Share

Bab 2

Author: Sansan
Sepuluh tahun saling mengenal, Edwin selalu tahu di mana batas kesabaranku.

Lama berkecimpung di dunia bisnis, Edwin juga selalu tahu bagaimana cara menjaga jarak saat berurusan dengan wanita lain.

Namun, kini, dia justru melanggar batas itu berkali-kali.

Jika seperti itu ….

Biarlah benang yang menghubungkan jodoh kami putus, sama seperti proyek terbaru yang baru saja kubatalkan.

Kontrak kerja sama dengan wilayah Bashira Barat senilai dua triliun, yang menentukan hidup matinya perusahaan itu ….

Kini juga tidak perlu ada lagi.

Keesokan harinya saat aku terbangun, Edwin tidak mengirimkan satu pesan pun, juga tidak menelepon.

Aku tidak marah.

Setelah hasil pemeriksaan medis menyatakan tidak ada masalah, aku langsung pulang ke rumah.

Vila mewah seluas 500 meter persegi ini dibeli tunai olehku dan Edwin tahun lalu.

Tujuh tahun lalu saat baru lulus, kami berdesakan di ruang bawah tanah, berbagi semangkuk mie instan berdua.

Lima tahun lalu saat mendaftarkan pernikahan, kami hanya makan di kedai pinggir jalan, lalu pulang membawa satu kue kecil berukuran sepuluh sentimeter.

Namun, sekarang, aku justru hanya bisa menyembuhkan luka batin sendirian di dalam vila yang kosong melongpong ini.

Aku rasa, kelak aku akan terbiasa dengan semua ini.

Tepat di saat aku sedang mempelajari draf perjanjian cerai yang dikirimkan oleh pengacaraku, Edwin pulang ke rumah.

Bersamaan dengan langkah kakinya memasuki pintu, tercium aroma parfum mawar yang begitu menyengat.

Aku sempat tertegun karena bau yang tajam itu.

Kulit Edwin begitu halus dan sensitif. Dia alergi terhadap banyak produk kosmetik. Hal yang paling dibenci Edwin adalah parfum.

Lantaran alasan itulah, selama bertahun-tahun bersamanya, aku tidak pernah menggunakan produk perawatan kulit apa pun. Bahkan, sampo sekalipun kupilih dengan sangat hati-hati.

Kini, barulah aku sadar, dia hanya bersikap keras kepadaku saja.

Pria itu sedikit tertegun saat melihatku berbaring di sofa sambil memegang tablet.

"Semalam Rani terlalu senang di pesta perayaan sampai mabuk dan terjatuh. Jadi, aku mengantarnya pulang duluan."

"Karena sudah terlalu larut dan jaraknya jauh, aku mencari hotel terdekat untuk menginap. Jadi, aku nggak sempat menjemputmu di rumah sakit."

Aku mengangguk pelan. Lalu, melalui tablet di tanganku, aku membatalkan satu lagi pesanan kerja sama.

Aku menjawabnya dengan nada santai, "Hmm, aku mengerti."

Edwin membuka mulutnya dan sedikit kelu.

Seakan reaksiku tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.

Edwin ragu-ragu sejenak. Dia melangkah dua langkah lebih dekat, lalu menunduk dan berkata, "Hari ini hari Sabtu, berhentilah mengurusi pekerjaan. Aku berencana membawa Rani berlibur ke Negara Iraida. Kamu juga mau ikut?"

Tujuh tahun lalu, di hari ulang tahunku, Edwin dan aku berfoto bersama di pasar malam dengan biaya sebesar sepuluh ribu.

Melihat latar Menara Iraida yang tampak murahan di foto itu, Edwin bersumpah bahwa kelak jika sudah punya uang, dia pasti akan membawaku ke Negara Iraida dan berfoto bersamaku di bawah Menara Iraida yang asli, dengan pose yang sama persis.

Setelah itu, rumah kami menjadi makin besar dan bisnis perusahaan juga makin berkembang pesat. Akan tetapi, Edwin menjadi makin sibuk.

Dia tidak hanya sekali saja membujukku dengan berkata, "Amara, saat ini adalah masa krusial bagi perkembangan perusahaan."

"Sebagai pemimpin perusahaan, bagaimana mungkin aku bisa seenaknya mengambil cuti dan pergi ke luar negeri?"

"Kamu orang yang paling pengertian. Kamu pasti bisa memahamiku, 'kan?"

Aku memahaminya. Oleh karena itu, aku tidak pernah lagi mengungkit soal Negara Iraida. Aku mencurahkan seluruh jiwaku ke dalam urusan perusahaan, demi memberikan kontribusi besar bagi kariernya.

Akan tetapi, ternyata, asalkan Rani yang ingin pergi, Edwin langsung punya waktu luang.

Sambil mengeklik surel klien berikutnya, nada bicaraku tetap tidak berubah.

"Tiga orang terlalu sesak. Aku nggak tertarik."

Mendengar ucapanku itu, entah mengapa Edwin tampak seperti mengembuskan napas lega. Lalu, melanjutkan, "Baiklah, aku ambil barang sebentar lalu berangkat. Makan siangmu cari sendiri saja. Nanti malam kita makan bersama."

"Selain itu, kerja sama kali ini sangat penting bagi perusahaan untuk membuka pasar luar negeri. Aku sudah mengundang media untuk mengadakan konferensi pers Senin depan. Bukankah selama ini kamu selalu ingin berdiri di sampingku secara terang-terangan? Senin depan adalah kesempatannya, bersiap-siaplah …."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 11

    Kegagalan mendapatkan proyek "Victoria" sudah cukup menyedihkan. Ditambah lagi langkahku saat itu yang membongkar habis bukti perselingkuhannya di dalam negeri serta status Rani sebagai pelakor, benar-benar menjadi pukulan yang mematikan. Kini, nama perusahaan Edwin dan reputasi dirinya sendiri sudah busuk di industri ini. Siapa juga yang masih berani bekerja sama dengannya?Awalnya, Rani masih cukup bersemangat. Sambil bekerja lembur mempelajari proposal proyek, dia juga diam-diam memata-matai kinerjaku selama di luar negeri.Namun, makin karierku meroket, makin hati Rani merasa tidak tenang dan cemburu. Akhirnya, pada bulan ketiga saat Grup Faresta sudah tidak mampu membayar gaji dan harus gali lubang tutup lubang, emosi Rani pun meledak."Kamu bisa nggak sih mengelola perusahaan, bangsat? Kalau begini terus, cepat atau lambat perusahaan ini bakal bangkrut. Jangankan jadi istrimu, lama-lama aku bisa-bisa cuma jadi pengemis bareng kamu di jalanan!"Edwin awalnya sudah pusing melihat i

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 10

    "Maafkan aku, Amara. Aku nggak tahu. Hal-hal yang terjadi di masa lalu adalah kesalahanku. Bisakah kamu memaafkanku? Aku pantas mati, pukul saja aku, pukul aku." Edwin mencengkeram tanganku, lalu memukulkannya ke tubuhnya sendiri berkali-kali.Kemarahanku memuncak karena tarikannya. Tanpa ragu, aku mendaratkan tamparan keras di wajah Edwin dan memakinya dengan geram, "Sudah cukup gilanya?!""Aku mengatakan semua ini bukan karena ingin kamu mengakui kesalahanmu kepadaku, tapi ingin memberitahumu bahwa hubungan di antara kita sudah berakhir. Mangga adalah batasan terakhirku. Karena kamu sudah melanggar batasan itu demi Rani, maka nggak ada lagi kemungkinan bagi kita untuk kembali. Kamu mengerti?"Akan tetapi, Edwin seolah benar-benar tidak paham dan berkata dengan kesedihan yang mendalam, "Jadi, kamu sebegitu bencinya padaku? Benci sampai harus membawa pergi Victoria dan membiarkan Grup Faresta yang kita bangun bersama dari nol bangkrut, cuma demi membalas dendam padaku, iya 'kan?""Itu

