แชร์

Hari Pernikahan

ผู้เขียน: Erumanstory
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-27 19:33:36

Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. 

Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengundang tatapan kagum dari semua tamu yang hadir. 

Di lantai dansa dan area katering, bisik-bisik para tamu undangan terdengar di sana-sini. 

"Kalian sudah dengar berita tentang Stevan? Ternyata dia tertangkap basah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri tepat seminggu sebelum hari H. Benar-benar tidak tahu diuntung!" bisik seorang wanita sosialita di barisan depan.

"Iya, aku juga dengar. Untung saja Adista cepat mengambil keputusan. Dan lihat suaminya sekarang... siapa namanya? Fero? Astaga, dia jauh lebih tampan dan gagah daripada Stevan. Aura kepemimpinannya sangat terasa," sahut temannya, menatap kagum ke arah pelaminan.

"Mereka terlihat sangat serasi. Pasangan yang sempurna. Adista yang anggun dan Fero yang tampak begitu protektif. Stevan sama sekali bukan tandingannya."

Adista mendengar beberapa sayatan pujian itu. Dia melirik ke arah Fero yang berada di sisinya. Pria itu menyadari tatapannya, lalu menoleh dan memberikan senyuman tipis yang menenangkan. 

Tiba-tiba saja Stevan masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan banyak awak media. Mengundang perhatian dari semua tamu yang hadir. 

Stevan meminta awak media menyorotnya yang tengah berdiri di depan pelaminan. 

"Lihat wanita ini! Dia berlagak seperti korban, padahal dia yang mengkhianatiku! Dia mencoret namaku dari pernikahan ini demi laki-laki simpanannya yang tidak jelas ini! Adista adalah wanita manipulatif yang mencampakkanku setelah semua yang kuberikan untuknya!"

Awak media mulai menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan provokatif. Beberapa tamu mulai berbisik panik. Adista tetap santai, seolah apa yang dilakukan Stevan bukan apa-apa. 

Sebelum Stevan berhasil menginjak undakan pelaminan, Fero sudah melangkah maju, memposisikan tubuh besarnya tepat di depan Adista, memblokade pandangan Stevan sepenuhnya. 

"Hana," panggil Adista. 

Hana langsung memberi isyarat kepada kepala keamanan hotel.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, dua puluh personel keamanan langsung mengepung Stevan dan para awak media. Mengusir mereka dengan tegas. 

"Lepaskan aku! Adista! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku tidak akan tinggal diam!" jerit Stevan histeris saat tubuhnya diangkat paksa oleh para petugas keamanan.

Musik kembali terdengar, dan Hana segera naik ke podium untuk menenangkan para tamu undangan. 

"Mohon maaf atas gangguan kecil tadi, para hadirin sekalian. Ada sedikit kesalahpahaman dari pihak luar yang sudah diatasi. Mari kita lanjutkan perayaan malam yang berbahagia ini untuk kedua mempelai."

Para tamu bersorak dan bertepuk tangan. Semua kembali larut dalam kemeriahan pesta. Adista lega, semua terkendali. 

Malam semakin larut ketika seluruh rangkaian acara akhirnya selesai. Adista membawa Fero menuju presidential suite di hotel mewah tersebut. Begitu pintu kamar terbuka, aroma esensial mawar dan lavender menyambut mereka. 

Ranjang berukuran king size di tengah ruangan dihiasi dengan taburan kelopak mawar merah membentuk hati, lengkap dengan dua angsa dari handuk yang saling bertautan. 

Suasana temaram dari lampu dinding kuning keemasan memberikan kesan yang sangat intim dan romantis.

Mereka berdua sempat berdiri canggung selama beberapa saat, menatap dekorasi kamar tersebut.

"Ehem... kamu bersih-bersih duluan saja, Fero. Aku akan menunggu di sini," kata Adista, berusaha memecah kecanggungan sambil melepaskan tiara dari rambutnya.

Fero mengangguk sopan. 

"Baiklah."

Setelah bergantian membersihkan diri dan melepaskan seluruh atribut pesta yang melelahkan, keduanya kini telah berganti pakaian yang lebih santai. 

Adista mengenakan piyama sutra panjang berwarna merah marun, sementara Fero mengenakan piyama hitam longgar yang disediakan oleh pihak hotel.

Adista berjalan menuju balkon kamar, tidak lama, fero menyusulnya. 

"Fero," panggil Adista lembut, memecah keheningan malam.

"Ya?" Fero menoleh, menatap wajah Adista yang tampak begitu cantik alami. 

"Aku... aku ingin berterima kasih lagi," ucap Adista tulus, matanya menatap lurus ke depan. 

"Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya."

Fero terdiam sejenak, menatap Adista lekat-lekat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. 

"Kamu tidak perlu terus-menerus berterima kasih, Adista. Sejak awal, aku memang sudah seharusnya melakukan ini."

Adista menoleh cepat, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ketulusan dalam suara Fero.  

Rasa terharu yang membuncah membuat Adista tidak bisa menahan diri lagi. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung kaki mereka hampir bersentuhan.

Kali ini, Fero tidak mundur. Pria itu justru menyambut atensi Adista sepenuhnya. Dia memutar tubuhnya menghadap Adista, menatap dalam-dalam ke manik mata wanita itu. 

Fero mengulurkan tangan kanannya, ibu jarinya bergerak lembut mengusap pipi Adista, menghapus setitik air mata haru yang sempat lolos di sudut matanya. Sentuhan itu terasa hangat, membuat bulu kuduk Adista meremang.

Kali ini, Fero yang mengambil inisiatif lebih dulu.

Pria itu menundukkan kepalanya perlahan, memberikan waktu bagi Adista untuk menghindar jika wanita itu keberatan. Namun, Adista justru memejamkan matanya, menanti.

Detik berikutnya, bibir Fero mendarat di atas bibir Adista. Ciuman kali ini sangat berbeda dengan ciuman mabuk semalam. 

Fero mencium bibir Adista cukup lama, menikmati kelembutan yang memabukkan itu.

Saat tautan bibir mereka terlepas sejenak untuk meraup udara, napas keduanya terdengar memburu. Adista menatap mata elang Fero yang kini tampak menggelap oleh gairah yang tertahan. 

"Fero..." bisik Adista dengan suara serak, tangannya melingkar di leher kokoh pria itu.

"Aku... aku menawarkan diriku malam ini. Jadikan aku milikmu sepenuhnya," bisik Adista tepat di telinga suaminya. 

Fero tidak memberikan jawaban, hanya jari-jari panjangnya yang bergerak perlahan melepaskan tali simpul piyama Adista sebagai tanda dia setuju.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Siap Menyongsong Masa Depan

    Angin malam berembus membawa kesejukan yang menelusup hingga ke pori-pori kulit. Di atas balkon kamar yang menghadap langsung ke arah gemerlap lampu kota, Fero berdiri bersandar pada pagar kaca pembatas. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, namun pendar di manik matanya tak lagi menyiratkan kekosongan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya. Ada kelegaan yang perlahan mekar di sana.Sepasang lengan ramping yang melingkar hangat di pinggangnya membuat lamunan Fero seketika buyar. Aroma parfum beraroma vanilla dan jasmine yang sangat familier menguar, menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang."Udara malam ini lumayan dingin, Sayang. Kenapa kamu malah berdiri di sini tanpa memakai jaket?" tegur Adista lembut, menyandarkan pipinya di punggung lebar sang suami.Fero tersenyum tipis, meraba punggung tangan Adista yang bertaut di perutnya, lalu mengusapnya perlahan."Aku sama sekali tidak merasa kedinginan, Dis. Entah kenapa, embusan angin malam ini justru terasa sangat melega

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Di Bawah Batu Nisan

    Angin sore berembus pelan menyapu deretan batu nisan di pemakaman umum desa yang sangat sederhana. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ini terasa begitu sunyi dan damai. Kakek Hardian melangkah gontai dengan bantuan tongkat emasnya, dipandu oleh Fero dan Adista yang berjalan beriringan di depannya menyusuri jalan setapak berumput liar.Langkah Fero terhenti di depan sebuah gundukan tanah berselimut rumput hijau dengan batu nisan keramik putih yang mulai kusam dan berlumut di bagian ujungnya."Di sini, Kek," ucap Fero pelan, suaranya terdengar sangat parau. "Di sinilah Ibu Dewi disemayamkan."Hardian menatap batu nisan bertuliskan Dewi Damayanti itu dengan mata yang perlahan memerah. Rahangnya mengeras seketika. Napas pria tua itu memburu cepat, memancarkan gelombang amarah yang selama puluhan tahun ini ia pendam rapat-rapat."Jadi di sini kau bersembunyi, Dewi?!" suara Hardian menggelegar memecah kesunyian makam, menuding batu nisan itu dengan tongkat emasnya yang bergetar. "Di

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Dia Sudah Mati

    Suara ketukan tongkat emas yang beradu dengan lantai marmer terdengar bertalu-talu, mengiringi langkah mondar-mandir Kakek Hardian di ruang keluarga kediaman Adiwangsa. Wajah lelaki renta itu memerah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meletup-letup."Rama! Aku tidak mau tahu! Kerahkan seluruh tim pelacak terbaik yang kita miliki! Cari wanita bernama Dewi Damayanti itu sampai dapat!" perintah Hardian dengan suara menggelegar."Baik, Tuan Besar. Kami akan melacak data kependudukannya dari desa Nyonya Tari yang kemarin—""Jangan cuma dilacak dari data desa! Sebarkan detektif swasta ke seluruh pelosok negeri! Begitu kalian menemukannya, seret dia ke hadapanku hidup-hidup! Aku sendiri yang akan memastikan wanita keparat itu membusuk di penjara dengan hukuman paling berat! Dia harus membayar nyawa putra dan menantuku!""Hentikan, Rama. Batalkan perintah itu sekarang juga."Suara bariton Fero memotong ketegangan di ruangan itu. Pria itu melangkah masuk dari arah taman belakang, di

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Kakek Turun Tangan

    Asap pekat dari cerutu mahal mengepul tipis di udara, memenuhi ruang kerja klasik di kediaman utama keluarga Adiwangsa. Kakek Hardian duduk di kursi kulit kebesarannya, menatap hamparan taman luas dari balik jendela kaca.Suara ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan ruangan tersebut."Masuk," perintah Hardian dengan suara seraknya yang berwibawa.Pintu kayu jati itu terbuka. Rama melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegap, membawa sebuah komputer tablet di tangannya. Wajah asisten kepercayaan itu tampak jauh lebih tegang dari biasanya."Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Besar," ucap Rama seraya membungkuk hormat. "Ada sebuah laporan mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda siang ini juga."Hardian memutar kursinya, menatap Rama dengan alis bertaut."Laporan apa, Rama? Apakah ini berkaitan dengan kondisi kesehatan cucuku, Fero? Atau ada masalah di perusahaan istrinya?""Ini berkaitan dengan Tuan Muda Fero, Tuan Besar," jawab Rama hati-hati. "Baru saja terjadi

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Membeli Harga Diri

    "Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Tuntutan Tak Masuk Akal

    Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Malam Kita

    Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menikahlah Denganku

    "Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Sebuah Takdir

    Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status