로그인
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu.
"B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlambat laju mobilnya. "Astaga, itu pengeroyokan?" Di dalam gang, lima orang pria berbadan besar sedang membabi-buta memukuli seorang laki-laki yang terlihat sudah tergeletak tak berdaya. "Bu Adista, jangan bertindak macam-macam. Kita telepon polisi saja! Saya tidak mau ibu kenapa-kenapa." Hana cemas. Adista suka bertindak di luar dugaannya. Terkadang ide di kepalanya terlalu liar bagi Hana. "Kelamaan kalau nunggu polisi. Keburu mati orang itu. Aku harus menolongnya," ujar Adista. Sebelum Hana sempat mencegah, Adista sudah melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil. "Bu Adista! Ingat, anda sekarang pakai rok span, ya Tuhan! Bu Adista! Bu, jangan!" jerit Hana histeris dari dalam mobil. Adista tidak peduli. Dia berjalan dengan langkah tegap memasuki gang. "Hei, kalian! Beraninya lima lawan satu? Memalukan! Maju sini lawan aku!" teriak Adista lantang. Kelima preman itu berbalik, menatap Adista dengan pandangan meremehkan. Salah satu dari mereka yang bertato ular di lehernya maju sambil terkekeh. "Wah, ada neng cantik mau minta diserang? Tidak usah sok jago, bagaimana kalau kita ke hotel saja untuk bersen—" Brak! Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, tendangan Adista mendarat telak di rahangnya. Pria itu langsung terjungkal dan pingsan di tempat. "Kurang ajar! Serang dia!" teriak preman yang lain. Empat orang sisanya maju bersamaan. Adista bergerak dengan lincah. Dia merobek sedikit belahan rok spannya agar pergerakannya lebih bebas. Dalam waktu kurang dari tiga menit, kelima preman itu sudah terkapar di tanah, mengaduh kesakitan. "Masih ada yang mau mengajakku ke hotel?" tanya Adista sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, napasnya bahkan tidak tersengal. Melihat lawan mereka bukan manusia biasa, para preman yang masih bisa bergerak langsung tertatih-tatih melarikan diri, meninggalkan bos mereka yang masih pingsan. Adista mengembuskan napas panjang, lalu buru-buru mendekati laki-laki yang menjadi korban. Dia berlutut di samping tubuh yang tak berdaya itu. "Hei, kamu bisa mendengarku?" Adista menepuk pipi laki-laki itu pelan. Laki-laki itu terbatuk pelan. Luka lebam di sekujur wajahnya. Meski dengan penampilan berantakan, Adista tahu pria ini cukup tampan. Badannya tegap dengan otot yang padat di balik kaos longgarnya, wajahnya memiliki garis rahang tegas. Saat merapikan rambutnya yang menutupi wajah, Adista merasa wajah laki-laki itu sangat familiar. "Bu Adista! Anda nggak apa-apa?! Ada yang luka?" Hana berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. "Hana, bantu aku," kata Adista cepat, suaranya terdengar mendesak. "Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat." Saat Adista hendak merangkul tubuh pria itu, tangan pria itu bergerak dan sontak mencengkram lengannya. "Jangan… rumah sakit." Adista mengernyitkan kening. "Lukamu parah begini, apa mau dibiarkan aja?" Pria itu tidak menjawab dan bernapas dengan berat, terlihat kesakitan. Tapi tangannya tidak melepaskan cengkramannya. Kelihatannya dia sangat tidak mau dibawa ke rumah sakit, entah apa alasannya. "Baiklah. Kita bawa saja ke rumahku." Hana melotot. "Apa? Ke rumah ibu? Bu Adista, kita bahkan nggak tahu dia siapa! Bagaimana kalau dia penjahat? Ibu jangan gegabah." "Nggak papa, bantu aku papah dia ke mobil. Hubungi juga Dokter Bram, suruh dia stand-by di rumahku." Hana menghela napas panjang, tahu bahwa jika Adista sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa membantahnya. "Baik, baik. Tapi bagaimana kalau pak Stevan tahu ibu membawa laki-laki asing ke rumah seminggu sebelum pernikahan? Dia akan salah paham, Bu." "Itu urusanku, Hana. Ikuti saja perintahku." Satu jam kemudian, suasana di kediaman mewah Adista sudah lebih tenang. Dokter Bram baru saja keluar dari kamar tamu setelah mengobati luka-luka laki-laki itu. "Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Adista yang menunggu di luar kamar bersama Hana. "Tidak ada luka dalam yang serius, Non Adista. Hanya memar di permukaan dan kelelahan