مشاركة

Bersedia

مؤلف: Erumanstory
last update تاريخ النشر: 2026-04-23 18:19:39

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. 

Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang.

"Sudah bangun?" tanya laki-laki itu.

Adista langsung terduduk tegak, mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya. Dia memeriksa pakaiannya. Untunglah, gaun kasualnya masih melekat lengkap, meski sudah sangat kusut.

"Kamu… kamu pria yang babak bellur kemarin! Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Adista panik, suaranya sedikit parau.

Laki-laki itu berdeham pelan, tampak agak salah tingkah. 

"Kamu salah masuk kamar semalam. Kondisimu sangat mabuk."

Pelan-pelan ingatan Adista kembali. Semua tingkah konyolnya itu semakin membuatnya tak punya muka di hadapan pria asing ini.

Wajah Adista langsung memerah padam sampai ke telinga. Terutama saat dia mengingat adegan ciuman sepihak semalam. 

"Astaga..." Adista menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia sangat malu, dan merasa bersalah. 

"Maaf. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuanku semalam. Aku... aku sedang di bawah pengaruh alkohol dan emosiku sedang tidak stabil. Tolong lupakan semua ucapan dan... tindakanku semalam. Aku tidak bermaksud melecehkanmu."

Laki-laki itu terdiam sejenak, menatap Adista dengan mata elangnya yang dalam. 

"Namaku Fero. Dan soal ucapanmu semalam... apa kamu serius tentang lamaran itu?"

Adista tertegun. 

"Hah? Aku kan sudah bilang kalau aku mabuk—"

"Aku bersedia," potong Fero cepat, suaranya terdengar tenang namun sarat akan keseriusan. 

"Aku bersedia menjadi suamimu. Menikah denganmu satu minggu lagi."

Adista terbelalak, mengira telinganya sedang bermasalah karena sisa alkohol. 

"Kamu gila? Kita bahkan baru kenal kemarin! Aku menyelamatkanmu dari preman, dan sekarang kamu mau menikahiku hanya karena ucapan wanita mabuk?"

Fero menggeser duduknya sedikit, menatap Adista tanpa ragu. 

"Kamu butuh calon pengantin pria untuk menggantikan tunanganmu yang berengsek itu, bukan? Pernikahanmu tinggal satu minggu. Daripada menanggung malu karena pembatalan sepihak, pakai aku saja. Anggap saja ini caraku membalas budi atas nyawaku yang kamu selamatkan kemarin."

Adista mengerutkan kening, menangkap kalimat terakhir Fero. 

"Kamu yakin?"

"Sangat yakin," ujar Fero meyakinkan. "Latar belakangku bersih. Aku tidak punya hubungan dengan wanita siapapun. Aku yakin aku cocok untuk menggantikan suamimu."

Adista menatap Fero lekat-lekat. Dia sudah cukup terhina dengan pengkhianatan Stevan. Dia tidak mau lagi menghadapi rasa malu karena membatalkan pernikahan yang hanya seminggu lagi.

"Kamu yakin tidak akan menyesal?" tanya Adista meyakinkan sekali lagi. 

"Aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku. Aku bersedia menikahimu."

Adista terdiam sepenuhnya. Mungkin, ini jalan keluarnya. Toh, Adista tidak butuh suami sungguhan, ia hanya butuh suami pengganti sementara.

"Oke.Satu tahun," jawab Adista akhirnya. "Cukup satu tahun saja, setelah itu kamu bebas mengambil keputusan apapun."

"Aku akan usahakan yang terbaik untukmu, Nona."

"Panggil aku Adista."

Keputusan kilat telah diambil. Adista tidak ingin membuang waktu. Dia langsung menghubungi Hana. Walau sedikit syok, Hana langsung mengurus segala administrasi yang diperlukan.

Siang itu juga, Adista dan Fero pergi ke kantor pendaftaran pernikahan dengan dikawal oleh Hana. Seluruh data pernikahan atas nama Stevan diganti menjadi Fero. 

Saat mereka kembali ke kediaman Adista sore harinya, sebuah mobil yang sangat Adista kenali sudah terparkir sembarangan di depan gerbang.

Stevan ada di sana. Pria itu mondar-mandir dengan wajah merah padam.

Adista turun dari mobil dengan tenang, diikuti oleh Fero yang berdiri tegap di belakangnya.

"Adista! Apa-apaan ini?!" bentak Stevan berapi-api, urat-urat di lehernya menonjol.

"Kenapa semua kartu kredit dari perusahaanmu diblokir? Dan kenapa aksesku ke apartemen dan seluruh fasilitas kantor tiba-tiba dicabut?! Kamu tahu betapa memalukannya aku saat kasir bar menolak kartuku siang tadi?!"

