Share

Bab 5

Author: Sansan
Namun, Edwin tetap saja melakukan hal itu demi memaksaku menyerah dan tunduk kepadanya.

Ponselku bergetar, sebuah pesan baru masuk dari Edwin.

[Masih ada kesempatan bagimu untuk mengaku salah sekarang.]

Aku tidak membalasnya, melempar ponsel begitu saja, lalu pergi mandi.

Apa dia lupa? Proyek di wilayah Bashira Barat itu, akulah yang mengaturnya dari awal hingga sukses. Pihak mitra tidak memandang perusahaan, mereka hanya percaya padaku.

Selesai membersihkan diri, aku turun ke bawah untuk membeli sarapan.

Namun, saat kembali, aku mendapati semua barang-barangku sudah dilempar keluar dari kantor.

Gelas minum, dokumen, bahkan salinan surat cerai yang sudah kutandatangani juga sudah robek menjadi dua.

Satu-satunya yang selamat adalah foto pernikahanku dan Edwin. Benda itu diletakkan dengan sangat hati-hati di balkon.

Rani duduk di kursiku dengan wajah berseri-seri. Dia menatapku dengan tatapan yang menantang.

"Maaf ya, Kak Amara. Kantor ini sudah diberikan Edwin kepadaku. Mulai sekarang, Kakak duduk di sana saja, ya."

Rani menunjuk ke arah gudang penyimpanan yang bocor di samping toilet dengan sikap angkuh. Aku malas memedulikannya. Aku lalu menoleh dan menatap Edwin yang sejak tadi hanya diam saja.

Edwin tampak tidak tidur semalaman. Matanya memerah karena guratan darah. Akan tetapi, bibirnya tersenyum kejam.

"Rani benar, kantor ini sudah kuberikan padanya. Tapi, kalau kamu menarik kembali ucapanmu soal cerai, mungkin saja aku bisa …."

"Nggak perlu."

Aku memotong ucapan Edwin, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil foto pernikahan di balkon. Di bawah tatapan Edwin yang tampak sedikit bangga itu, aku membuang foto itu ke tempat sampah.

"Benda ini juga sudah nggak kubutuhkan lagi. Kalian buang saja juga nggak apa-apa."

Setelah berkata seperti itu, aku mengambil laptop di atas meja, lalu berbalik dan pergi.

Aku berpura-pura tidak melihat mata Edwin yang memerah karena amarah.

Hari ini hari Senin. Besok aku sudah harus berangkat ke luar negeri untuk mulai bekerja. Jadi, aku harus pulang untuk berkemas.

Aku tidak datang ke acara konferensi pers malam ini.

Di rumah, aku melakukan komunikasi terakhir dengan pihak mitra dari wilayah Bashira Barat dalam kapasitas sebagai manajer Grup DM.

Tepat di saat kerja sama tersebut dikonfirmasi, aku menerima pesan dari Edwin.

[Aku undang media untuk siaran langsung di konferensi pers malam ini. Kalau kamu masih nggak mau mengaku salah, proyek wilayah Bashira Barat itu benar-benar nggak akan ada hubungannya lagi denganmu.]

Aku melirik pesan itu sekilas, lalu mengaktifkan mode "jangan ganggu".

Waktunya sudah hampir tiba. Aku harus segera mengejar penerbangan.

Pukul tujuh malam, media mulai berdatangan satu per satu ke lokasi.

Siaran langsung dilakukan di seluruh penjuru kota.

Rani mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa penata rias artis. Dia berdandan dengan sangat cantik, lalu menggandeng lengan Edwin sambil tersenyum lebar.

Edwin mengenakan setelan jas abu-abu. Auranya tampak luar biasa. Namun, tatapannya dengan cemas menyapu setiap orang di bawah panggung satu per satu.

'Kenapa dia belum datang juga?'

Kalimat itu melintas di benak Edwin. Rasa antusias yang semula dirasakan Edwin, perlahan-lahan mulai digantikan oleh kegelisahan.

Namun, konferensi pers harus tetap berjalan.

