Short
Harga Mahal dari Sebuah Mangga

Harga Mahal dari Sebuah Mangga

By:  SansanCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat aku berusia tujuh tahun, wanita cantik yang dibawa pulang oleh ayahku memberiku sekotak mangga. Hari itu, sambil melihatku menyantap mangga dengan lahapnya, ibuku membubuhkan tanda tangannya di atas surat cerai, lalu melompat dari gedung untuk mengakhiri hidupnya. Sejak saat itu, mangga menjadi mimpi burukku seumur hidup. Oleh karena itu, di hari pernikahan kami, aku berkata kepada suamiku, Edwin Faresta, "Kalau suatu saat kamu mau cerai, kasih saja aku buah mangga." Suamiku memelukku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, sejak saat itu, mangga juga menjadi hal yang tabu bagi dirinya. Pada malam Natal di tahun kelima pernikahan kami, teman masa kecil suamiku meletakkan sebuah mangga di atas meja kerjanya. Hari itu juga, suamiku mengumumkan pemutusan hubungan dengan teman masa kecilnya, Rani Delana dan memecat Rani dari perusahaan. Pada hari itu, aku merasa bahwa dialah pria yang memang sudah ditakdirkan untukku. Hingga setengah tahun kemudian, aku kembali dari luar negeri setelah berhasil menegosiasikan kontrak kerja sama senilai dua triliun. Di pesta perayaan itu, suamiku menyodorkan segelas minuman kepadaku. Setelah aku meminum setengahnya, teman masa kecil suamiku, yaitu wanita yang dulu diusirnya dari perusahaan itu, berdiri di belakangku dan bertanya sambil menyeringai, "Apa jus mangganya enak?" Dengan wajah penuh rasa tidak percaya, aku menoleh ke arah Edwin, suamiku. Namun, Edwin justru menahan tawa dan berkata, "Jangan marah ya. Rani bersikeras memintaku untuk mengerjaimu sedikit." "Aku kan nggak kasih kamu buah mangga. Aku cuma kasih kamu sebotol jus mangga saja." "Lagi pula, menurutku Rani benar. Kamu nggak mau makan mangga itu cuma karena kamu banyak tingkah aja." "Lihat sendiri, 'kan? Tadi kamu meminumnya dengan sangat senang." Wajahku langsung menjadi dingin. Aku mengangkat tangan dan menyiramkan sisa jus mangga itu ke wajah pria itu, lalu berbalik pergi. Ada beberapa hal yang selamanya tidak akan pernah menjadi bahan candaan. Mangga bukan sekadar lelucon dan niatku untuk bercerai juga bukan candaan.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Bu Amara, penyakit lambungmu kambuh karena dipicu oleh stres."

"Ke depannya, jangan pernah lagi memakan semua makanan yang nggak kamu sukai. Kalau nggak, lain kali mungkin bukan sekadar sakit lambung, tapi lambungmu juga harus dipotong."

"Kamu harus rawat inap untuk observasi selama sehari. Segera beri tahu keluargamu untuk datang ke sini."

Aku terdiam mendengar kata-kata dokter.

Demi proyek baru, aku sudah bekerja siang dan malam tanpa henti selama 39 hari di luar negeri dan akhirnya pulang dengan selamat.

Siapa sangka, di pesta perayaan keberhasilan, segelas jus mangga dari Edwin malah langsung membuatku dilarikan ke rumah sakit.

Tanpa sadar, aku membuka obrolan WhatsApp yang kusematkan paling atas. Baru saja mengetik dua huruf, aku merasa ada yang tidak beres.

Setelah kuperhatikan baik-baik, aku yakin itu memang Edwin.

Namun, dia sudah mengganti foto profilnya.

Edwin mengganti foto profilnya dengan gambar mangga hijau.

Tepat di saat aku sedang menatap layar obrolan dengan bingung, telepon dari Edwin tiba-tiba masuk.

Di ujung telepon, suara pria itu terdengar dingin.

"Aku sudah sampai di rumah, kamu di mana?"

Aku terdiam.

Jika itu di masa lalu, aku akan melembutkan suaraku dan berpura-pura seperti gadis kecil yang sedang bermanja-manja padanya.

Namun, malam ini, aku tidak tahu harus bicara apa.

Edwin mulai merasa kesal.

"Amara, sampai kapan kamu mau terus berulah?"

"Rumah sakit."

Edwin terdiam. Dia memang tidak pernah peduli pada kesehatanku.

Edwin juga tidak akan pernah terpikir bahwa segelas jus mangga darinya sudah langsung membuatku dilarikan ke rumah sakit.

"Tunggu di rumah sakit, aku segera ke sana."

Aku tidak ingin memedulikannya, tetapi kondisi tubuhku yang lemah membuatku tidak ingin lagi untuk bergerak.

Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Dokter sudah datang memeriksa sebanyak tiga kali, tetapi Edwin tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Sebelum tidur, saat aku melihat ponsel untuk terakhir kalinya, aku melihat unggahan di media sosial Rani.

[Tiap kali aku terluka, pahlawanku akan selalu datang tepat waktu untuk menolongku, senangnya.]

Foto yang menyertainya adalah foto Edwin yang sedang menempelkan plester luka pada Rani.

Foto profil Rani adalah mangga kuning,

Terlihat cantik, tetapi membuatku mual.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status