Adista menatap Stevan dengan tatapan kosong, tidak ada lagi cinta atau kehangatan di matanya. Hanya ada rasa jijik yang mendalam.

"Semua itu fasilitas dari perusahaanku, Stevan. Dan karena hubungan kita sudah berakhir, otomatis semua fasilitas itu kembali menjadi milikku," jawab Adista dingin, melipat kedua tangannya di dada.

Stevan menghela napas, mengira Adista hanya sedang merajuk. 

"Pernikahan kita tinggal satu minggu lagi, Adista. Jangan kekanak-kanakan hanya karena aku membatalkan makan malam semalam! Aku kan sudah bilang kalau aku lembur!"

"Lembur?" Adista menaikkan satu alisnya, senyum sarkas terukir di bibirnya. "Lembur di atas sofa ruanganmu bersama Siska? Sambil mendengarkan dia mendesah nikmat menyebut namamu?"

Kata-kata Adista seketika membungkam Stevan. Wajah pria itu langsung pucat pasi. Tapi tentu saja Stevan tidak mau kalah. Dia tetap ingin menempatkan Adista di posisi yang salah. 

"Oh, jadi kamu memata-matai aku?! Dasar wanita tidak tahu terima kasih! Tanpa aku dan keluargaku yang mendampingimu sejak awal membangun bisnis ini, kamu bukan siapa-siapa, Adista! Kamu tidak akan bisa berdiri di posisi ini! Kamu sudah lupa siapa yang menyelamatkan ayahmu, hah?"

Adista tidak mundur selangkah pun. 

"Aku tidak tahu terima kasih?" Adista tertawa hambar. 

"Terbalik, Stevan. Tanpa suntikan dana dan proyek-proyek yang aku berikan kepada perusahaan keluargamu yang hampir bangkrut itu, kamu dan keluargamu sudah jadi gelandangan sekarang! Hutang budi keluargaku atas bantuan masa lalu ayahmu sudah lunas sejak lama. Kamu yang bukan siapa-siapa tanpa aku!"

"Kurang ajar!"

Stevan tidak terima. Dia berniat menampar Adista, tetapi sebuah tangan kekar dengan sigap menangkap pergelangan tangannya. 

Itu Fero.

"Jangan pernah menyentuh calon istriku dengan tangan kotormu ini, Stevan," desis Fero dengan suara rendah yang terdengar sangat mengintimidasi. Mata Fero yang tadinya tenang, kini memancarkan kilatan amarah yang mematikan.

"Siapa kamu, hah?! Jangan ikut campur, baji—"

Bugh!

Satu tinjuan mentah dari Fero mendarat telak di rahang kiri Stevan. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. 

Stevan memegangi rahangnya yang terasa bergeser, menatap Fero dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri. 

Fero maju selangkah, berdiri pas di depan Adista untuk melindunginya. Dia menatap Stevan dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. 

"Sekali lagi kamu berani mengangkat tanganmu pada Adista, atau bahkan menampakkan wajahmu di depannya... aku sendiri yang akan membuat perhitungan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran."

Nyali Stevan menciut. Dia melirik Adista yang menatapnya dengan tatapan tidak suka, kemudian mengusap darah di bibirnya lalu masuk ke dalam mobil.

Dia menurunkan kaca mobil, menatap Adista dan Fero dengan penuh dendam. 

"Kalian pikir ini sudah selesai?! Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja! Aku akan membuat perhitungan denganmu, Adista! Lihat saja nanti!" ancam Stevan sebelum akhirnya meninggalkan area rumah Adista.

"Terima kasih," ucap Adista tulus.

Fero menoleh, menatap Adista lembut. 

"Sama-sama. Itu sudah menjadi tugasku sebagai calon suamimu, bukan?"

Adista tidak menjawab. Hanya saja kalimat itu membuat pipinya memerah. 

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Tentang Zia

    Mobil sedan mewah milik Adista melaju membelah jalanan kota yang cukup padat. Di balik kemudi, Hana fokus memperhatikan jalanan, sesekali melirik kaca spion tengah untuk memantau situasi di kursi belakang. Di sana, Adista dan Fero duduk berdampingan, dipisahkan oleh jarak beberapa puluh sentimeter yang terasa canggung. Keduanya dipenuhi oleh riuh pikiran masing-masing.Adista menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, menatap keluar jendela. Sementara bayangan gedung-gedung tinggi di luar sana justru kabur, tergantikan oleh ingatan tentang malam tadi. Pipinya mendadak terasa hangat. Di kamar suite hotel tempat mereka menginap setelah acara pernikahan yang serba mendadak itu, Fero memperlakukannya dengan sangat lembut. Sentuhan manis dan menggairahkan, bisikan menenangkan di telinganya, dan bagaimana lelaki itu memeluknya erat seolah ingin melindunginya dari seluruh kekejaman dunia—semua itu terasa begitu nyata. Adista tersenyum tipis tanpa sadar. Untuk sesaat, dia sempat lupa bahwa per

