تسجيل الدخولAlunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah.
Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengundang tatapan kagum dari semua tamu yang hadir. Di lantai dansa dan area katering, bisik-bisik para tamu undangan terdengar di sana-sini. "Kalian sudah dengar berita tentang Stevan? Ternyata dia tertangkap basah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri tepat seminggu sebelum hari H. Benar-benar tidak tahu diuntung!" bisik seorang wanita sosialita di barisan depan. "Iya, aku juga dengar. Untung saja Adista cepat mengambil keputusan. Dan lihat suaminya sekarang... siapa namanya? Fero? Astaga, dia jauh lebih tampan dan gagah daripada Stevan. Aura kepemimpinannya sangat terasa," sahut temannya, menatap kagum ke arah pelaminan. "Mereka terlihat sangat serasi. Pasangan yang sempurna. Adista yang anggun dan Fero yang tampak begitu protektif. Stevan sama sekali bukan tandingannya." Adista mendengar beberapa sayatan pujian itu. Dia melirik ke arah Fero yang berada di sisinya. Pria itu menyadari tatapannya, lalu menoleh dan memberikan senyuman tipis yang menenangkan. Tiba-tiba saja Stevan masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan banyak awak media. Mengundang perhatian dari semua tamu yang hadir. Stevan meminta awak media menyorotnya yang tengah berdiri di depan pelaminan. "Lihat wanita ini! Dia berlagak seperti korban, padahal dia yang mengkhianatiku! Dia mencoret namaku dari pernikahan ini demi laki-laki simpanannya yang tidak jelas ini! Adista adalah wanita manipulatif yang mencampakkanku setelah semua yang kuberikan untuknya!" Awak media mulai menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan provokatif. Beberapa tamu mulai berbisik panik. Adista tetap santai, seolah apa yang dilakukan Stevan bukan apa-apa. Sebelum Stevan berhasil menginjak undakan pelaminan, Fero sudah melangkah maju, memposisikan tubuh besarnya tepat di depan Adista, memblokade pandangan Stevan sepenuhnya. "Hana," panggil Adista. Hana langsung memberi isyarat kepada kepala keamanan hotel. Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, dua puluh personel keamanan langsung mengepung Stevan dan para awak media. Mengusir mereka dengan tegas. "Lepaskan aku! Adista! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku tidak akan tinggal diam!" jerit Stevan histeris saat tubuhnya diangkat paksa oleh para petugas keamanan. Musik kembali terdengar, dan Hana segera naik ke podium untuk menenangkan para tamu undangan. "Mohon maaf atas gangguan kecil tadi, para hadirin sekalian. Ada sedikit kesalahpahaman dari pihak luar yang sudah diatasi. Mari kita lanjutkan perayaan malam yang berbahagia ini untuk kedua mempelai." Para tamu bersorak dan bertepuk tangan. Semua kembali larut dalam kemeriahan pesta. Adista lega, semua terkendali. Malam semakin larut ketika seluruh rangkaian acara akhirnya selesai. Adista membawa Fero menuju presidential suite di hotel mewah tersebut. Begitu pintu kamar terbuka, aroma esensial mawar dan lavender menyambut mereka. Ranjang berukuran king size di tengah ruangan dihiasi dengan taburan kelopak mawar merah membentuk hati, lengkap dengan dua angsa dari handuk yang saling bertautan. Suasana temaram dari lampu dinding kuning keemasan memberikan kesan yang sangat intim dan romantis. Mereka berdua sempat berdiri canggung selama beberapa saat, menatap dekorasi kamar tersebut. "Ehem... kamu bersih-bersih duluan saja, Fero. Aku akan menunggu di sini," kata Adista, berusaha memecah kecanggungan sambil melepaskan tiara dari rambutnya. Fero mengangguk sopan. "Baiklah." Setelah bergantian membersihkan diri dan melepaskan seluruh atribut pesta yang melelahkan, keduanya kini telah berganti pakaian yang lebih santai. Adista mengenakan piyama sutra panjang berwarna merah marun, sementara Fero mengenakan piyama hitam longgar yang disediakan oleh pihak hotel. Adista berjalan menuju balkon kamar, tidak lama, fero menyusulnya. "Fero," panggil Adista lembut, memecah keheningan malam. "Ya?" Fero menoleh, menatap wajah Adista yang tampak begitu cantik alami. "Aku... aku ingin berterima kasih lagi," ucap Adista tulus, matanya menatap lurus ke depan. "Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya." Fero terdiam sejenak, menatap Adista lekat-lekat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. "Kamu tidak perlu terus-menerus berterima kasih, Adista. Sejak awal, aku memang sudah seharusnya melakukan ini." Adista menoleh cepat, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ketulusan dalam suara Fero. Rasa terharu yang membuncah membuat Adista tidak bisa menahan diri lagi. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung kaki mereka hampir bersentuhan. Kali ini, Fero tidak mundur. Pria itu justru menyambut atensi Adista sepenuhnya. Dia memutar tubuhnya menghadap Adista, menatap dalam-dalam ke manik mata wanita itu. Fero mengulurkan tangan kanannya, ibu jarinya bergerak lembut mengusap pipi Adista, menghapus setitik air mata haru yang sempat lolos di sudut matanya. Sentuhan itu terasa hangat, membuat bulu kuduk Adista meremang. Kali ini, Fero yang mengambil inisiatif lebih dulu. Pria itu menundukkan kepalanya perlahan, memberikan waktu bagi Adista untuk menghindar jika wanita itu keberatan. Namun, Adista justru memejamkan matanya, menanti. Detik berikutnya, bibir Fero mendarat di atas bibir Adista. Ciuman kali ini sangat berbeda dengan ciuman mabuk semalam. Fero mencium bibir Adista cukup lama, menikmati kelembutan yang memabukkan itu. Saat tautan bibir mereka terlepas sejenak untuk meraup udara, napas keduanya terdengar memburu. Adista menatap mata elang Fero yang kini tampak menggelap oleh gairah yang tertahan. "Fero..." bisik Adista dengan suara serak, tangannya melingkar di leher kokoh pria itu. "Aku... aku menawarkan diriku malam ini. Jadikan aku milikmu sepenuhnya," bisik Adista tepat di telinga suaminya. Fero tidak memberikan jawaban, hanya jari-jari panjangnya yang bergerak perlahan melepaskan tali simpul piyama Adista sebagai tanda dia setuju.Fero berusaha memejamkan matanya di kamar tamu. Entah mengapa rasa kantuk seolah tidak mau menghampirinya. Hawa hangat tubuh Adista yang beberapa malam menemaninya membuatnya rindu. Walaupun ia tahu, tidak seharusnya dia bergantung pada Adista. Tidak berhasil tidur, Fero mengatur posisinya setengah duduk. Ia memakai selimut sebatas pinggang, dan mengambil ponselnya. Beberapa kali ia mencoba mengetik pesan untuk dikirimkan ke Adista, dan beberapa kali juga pesan yang sudah ia ketik itu dihapus lagi. Untuk menghibur diri, Fero membuka aplikasi game, dan berusaha fokus bermain. Ada pesan masuk, dan pesan itu datang dari Zia."Mas, kamu lagi apa di sana? Kenapa pesanku beberapa hari lalu cuma kamu baca? Kamu baik-baik saja di sana kan, Mas?"Fero keluar dari aplikasi game, dan membuka kolom percakapan dengan Zia. Ia baru ingat kalau dirinya belum membalas pesan dari wanita itu, hanya membacanya saja. "Maaf, Zia. Saya sibuk, lupa balas pesan kamu. Sekarang kerjanya full time. Saya di si
Langkah kaki Hana yang terburu-buru bergema keras di sepanjang koridor lantai kantor. Wajah sekretaris andalan itu tampak sedikit pucat, dengan napas yang memburu menahan kepanikan. Tanpa sempat mengetuk pintu seperti biasa, Hana langsung mendorong pintu ruang kerja CEO dan melangkah masuk dengan tergesa-gesa.Di balik meja kerjanya, Fero sedang fokus membaca laporan keuangan bulanan. Dia mendongak, sedikit terkejut melihat ekspresi wajah Hana yang tidak karuan."Pak Fero! Kita ada masalah besar di depan," ucap Hana setengah berbisik. Fero meletakkan penanya, mencoba tetap tenang demi menularkan ketenangan itu pada Hana. "Tenang dulu, Han. Ambil napas. Ada masalah apa?""Ada seorang klien besar yang datang tanpa ada janji dan mengamuk di ruang tunggu utama. Dia bersikeras mau berhadapan langsung dengan Pak Fero sebagai CEO baru di perusahaan ini," jelas Hana cepat. "Namanya Aura. Dia pemilik perusahaan kosmetik dan produk kecantikan yang selama ini menjadi mitra distribusi utama ki
Kemewahan di ruang kerja utama perusahaan Adiwangsa Kencana Group begitu jelas terlihat. Di balik meja kerjanya, Hardian Adiwangsa duduk di kursi kebesarannya. Lelaki berusia 73 tahun itu tampak begitu sepuh, gurat-gurat keriput di wajahnya menyiratkan sisa-sisa kejayaan sekaligus kesedihan mendalam yang selama puluhan tahun ia pendam sendiri.Jemari Hardian yang mulai gemetar perlahan mengusap selembar foto berukuran kecil yang warnanya sudah menguning dan usang di sudut-sudutnya. Foto seorang bayi laki-laki berusia beberapa minggu yang sedang tertidur lelap.Di sisi meja, berdiri dengan sikap tegap dan penuh hormat seorang pria paruh baya bernama Rama. Ia adalah tangan kanan sekaligus orang paling dipercaya di dalam lingkaran terdalam keluarga Adiwangsa."Rama..." Suara Hardian terdengar serak, memecah keheningan ruangan yang luas itu. Eye kacamata tuanya tidak lepas dari foto sang bayi. "Bagaimana? Apa tim khusus yang kamu bentuk sudah membawa kabar baik hari ini? Apa mereka suda
Kegiatan sarapan pagi akhirnya selesai. Fero bangkit berdiri, merapikan letak dasinya dan bersiap untuk mengambil tas kerjanya di atas meja dekat ruang tengah. Baru saja Adista hendak mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan, Tante Rosa tiba-tiba memegang pergelangan tangan Adista dengan erat. Tubuh wanita tua itu mendadak lemas, kepalanya bersandar pada bahu Adista dengan napas yang sengaja dibuat berat."Adista... Tante mohon, hari ini kamu jangan ke kantor dulu, ya?" rintih Rosa memohon. "Tante benar-benar enggak sanggup sendirian di rumah besar ini. Pikiran Tante kacau banget, Sayang. Tante takut... Tante takut melakukan hal-hal nekat kalau ditinggal sendiri."Adista seketika panik melihat kondisi tantenya yang tampak sangat depresi. "Tante... Tante jangan bicara begitu. Tapi hari ini Fero harus ke kantor, dan aku berniat mendampinginya untuk memantau transisi kepemimpinan.""Kan ada Hana, Adista. Hana itu sekretaris yang cerdas, dia pasti bisa bantu Fero," potong Rosa cepat
Embun pagi masih menempel di dedaunan taman ketika sebuah ketukan keras di pintu depan merusak ketenangan rumah Adista. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Adista, yang baru saja turun ke lantai bawah dengan jubah tidur sutranya, mengernyitkan alis heran."Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini? " omelnya kesal. Begitu pintu jati besar itu dibuka, Adista seketika terpaku. Di hadapannya berdiri Tante Rosa, lengkap dengan kacamata hitam besar dan sebuah koper ukuran jumbo di samping kakinya. Sebelum Adista sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Rosa tiba-tiba maju dan langsung mendekap tubuh keponakannya itu dengan sangat erat. Isak tangis buatan terdengar dari balik pundak Adista."Adista... maafin Tante, Sayang! Tante menyesal sekali," ratap Rosa dengan suara bergetar yang terdengar begitu meyakinkan.Adista yang masih setengah mengantuk tertegun. Dia bingung harus bereaksi seperti apa. "T-Tante Rosa? Ada apa ini? Kenapa bawa koper besar begini?"Rosa melepaskan pelukannya
Aroma harum seduhan kopi menguar di area Gloria Coffeeshop. Hana berdiri di depan konter penyerahan menu, merapikan blazer kerjanya sembari menunggu pesanannya. Rambutnya yang biasa diikat rapi kini digerai bebas, memberikan kesan kasual yang jarang ia tunjukkan ketika berada di kantor."Satu Iced Americano atas nama Mbak Hana," panggil barista dari balik konter."Ah, iya. Terima kasih," ucap Hana, melangkah maju dan mengambil gelas plastiknya.Hana membalikkan tubuh, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Kedua alisnya bertaut. Sial, tempat ini benar-benar penuh. Tidak ada satu pun meja kosong yang tersisa. Satu-satunya tempat yang bisa ia tempati adalah sebuah meja kayu panjang di dekat jendela kaca besar yang hanya diisi oleh satu orang pria yang tampak sibuk menatap layar laptopnya.Hana menghela napas pasrah, lalu melangkah menuju meja tersebut. "Permisi... Boleh bergabung?"Pada saat yang bersamaan, pria di meja itu mendongak. Di sebelahnya, sebuah gelas Iced Americ







