Se connecterSetelah jam makan malam, Fero sedang duduk di pinggiran ranjang. Baru saja hendak meregangkan otot-otot tubuhnya saat ponsel di atas nakas bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Zia. Fero menghela napas panjang sebelum membuka layar ponselnya. Berkomunikasi dengan wanita itu merupakan hal yang tidak dia suka. “Mas, kamu lagi apa sekarang? Udah makan belum? Kok seharian ini enggak ada kabar?” bunyi pesan dari Zia.Jemari Fero bergerak di atas papan ketik, menyusun jawaban dengan hati-hati. Walaupun terpaksa, dia tidak ingin secara terang-terangan menyakiti perasaan wanita itu. “Baru saja selesai menemani bos saya makan malam, Zia. Maaf baru balas.” Fero sengaja mempertahankan kebohongannya, ia mengaku kepada Zia kalau dirinya sekarang merantau di Jakarta dan bekerja sebagai seorang sopir pribadi demi menutupi status pernikahan kontraknya dengan Adista.Tidak butuh waktu lama, ponsel Fero kembali bergetar. Balasan Zia kali ini benar-benar membuat Fero tertegun di tempatn
Detik jarum jam dinding di ruang tamu terdengar begitu nyaring di telinga Adista. Ia melirik jam bulat berlapis krom itu untuk yang kesekian kalinya. Jarum pendek hampir menyentuh angka lima sore. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Adista sudah mendudukkan diri di sofa beludru ruang tamu, mengabaikan dokumen kantor di tabletnya hanya karena satu alasan, ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Fero.Rasa cemas dan rindu yang bercampur aduk mendadak buncah saat suara deru mobil dinas Fero terdengar memasuki pelataran rumah. Tak lama kemudian, daun pintu utama terbuka, menampilkan sosok Fero yang tampak sedikit lelah, tetapi tetap gagah dengan balutan kemeja biru mudanya.Melihat pria itu melangkah masuk, Adista spontan bangkit dari duduknya. Tanpa memikirkan gengsi lagi, ia langsung berlari kecil menghampiri suaminya dan menghambur ke dalam pelukan Fero.Terdengar suara benturan tubuh mereka pelan. Tubuh tegap Fero sedikit terguncang ke belakang karena menerima pelukan mendadak yang c
Suasana pagi di akhir pekan selalu menjadi waktu yang paling dinantikan bagi sebagian besar pekerja ibu kota. Di dalam unit apartemennya, Hana baru saja menyelesaikan riasan tipis di wajahnya saat ponsel di atas meja rias bergetar, menampilkan pesan singkat dari Doni yang mengabarkan bahwa lelaki itu sudah sampai di lobi gedung apartemennya. Sesuai rencana yang mereka sepakati kemarin, Doni mengajaknya untuk mengunjungi sebuah pameran seni lukis kontemporer. Karena merasa tidak memiliki janji dengan siapa pun akhir pekan ini, Hana langsung menyetujui ajakan tersebut tanpa berpikir panjang.Hana meraih tas selempangnya, lalu melangkah keluar menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, matanya langsung menangkap sosok Doni yang berdiri tegap di dekat meja resepsionis, mengenakan kemeja kasual berbahan linen putih yang lengannya digulung santai."Hai, Don! Sudah lama menunggu?" sapa Hana sembari berjalan mendekat.Doni menoleh, dan sebuah senyuman hangat langsung terbit di
Suasana rumah terasa begitu tenang saat Fero melangkah masuk. Rasa lelah setelah seharian bergulat dengan dokumen dan rapat seketika menguap begitu ia menginjakkan kaki di dalam kamar tamu. Fero menaruh jas abu-abu dan tas kerjanya di atas ranjang. Dengan gerakan santai, lelaki itu membuka dua kancing kemeja biru mudanya, lalu menggulung lengan kemeja itu hingga sebatas siku, menampilkan otot lengan tangannya yang memberikan kesan 'seksi'.Setelah menyegarkan diri sejenak, Fero berjalan keluar. Sambil menyusuri ruangan, matanya bergerak mencari-cari keberadaan sang istri. Langkah kakinya membawa Fero menuju area belakang, dan sebuah senyuman langsung merekah di bibirnya saat melihat sosok yang ia cari sedang sibuk di dapur. Adista tampak begitu fokus menimbang bahan-bahan di atas meja. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda, bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya, sementara sebuah apron bergambar stroberi manis menghiasi bagian depan tubuhnya. Fero terpesona. Penampilan rumahan Adista
Aroma kopi yang pekat berpadu dengan alunan musik jaz instrumental di sebuah kafe eksklusif di kawasan Jakarta Pusat. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi, Stevan duduk sembari mengaduk cangkir espresso-nya dengan tidak sabar. Matanya terus melirik ke arah pintu masuk, hingga akhirnya sosok Tante Rosa muncul dengan setelan blus satin merah mendatangi mejanya.Begitu Rosa duduk dan meletakkan tas tangannya, Stevan langsung memajukan tubuhnya, menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan ingin tahu."Bagaimana progresnya, Tante? Kenapa lama sekali?" tanya Stevan tanpa basa-basi, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak menarik perhatian pengunjung lain. "Rencana kita untuk menghancurkan Fero dari dalam rumah harusnya sudah menunjukkan hasil sekarang."Rosa menghela napas panjang, bersandar pada kursi sembari memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Kamu pikir gampang, Stevan? Gara-gara ketahuan menaruh sesuatu di kopinya tempo hari, aku terpaksa harus memutar otak. Aku
Suasana ruang makan di sebuah rumah bergaya klasik di sudut kota Bandung malam itu terasa sepi. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mendominasi. Di balik meja makan bundar tersebut, hanya ada Zia dan ibunya yang sedang menikmati hidangan makan malam. Kursi utama di ujung meja tampak kosong karena sang ayah sedang berada di luar kota untuk urusan perjalanan bisnis selama satu minggu ke depan.Zia meletakkan garpunya perlahan, menatap sang ibu yang duduk di hadapannya dengan binar mata yang penuh dengan ambisi."Ibu... aku benar-benar sudah tidak sabar," buka Zia, memecah keheningan. "Aku mau secepatnya menyusul Fero ke Jakarta. Rasanya setiap hari di Bandung tanpa tahu kabar dia di sana membuatku hampir gila."Sang ibu menghentikan gerakan mengunyahnya, menghela napas panjang lalu meletakkan sendoknya di tepi piring. Wajah paruh bayanya menyiratkan gurat ketidaksetujuan."Zia, dengar Ibu," ujar ibunya, menatap putri semata waya
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah
Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan berpadu sempurna dengan wangi pekat biji kopi yang sedang digiling oleh mesin otomatis di sudut dapur.Adista tampak begitu lincah bergerak di balik meja marmer putih, bersenandung kecil sembari membalik potongan roti panggang. Rambutnya dicepol asal-a
Langkah kaki Hana yang terburu-buru bergema keras di sepanjang koridor lantai kantor. Wajah sekretaris andalan itu tampak sedikit pucat, dengan napas yang memburu menahan kepanikan. Tanpa sempat mengetuk pintu seperti biasa, Hana langsung mendorong pintu ruang kerja CEO dan melangkah masuk dengan t
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb