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Kehilangan Segalanya

    Layar monitor di hadapan Stevan menampilkan grafik menukik tajam berwarna merah darah. Stevan menghempaskan vas bunga kristal di meja kerjanya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, dasinya sudah ditarik longgar, dan rambutnya acak-acakan. Kepanikan yang luar biasa kini mencengkeram dadanya, membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa menipis."Sialan! Sialan! Kenapa bisa jadi begini?!" raung Stevan frustrasi.Ulah nekatnya membawa awak media dan membuat keributan di pesta pernikahan Adista dan Fero semalam telah memicu serangan balik yang mematikan. Alih-alih menghancurkan reputasi Adista, video dirinya yang diusir paksa oleh petugas keamanan karena dianggap sebagai pengacau justru beredar luas di jagat maya. Berita perselingkuhannya mencuat, dan membuat reputasinya sendiri yang memburuk. Mengatasi itu, Stevan berusaha mencari bantuan. "Halo, Pak Baskoro? Ini Stevan. Saya butuh bantuan Bapak untuk mengamankan sisa saham di—""Maaf, Pak Stevan, saya sedang

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Malam Kita

    Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adista menarik lepas tali simpul piyama Fero. Satu tangannya mulai memeta pahatan tubuh lelaki itu. Dari indra perabanya, Adista bisa merasakan setiap lekuk indah tubuh sang suami.Rabaan Adista pada tubuhnya membangkitkan gairah terpendam Fero. Dia menyusul melepaskan kimono wanita itu. Ciuman mereka terlepas, dan mata Fero terpana melihat keindahan tubuh wanita yang sudah membayarnya untuk menjadi suami tersebut.Lelaki itu meneguk ludah beberapa kali. Dia salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa setelah ini.Adista melihatnya dan terkekeh pelan, kedua tangan Adista menuntun tangan Fero untuk menyentuh dua bulatan dada miliknya. Sensasi lembut dan hangat yang Fero rasakan membuat lelaki itu

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hari Pernikahan

    Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengundang tatapan kagum dari semua tamu yang hadir. Di lantai dansa dan area katering, bisik-bisik para tamu undangan terdengar di sana-sini. "Kalian sudah dengar berita tentang Stevan? Ternyata dia tertangkap basah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri tepat seminggu sebelum hari H. Benar-benar tidak tahu diuntung!" bisik seorang wanita sosialita di barisan depan."Iya, aku juga dengar. Untung saja Adista cepat mengambil keputusan. Dan lihat suaminya sekarang... siapa namanya? Fero? Astaga, dia jauh lebih tampan dan gagah daripada Stevan. Aura kepemimpinannya sangat terasa," sahut temannya, menatap kagum ke arah pelaminan."Mereka terlihat sangat serasi. Pasangan yang sempurna. Adista yan

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah bangun?" tanya laki-laki itu.Adista langsung terduduk tegak, mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya. Dia memeriksa pakaiannya. Untunglah, gaun kasualnya masih melekat lengkap, meski sudah sangat kusut."Kamu… kamu pria yang babak bellur kemarin! Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Adista panik, suaranya sedikit parau.Laki-laki itu berdeham pelan, tampak agak salah tingkah. "Kamu salah masuk kamar semalam. Kondisimu sangat mabuk."Pelan-pelan ingatan Adista kembali. Semua tingkah konyolnya itu semakin membuatnya tak punya muka di hadapan pria asing ini.Wajah Adista langsung memerah padam sampai ke telinga. Terutama saat dia mengingat adegan ciuman sepihak semalam. "Astaga..." Adi

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menikahlah Denganku

    "Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah, aku tidak akan menyentuhnya. Aku hanya perlu hartanya, tidak lebih.""Lima tahun menjalin hubungan, kamu yakin tidak jatuh hati sedikit pun padanya, Stev?"Stevan terkekeh lagi."Berapa kali harus aku katakan, Sayang, aku tidak pernah mencintainya. Dari dulu, hanya kamu yang ada di hatiku. Untuk apa juga aku susah payah memasukkan kamu ke perusahaan ini? Semua ini adalah bukti kalau hanya kamu yang aku cintai, Siska."Adista mengepalkan tangannya erat hingga buku-bukunya memutih. Dadanya begitu sesak setelah mengetahui kalau selama ini dia cinta sendirian. Stevan tidak pernah membalas perasaannya. Semuanya palsu."Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu sampai berani ingkar janji, Stevan.""

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status