เข้าสู่ระบบPagi hari berikutnya, Rena terbangun dengan perasaan canggung yang luar biasa. Ia terbaring di tempat tidur empuk di kamar tamu mewah itu, menatap langit-langit putih yang terasa asing. Di luar jendela, matahari pagi bersinar terang, tapi Rena tidak merasa hangat. Ia merasa seperti ikan yang terdampar di daratan.Dengan hati-hati, ia bangun dari tempat tidur. Tubuhnya yang besar terasa berat saat ia melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Ia masih mengenakan gaun longgar yang terlalu kecil untuk tubuhnya, dan rambutnya kusut tidak terawat.Di ruang tamu, suara musik lembut terdengar dari ruangan di sebelah. Rena mendekati sumber suara dan melihat Sebastian sedang berolahraga. Pria itu mengenakan tank top hitam yang memperlihatkan otot-otot kekarnya, celana pendek olahraga, dan sepatu lari. Keringat membasahi dahi dan dadanya, membuat tubuhnya tampak segar dan penuh energi.Rena terpaku di ambang pintu, merasa semakin kecil di hadapan pria itu. Ia melihat bagaimana setiap gerakan Seb
Mobil Sebastian melaju pelan menuju apartemen mewahnya di pusat kota. Di kursi penumpang, Rena duduk dengan gaun pengantin yang masih ia kenakan, tangannya gemetar di pangkuan. Ia menatap gedung-gedung tinggi yang melintas di jendela, merasa seperti berada di dunia yang sama sekali asing."Ini tempat tinggalmu?" tanya Rena."Ini tempat tinggal kita sekarang," jawab Sebastian, matanya tetap fokus ke jalan.Rena tidak menjawab. Ia hanya menatap tangan Sebastian yang memegang setir, jari-jarinya yang panjang dan terawat. Pria di sampingnya ini tampak sempurna dari luar, tampan, kaya, sukses. Dan Rena adalah kebalikannya. Gemuk, miskin, tidak berharga.Mereka tiba di apartemen. Sebastian membuka pintu untuk Rena, membawanya masuk ke dalam unit mewah di lantai 30. Rena terpaku melihat interiornya—marmer di mana-mana, lampu kristal, sofa kulit putih, dan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota."Ini sangat besar," gumam Rena, merasa kewalahan."Aku akan menunjukkan kamarmu," kata
Dua minggu setelah insiden di apartemen Rena, Sebastian berdiri di depan cermin besar di sebuah kamar hotel mewah yang ia sewakan khusus untuk acara tersebut. Ia mengenakan setelan hitam klasik, dasi kupu-kupu abu-abu, dan sepatu kulit mengkilap. Namun meskipun penampilannya sempurna, ada sesuatu yang memberatkan dadanya.Malu.Ia tak pernah membayangkan akan menikah seperti ini, tanpa cinta, tanpa kebahagiaan, tanpa kehadiran keluarga. Hanya sekelompok kecil orang: Adrian sebagai saksi, Leon sebagai pendampingnya, dan beberapa staf hotel yang disewa untuk mengurus acara. Tanpa kerabat, tanpa rekan bisnis, tanpa kemewahan yang biasa ia miliki untuk setiap acara penting dalam hidupnya."Kau terlihat seperti menghadiri pemakaman, bukan pernikahan," kata Adrian saat masuk ke ruangan, menepuk bahu Sebastian."Karena ini terasa seperti pemakaman," jawab Sebastian datar. "Pemakaman harga diriku.""Kau memilih untuk bertanggung jawab. Sekarang kau harus menjalaninya dengan kepala tegak.""Ak
Mobil itu melaju perlahan menuju rumah sakit terdekat. Di dalam kabin yang sempit, suara isak tangis Rena masih terdengar pelan, tubuh besarnya gemetar di kursi belakang. Sebastian duduk di sampingnya, tangannya masih dengan hati-hati menggenggam lengan Rena, seolah takut wanita itu akan pingsan jika ia melepaskan.Leon duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang dengan ekspresi cemas. Adrian menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik ke spion untuk memeriksa situasi di belakang."Kita hampir sampai," kata Adrian dengan lembut.Rena tidak menjawab. Ia terus menangis, air matanya membasahi seragam pizza yang masih melekat di tubuhnya, seragam yang sama yang ia kenakan tadi malam. Seragam yang mengingatkannya pada malam mengerikan itu.Sebastian menatapnya, dadanya sesak. Ia melihat bekas merah di leher Rena, melihat bagaimana tubuh montok wanita itu bergetar karena isak tangis, melihat bagaimana mata merah bengkaknya memancarkan rasa sakit yang tak terkatakan.Dan ia
—Begini saja, Sebastian akan menikahimu —kata Adrian. —Apa? Rena juga terdiam, air matanya masih mengalir di pipi bulatnya. Dia menatap Adrian dengan ekspresi campuran antara kaget dan tidak percaya. —Apa maksudmu? —Adrian, apa kau gila? —Sebastian berdiri tegak, menarik lengan Adrian menjauh dari pintu. Mereka bergerak beberapa langkah ke lorong, cukup jauh agar Rena tidak bisa mendengar—. Apa yang kau katakan? —Aku serius. Ini satu-satunya cara. Kau melihat sendiri kondisinya. Dia gadis miskin tanpa siapa pun. Jika kau hanya memberinya uang, itu akan terasa seperti kau membeli diamnya. Tapi jika kau menikahinya... —Menikahinya? Apa kau tahu apa yang kau katakan? Aku CEO perusahaan besar! Aku tidak bisa menikah dengan... —Dia berhenti, menunjuk ke arah pintu—. Dia! Seorang gadis pengantar pizza yang... —Yang kau perkosa? —potong Leon, suaranya dingin. Dia melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Sebastian—. Kau pikir statusmu membuatmu lebih baik darinya? Kau pikir kar
Mobil Adrian melaju pelan di jalanan kota yang mulai padat. Sebastian duduk di kursi penumpang, tubuhnya masih terasa berat, kepalanya berdenyut setiap kali lampu lalu lintas menyorot matanya. Ia menggenggam kertas berisi alamat Rena di tangannya, kertas itu basah oleh keringatnya."Kau yakin mau melakukan ini?" tanya Adrian, matanya tetap fokus ke jalan. "Kita masih bisa memikirkan cara lain. Mungkin melalui pengacara, atau...""Tidak. Aku harus melihatnya langsung. Aku harus meminta maaf. Mata ke mata.""Baik. Tapi kau tahu, kalau dia sudah melapor ke polisi, kita...""Sudah kubilang, aku akan menghadapi apapun konsekuensinya, Aku pantas menerimanya," kata Sebastian.Adrian tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan dan terus menyetir.Mereka tiba di sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota. Bangunan tua berlantai tiga dengan cat mengelupas di sana-sini. Sebastian menatap gedung itu, dadanya berdebar. Ia hampir tidak bisa turun dari mobil."Tunggu di sini," katanya pada
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