Edwin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu menerima mikrofon.

"Halo semuanya, aku Edwin Faresta, CEO Grup Faresta. Konferensi pers hari ini berkaitan dengan proyek 'Victoria' yang sudah disepakati oleh perusahaan kami dengan Grup GK. Proyek tersebut …."

"Tunggu dulu!"

Seorang wartawan yang mengenakan kartu identitas dari Saluran Keuangan Internasional tiba-tiba berdiri.

"Pak Edwin, apa Anda yakin kalau ini proyek Victoria?"

Edwin tertegun.

"Tentu saja, ini adalah proyek perusahaan kami …."

Asisten Edwin bergegas naik ke atas panggung, lalu berbisik dengan nada panik ke telinga Edwin, "Gawat, Pak Edwin! Satu menit yang lalu Grup DM merilis pernyataan resmi kalau proyek Victoria sudah diambil alih oleh DM dan Bu Amara sudah pindah kerja!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 11

    Kegagalan mendapatkan proyek "Victoria" sudah cukup menyedihkan. Ditambah lagi langkahku saat itu yang membongkar habis bukti perselingkuhannya di dalam negeri serta status Rani sebagai pelakor, benar-benar menjadi pukulan yang mematikan. Kini, nama perusahaan Edwin dan reputasi dirinya sendiri sudah busuk di industri ini. Siapa juga yang masih berani bekerja sama dengannya?Awalnya, Rani masih cukup bersemangat. Sambil bekerja lembur mempelajari proposal proyek, dia juga diam-diam memata-matai kinerjaku selama di luar negeri.Namun, makin karierku meroket, makin hati Rani merasa tidak tenang dan cemburu. Akhirnya, pada bulan ketiga saat Grup Faresta sudah tidak mampu membayar gaji dan harus gali lubang tutup lubang, emosi Rani pun meledak."Kamu bisa nggak sih mengelola perusahaan, bangsat? Kalau begini terus, cepat atau lambat perusahaan ini bakal bangkrut. Jangankan jadi istrimu, lama-lama aku bisa-bisa cuma jadi pengemis bareng kamu di jalanan!"Edwin awalnya sudah pusing melihat i

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 10

    "Maafkan aku, Amara. Aku nggak tahu. Hal-hal yang terjadi di masa lalu adalah kesalahanku. Bisakah kamu memaafkanku? Aku pantas mati, pukul saja aku, pukul aku." Edwin mencengkeram tanganku, lalu memukulkannya ke tubuhnya sendiri berkali-kali.Kemarahanku memuncak karena tarikannya. Tanpa ragu, aku mendaratkan tamparan keras di wajah Edwin dan memakinya dengan geram, "Sudah cukup gilanya?!""Aku mengatakan semua ini bukan karena ingin kamu mengakui kesalahanmu kepadaku, tapi ingin memberitahumu bahwa hubungan di antara kita sudah berakhir. Mangga adalah batasan terakhirku. Karena kamu sudah melanggar batasan itu demi Rani, maka nggak ada lagi kemungkinan bagi kita untuk kembali. Kamu mengerti?"Akan tetapi, Edwin seolah benar-benar tidak paham dan berkata dengan kesedihan yang mendalam, "Jadi, kamu sebegitu bencinya padaku? Benci sampai harus membawa pergi Victoria dan membiarkan Grup Faresta yang kita bangun bersama dari nol bangkrut, cuma demi membalas dendam padaku, iya 'kan?""Itu

