เข้าสู่ระบบMobil melaju pelan menuju rumah Leon dan Ana. Di dalam kabin yang sunyi, Ana duduk di kursi penumpang dengan tubuh kaku, sesekali mencuri pandang ke arah Leon yang menyetir dengan wajah keras. Tidak ada kata-kata yang terucap sejak mereka meninggalkan rumah sakit.Setelah tiba di mansion mereka, Leon langsung berjalan masuk tanpa menunggu Ana. Ana mengikutinya dengan langkah tergesa-gesa, jantungnya berdebar kencang."Leon, tolong bicara padaku. Aku tahu kau marah, tapi tolong dengarkan aku."Leon berhenti di tengah ruang tamu. Ia berbalik menatap Ana, matanya dingin dan tajam."Apa yang mau kau katakan? Bahwa Rena berbohong? Bahwa kau tidak melakukan apa-apa?""Aku tidak melakukan apa-apa! Aku bersumpah, aku tidak pernah berselingkuh dengan Sebastian. Aku tidak tahu kenapa Rena mengatakan semua itu!""Kau mendengar apa yang dia katakan, Dia melihat kalian. Dia mendengar suara kalian. Dia bahkan bilang dia merekam kalian!""Tapi rekamannya tidak ada!" Ana hampir berteriak. "Itu berart
Rena menatap Sebastian dengan mata yang masih basah oleh air mata. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Mimpi itu terasa begitu nyata. Terlalu nyata. Ia bisa merasakan sakitnya, bisa mendengar suara desahan mereka, bisa melihat dengan jelas bagaimana Sebastian dan Ana bercinta di atas tempat tidur."Aku ingin bertanya sesuatu padamu."Sebastian mengangkat kepalanya, masih berlutut di samping tempat tidur. "Apa saja, Rena."Rena menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Ana sebentar, lalu kembali menatap Sebastian."Apa kau berselingkuh dengan Ana?"Ana terkejut, matanya membelalak. "Apa? Rena, apa maksudmu?"Sebastian juga terkejut, tapi ia mencoba tetap tenang. "Apa yang kau bicarakan?""Aku ingat melihat kalian berdua, di apartemen, di kamar tidur. Kalian bercinta. Aku melihat semuanya."Leon, yang selama ini diam di sudut ruangan, langsung menegang. Matanya menyipit tajam menatap Sebastian. "Apa? Apa yang dia bicarakan?""Aku tidak tahu! Kau pas
Ana segera berlari mengikuti mereka, membukakan pintu mobil. Sebastian menempatkan Rena di kursi belakang dengan hati-hati, lalu Ana masuk di samping Rena sementara Sebastian duduk di depan dengan Leon yang mengemudi. Adrian mengikuti dengan mobilnya sendiri.Di rumah sakit, Rena menjalani serangkaian pemeriksaan. Dokter memeriksa tekanan darahnya, mengambil sampel darah, dan melakukan beberapa tes dasar. Ana tidak pernah melepaskan tangan Rena sepanjang proses itu, menggenggamnya erat seolah memberikan kekuatan."Kau akan baik-baik saja," kata Ana.Rena menatap Ana, mengingat mimpi buruknya atau apakah itu hanya mimpi? Dalam mimpinya, Ana berselingkuh dengan Sebastian. Tapi di sini, Ana begitu peduli padanya. Begitu perhatian.Mana yang nyata?Dokter akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan dengan ekspresi serius. "Saya perlu berbicara dengan keluarga pasien."Sebastian segera berdiri. "Saya suaminya."Dokter mengangguk. "Ikuti saya."Mereka masuk ke ruangan kecil di sebelah, dan dokte
Rena berusaha menjalani hari-harinya dengan normal, meskipun ada luka yang menganga di hatinya. Ia masih tinggal di apartemen Sebastian, masih tidur di kamar tamu, masih berusaha mempercayai pria yang telah menyakitinya.Tapi rekaman di ponselnya selalu mengingatkannya pada kenyataan pahit: Sebastian tidak pernah berubah. Ia masih sama seperti malam itu, egois, manipulatif, dan penuh nafsu yang tak terkendali.Suatu sore, Rena memutuskan untuk kembali ke apartemen lamanya untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Pakaian, foto-foto lama, dan beberapa kenangan dari masa lalunya yang sederhana. Ia memberi tahu Sebastian bahwa ia akan pergi sebentar, dan Sebastian hanya mengangguk tanpa banyak bertanya.Rena naik taksi menuju apartemen tuanya di pinggiran kota. Bangunan tua itu terasa asing sekarang, setelah ia merasakan kemewahan apartemen Sebastian. Tapi ada sesuatu yang nyaman di sana—kenangan tentang kehidupan yang lebih sederhana, sebelum segalanya menjadi rumit.Ia mengumpul
"A-apa maksudmu, kalian bertiga mencicipi tubuhnya?" tanya Rena.Sebastian menyesap minumannya dengan tenang, seolah tidak menyadari betapa dalam kata-katanya melukai Rena. "Ana dulu adalah pelacur kami. Untuk kami bertiga. Leon, Adrian, dan aku. Kami semua pernah bersamanya. Itu sebabnya Leon sangat posesif sekarang. Dia tahu apa yang kami lakukan dengan Ana di masa lalu."Rena merasa dunianya berputar. Ia menatap Ana di seberang meja—wanita cantik yang pernah meriasnya dengan penuh kasih, wanita yang mengatakan bahwa ia berharga, wanita yang sekarang tertawa bahagia di pelukan Leon. Dan di balik senyum itu, Rena sekarang tahu: Ana adalah seorang mantan sugar baby yang pernah melayani tiga pria sekaligus.Dan Sebastian, suaminya sendiri, adalah salah satu dari pria itu."Jadi itu sebabnya kau tidak bisa melupakan Ana? Karena kau pernah pernah bersamanya? Karena kau masih menginginkannya?"Sebastian menoleh ke Rena, alisnya terangkat. "Apa? Tidak. Aku sudah melupakan Ana. Dia bahagia
Siang hari di mansion Leon dan Ana. Ana terbangun, ia menoleh ke samping, melihat Leon masih terlelap di sampingnya, wajah tampannya tampak tenang dalam tidur.Ana tersenyum. Ia bergerak mendekat, lalu mencium pipi Leon dengan lembut. "Leon, Bangun."Leon hanya bergumam pelan, belum sepenuhnya sadar.Ana menciumnya lagi, kali ini di bibir. "Leon, hari sudah siang. Kita harus bersiap."Leon membuka matanya perlahan, senyum mengembang di wajahnya saat melihat Ana di hadapannya. "Hmm... selamat siang, cantik.""Selamat siang, sayang. Ingat? Hari ini kita janjian dengan Sebastian dan Adrian untuk main golf."Leon mengangguk, masih setengah mengantuk. "Iya, aku ingat.""Kau harus bangun sekarang. Kita tidak boleh terlambat," kata Ana sambil terus menciumi Leon, dahi, pipi, hidung, dan bibirnya. Ciuman-ceman kecil yang membuat Leon tertawa pelan."Baik, baik, aku bangun," kata Leon, akhirnya duduk dengan tubuh masih malas. "Tapi kau tahu, dengan ciuman seperti itu, aku jadi malas pergi."
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan







