Share

Bab 4

Author: Sansan
Bagaimanapun, ini adalah sesuatu yang akan diberikan kepada bos baru, jadi tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.

Oleh karena itu, selama dua hari berikutnya, aku terus mengurung diri di kantor. Lampu ruanganku tidak pernah padam sepanjang malam.

Orang-orang di perusahaan melihat hal itu dan mulai membicarakannya di obrolan grup yang tidak ada diriku.

[Apa kubilang? Bu Amara cuma digaji sepuluh juta sebulan. Semua biaya hidupnya bergantung pada Pak Edwin. Mana mungkin dia berani cari gara-gara?]

[Kalau bukan karena mengandalkan hubungannya dengan Pak Edwin, dengan kondisi perusahaan yang sudah berkembang pesat sekarang, kita nggak bakalan membutuhkan dia lagi.]

[Kudengar, dulu waktu Pak Edwin baru merintis bisnis, dialah yang menjadi penghambat. Kalau nggak, perusahaan ini pasti sudah masuk bursa efek sejak lama.]

Tangkapan layar semua ucapan itu, tanpa terkecuali, dikirimkan Rani secara pribadi kepadaku.

Lalu, dengan munafiknya Rani menasihatiku, "Kak Amara, aku tahu, menikah dengan pria sehebat dan seberpengaruh Kak Edwin yang merupakan seorang CEO di dunia finansial, pasti bikin perasaanmu begitu nggak tenang."

"Tapi, aku juga mau menasihatimu. Wanita tua yang cuma tahu cara bekerja, nggak akan bisa menarik hati pria. Mereka tetap lebih suka gadis yang muda, cantik dan feminin kayak aku."

Aku mendengarkan pesan suara yang dibuat-buat itu, lalu tersenyum tipis.

"Kalau begitu, baguslah. Besok, aku akan suruh bagian HRD untuk memecatmu, biar kamu nggak kesulitan lagi menarik hati pria."

Setelah berkata seperti itu, aku langsung memblokir Rani dan tidak lagi memedulikannya.

Sepuluh menit kemudian, Edwin meneleponku dengan nada menghakimi.

Di ujung telepon, suara Edwin terdengar begitu garang.

"Amara, bagian mana lagi dari diri Rani yang bikin kamu kesal? Aku sudah susah payah membujuknya agar mau berlibur ke Negara Iraida dan memintanya memaafkan sikapmu yang nggak sopan di pesta perayaan kemarin. Tapi, sekarang kamu lagi-lagi bikin dia nangis. Apa kamu nggak bisa ngerasa tenang kalau dalam sehari saja nggak berulah?"

Memaafkan? Siapa? Aku?

Aku merasa hal itu sangat lucu. Sambil mencetak draf surat cerai yang sudah kusiapkan, aku bertanya pada Edwin dengan santai, "Kapan kamu dan Rani akan kembali? Mari kita bicara soal perceraian."

Napas di ujung telepon sana seketika tertahan. Nada kemarahan Edwin menembus gagang telepon dan merambat masuk ke telingaku.

"Amara, sebenarnya apa maumu? Kapan selesainya ngambekmu itu? Kalau mau merajuk dan cemburu itu harus ada batasnya! Kalau kamu terus-terusan bikin keributan yang nggak masuk akal begini, aku benar-benar akan marah."

Aku tertegun, lalu tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

Surat cerai dengan tulisan hitam di atas putih itu sudah kucetak. Apa aku masih akan takut kamu marah?

"Surat cerainya sudah kutandatangani dan kutaruh di atas mejamu. Jangan lupa dilihat kalau sudah pulang."

Brak!

Edwin menendang kursi hingga terpental, lalu berkata sambil menggertakkan gigi ke arah telepon, "Oke, jangan menyesal ya!"

Telepon pun ditutup dengan suara yang keras. Aku mengedikkan bahu, lalu membubuhkan tanda tangan pada surat cerai tersebut.

Keesokan paginya saat terbangun, begitu aku membuka ponsel, aku langsung melihat pesan dari Edwin.

Edwin sepertinya tidak tidur semalaman. Pada pukul empat pagi, dia bahkan mengunggah sebuah kiriman di media sosial yang bisa dilihat oleh semua orang.

Dalam foto itu, Edwin dan Rani berdiri di depan jendela besar hotel yang menjulang dari lantai ke langit-langit. Tangan mereka saling bertautan erat.

Keterangan foto itu berbunyi: [Tujuh tahun melewati badai, untunglah ada kamu di sisiku.]

Kolom komentar di bawahnya sudah menumpuk hingga puluhan ribu pesan, semuanya bertanya:

[Akhirnya resmi juga! Apa ini sosok Ibu Bos yang disembunyikan Pak Edwin selama tujuh tahun ini?]

Edwin tidak membalas. Namun, dia menyematkan emoji "Sstt" di bagian paling atas.

Selain itu, di obrolan grup utama perusahaan, Edwin juga sudah membuat sebuah pengumuman grup:

[Mulai hari ini, jabatan manajer yang dipegang oleh Amara Mahanta, akan digantikan oleh Rani Delana. Proyek kerja sama wilayah Bashira Barat akan dialihkan ke tangan Bu Rani. Konferensi pers malam ini juga akan dihadiri oleh Bu Rani sebagai pengganti Amara.]

Edwin tahu betul bahwa demi mendapatkan kontrak ini, aku sudah bekerja mati-matian di luar negeri selama 39 hari tanpa mengenal siang dan malam.

Edwin juga tahu bahwa demi memenangkan kerja sama ini, aku menyusun data di siang hari dan melakukan lobi serta jamuan bisnis di malam hari. Aku terus minum alkohol sampai rasanya mau muntah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 11

    Kegagalan mendapatkan proyek "Victoria" sudah cukup menyedihkan. Ditambah lagi langkahku saat itu yang membongkar habis bukti perselingkuhannya di dalam negeri serta status Rani sebagai pelakor, benar-benar menjadi pukulan yang mematikan. Kini, nama perusahaan Edwin dan reputasi dirinya sendiri sudah busuk di industri ini. Siapa juga yang masih berani bekerja sama dengannya?Awalnya, Rani masih cukup bersemangat. Sambil bekerja lembur mempelajari proposal proyek, dia juga diam-diam memata-matai kinerjaku selama di luar negeri.Namun, makin karierku meroket, makin hati Rani merasa tidak tenang dan cemburu. Akhirnya, pada bulan ketiga saat Grup Faresta sudah tidak mampu membayar gaji dan harus gali lubang tutup lubang, emosi Rani pun meledak."Kamu bisa nggak sih mengelola perusahaan, bangsat? Kalau begini terus, cepat atau lambat perusahaan ini bakal bangkrut. Jangankan jadi istrimu, lama-lama aku bisa-bisa cuma jadi pengemis bareng kamu di jalanan!"Edwin awalnya sudah pusing melihat i

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 10

    "Maafkan aku, Amara. Aku nggak tahu. Hal-hal yang terjadi di masa lalu adalah kesalahanku. Bisakah kamu memaafkanku? Aku pantas mati, pukul saja aku, pukul aku." Edwin mencengkeram tanganku, lalu memukulkannya ke tubuhnya sendiri berkali-kali.Kemarahanku memuncak karena tarikannya. Tanpa ragu, aku mendaratkan tamparan keras di wajah Edwin dan memakinya dengan geram, "Sudah cukup gilanya?!""Aku mengatakan semua ini bukan karena ingin kamu mengakui kesalahanmu kepadaku, tapi ingin memberitahumu bahwa hubungan di antara kita sudah berakhir. Mangga adalah batasan terakhirku. Karena kamu sudah melanggar batasan itu demi Rani, maka nggak ada lagi kemungkinan bagi kita untuk kembali. Kamu mengerti?"Akan tetapi, Edwin seolah benar-benar tidak paham dan berkata dengan kesedihan yang mendalam, "Jadi, kamu sebegitu bencinya padaku? Benci sampai harus membawa pergi Victoria dan membiarkan Grup Faresta yang kita bangun bersama dari nol bangkrut, cuma demi membalas dendam padaku, iya 'kan?""Itu