ekstrem. Saya sudah membersihkan lukanya dan memberikannya infus nutrisi. Perawat juga sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dia hanya butuh istirahat sampai besok pagi," jelas Dokter Bram ramah. "Terima kasih banyak, Dok." Setelah mengantar Dokter Bram keluar, Adista merasakan tubuhnya sendiri sangat lengket. "Hana, kamu bisa pulang sekarang. Terima kasih bantuannya hari ini. Aku mau mandi dulu." "Sama-sama, Bu. Ingat, jangan sampai lupa makan malam dengan pak Stevan. Dia pasti sudah menunggu ibu," ingat Hana sebelum berpamitan. Adista tersenyum dan mengangguk. Dia segera masuk ke kamarnya, melepaskan pakaian kerjanya yang sempat terkena debu jalanan, dan berdiri di bawah pancuran air hangat. Sebuah anggilan dari Stevan datang tepat di saat Adista selesai bersiap. "Halo, Sayang? Aku baru saja selesai bersiap—" "Adista sayang, maaf ya, " potong suara Stevan di seberang telepon. Suaranya terdengar agak terengah-engah dan berisik oleh latar belakang suara ketikan. "Malam ini sepertinya kita harus batal makan malam." Senyum Adista perlahan pudar. "Batal? Kenapa? Ada masalah?" "Iya, urusan pekerjaan di kantor benar-benar mendesak. Ada audit mendadak dari investor asing, dan aku harus lembur semalaman ini untuk merapikan laporan keuangan. Maaf banget ya, Sayang. Aku benar-benar merasa bersalah." Adista terdiam sejenak. Ada rasa tidak percaya, tetapi dengan cepat Adista menepis itu. "Oh, begitu ya... Ya sudah, tidak apa-apa, Stevan. Pekerjaan memang nomor satu. Jangan lupa makan malam ya, jangan sampai sakit," kata Adista lembut, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Makasih ya, Sayang, kamu memang yang paling pengertian. Aku tutup dulu ya, love you." Telepon diputus sepihak. Saat berjalan melewati meja konsol di dekat ruang tamu, mata Adista tidak sengaja melihat flashdisk milik Stevan. Adista menepuk jidatnya. "Astaga, ini kan flashdisk dokumen tender penting milik Stevan yang ketinggalan waktu dia mampir ke rumah kemarin malam." Adista melirik jam dinding. Masih jam delapan malam. "Daripada dia kelabakan mencari ini untuk lemburnya, lebih baik aku antarkan saja ke kantornya. Sekalian memberi kejutan kecil," gumam Adista bersemangat. Dia mengambil flashdisk tersebut dan langsung bergegas menuju mobilnya. Perjalanan menuju kantor Stevan memakan waktu sekitar dua puluh menit. Gedung kantor milik keluarga Stevan tampak sepi, hanya beberapa lampu lantai atas yang menyala, menandakan memang ada yang sedang lembur. Adista menyapa satpam penjaga di lobi yang sudah mengenalnya dengan baik, lalu naik menggunakan lift menuju lantai kerja Stevan. Adista berjalan berjinjit, berniat mengejutkan tunangannya. Dia bersiap memutar knop pintu. Tapi tiba-tiba tangannya seakan kaku. Dari celah pintu yang rupanya tidak tertutup rapat, terdengar suara seorang wanita yang mendesah keenakan. "Ah... Stevan, pelan-pelan... Bagaimana kalau tunanganmu yang sok suci itu tiba-tiba datang?" Adista berdiri terpaku, dan air matanya jatuh begitu saja tanpa komando.Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem
Hening seketika menyelimuti lobi utama saat langkah tegas Fero dan Adista menggema di atas lantai. Puluhan pasang mata karyawan yang semula berbisik-bisik kini terdiam kaku, membelah jalan secara otomatis untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut."Fero!"Zia menjerit histeris. Tanpa memedulikan tatapan puluhan orang, ia berlari kencang menerobos kerumunan dan langsung menabrakkan tubuhnya ke dada Fero. Kedua lengannya melingkar erat di leher pria itu, sementara wajahnya ditenggelamkan di ceruk bahu Fero diiringi isak tangis yang memekakkan telinga."Fero, akhirnya kamu datang! Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku! Ayo kita pulang, Fero! Tinggalkan perempuan ini sekarang juga!" ratap Zia, air matanya membasahi kemeja mahal yang dikenakan Fero.Fero mematung selama satu detik, sebelum rahangnya mengeras. Dengan tatapan sedingin es dan raut wajah penuh penolakan, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Zia dan melepaskan pelukan itu secara paksa. Ia mendorong tubuh Zia cukup keras
Suasana sibuk yang biasanya diwarnai oleh dering telepon dan suara ketikan di lobi utama perusahaan Adista mendadak terhenti total. Pintu kaca otomatis di bagian depan terbuka lebar, menampilkan Zia dan Tari yang melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura arogansi yang kental. Di belakang mereka, pengacara Surya dan dua asistennya berjalan mengekor."Maaf, Ibu. Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Ibu sudah membuat janji temu sebelumnya?" sapa resepsionis lobi dengan ramah, berusaha menahan rombongan itu di meja depan.Tari menggebrak meja resepsionis dengan telapak tangannya, membuat gadis penjaga meja itu tersentak kaget."Janji temu?! Kamu pikir saya butuh jadwal untuk melabrak perempuan perebut calon suami orang?!" teriak Tari, suaranya melengking tajam membelah keheningan lobi.Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Kepala-kepala mulai menoleh ke arah sumber keributan."Maaf, Ibu... maksud Ibu siapa?" tanya resep
Roda koper mahal bermerek Louis Vuitton itu berderit mulus di atas lantai lobi Hotel Kempinski Jakarta. Dua bellboy berseragam rapi berjalan menunduk hormat di belakang Zia dan Mama Tari, membawakan sisa barang bawaan mereka yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran orang yang hanya berniat melabrak.Mama Tari mengibaskan rambut blow-nya yang sempurna, membenarkan letak kacamata hitam berbingkai emasnya meski mereka berada di dalam ruangan ber-AC yang sejuk."Tadinya Mama mau membiarkan kamu berangkat sendirian ke Jakarta, Zia. Biar kamu belajar mandiri menghadapi masalah," keluh Tari dengan nada manja, melangkah angkuh menuju lift khusus VIP. "Tapi, setelah Mama pikir-pikir lagi semalaman, mana tega Mama melepas anak gadis kesayangan Mama satu-satunya ke kota sekeras ini sendirian?"Zia langsung merangkulkan lengannya ke lengan sang ibu, tersenyum lebar dengan riasan wajah yang tebal."Makanya Zia sayang banget sama Mama! Kalau Zia berangkat sendiri, Zia pasti kebingungan, Ma. Jakar
Gerbang besi raksasa berukir tembaga itu bergerak membuka perlahan, menyambut kedatangan mobil yang membawa Fero dan Adista memasuki pelataran Kediaman Utama Adiwangsa. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi itu memancarkan kemegahan yang luar biasa.Di depan pintu utama, Kakek Hardian sudah berdiri menanti. Senyum pria paruh baya itu merekah lebar, mengalahkan gurat kelelahan di wajahnya. Rama, sang asisten setia, berdiri di belakangnya dengan sikap hormat.Begitu Fero dan Adista turun dari mobil, Hardian langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya."Selamat datang, cucuku. Selamat datang di rumahmu," sambut Hardian dengan suara bergetar menahan haru.Fero tersenyum, kali ini jauh lebih rileks dari pertemuan pertama mereka. Ia melangkah maju dan membalas pelukan kakeknya dengan hangat."Terima kasih, Kek. Rumah ini... luar biasa besar. Saya sampai bingung harus melihat ke arah mana lebih dulu," ucap Fero jujur.Hardian tertawa pelan
Angin malam berembus cukup kencang, meniup dedaunan dari tanaman hias yang berjajar rapi di balkon. Dari lantai atas rumah mewah tersebut, gemerlap lampu kota Jakarta terlihat seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. sayangnya pemandangan memukau itu tampaknya sama sekali tidak menarik minat Fero. Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung sambil menyandarkan kedua lengannya di pagar besi balkon, tatapannya kosong menerawang menembus pekatnya malam.Suara derit pelan pintu kaca balkon yang digeser menyadarkan Fero dari lamunannya. Adista melangkah keluar dengan piyama satin yang lembut, membawa sebuah nampan kayu berisi dua cangkir porselen yang mengepulkan asap tipis. Ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja rotan kecil di sudut balkon, lalu berjalan mendekati suaminya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adista menyusupkan kedua lengannya ke pinggang Fero, memeluk pria itu dari belakang dengan sangat erat. Ia menyandarkan pipinya ke punggung Fero yang lebar dan hangat."Kenapa
Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist
Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah







