INICIAR SESIÓNSora tersenyum menatap kalender di hadapannya. Tanggal hari ini sengaja dia lingkari dengan tinta warna merah.Karena hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke-18.Tanpa sadar mata Sora sudah berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan sampai di titik ini. Dulu dia pikir, pernikahannya akan kandas di usia yang ke-5. Namun ternyata takdir berkata lain.Pernikahan yang dulu bagai neraka bagi Sora, kini justru sebaliknya. Sora merasa begitu bahagia dan bersyukur memiliki Figo serta ketiga anak mereka dalam hidupnya.“Tapi kenapa sampai sekarang dia belum mengucapkan apa-apa?” gumam Sora seraya meletakkan kembali kalender duduk itu ke atas meja. “Masa dia lupa?”Padahal setiap tahun selama 12 tahun terakhir, Figo tidak pernah melupakan anniversary mereka. Bahkan seringnya Figo yang lebih dulu ingat dengan tanggal itu.Namun hari ini pria itu sama sekali belum membahasnya. Padahal Sora sangat menantikan hari ini sejak lama.Pada saat yang sama ponsel Sora berdering. Dia buru-buru men
Figo dan Sora sengaja mengambil cuti hari itu untuk menemani Caspian yang menjadi salah satu peserta perlombaan renang tingkat nasional.Sejak pagi area kolam renang sudah dipenuhi peserta, orang tua, pelatih serta para pendukung yang datang dari berbagai daerah.Suasana semakin riuh ketika nama Caspian Denver Wiranegara dipanggil untuk bersiap di ruang tunggu atlet.“Papa! Mama!” Caspian melambaikan tangannya dari kejauhan.Sora langsung tersenyum lebar. “Semangat, Sayang!”Caspian mengangguk penuh keyakinan. “Aku pasti menang!”Figo mengangkat ibu jarinya seraya tersenyum pada Caspian. Sebelum akhirnya Caspian menghampiri pelatih.“Aku nggak nyangka, anak yang dulu sering hilang itu sekarang jadi atlet dan semakin besar.” Sora menatap putranya dengan mata berbinar.“Juga semakin keras kepala,” timpal Figo seraya merangkul bahu Sora.Sora langsung mendelik. “Mirip kamu.”“Jangan lupa. Kamu juga keras kepala, Sayang.”“Baiklah. Aku mengakui kalau aku juga keras kepala. Tapi kamu lebih
Figo turun dari mobil, lalu menurunkan kacamata hitam yang sejak tadi membingkai wajahnya.Beberapa anak SMA yang ada di area parkir tampak terpesona melihat Figo. Mereka saling berbisik malu-malu dan tertawa.“Shopie, papa kamu datang!”“Astaga, papa kamu ganteng banget!”“Kok bisa ada om-om seganteng itu?”“Shopie, kalau aku punya papa seganteng papa kamu, udah aku pamerin setiap hari.”Shopie yang sudah terbiasa mendengar ayahnya dipuji berlebihan, hanya memutar bola matanya malas.“Kalian jangan lebay deh.” Shopie geleng-geleng kepala. “Ini saran aja, sih. Jangan kagum sama Papa, atau kalian akan kecewa.”“Kenapa memangnya? Papa kamu galak?”“Nggak, sih.” Shopie menggeleng pelan. “Kalian bakal kecewa karena Papa udah bucin akut sama Mama. Jadi Papa nggak bakal peduli sama cewek-cewek yang kagum sama dia.”“Whoaa! Aku iri banget sama mama kamu.”“Di kehidupan lain, aku berharap bisa menjadi mama kamu.”Shopie tertawa kecil. Saking bucinnya, Shopie sampai jengah melihat mama dan pap
Shopie tersipu-sipu saat Zev datang dan menyerahkan seikat bunga serta cheesecake kesukaannya. Tapi dia berusaha menyembunyikan pipinya yang merah dari Zev.Shopie tidak mau Zev tahu mengenai perasaannya yang menyukai cowok itu. Toh, belum tentu juga Zev menyukainya.Kalau Zev tahu Shopie suka padanya tapi ternyata Zev tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, ugh! mau ditaruh di mana mukanya?“Makasih ya, Zev, udah jenguk aku. Kamu nggak les memangnya?”“Lesnya satu jam lagi, sih. Sengaja aku geser jamnya biar aku bisa jenguk kamu dulu.” Zev duduk di single sofa di samping Shopie yang duduk di sofa panjang.Figo tidak mengizinkan Zev masuk ke kamar anak gadisnya. Jadi, Figo yang menyuruh Shopie agar menemui Zev di ruang keluarga.“Masih demam?”“Udah mendingan.”Refleks Zev menjulurkan tangan kanannya ke kening Shopie untuk mengecek suhu tubuhnya.Namun, deheman keras dari Figo yang duduk tak jauh dari mereka, membuat Zev menarik kembali tangannya dengan cepat.Shopie langsung men
“Mama, sebenarnya aku mirip siapa, sih? Mama atau Papa?” celoteh seorang gadis cilik bernama Eleanor Sienna Wiranegara.Sora yang baru selesai mengikat rambut panjang Sienna, menjawab, “Coba Mama lihat sekali lagi.”Sienna langsung memutar tubuhnya menghadap ibunya sembari mengerjap polos. “Nenek bilang aku mirip Papa, tapi Kakek bilang aku mirip Mama. Aku jadi bingung sebenarnya aku mirip siapa.”Sora terkekeh-kekeh seraya menangkup pipi tembem Sienna. Lalu mengamati wajah bocah berusia 7 tahun itu dengan tatapan lembut. Poni yang menutupi dahinya membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan.“Sienna itu mirip Mama sama Papa. Mata sama hidung Sienna mirip Papa, tapi bentuk wajah sama bibir Sienna mirip Mama.”Mata Sienna seketika berbinar-binar. “Jadi aku cantik seperti Mama dan ganteng seperti Papa?”“Walaupun mirip Papa tapi Sienna cantik sekali.”Sora mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Tujuh tahun yang lalu, Sienna lahir dengan persalinan normal. Dia tumbuh menjadi an
Figo menekan pelipisnya yang terasa berdenyut. Aroma parfum dari tubuh para direktur yang kini memenuhi ruang rapat terasa begitu menyengat. Membuat mual Figo semakin menjadi-jadi.Sial. Padahal biasanya dia bukan orang yang sensitif terhadap bau parfum.“Akhiri rapatnya!” perintah Figo dengan tegas.Salah satu peserta rapat yang saat itu tengah presentasi, seketika berhenti. Semua orang yang ada di ruangan itu tampak terkejut.“Maaf, Pak?” tanya Ryan memastikan. “Rapatnya diakhiri sekarang?”“Ya.” Figo bangkit berdiri dan merapikan jasnya. Dia menatap satu persatu peserta rapat di ruangan itu dengan tajam. “Lanjutkan rapatnya di lain waktu. Tapi, jangan ada satu orang pun yang memakai parfum saat memasuki ruangan ini lagi.”Para direktur tampak kebingungan dengan larangan memakai parfum itu. Tetapi mereka akhirnya mengangguk patuh.Figo keluar dari ruangan rapat dengan ekspresi muram. Begitu masuk ke dalam ruangannya beberapa saat kemudian, dia langsung mengambil syal milik Sora dari
“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
“Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu
‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.