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 9

    Edwin tidak pernah perlu mengorbankan apa pun. Jadi, bagaimana mungkin dia perlu memohon bantuan kepada orang lain?Seketika muncul rasa ingin tahu dalam diriku, kata-kata tajam apa lagi yang akan terlontar dari mulutnya yang tak pernah berucap baik itu. Aku pun tak lagi berusaha berontak dari cengkeramannya, melainkan menuju kafe terdekat dan menyalakan stopwatch, menanti sepuluh menit yang akan segera tiba."Amara, selama ini kamu sebenarnya ke mana saja? Kamu tahu nggak, aku sudah mencarimu ke mana-mana!"Edwin masih sama seperti dahulu, mulutnya sangat manis dengan segala bualannya.Saat itu aku membawa proyek Victoria dan terang-terangan pindah kerja. Orang paling bodoh sekalipun juga tahu aku ada di mana, apalagi dia.Demi menunjukkan betapa "setia" cintanya, Edwin benar-benar menghalalkan segala cara.Aku tersenyum sinis sambil mengangkat tangan untuk melihat jam tangan, lalu berkata, "Kalau yang mau kamu bicarakan cuma omong kosong seperti ini, kurasa kita nggak perlu buang-bua

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 8

    "Dan apa?" tanya Edwin dengan wajah pucat pasi."Dan dengan postingan yang diunggah Bu Rani di media sosial tempo hari, 'tujuh tahun melewati badai, untungnya ada kamu'." Suara asisten sekretaris itu makin lama makin mengecil, hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Namun, semua orang tetap bisa menangkap maksudnya.Baru pada saat itulah Rani seolah tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia melangkah keluar dari sudut, menarik asisten sekretaris itu, lalu bertanya sekaligus memaki, "Kamu bilang apa? Siapa yang mengizinkan Amara si jalang itu melakukan hal seperti ini?"Lantaran Rani punya keberanian untuk menjadi selingkuhan orang, maka seharusnya dia sudah tahu bahwa begitu rahasianya terbongkar, dia akan mati tenggelam dalam ludah masyarakat yang menghujatnya.Selain itu, postingan Twitter-ku itu tidak ada bedanya dengan memberikan pukulan mematikan yang membuktikan perselingkuhan pasangan pezina itu.Dengan begitu, di mata dunia, tindakanku mengambil alih proyek "Victoria" tidak akan

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 7

    "Pak Edwin, kudengar DM bisa mendapatkan kontrak ini karena merekrut tokoh kunci dari perusahaan Anda. Bisakah Anda memberikan penjelasan mengenai hal ini?""Halo Pak Edwin, kami menerima kabar kalau Anda punya hubungan istimewa dengan Bu Amara yang sudah mengundurkan diri. Selain itu, Bu Rani di samping Anda ini diduga adalah orang ketiga yang merebut posisi itu, sehingga membuat Bu Amara pergi. Hal ini benar atau nggak?"Pertanyaan demi pertanyaan yang mendesak dan agresif itu membuat Edwin tidak mampu menjawab. Yang lebih mengerikan lagi, informasi-informasi rahasia yang diketahui para wartawan ini bukan hanya tajam, tetapi juga akurat.Setelah rentetan pertanyaan yang dilontarkan secara bersahut-sahutan itu, Edwin bahkan tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberikan penjelasan.Terlebih lagi, apa yang aku lakukan ini sudah terlalu ekstrem. Sekarang, jika ingin memulihkan reputasinya, tidak ada cara lain sama sekali selain memanggilku kembali ke perusahaan untuk lanjut menangani p

  • Harga Mahal dari Sebuah Mangga   Bab 6

    "Apa …."Edwin tertegun sejenak. Jantungnya berdegap kencang. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Semua yang hadir di sana tahu betul apa artinya memajukan jadwal perilisan proyek, terutama bagi seseorang seperti Edwin yang sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis.Wajah Rani seketika pucat pasi karena ketakutan. Bagaimanapun, itu adalah kontrak senilai dua triliun.Tanpa pesanan dari wilayah Bashira Barat ini, kelangsungan hidup perusahaan saja sudah dipertanyakan. Jika seperti itu, bukankah mimpi menjadi istri Pak Edwin yang baru berjalan satu hari saja ini sudah harus berakhir?Dengan penuh kecemasan, Rani menatap Edwin. Akan tetapi, Rani melihat pria itu masih terpaku di tempatnya, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Edwin masih tidak percaya bahwa setelah perceraian kami, aku bisa bertindak begitu dingin dan tega hingga ke titik ini.Di depan Edwin, sekelompok wartawan menyodorkan mikrofon hingga mendekat ke arahnya, tetapi tetap tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status