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 9

    Edwin tidak pernah perlu mengorbankan apa pun. Jadi, bagaimana mungkin dia perlu memohon bantuan kepada orang lain?Seketika muncul rasa ingin tahu dalam diriku, kata-kata tajam apa lagi yang akan terlontar dari mulutnya yang tak pernah berucap baik itu. Aku pun tak lagi berusaha berontak dari cengkeramannya, melainkan menuju kafe terdekat dan menyalakan stopwatch, menanti sepuluh menit yang akan segera tiba."Amara, selama ini kamu sebenarnya ke mana saja? Kamu tahu nggak, aku sudah mencarimu ke mana-mana!"Edwin masih sama seperti dahulu, mulutnya sangat manis dengan segala bualannya.Saat itu aku membawa proyek Victoria dan terang-terangan pindah kerja. Orang paling bodoh sekalipun juga tahu aku ada di mana, apalagi dia.Demi menunjukkan betapa "setia" cintanya, Edwin benar-benar menghalalkan segala cara.Aku tersenyum sinis sambil mengangkat tangan untuk melihat jam tangan, lalu berkata, "Kalau yang mau kamu bicarakan cuma omong kosong seperti ini, kurasa kita nggak perlu buang-bua

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 8

    "Dan apa?" tanya Edwin dengan wajah pucat pasi."Dan dengan postingan yang diunggah Bu Rani di media sosial tempo hari, 'tujuh tahun melewati badai, untungnya ada kamu'." Suara asisten sekretaris itu makin lama makin mengecil, hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Namun, semua orang tetap bisa menangkap maksudnya.Baru pada saat itulah Rani seolah tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia melangkah keluar dari sudut, menarik asisten sekretaris itu, lalu bertanya sekaligus memaki, "Kamu bilang apa? Siapa yang mengizinkan Amara si jalang itu melakukan hal seperti ini?"Lantaran Rani punya keberanian untuk menjadi selingkuhan orang, maka seharusnya dia sudah tahu bahwa begitu rahasianya terbongkar, dia akan mati tenggelam dalam ludah masyarakat yang menghujatnya.Selain itu, postingan Twitter-ku itu tidak ada bedanya dengan memberikan pukulan mematikan yang membuktikan perselingkuhan pasangan pezina itu.Dengan begitu, di mata dunia, tindakanku mengambil alih proyek "Victoria" tidak akan

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 7

    "Pak Edwin, kudengar DM bisa mendapatkan kontrak ini karena merekrut tokoh kunci dari perusahaan Anda. Bisakah Anda memberikan penjelasan mengenai hal ini?""Halo Pak Edwin, kami menerima kabar kalau Anda punya hubungan istimewa dengan Bu Amara yang sudah mengundurkan diri. Selain itu, Bu Rani di samping Anda ini diduga adalah orang ketiga yang merebut posisi itu, sehingga membuat Bu Amara pergi. Hal ini benar atau nggak?"Pertanyaan demi pertanyaan yang mendesak dan agresif itu membuat Edwin tidak mampu menjawab. Yang lebih mengerikan lagi, informasi-informasi rahasia yang diketahui para wartawan ini bukan hanya tajam, tetapi juga akurat.Setelah rentetan pertanyaan yang dilontarkan secara bersahut-sahutan itu, Edwin bahkan tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberikan penjelasan.Terlebih lagi, apa yang aku lakukan ini sudah terlalu ekstrem. Sekarang, jika ingin memulihkan reputasinya, tidak ada cara lain sama sekali selain memanggilku kembali ke perusahaan untuk lanjut menangani p

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 6

    "Apa …."Edwin tertegun sejenak. Jantungnya berdegap kencang. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Semua yang hadir di sana tahu betul apa artinya memajukan jadwal perilisan proyek, terutama bagi seseorang seperti Edwin yang sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis.Wajah Rani seketika pucat pasi karena ketakutan. Bagaimanapun, itu adalah kontrak senilai dua triliun.Tanpa pesanan dari wilayah Bashira Barat ini, kelangsungan hidup perusahaan saja sudah dipertanyakan. Jika seperti itu, bukankah mimpi menjadi istri Pak Edwin yang baru berjalan satu hari saja ini sudah harus berakhir?Dengan penuh kecemasan, Rani menatap Edwin. Akan tetapi, Rani melihat pria itu masih terpaku di tempatnya, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Edwin masih tidak percaya bahwa setelah perceraian kami, aku bisa bertindak begitu dingin dan tega hingga ke titik ini.Di depan Edwin, sekelompok wartawan menyodorkan mikrofon hingga mendekat ke arahnya, tetapi tetap tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status