MasukCahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata.
Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang. "Sudah bangun?" tanya laki-laki itu. Adista langsung terduduk tegak, mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya. Dia memeriksa pakaiannya. Untunglah, gaun kasualnya masih melekat lengkap, meski sudah sangat kusut. "Kamu… kamu pria yang babak bellur kemarin! Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Adista panik, suaranya sedikit parau. Laki-laki itu berdeham pelan, tampak agak salah tingkah. "Kamu salah masuk kamar semalam. Kondisimu sangat mabuk." Pelan-pelan ingatan Adista kembali. Semua tingkah konyolnya itu semakin membuatnya tak punya muka di hadapan pria asing ini. Wajah Adista langsung memerah padam sampai ke telinga. Terutama saat dia mengingat adegan ciuman sepihak semalam. "Astaga..." Adista menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia sangat malu, dan merasa bersalah. "Maaf. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuanku semalam. Aku... aku sedang di bawah pengaruh alkohol dan emosiku sedang tidak stabil. Tolong lupakan semua ucapan dan... tindakanku semalam. Aku tidak bermaksud melecehkanmu." Laki-laki itu terdiam sejenak, menatap Adista dengan mata elangnya yang dalam. "Namaku Fero. Dan soal ucapanmu semalam... apa kamu serius tentang lamaran itu?" Adista tertegun. "Hah? Aku kan sudah bilang kalau aku mabuk—" "Aku bersedia," potong Fero cepat, suaranya terdengar tenang namun sarat akan keseriusan. "Aku bersedia menjadi suamimu. Menikah denganmu satu minggu lagi." Adista terbelalak, mengira telinganya sedang bermasalah karena sisa alkohol. "Kamu gila? Kita bahkan baru kenal kemarin! Aku menyelamatkanmu dari preman, dan sekarang kamu mau menikahiku hanya karena ucapan wanita mabuk?" Fero menggeser duduknya sedikit, menatap Adista tanpa ragu. "Kamu butuh calon pengantin pria untuk menggantikan tunanganmu yang berengsek itu, bukan? Pernikahanmu tinggal satu minggu. Daripada menanggung malu karena pembatalan sepihak, pakai aku saja. Anggap saja ini caraku membalas budi atas nyawaku yang kamu selamatkan kemarin." Adista mengerutkan kening, menangkap kalimat terakhir Fero. "Kamu yakin?" "Sangat yakin," ujar Fero meyakinkan. "Latar belakangku bersih. Aku tidak punya hubungan dengan wanita siapapun. Aku yakin aku cocok untuk menggantikan suamimu." Adista menatap Fero lekat-lekat. Dia sudah cukup terhina dengan pengkhianatan Stevan. Dia tidak mau lagi menghadapi rasa malu karena membatalkan pernikahan yang hanya seminggu lagi. "Kamu yakin tidak akan menyesal?" tanya Adista meyakinkan sekali lagi. "Aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku. Aku bersedia menikahimu." Adista terdiam sepenuhnya. Mungkin, ini jalan keluarnya. Toh, Adista tidak butuh suami sungguhan, ia hanya butuh suami pengganti sementara. "Oke.Satu tahun," jawab Adista akhirnya. "Cukup satu tahun saja, setelah itu kamu bebas mengambil keputusan apapun." "Aku akan usahakan yang terbaik untukmu, Nona." "Panggil aku Adista." Keputusan kilat telah diambil. Adista tidak ingin membuang waktu. Dia langsung menghubungi Hana. Walau sedikit syok, Hana langsung mengurus segala administrasi yang diperlukan. Siang itu juga, Adista dan Fero pergi ke kantor pendaftaran pernikahan dengan dikawal oleh Hana. Seluruh data pernikahan atas nama Stevan diganti menjadi Fero. Saat mereka kembali ke kediaman Adista sore harinya, sebuah mobil yang sangat Adista kenali sudah terparkir sembarangan di depan gerbang. Stevan ada di sana. Pria itu mondar-mandir dengan wajah merah padam. Adista turun dari mobil dengan tenang, diikuti oleh Fero yang berdiri tegap di belakangnya. "Adista! Apa-apaan ini?!" bentak Stevan berapi-api, urat-urat di lehernya menonjol. "Kenapa semua kartu kredit dari perusahaanmu diblokir? Dan kenapa aksesku ke apartemen dan seluruh fasilitas kantor tiba-tiba dicabut?! Kamu tahu betapa memalukannya aku saat kasir bar menolak kartuku siang tadi?!" Adista menatap Stevan dengan tatapan kosong, tidak ada lagi cinta atau kehangatan di matanya. Hanya ada rasa jijik yang mendalam. "Semua itu fasilitas dari perusahaanku, Stevan. Dan karena hubungan kita sudah berakhir, otomatis semua fasilitas itu kembali menjadi milikku," jawab Adista dingin, melipat kedua tangannya di dada. Stevan menghela napas, mengira Adista hanya sedang merajuk. "Pernikahan kita tinggal satu minggu lagi, Adista. Jangan kekanak-kanakan hanya karena aku membatalkan makan malam semalam! Aku kan sudah bilang kalau aku lembur!" "Lembur?" Adista menaikkan satu alisnya, senyum sarkas terukir di bibirnya. "Lembur di atas sofa ruanganmu bersama Siska? Sambil mendengarkan dia mendesah nikmat menyebut namamu?" Kata-kata Adista seketika membungkam Stevan. Wajah pria itu langsung pucat pasi. Tapi tentu saja Stevan tidak mau kalah. Dia tetap ingin menempatkan Adista di posisi yang salah. "Oh, jadi kamu memata-matai aku?! Dasar wanita tidak tahu terima kasih! Tanpa aku dan keluargaku yang mendampingimu sejak awal membangun bisnis ini, kamu bukan siapa-siapa, Adista! Kamu tidak akan bisa berdiri di posisi ini! Kamu sudah lupa siapa yang menyelamatkan ayahmu, hah?" Adista tidak mundur selangkah pun. "Aku tidak tahu terima kasih?" Adista tertawa hambar. "Terbalik, Stevan. Tanpa suntikan dana dan proyek-proyek yang aku berikan kepada perusahaan keluargamu yang hampir bangkrut itu, kamu dan keluargamu sudah jadi gelandangan sekarang! Hutang budi keluargaku atas bantuan masa lalu ayahmu sudah lunas sejak lama. Kamu yang bukan siapa-siapa tanpa aku!" "Kurang ajar!" Stevan tidak terima. Dia berniat menampar Adista, tetapi sebuah tangan kekar dengan sigap menangkap pergelangan tangannya. Itu Fero. "Jangan pernah menyentuh calon istriku dengan tangan kotormu ini, Stevan," desis Fero dengan suara rendah yang terdengar sangat mengintimidasi. Mata Fero yang tadinya tenang, kini memancarkan kilatan amarah yang mematikan. "Siapa kamu, hah?! Jangan ikut campur, baji—" Bugh! Satu tinjuan mentah dari Fero mendarat telak di rahang kiri Stevan. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. Stevan memegangi rahangnya yang terasa bergeser, menatap Fero dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri. Fero maju selangkah, berdiri pas di depan Adista untuk melindunginya. Dia menatap Stevan dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Sekali lagi kamu berani mengangkat tanganmu pada Adista, atau bahkan menampakkan wajahmu di depannya... aku sendiri yang akan membuat perhitungan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran." Nyali Stevan menciut. Dia melirik Adista yang menatapnya dengan tatapan tidak suka, kemudian mengusap darah di bibirnya lalu masuk ke dalam mobil. Dia menurunkan kaca mobil, menatap Adista dan Fero dengan penuh dendam. "Kalian pikir ini sudah selesai?! Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja! Aku akan membuat perhitungan denganmu, Adista! Lihat saja nanti!" ancam Stevan sebelum akhirnya meninggalkan area rumah Adista. "Terima kasih," ucap Adista tulus. Fero menoleh, menatap Adista lembut. "Sama-sama. Itu sudah menjadi tugasku sebagai calon suamimu, bukan?" Adista tidak menjawab. Hanya saja kalimat itu membuat pipinya memerah.Angin malam berembus membawa kesejukan yang menelusup hingga ke pori-pori kulit. Di atas balkon kamar yang menghadap langsung ke arah gemerlap lampu kota, Fero berdiri bersandar pada pagar kaca pembatas. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, namun pendar di manik matanya tak lagi menyiratkan kekosongan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya. Ada kelegaan yang perlahan mekar di sana.Sepasang lengan ramping yang melingkar hangat di pinggangnya membuat lamunan Fero seketika buyar. Aroma parfum beraroma vanilla dan jasmine yang sangat familier menguar, menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang."Udara malam ini lumayan dingin, Sayang. Kenapa kamu malah berdiri di sini tanpa memakai jaket?" tegur Adista lembut, menyandarkan pipinya di punggung lebar sang suami.Fero tersenyum tipis, meraba punggung tangan Adista yang bertaut di perutnya, lalu mengusapnya perlahan."Aku sama sekali tidak merasa kedinginan, Dis. Entah kenapa, embusan angin malam ini justru terasa sangat melega
Angin sore berembus pelan menyapu deretan batu nisan di pemakaman umum desa yang sangat sederhana. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ini terasa begitu sunyi dan damai. Kakek Hardian melangkah gontai dengan bantuan tongkat emasnya, dipandu oleh Fero dan Adista yang berjalan beriringan di depannya menyusuri jalan setapak berumput liar.Langkah Fero terhenti di depan sebuah gundukan tanah berselimut rumput hijau dengan batu nisan keramik putih yang mulai kusam dan berlumut di bagian ujungnya."Di sini, Kek," ucap Fero pelan, suaranya terdengar sangat parau. "Di sinilah Ibu Dewi disemayamkan."Hardian menatap batu nisan bertuliskan Dewi Damayanti itu dengan mata yang perlahan memerah. Rahangnya mengeras seketika. Napas pria tua itu memburu cepat, memancarkan gelombang amarah yang selama puluhan tahun ini ia pendam rapat-rapat."Jadi di sini kau bersembunyi, Dewi?!" suara Hardian menggelegar memecah kesunyian makam, menuding batu nisan itu dengan tongkat emasnya yang bergetar. "Di
Suara ketukan tongkat emas yang beradu dengan lantai marmer terdengar bertalu-talu, mengiringi langkah mondar-mandir Kakek Hardian di ruang keluarga kediaman Adiwangsa. Wajah lelaki renta itu memerah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meletup-letup."Rama! Aku tidak mau tahu! Kerahkan seluruh tim pelacak terbaik yang kita miliki! Cari wanita bernama Dewi Damayanti itu sampai dapat!" perintah Hardian dengan suara menggelegar."Baik, Tuan Besar. Kami akan melacak data kependudukannya dari desa Nyonya Tari yang kemarin—""Jangan cuma dilacak dari data desa! Sebarkan detektif swasta ke seluruh pelosok negeri! Begitu kalian menemukannya, seret dia ke hadapanku hidup-hidup! Aku sendiri yang akan memastikan wanita keparat itu membusuk di penjara dengan hukuman paling berat! Dia harus membayar nyawa putra dan menantuku!""Hentikan, Rama. Batalkan perintah itu sekarang juga."Suara bariton Fero memotong ketegangan di ruangan itu. Pria itu melangkah masuk dari arah taman belakang, di
Asap pekat dari cerutu mahal mengepul tipis di udara, memenuhi ruang kerja klasik di kediaman utama keluarga Adiwangsa. Kakek Hardian duduk di kursi kulit kebesarannya, menatap hamparan taman luas dari balik jendela kaca.Suara ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan ruangan tersebut."Masuk," perintah Hardian dengan suara seraknya yang berwibawa.Pintu kayu jati itu terbuka. Rama melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegap, membawa sebuah komputer tablet di tangannya. Wajah asisten kepercayaan itu tampak jauh lebih tegang dari biasanya."Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Besar," ucap Rama seraya membungkuk hormat. "Ada sebuah laporan mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda siang ini juga."Hardian memutar kursinya, menatap Rama dengan alis bertaut."Laporan apa, Rama? Apakah ini berkaitan dengan kondisi kesehatan cucuku, Fero? Atau ada masalah di perusahaan istrinya?""Ini berkaitan dengan Tuan Muda Fero, Tuan Besar," jawab Rama hati-hati. "Baru saja terjadi
"Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se
Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem
Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist
Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb







