Share

Harga Mahal dari Sebuah Mangga
Harga Mahal dari Sebuah Mangga
Author: Sansan

Bab 1

Author: Sansan
"Bu Amara, penyakit lambungmu kambuh karena dipicu oleh stres."

"Ke depannya, jangan pernah lagi memakan semua makanan yang nggak kamu sukai. Kalau nggak, lain kali mungkin bukan sekadar sakit lambung, tapi lambungmu juga harus dipotong."

"Kamu harus rawat inap untuk observasi selama sehari. Segera beri tahu keluargamu untuk datang ke sini."

Aku terdiam mendengar kata-kata dokter.

Demi proyek baru, aku sudah bekerja siang dan malam tanpa henti selama 39 hari di luar negeri dan akhirnya pulang dengan selamat.

Siapa sangka, di pesta perayaan keberhasilan, segelas jus mangga dari Edwin malah langsung membuatku dilarikan ke rumah sakit.

Tanpa sadar, aku membuka obrolan WhatsApp yang kusematkan paling atas. Baru saja mengetik dua huruf, aku merasa ada yang tidak beres.

Setelah kuperhatikan baik-baik, aku yakin itu memang Edwin.

Namun, dia sudah mengganti foto profilnya.

Edwin mengganti foto profilnya dengan gambar mangga hijau.

Tepat di saat aku sedang menatap layar obrolan dengan bingung, telepon dari Edwin tiba-tiba masuk.

Di ujung telepon, suara pria itu terdengar dingin.

"Aku sudah sampai di rumah, kamu di mana?"

Aku terdiam.

Jika itu di masa lalu, aku akan melembutkan suaraku dan berpura-pura seperti gadis kecil yang sedang bermanja-manja padanya.

Namun, malam ini, aku tidak tahu harus bicara apa.

Edwin mulai merasa kesal.

"Amara, sampai kapan kamu mau terus berulah?"

"Rumah sakit."

Edwin terdiam. Dia memang tidak pernah peduli pada kesehatanku.

Edwin juga tidak akan pernah terpikir bahwa segelas jus mangga darinya sudah langsung membuatku dilarikan ke rumah sakit.

"Tunggu di rumah sakit, aku segera ke sana."

Aku tidak ingin memedulikannya, tetapi kondisi tubuhku yang lemah membuatku tidak ingin lagi untuk bergerak.

Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Dokter sudah datang memeriksa sebanyak tiga kali, tetapi Edwin tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Sebelum tidur, saat aku melihat ponsel untuk terakhir kalinya, aku melihat unggahan di media sosial Rani.

[Tiap kali aku terluka, pahlawanku akan selalu datang tepat waktu untuk menolongku, senangnya.]

Foto yang menyertainya adalah foto Edwin yang sedang menempelkan plester luka pada Rani.

Foto profil Rani adalah mangga kuning,

Terlihat cantik, tetapi membuatku mual.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 11

    Kegagalan mendapatkan proyek "Victoria" sudah cukup menyedihkan. Ditambah lagi langkahku saat itu yang membongkar habis bukti perselingkuhannya di dalam negeri serta status Rani sebagai pelakor, benar-benar menjadi pukulan yang mematikan. Kini, nama perusahaan Edwin dan reputasi dirinya sendiri sudah busuk di industri ini. Siapa juga yang masih berani bekerja sama dengannya?Awalnya, Rani masih cukup bersemangat. Sambil bekerja lembur mempelajari proposal proyek, dia juga diam-diam memata-matai kinerjaku selama di luar negeri.Namun, makin karierku meroket, makin hati Rani merasa tidak tenang dan cemburu. Akhirnya, pada bulan ketiga saat Grup Faresta sudah tidak mampu membayar gaji dan harus gali lubang tutup lubang, emosi Rani pun meledak."Kamu bisa nggak sih mengelola perusahaan, bangsat? Kalau begini terus, cepat atau lambat perusahaan ini bakal bangkrut. Jangankan jadi istrimu, lama-lama aku bisa-bisa cuma jadi pengemis bareng kamu di jalanan!"Edwin awalnya sudah pusing melihat i

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 10

    "Maafkan aku, Amara. Aku nggak tahu. Hal-hal yang terjadi di masa lalu adalah kesalahanku. Bisakah kamu memaafkanku? Aku pantas mati, pukul saja aku, pukul aku." Edwin mencengkeram tanganku, lalu memukulkannya ke tubuhnya sendiri berkali-kali.Kemarahanku memuncak karena tarikannya. Tanpa ragu, aku mendaratkan tamparan keras di wajah Edwin dan memakinya dengan geram, "Sudah cukup gilanya?!""Aku mengatakan semua ini bukan karena ingin kamu mengakui kesalahanmu kepadaku, tapi ingin memberitahumu bahwa hubungan di antara kita sudah berakhir. Mangga adalah batasan terakhirku. Karena kamu sudah melanggar batasan itu demi Rani, maka nggak ada lagi kemungkinan bagi kita untuk kembali. Kamu mengerti?"Akan tetapi, Edwin seolah benar-benar tidak paham dan berkata dengan kesedihan yang mendalam, "Jadi, kamu sebegitu bencinya padaku? Benci sampai harus membawa pergi Victoria dan membiarkan Grup Faresta yang kita bangun bersama dari nol bangkrut, cuma demi membalas dendam padaku, iya 'kan?""Itu

