共有

Menikahlah Denganku

作者: Erumanstory
last update 公開日: 2026-04-21 00:38:11

"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."

Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.

Stevan terkekeh.

"Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah, aku tidak akan menyentuhnya. Aku hanya perlu hartanya, tidak lebih."

"Lima tahun menjalin hubungan, kamu yakin tidak jatuh hati sedikit pun padanya, Stev?"

Stevan terkekeh lagi.

"Berapa kali harus aku katakan, Sayang, aku tidak pernah mencintainya. Dari dulu, hanya kamu yang ada di hatiku. Untuk apa juga aku susah payah memasukkan kamu ke perusahaan ini? Semua ini adalah bukti kalau hanya kamu yang aku cintai, Siska."

Adista mengepalkan tangannya erat hingga buku-bukunya memutih. Dadanya begitu sesak setelah mengetahui kalau selama ini dia cinta sendirian. Stevan tidak pernah membalas perasaannya. Semuanya palsu.

"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu sampai berani ingkar janji, Stevan."

"Percaya padaku, Siska. Setelah semua tujuanku tercapai, aku akan melenyapkan Adista, dan menikahimu. Kita akan hidup bahagia seperti impian kita selama ini."

Sekarang tubuh Adista sepenuhnya membeku mendengar semuanya. Cukup, Adista tidak ingin mendengar lebih banyak lagi.

Adista berbalik dan berlari menuju ke parkiran. Adista masuk ke dalam mobilnya.

Wanita itu memutuskan menghubungi Hana.

"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Hana di ujung sana.

"Han, tolong kamu hubungi pihak bank, dan minta mereka blokir semua kartu kredit Stevan. Suruh orang kepercayaan kita untuk mengosongkan apartemen yang ditinggali lelaki itu. Keluarkan semua barangnya tanpa sisa, dan ganti passwordnya. Pastikan Stevan tidak bisa masuk lagi ke sana."

Adista memerintahkan itu semua tanpa ragu. Dia bahkan tampak sangat tegas dalam mengambil keputusan ini.

"Bu, tapi... "

"Jangan membantah. Lakukan saja apa yang aku perintahkan! Satu lagi, minta pak Hadi bawa mobil Stevan ke rumahku. Bilang padanya, mulai hari ini dia bekerja untukku, bukan lagi untuk Stevan."

"Ba-baik, Bu."

"Kabari kalau kamu sudah melakukan semuanya."

Adista memutuskan sambungan telepon mereka sepihak. Adista menatap langit-langit mobilnya. Air matanya tanpa terasa meleleh begitu saja.

Enam tahun lalu, kedua orang tua Adista mengalami kecelakaan hebat. Ibunya meninggal di tempat kejadian, sementara ayahnya kritis.

Di saat itu, datanglah ayah Stevan menawarkan bantuan. Lelaki itu mendonorkan darahnya untuk ayah Adista. Berkat kebaikan ayah Stevan, ayah Adista terselamatkan. Walaupun harus lumpuh permanen, dan duduk di kursi roda.

Sejak saat itu, hubungan keluarga mereka semakin dekat. Ayah Adista dan ayah Stevan pun sepakat untuk menjodohkan Adista dan Stevan. Menikah dengan penyelamat keluarganya, Adista tidak sedikit pun keberatan, apalagi Stevan juga tampak bahagia menerima perjodohan keduanya.

Dengan tangan gemetar, Adista meraih ponselnya. Dia menghubungi pihak bar langganannya untuk booking tempat. Malam ini Adista ingin melupakan segalanya walau hanya sejenak.

Beberapa jam berlalu.

Aroma alkohol yang pekat menguar saat Adista melangkah sempoyongan memasuki rumah mewahnya. Kepalanya pusing, akibat terlalu banyak minum.

"Stevan... bajingan..." racau Adista lirih, air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak lengket di pipinya.

Dengan kesadaran yang tersisa tidak lebih dari sepuluh persen, Adista menaiki tangga menuju ke lantai atas. Merasa sudah sampai kamarnya, Adista masuk, dan naik ke atas tempat tidur.

Sementara seseorang terbangun di atas ranjang, dan kebingungan melihat Adista yang kini ada di atas tubuhnya. Kedua tangan Adista bertumpu di dada bidang seorang lelaki, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

"Kamu, apa yang kamu lakukan?"

Pria membuka mata, itu refleks memegang pinggang Adista agar wanita itu tidak terjungkal.

Luka-luka di tubuhnya sebenarnya masih perih, tapi keterkejutannya mengalahkan rasa sakit itu.

Adista tidak menjawab pertanyaan. Dia justru memajukan wajahnya, menatap pria itu dengan mata sayu yang sayup-sayup basah. Jemari lentik Adista bergerak menyentuh rahang tegasnya, mengusapnya perlahan.

"Wah... kamu... tampan sekali," gumam Adista dengan senyum mabuk yang getir. "Seandainya  ada pria tampan yang mau mencintaiku dengan tulus…"

 "Nona, kamu mabuk. Turunlah—"

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Adista menundukkan kepalanya dan membungkam bibir pria itu dengan bibirnya.

Saat Adista melepaskan tautan bibir mereka, detik berikutnya, air mata Adista kembali mengalir deras, membasahi kaos bersih di dada bidang pria itu.

"Hiks... Menikahlah denganku," bisik Adista terisak, menyandarkan keningnya di bahunya. "Aku sudah menyebar banyak undangan, venue, gaun, semua sudah siap… Aku bayar kamu berapapun, asal kau mau menggantikan bajingan itu menjadi suamiku."

"Satu minggu lagi kami menikah, tapi dia... dia bercinta dengan sekretarisnya di kantor. Bajingan itu mengkhianatiku..."

Adista berceloteh panjang lebar, tangisan yang tertahan di bar tumpah di dada pria yang ia tidak ketahui namanya itu.

Tangan pria itu terangkat untuk mengusap punggung Adista yang bergetar hebat.

Kemudian, racauan Adista terhenti. Mata Adista sudah terpejam rapat. Adista jatuh tertidur.

Pria itu dengan lembut membaringkan Adista di sisinya, menatap wajah tidur Adista di bawah temaram lampu kamar. Sisa-sisa air mata masih membekas di sudut mata Adista.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menghadapi Dengan Tenang

    Hening seketika menyelimuti lobi utama saat langkah tegas Fero dan Adista menggema di atas lantai. Puluhan pasang mata karyawan yang semula berbisik-bisik kini terdiam kaku, membelah jalan secara otomatis untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut."Fero!"Zia menjerit histeris. Tanpa memedulikan tatapan puluhan orang, ia berlari kencang menerobos kerumunan dan langsung menabrakkan tubuhnya ke dada Fero. Kedua lengannya melingkar erat di leher pria itu, sementara wajahnya ditenggelamkan di ceruk bahu Fero diiringi isak tangis yang memekakkan telinga."Fero, akhirnya kamu datang! Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku! Ayo kita pulang, Fero! Tinggalkan perempuan ini sekarang juga!" ratap Zia, air matanya membasahi kemeja mahal yang dikenakan Fero.Fero mematung selama satu detik, sebelum rahangnya mengeras. Dengan tatapan sedingin es dan raut wajah penuh penolakan, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Zia dan melepaskan pelukan itu secara paksa. Ia mendorong tubuh Zia cukup keras

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Datang Melabrak

    Suasana sibuk yang biasanya diwarnai oleh dering telepon dan suara ketikan di lobi utama perusahaan Adista mendadak terhenti total. Pintu kaca otomatis di bagian depan terbuka lebar, menampilkan Zia dan Tari yang melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura arogansi yang kental. Di belakang mereka, pengacara Surya dan dua asistennya berjalan mengekor."Maaf, Ibu. Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Ibu sudah membuat janji temu sebelumnya?" sapa resepsionis lobi dengan ramah, berusaha menahan rombongan itu di meja depan.Tari menggebrak meja resepsionis dengan telapak tangannya, membuat gadis penjaga meja itu tersentak kaget."Janji temu?! Kamu pikir saya butuh jadwal untuk melabrak perempuan perebut calon suami orang?!" teriak Tari, suaranya melengking tajam membelah keheningan lobi.Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Kepala-kepala mulai menoleh ke arah sumber keributan."Maaf, Ibu... maksud Ibu siapa?" tanya resep

