya yang sempat terkena debu jalanan, dan berdiri di bawah pancuran air hangat. 

Sebuah anggilan dari Stevan datang tepat di saat Adista selesai bersiap. 

"Halo, Sayang? Aku baru saja selesai bersiap—"

"Adista sayang, maaf ya, " potong suara Stevan di seberang telepon. Suaranya terdengar agak terengah-engah dan berisik oleh latar belakang suara ketikan. "Malam ini sepertinya kita harus batal makan malam."

Senyum Adista perlahan pudar. "Batal? Kenapa? Ada masalah?"

"Iya, urusan pekerjaan di kantor benar-benar mendesak. Ada audit mendadak dari investor asing, dan aku harus lembur semalaman ini untuk merapikan laporan keuangan. Maaf banget ya, Sayang. Aku benar-benar merasa bersalah."

Adista terdiam sejenak. Ada rasa tidak percaya, tetapi dengan cepat Adista menepis itu. 

"Oh, begitu ya... Ya sudah, tidak apa-apa, Stevan. Pekerjaan memang nomor satu. Jangan lupa makan malam ya, jangan sampai sakit," kata Adista lembut, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

"Makasih ya, Sayang, kamu memang yang paling pengertian. Aku tutup dulu ya, love you."

Telepon diputus sepihak. 

Saat berjalan melewati meja konsol di dekat ruang tamu, mata Adista tidak sengaja melihat flashdisk milik Stevan. 

Adista menepuk jidatnya. "Astaga, ini kan flashdisk dokumen tender penting milik Stevan yang ketinggalan waktu dia mampir ke rumah kemarin malam."

Adista melirik jam dinding. Masih jam delapan malam. 

"Daripada dia kelabakan mencari ini untuk lemburnya, lebih baik aku antarkan saja ke kantornya. Sekalian memberi kejutan kecil," gumam Adista bersemangat. Dia mengambil flashdisk tersebut dan langsung bergegas menuju mobilnya.

Perjalanan menuju kantor Stevan memakan waktu sekitar dua puluh menit. Gedung kantor milik keluarga Stevan tampak sepi, hanya beberapa lampu lantai atas yang menyala, menandakan memang ada yang sedang lembur.

Adista menyapa satpam penjaga di lobi yang sudah mengenalnya dengan baik, lalu naik menggunakan lift menuju lantai kerja Stevan. 

Adista berjalan berjinjit, berniat mengejutkan tunangannya.  Dia bersiap memutar knop pintu.

Tapi tiba-tiba tangannya seakan kaku. 

Dari celah pintu yang rupanya tidak tertutup rapat, terdengar suara seorang wanita yang mendesah keenakan.

"Ah... Stevan, pelan-pelan... Bagaimana kalau tunanganmu yang sok suci itu tiba-tiba datang?"

Adista berdiri terpaku, dan air matanya jatuh begitu saja tanpa komando.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Siap Menyongsong Masa Depan

    Angin malam berembus membawa kesejukan yang menelusup hingga ke pori-pori kulit. Di atas balkon kamar yang menghadap langsung ke arah gemerlap lampu kota, Fero berdiri bersandar pada pagar kaca pembatas. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, namun pendar di manik matanya tak lagi menyiratkan kekosongan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya. Ada kelegaan yang perlahan mekar di sana.Sepasang lengan ramping yang melingkar hangat di pinggangnya membuat lamunan Fero seketika buyar. Aroma parfum beraroma vanilla dan jasmine yang sangat familier menguar, menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang."Udara malam ini lumayan dingin, Sayang. Kenapa kamu malah berdiri di sini tanpa memakai jaket?" tegur Adista lembut, menyandarkan pipinya di punggung lebar sang suami.Fero tersenyum tipis, meraba punggung tangan Adista yang bertaut di perutnya, lalu mengusapnya perlahan."Aku sama sekali tidak merasa kedinginan, Dis. Entah kenapa, embusan angin malam ini justru terasa sangat melega

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Di Bawah Batu Nisan

    Angin sore berembus pelan menyapu deretan batu nisan di pemakaman umum desa yang sangat sederhana. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ini terasa begitu sunyi dan damai. Kakek Hardian melangkah gontai dengan bantuan tongkat emasnya, dipandu oleh Fero dan Adista yang berjalan beriringan di depannya menyusuri jalan setapak berumput liar.Langkah Fero terhenti di depan sebuah gundukan tanah berselimut rumput hijau dengan batu nisan keramik putih yang mulai kusam dan berlumut di bagian ujungnya."Di sini, Kek," ucap Fero pelan, suaranya terdengar sangat parau. "Di sinilah Ibu Dewi disemayamkan."Hardian menatap batu nisan bertuliskan Dewi Damayanti itu dengan mata yang perlahan memerah. Rahangnya mengeras seketika. Napas pria tua itu memburu cepat, memancarkan gelombang amarah yang selama puluhan tahun ini ia pendam rapat-rapat."Jadi di sini kau bersembunyi, Dewi?!" suara Hardian menggelegar memecah kesunyian makam, menuding batu nisan itu dengan tongkat emasnya yang bergetar. "Di

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Dia Sudah Mati

    Suara ketukan tongkat emas yang beradu dengan lantai marmer terdengar bertalu-talu, mengiringi langkah mondar-mandir Kakek Hardian di ruang keluarga kediaman Adiwangsa. Wajah lelaki renta itu memerah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meletup-letup."Rama! Aku tidak mau tahu! Kerahkan seluruh tim pelacak terbaik yang kita miliki! Cari wanita bernama Dewi Damayanti itu sampai dapat!" perintah Hardian dengan suara menggelegar."Baik, Tuan Besar. Kami akan melacak data kependudukannya dari desa Nyonya Tari yang kemarin—""Jangan cuma dilacak dari data desa! Sebarkan detektif swasta ke seluruh pelosok negeri! Begitu kalian menemukannya, seret dia ke hadapanku hidup-hidup! Aku sendiri yang akan memastikan wanita keparat itu membusuk di penjara dengan hukuman paling berat! Dia harus membayar nyawa putra dan menantuku!""Hentikan, Rama. Batalkan perintah itu sekarang juga."Suara bariton Fero memotong ketegangan di ruangan itu. Pria itu melangkah masuk dari arah taman belakang, di

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Kakek Turun Tangan

    Asap pekat dari cerutu mahal mengepul tipis di udara, memenuhi ruang kerja klasik di kediaman utama keluarga Adiwangsa. Kakek Hardian duduk di kursi kulit kebesarannya, menatap hamparan taman luas dari balik jendela kaca.Suara ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan ruangan tersebut."Masuk," perintah Hardian dengan suara seraknya yang berwibawa.Pintu kayu jati itu terbuka. Rama melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegap, membawa sebuah komputer tablet di tangannya. Wajah asisten kepercayaan itu tampak jauh lebih tegang dari biasanya."Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Besar," ucap Rama seraya membungkuk hormat. "Ada sebuah laporan mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda siang ini juga."Hardian memutar kursinya, menatap Rama dengan alis bertaut."Laporan apa, Rama? Apakah ini berkaitan dengan kondisi kesehatan cucuku, Fero? Atau ada masalah di perusahaan istrinya?""Ini berkaitan dengan Tuan Muda Fero, Tuan Besar," jawab Rama hati-hati. "Baru saja terjadi

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Membeli Harga Diri

    "Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Tuntutan Tak Masuk Akal

    Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Malam Kita

    Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hari Pernikahan

    Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menikahlah Denganku

    "Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status