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 9

    Edwin tidak pernah perlu mengorbankan apa pun. Jadi, bagaimana mungkin dia perlu memohon bantuan kepada orang lain?Seketika muncul rasa ingin tahu dalam diriku, kata-kata tajam apa lagi yang akan terlontar dari mulutnya yang tak pernah berucap baik itu. Aku pun tak lagi berusaha berontak dari cengkeramannya, melainkan menuju kafe terdekat dan menyalakan stopwatch, menanti sepuluh menit yang akan segera tiba."Amara, selama ini kamu sebenarnya ke mana saja? Kamu tahu nggak, aku sudah mencarimu ke mana-mana!"Edwin masih sama seperti dahulu, mulutnya sangat manis dengan segala bualannya.Saat itu aku membawa proyek Victoria dan terang-terangan pindah kerja. Orang paling bodoh sekalipun juga tahu aku ada di mana, apalagi dia.Demi menunjukkan betapa "setia" cintanya, Edwin benar-benar menghalalkan segala cara.Aku tersenyum sinis sambil mengangkat tangan untuk melihat jam tangan, lalu berkata, "Kalau yang mau kamu bicarakan cuma omong kosong seperti ini, kurasa kita nggak perlu buang-bua

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 8

    "Dan apa?" tanya Edwin dengan wajah pucat pasi."Dan dengan postingan yang diunggah Bu Rani di media sosial tempo hari, 'tujuh tahun melewati badai, untungnya ada kamu'." Suara asisten sekretaris itu makin lama makin mengecil, hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Namun, semua orang tetap bisa menangkap maksudnya.Baru pada saat itulah Rani seolah tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia melangkah keluar dari sudut, menarik asisten sekretaris itu, lalu bertanya sekaligus memaki, "Kamu bilang apa? Siapa yang mengizinkan Amara si jalang itu melakukan hal seperti ini?"Lantaran Rani punya keberanian untuk menjadi selingkuhan orang, maka seharusnya dia sudah tahu bahwa begitu rahasianya terbongkar, dia akan mati tenggelam dalam ludah masyarakat yang menghujatnya.Selain itu, postingan Twitter-ku itu tidak ada bedanya dengan memberikan pukulan mematikan yang membuktikan perselingkuhan pasangan pezina itu.Dengan begitu, di mata dunia, tindakanku mengambil alih proyek "Victoria" tidak akan

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 7

    "Pak Edwin, kudengar DM bisa mendapatkan kontrak ini karena merekrut tokoh kunci dari perusahaan Anda. Bisakah Anda memberikan penjelasan mengenai hal ini?""Halo Pak Edwin, kami menerima kabar kalau Anda punya hubungan istimewa dengan Bu Amara yang sudah mengundurkan diri. Selain itu, Bu Rani di samping Anda ini diduga adalah orang ketiga yang merebut posisi itu, sehingga membuat Bu Amara pergi. Hal ini benar atau nggak?"Pertanyaan demi pertanyaan yang mendesak dan agresif itu membuat Edwin tidak mampu menjawab. Yang lebih mengerikan lagi, informasi-informasi rahasia yang diketahui para wartawan ini bukan hanya tajam, tetapi juga akurat.Setelah rentetan pertanyaan yang dilontarkan secara bersahut-sahutan itu, Edwin bahkan tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberikan penjelasan.Terlebih lagi, apa yang aku lakukan ini sudah terlalu ekstrem. Sekarang, jika ingin memulihkan reputasinya, tidak ada cara lain sama sekali selain memanggilku kembali ke perusahaan untuk lanjut menangani p

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 6

    "Apa …."Edwin tertegun sejenak. Jantungnya berdegap kencang. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Semua yang hadir di sana tahu betul apa artinya memajukan jadwal perilisan proyek, terutama bagi seseorang seperti Edwin yang sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis.Wajah Rani seketika pucat pasi karena ketakutan. Bagaimanapun, itu adalah kontrak senilai dua triliun.Tanpa pesanan dari wilayah Bashira Barat ini, kelangsungan hidup perusahaan saja sudah dipertanyakan. Jika seperti itu, bukankah mimpi menjadi istri Pak Edwin yang baru berjalan satu hari saja ini sudah harus berakhir?Dengan penuh kecemasan, Rani menatap Edwin. Akan tetapi, Rani melihat pria itu masih terpaku di tempatnya, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Edwin masih tidak percaya bahwa setelah perceraian kami, aku bisa bertindak begitu dingin dan tega hingga ke titik ini.Di depan Edwin, sekelompok wartawan menyodorkan mikrofon hingga mendekat ke arahnya, tetapi tetap tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status