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Rencana Balas Dendam

    Roda koper mahal bermerek Louis Vuitton itu berderit mulus di atas lantai lobi Hotel Kempinski Jakarta. Dua bellboy berseragam rapi berjalan menunduk hormat di belakang Zia dan Mama Tari, membawakan sisa barang bawaan mereka yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran orang yang hanya berniat melabrak.Mama Tari mengibaskan rambut blow-nya yang sempurna, membenarkan letak kacamata hitam berbingkai emasnya meski mereka berada di dalam ruangan ber-AC yang sejuk."Tadinya Mama mau membiarkan kamu berangkat sendirian ke Jakarta, Zia. Biar kamu belajar mandiri menghadapi masalah," keluh Tari dengan nada manja, melangkah angkuh menuju lift khusus VIP. "Tapi, setelah Mama pikir-pikir lagi semalaman, mana tega Mama melepas anak gadis kesayangan Mama satu-satunya ke kota sekeras ini sendirian?"Zia langsung merangkulkan lengannya ke lengan sang ibu, tersenyum lebar dengan riasan wajah yang tebal."Makanya Zia sayang banget sama Mama! Kalau Zia berangkat sendiri, Zia pasti kebingungan, Ma. Jakar

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Lembar Kenangan

    Gerbang besi raksasa berukir tembaga itu bergerak membuka perlahan, menyambut kedatangan mobil yang membawa Fero dan Adista memasuki pelataran Kediaman Utama Adiwangsa. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi itu memancarkan kemegahan yang luar biasa.Di depan pintu utama, Kakek Hardian sudah berdiri menanti. Senyum pria paruh baya itu merekah lebar, mengalahkan gurat kelelahan di wajahnya. Rama, sang asisten setia, berdiri di belakangnya dengan sikap hormat.Begitu Fero dan Adista turun dari mobil, Hardian langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya."Selamat datang, cucuku. Selamat datang di rumahmu," sambut Hardian dengan suara bergetar menahan haru.Fero tersenyum, kali ini jauh lebih rileks dari pertemuan pertama mereka. Ia melangkah maju dan membalas pelukan kakeknya dengan hangat."Terima kasih, Kek. Rumah ini... luar biasa besar. Saya sampai bingung harus melihat ke arah mana lebih dulu," ucap Fero jujur.Hardian tertawa pelan

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Mempertimbangkan Semuanya

    Angin malam berembus cukup kencang, meniup dedaunan dari tanaman hias yang berjajar rapi di balkon. Dari lantai atas rumah mewah tersebut, gemerlap lampu kota Jakarta terlihat seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. sayangnya pemandangan memukau itu tampaknya sama sekali tidak menarik minat Fero. Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung sambil menyandarkan kedua lengannya di pagar besi balkon, tatapannya kosong menerawang menembus pekatnya malam.Suara derit pelan pintu kaca balkon yang digeser menyadarkan Fero dari lamunannya. Adista melangkah keluar dengan piyama satin yang lembut, membawa sebuah nampan kayu berisi dua cangkir porselen yang mengepulkan asap tipis. Ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja rotan kecil di sudut balkon, lalu berjalan mendekati suaminya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adista menyusupkan kedua lengannya ke pinggang Fero, memeluk pria itu dari belakang dengan sangat erat. Ia menyandarkan pipinya ke punggung Fero yang lebar dan hangat."Kenapa

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Ayo Pulang, Nak

    Suasana lobi yang bising oleh bisik-bisik dan tatapan penasaran puluhan karyawan membuat Adista segera mengambil alih kendali. Ia tidak ingin momen pribadi dan sangat emosional suaminya ini menjadi tontonan publik lebih lama lagi."Maaf, Tuan Hardian," sela Adista dengan suara lembut. "Lobi ini terlalu terbuka. Sangat tidak nyaman untuk membicarakan hal sepribadi ini di tengah banyak orang."Hardian menyeka air matanya, menatap Adista dengan sisa-sisa isak tangisnya."Kau... kau adalah istri dari cucuku?""Benar, Kek," jawab Adista, sengaja menggunakan panggilan hormat untuk menghargai pria tua di hadapannya. "Saya Adista, istri Fero. Sebagai cucu menantu Kakek, saya ingin mengundang Kakek naik ke ruangan eksklusif kami di lantai atas. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini di sana, di tempat yang lebih tertutup dan nyaman."Hardian mengangguk pelan, raut wajahnya melembut melihat sikap anggun Adista."Terima kasih, Nak Adista."Adista menoleh dengan cepat ke arah asistennya yang masi

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Malam Kita

    Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hari Pernikahan

    Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Sebuah Takdir

    Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status