MasukMobil melaju pelan menuju rumah sakit terdekat. Di dalam kabin yang sempit, suara isak tangis Rena masih terdengar pelan, tubuhnya yang besar gemetar di kursi belakang. Sebastian duduk di sampingnya, tangannya masih menggenggam lengan Rena dengan hati-hati, seolah takut wanita itu akan roboh jika ia melepaskannya.Leon duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang dengan ekspresi cemas. Adrian menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik ke kaca spion untuk memastikan keadaan di belakang."Kita hampir sampai," kata Adrian pelan.Rena tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, air matanya membasahi seragam pizza yang masih melekat di tubuhnya, seragam yang sama dengan yang ia kenakan semalam. Seragam yang mengingatkannya pada malam mengerikan itu.Sebastian menatapnya, dadanya terasa sesak. Ia melihat bekas merah di leher Rena, melihat bagaimana tubuh gemuk wanita itu berguncang karena tangis, melihat bagaimana matanya yang merah dan bengkak memancarkan rasa sakit yang tak
Mobil Adrian melaju pelan di jalanan kota yang mulai padat. Sebastian duduk di kursi penumpang, tubuhnya masih terasa berat, kepalanya berdenyut setiap kali lampu lalu lintas menyorot matanya. Ia menggenggam kertas berisi alamat Rena di tangannya, kertas itu basah oleh keringatnya."Kau yakin mau melakukan ini?" tanya Adrian, matanya tetap fokus ke jalan. "Kita masih bisa memikirkan cara lain. Mungkin melalui pengacara, atau...""Tidak. Aku harus melihatnya langsung. Aku harus meminta maaf. Mata ke mata.""Baik. Tapi kau tahu, kalau dia sudah melapor ke polisi, kita...""Sudah kubilang, aku akan menghadapi apapun konsekuensinya, Aku pantas menerimanya," kata Sebastian.Adrian tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan dan terus menyetir.Mereka tiba di sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota. Bangunan tua berlantai tiga dengan cat mengelupas di sana-sini. Sebastian menatap gedung itu, dadanya berdebar. Ia hampir tidak bisa turun dari mobil."Tunggu di sini," katanya pada
Sinar matahari pagi menyorot tepat ke wajah Sebastian yang terbaring tak berdaya di sofa kulit. Sinar itu terasa seperti tusukan jarum di pelupuk matanya. Ia mengerang pelan, mencoba memutar tubuh menjauhi cahaya, tapi kepalanya terasa seperti dipalu berulang kali."Sebastian. Bangun."Suara tegas itu menusuk telinganya. Sebastian mengernyit, mencoba mengabaikannya, tapi tangan yang mengguncang bahunya membuatnya terpaksa membuka mata.Adrian berdiri di hadapannya, jas abu-abu tua rapi, rambut cokelatnya disisir sempurna, dan ekspresi wajahnya campuran antara khawatir dan jengkel."Kau terlihat seperti mayat yang baru bangkit, Apa yang kau lakukan semalam? Aku meneleponmu puluhan kali. Kau bahkan tidak membalas pesanku," kata Sebastian.Sebastian mengangkat kepalanya perlahan, rasa sakit berdenyut di ubun-ubunnya. Ia menatap sekeliling ruangan. Botol-botol wiski kosong. Pecahan gelas di dekat dinding. Kotak pizza yang masih tertutup rapi di sudut meja."Ingatanku buram," gumam Sebasti
Sebastian menatap bayangannya sendiri di cermin kaca, suit mahal yang kusut, dasi yang sudah dilepas dan tergeletak di lantai karpet Persia, serta botol-botol wiski kosong yang berserakan di meja.Leon dan Ana sudah bahagia.Dan Sebastian? Ia hanya bisa meneguk wiski demi wiski, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya, berharap rasa pahitnya bisa menghapus kenangan."Aku takkan mengganggu Ana lagi."Itu janjinya pada dirinya sendiri.Tapi malam ini, di kantor megah yang sunyi, dengan hanya cahaya lampu meja yang redup dan gemerlap kota di luar jendela, Sebastian merasa kesepian.Ia meneguk lagi. Botol ketiga hampir habis. Kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur, tapi ia masih bisa melihat bayangan Ana di setiap sudut ruangan di sofa kulit tempat ia pernah membaringkannya, di meja kerja tempat ia pernah menundukkannya, di karpet tebal tempat ia pernah merasakan tubuh gendutnya gemetar di bawah sentuhannya."Brengsek," gumamnya, melempar gelas kristal ke dinding. G
Ana's Pov.Beberapa minggu setelah pernikahan, aku dan Leon menikmati kehidupan pernikahan yang tenang dan penuh cinta. Kami menghabiskan waktu di rumah kecil kami di pinggiran London, jauh dari hiruk pikuk kota dan semua kenangan buruk yang pernah menghantui kami. Leon semakin sering tersenyum, kesehatannya mulai membaik, dan aku merasa bahagia dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.Tapi suatu pagi, ketika aku sedang membuat sarapan, Leon masuk ke dapur dengan membawa sebuah amplop besar. Matanya berbinar, dan ada senyum misterius di wajahnya."Apa itu?" tanyaku, penasaran.Leon meletakkan amplop di meja dapur. "Buka saja."Aku menghentikan aktivitasku, mengeringkan tanganku di celemek, dan membuka amplop itu. Di dalamnya, ada dokumen resmi—surat penerimaan dari sebuah universitas ternama di London. Program arsitektur. Dan di atas surat itu, tertera namaku."Leon... apa ini?" tanyaku, suaraku bergetar.Leon tersenyum, matanya hangat. "Aku sudah mendaftarkanmu ke uni
Kami berbaring dalam pelukan, menikmati kehangatan satu sama lain. Detak jantung kami perlahan mulai tenang, napas kami mulai teratur. Di luar, aku bisa mendengar suara ombak yang berbisik, dan di dalam, perapian masih menyala, menciptakan cahaya yang hangat dan romantis.Leon mencium keningku, lalu menatapku dengan mata penuh cinta. Tangannya mengusap rambutku yang basah oleh keringat, menyisirnya dengan lembut."Aku tidak pernah membayangkan malam ini akan seindah ini," katanya, suaranya masih serak.Aku tersenyum, jari-jariku bermain di dadanya yang bidang."Aku juga tidak. Aku takut kenangan buruk di ruangan ini akan menghantuiku tapi kau berhasil mengubahnya."Leon menarik napas panjang."Aku akan menghancurkan ruangan ini jika kau mau. Kita bisa pindah ke kamar lain."Aku menggeleng. "Tidak. Biarkan saja. Sekarang ruangan ini milik kita. Kenangan buruknya sudah tergantikan oleh kenangan indah."Leon tersenyum, dan dia menciumku lagi, lembut dan penuh kasih sayang. Aku membalas c
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama







