LOGINSaat aku berusia tujuh tahun, wanita cantik yang dibawa pulang oleh ayahku memberiku sekotak mangga. Hari itu, sambil melihatku menyantap mangga dengan lahapnya, ibuku membubuhkan tanda tangannya di atas surat cerai, lalu melompat dari gedung untuk mengakhiri hidupnya. Sejak saat itu, mangga menjadi mimpi burukku seumur hidup. Oleh karena itu, di hari pernikahan kami, aku berkata kepada suamiku, Edwin Faresta, "Kalau suatu saat kamu mau cerai, kasih saja aku buah mangga." Suamiku memelukku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, sejak saat itu, mangga juga menjadi hal yang tabu bagi dirinya. Pada malam Natal di tahun kelima pernikahan kami, teman masa kecil suamiku meletakkan sebuah mangga di atas meja kerjanya. Hari itu juga, suamiku mengumumkan pemutusan hubungan dengan teman masa kecilnya, Rani Delana dan memecat Rani dari perusahaan. Pada hari itu, aku merasa bahwa dialah pria yang memang sudah ditakdirkan untukku. Hingga setengah tahun kemudian, aku kembali dari luar negeri setelah berhasil menegosiasikan kontrak kerja sama senilai dua triliun. Di pesta perayaan itu, suamiku menyodorkan segelas minuman kepadaku. Setelah aku meminum setengahnya, teman masa kecil suamiku, yaitu wanita yang dulu diusirnya dari perusahaan itu, berdiri di belakangku dan bertanya sambil menyeringai, "Apa jus mangganya enak?" Dengan wajah penuh rasa tidak percaya, aku menoleh ke arah Edwin, suamiku. Namun, Edwin justru menahan tawa dan berkata, "Jangan marah ya. Rani bersikeras memintaku untuk mengerjaimu sedikit." "Aku kan nggak kasih kamu buah mangga. Aku cuma kasih kamu sebotol jus mangga saja." "Lagi pula, menurutku Rani benar. Kamu nggak mau makan mangga itu cuma karena kamu banyak tingkah aja." "Lihat sendiri, 'kan? Tadi kamu meminumnya dengan sangat senang." Wajahku langsung menjadi dingin. Aku mengangkat tangan dan menyiramkan sisa jus mangga itu ke wajah pria itu, lalu berbalik pergi. Ada beberapa hal yang selamanya tidak akan pernah menjadi bahan candaan. Mangga bukan sekadar lelucon dan niatku untuk bercerai juga bukan candaan.
View MoreKegagalan mendapatkan proyek "Victoria" sudah cukup menyedihkan. Ditambah lagi langkahku saat itu yang membongkar habis bukti perselingkuhannya di dalam negeri serta status Rani sebagai pelakor, benar-benar menjadi pukulan yang mematikan. Kini, nama perusahaan Edwin dan reputasi dirinya sendiri sudah busuk di industri ini. Siapa juga yang masih berani bekerja sama dengannya?Awalnya, Rani masih cukup bersemangat. Sambil bekerja lembur mempelajari proposal proyek, dia juga diam-diam memata-matai kinerjaku selama di luar negeri.Namun, makin karierku meroket, makin hati Rani merasa tidak tenang dan cemburu. Akhirnya, pada bulan ketiga saat Grup Faresta sudah tidak mampu membayar gaji dan harus gali lubang tutup lubang, emosi Rani pun meledak."Kamu bisa nggak sih mengelola perusahaan, bangsat? Kalau begini terus, cepat atau lambat perusahaan ini bakal bangkrut. Jangankan jadi istrimu, lama-lama aku bisa-bisa cuma jadi pengemis bareng kamu di jalanan!"Edwin awalnya sudah pusing melihat i
"Maafkan aku, Amara. Aku nggak tahu. Hal-hal yang terjadi di masa lalu adalah kesalahanku. Bisakah kamu memaafkanku? Aku pantas mati, pukul saja aku, pukul aku." Edwin mencengkeram tanganku, lalu memukulkannya ke tubuhnya sendiri berkali-kali.Kemarahanku memuncak karena tarikannya. Tanpa ragu, aku mendaratkan tamparan keras di wajah Edwin dan memakinya dengan geram, "Sudah cukup gilanya?!""Aku mengatakan semua ini bukan karena ingin kamu mengakui kesalahanmu kepadaku, tapi ingin memberitahumu bahwa hubungan di antara kita sudah berakhir. Mangga adalah batasan terakhirku. Karena kamu sudah melanggar batasan itu demi Rani, maka nggak ada lagi kemungkinan bagi kita untuk kembali. Kamu mengerti?"Akan tetapi, Edwin seolah benar-benar tidak paham dan berkata dengan kesedihan yang mendalam, "Jadi, kamu sebegitu bencinya padaku? Benci sampai harus membawa pergi Victoria dan membiarkan Grup Faresta yang kita bangun bersama dari nol bangkrut, cuma demi membalas dendam padaku, iya 'kan?""Itu
Edwin tidak pernah perlu mengorbankan apa pun. Jadi, bagaimana mungkin dia perlu memohon bantuan kepada orang lain?Seketika muncul rasa ingin tahu dalam diriku, kata-kata tajam apa lagi yang akan terlontar dari mulutnya yang tak pernah berucap baik itu. Aku pun tak lagi berusaha berontak dari cengkeramannya, melainkan menuju kafe terdekat dan menyalakan stopwatch, menanti sepuluh menit yang akan segera tiba."Amara, selama ini kamu sebenarnya ke mana saja? Kamu tahu nggak, aku sudah mencarimu ke mana-mana!"Edwin masih sama seperti dahulu, mulutnya sangat manis dengan segala bualannya.Saat itu aku membawa proyek Victoria dan terang-terangan pindah kerja. Orang paling bodoh sekalipun juga tahu aku ada di mana, apalagi dia.Demi menunjukkan betapa "setia" cintanya, Edwin benar-benar menghalalkan segala cara.Aku tersenyum sinis sambil mengangkat tangan untuk melihat jam tangan, lalu berkata, "Kalau yang mau kamu bicarakan cuma omong kosong seperti ini, kurasa kita nggak perlu buang-bua
"Dan apa?" tanya Edwin dengan wajah pucat pasi."Dan dengan postingan yang diunggah Bu Rani di media sosial tempo hari, 'tujuh tahun melewati badai, untungnya ada kamu'." Suara asisten sekretaris itu makin lama makin mengecil, hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Namun, semua orang tetap bisa menangkap maksudnya.Baru pada saat itulah Rani seolah tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia melangkah keluar dari sudut, menarik asisten sekretaris itu, lalu bertanya sekaligus memaki, "Kamu bilang apa? Siapa yang mengizinkan Amara si jalang itu melakukan hal seperti ini?"Lantaran Rani punya keberanian untuk menjadi selingkuhan orang, maka seharusnya dia sudah tahu bahwa begitu rahasianya terbongkar, dia akan mati tenggelam dalam ludah masyarakat yang menghujatnya.Selain itu, postingan Twitter-ku itu tidak ada bedanya dengan memberikan pukulan mematikan yang membuktikan perselingkuhan pasangan pezina itu.Dengan begitu, di mata dunia, tindakanku mengambil alih proyek "Victoria" tidak akan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.