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 9

    Edwin tidak pernah perlu mengorbankan apa pun. Jadi, bagaimana mungkin dia perlu memohon bantuan kepada orang lain?Seketika muncul rasa ingin tahu dalam diriku, kata-kata tajam apa lagi yang akan terlontar dari mulutnya yang tak pernah berucap baik itu. Aku pun tak lagi berusaha berontak dari cengkeramannya, melainkan menuju kafe terdekat dan menyalakan stopwatch, menanti sepuluh menit yang akan segera tiba."Amara, selama ini kamu sebenarnya ke mana saja? Kamu tahu nggak, aku sudah mencarimu ke mana-mana!"Edwin masih sama seperti dahulu, mulutnya sangat manis dengan segala bualannya.Saat itu aku membawa proyek Victoria dan terang-terangan pindah kerja. Orang paling bodoh sekalipun juga tahu aku ada di mana, apalagi dia.Demi menunjukkan betapa "setia" cintanya, Edwin benar-benar menghalalkan segala cara.Aku tersenyum sinis sambil mengangkat tangan untuk melihat jam tangan, lalu berkata, "Kalau yang mau kamu bicarakan cuma omong kosong seperti ini, kurasa kita nggak perlu buang-bua

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 8

    "Dan apa?" tanya Edwin dengan wajah pucat pasi."Dan dengan postingan yang diunggah Bu Rani di media sosial tempo hari, 'tujuh tahun melewati badai, untungnya ada kamu'." Suara asisten sekretaris itu makin lama makin mengecil, hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Namun, semua orang tetap bisa menangkap maksudnya.Baru pada saat itulah Rani seolah tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia melangkah keluar dari sudut, menarik asisten sekretaris itu, lalu bertanya sekaligus memaki, "Kamu bilang apa? Siapa yang mengizinkan Amara si jalang itu melakukan hal seperti ini?"Lantaran Rani punya keberanian untuk menjadi selingkuhan orang, maka seharusnya dia sudah tahu bahwa begitu rahasianya terbongkar, dia akan mati tenggelam dalam ludah masyarakat yang menghujatnya.Selain itu, postingan Twitter-ku itu tidak ada bedanya dengan memberikan pukulan mematikan yang membuktikan perselingkuhan pasangan pezina itu.Dengan begitu, di mata dunia, tindakanku mengambil alih proyek "Victoria" tidak akan

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 7

    "Pak Edwin, kudengar DM bisa mendapatkan kontrak ini karena merekrut tokoh kunci dari perusahaan Anda. Bisakah Anda memberikan penjelasan mengenai hal ini?""Halo Pak Edwin, kami menerima kabar kalau Anda punya hubungan istimewa dengan Bu Amara yang sudah mengundurkan diri. Selain itu, Bu Rani di samping Anda ini diduga adalah orang ketiga yang merebut posisi itu, sehingga membuat Bu Amara pergi. Hal ini benar atau nggak?"Pertanyaan demi pertanyaan yang mendesak dan agresif itu membuat Edwin tidak mampu menjawab. Yang lebih mengerikan lagi, informasi-informasi rahasia yang diketahui para wartawan ini bukan hanya tajam, tetapi juga akurat.Setelah rentetan pertanyaan yang dilontarkan secara bersahut-sahutan itu, Edwin bahkan tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberikan penjelasan.Terlebih lagi, apa yang aku lakukan ini sudah terlalu ekstrem. Sekarang, jika ingin memulihkan reputasinya, tidak ada cara lain sama sekali selain memanggilku kembali ke perusahaan untuk lanjut menangani p

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 6

    "Apa …."Edwin tertegun sejenak. Jantungnya berdegap kencang. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Semua yang hadir di sana tahu betul apa artinya memajukan jadwal perilisan proyek, terutama bagi seseorang seperti Edwin yang sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis.Wajah Rani seketika pucat pasi karena ketakutan. Bagaimanapun, itu adalah kontrak senilai dua triliun.Tanpa pesanan dari wilayah Bashira Barat ini, kelangsungan hidup perusahaan saja sudah dipertanyakan. Jika seperti itu, bukankah mimpi menjadi istri Pak Edwin yang baru berjalan satu hari saja ini sudah harus berakhir?Dengan penuh kecemasan, Rani menatap Edwin. Akan tetapi, Rani melihat pria itu masih terpaku di tempatnya, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Edwin masih tidak percaya bahwa setelah perceraian kami, aku bisa bertindak begitu dingin dan tega hingga ke titik ini.Di depan Edwin, sekelompok wartawan menyodorkan mikrofon hingga mendekat ke arahnya, tetapi tetap tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status