เข้าสู่ระบบ"Sinta, kamu tidak boleh pergi," ucap Rama, suaranya tegas, membuat baik Manisha maupun Sinta sama-sama terkejut menatapnya."Apa?" Sinta menatap tidak percaya. "Tapi aku sudah putuskan ini yang terbaik.""Kamu tidak punya keluarga, tidak punya tempat lain untuk pergi, Sinta. Kalau kamu keluar dari sini sekarang, kemana kamu akan tinggal? Kembali ke kontrakan yang atapnya bocor? Kembali kerja serabutan tanpa jaminan apa-apa?"Manisha berdiri mematung, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Rama, apa maksud kamu?""Maksud aku, Sha, aku tidak bisa membiarkan dia kembali ke kondisi yang sama seperti sebelumnya," jawab Rama, menoleh sebentar ke arah istrinya sebelum kembali menatap Sinta. "Aku sudah bertanggung jawab sejauh ini. Aku tidak akan berhenti di tengah jalan.""Rama," suara Manisha bergetar, "kamu dengar, kan? Sinta sendiri yang bilang mau pergi, demi pernikahan kita. Kenapa kamu malah melarang dia?""Karena ini bukan solusi, Sha! Kalau dia pergi tanpa tujuan yang j
"Kamu tidak boleh ke sana, Sha," ucap Rama, suaranya masih parau, pipinya masih memerah bekas tamparan Manisha. "Malam ini, kamu lagi kacau. Aku tidak mau kalian bertemu dalam kondisi seperti ini.""Aku harus ketemu dia sekarang, Rama!" Manisha berdiri, matanya masih basah tapi tatapannya keras, penuh keteguhan yang tidak lagi bisa ditawar. "Aku lelah menunggu kamu siap cerita. Aku lelah menunggu waktu yang tepat menurut kamu. Sekarang aku yang nentuin waktunya.""Sha, ini tengah malam. Villa itu jauh, jalannya berkelok, aku tidak mau kamu—""Aku tidak peduli jam berapa, Rama! Aku tidak peduli jauh sekalipun! Antarkan aku sekarang, atau aku akan cari sendiri!"Rama menatap Manisha lama, mengenali keteguhan yang sama seperti dulu. Saat istrinya nekat mencari tahu sendiri meski sudah dilarang berkali-kali. Ia tahu, kalau ia tetap menolak, Manisha akan tetap pergi dengan atau tanpa dirinya, dan itu jauh lebih berbahaya."Baik," ucap Rama akhirnya, suaranya berat. "Aku antar. Tapi kamu ha
"Rama, jawab aku," desak Manisha, suaranya kini nyaris berbisik. Dipenuhi ketakutan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. "Kamu punya perempuan lain, ya?"Rama spontan menatap Manisha setelah menunduk cukup lama. Dadanya naik turun menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pendam sendirian. Kedua tangannya dicengkram kuat seperti mencoba menahan diri. Sepasang matanya yang biasa begitu tegas kini basah. Bergetar menahan sesuatu yang jauh lebih rapuh dari amarah."Bukan perempuan lain, Sha," ucap Rama akhirnya Suaranya pecah di tengah kalimat. "Ini Sinta."Ruangan seketika hening. Sunyi yang begitu tebal hingga Manisha bisa mendengar detak jantungnya sendiri berpacu keras di telinga. Bahkan bisa mendengar detik jam dinding yang biasanya tidak pernah ia sadari. Kata itu, nama itu, menghantam lebih keras dari apa pun yang pernah ia bayangkan selama berbulan-bulan penuh ketakutan dan kecurigaan."Sinta?" bisik Manisha bergetar hebat. Air mata sudah menggenang tanpa sempat ia tahan. Mengal
Dua minggu setelah vonis Wirawan dijatuhkan, hidup Rama dan Manisha perlahan mulai kembali ke ritme yang lebih tenang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena Manisha mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari kebiasaan suaminya belakangan ini.Rama semakin sering pulang larut, bukan lagi karena rapat dengan tim legal soal kasus Wirawan yang sudah selesai. Melainkan dengan alasan yang semakin samar setiap kali Manisha bertanya."Rama, kamu dari mana lagi malam-malam begini?" tanya Manisha ketika Rama pulang jam sepuluh malam. Jasnya lusuh dan wajahnya lelah."Ada urusan pekerjaan, Sha. Proyek baru yang sedang aku kerjakan.""Proyek apa? Bukannya kasus Wirawan sudah selesai dan proyek Hartono juga sudah ditangani?""Proyek lain, Sha. Nanti aku ceritain kalau udah pasti."Jawaban seperti itu terus berulang selama beberapa hari, membuat Manisha semakin gelisah tanpa bisa menjelaskan alasannya dengan pasti. Ia mencoba menepis kecurigaan itu, mengingatkan dirinya sendiri bahwa R
Kabar dari Leila soal Sinta yang masih hidup membuat malam itu terasa panjang bagi Manisha. Namun keesokan paginya, hidup harus tetap berjalan dan hari itu adalah hari peradilan resmi Pak Wirawan yang selama ini menjadi dalang di balik dua kebakaran yang mengancam nyawa mereka.Rama mendapat telepon dari kepolisian pagi-pagi sekali, memintanya datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan sekaligus menyaksikan proses penangkapan yang sudah direncanakan sejak semalam."Sha, aku harus ke kantor polisi sekarang," ucap Rama sudah mengenakan jasnya dengan tergesa."Aku ikut, Rama.""Sha, ini bisa jadi situasi yang tidak nyaman. Wirawan orangnya licik, dia bisa saja cari cara buat memperkeruh suasana.""Aku tidak peduli, Rama. Aku ingin lihat sendiri orang yang sudah membuat hidup kita berantakan selama ini."Rama akhirnya mengalah, membawa Manisha bersamanya dengan ditemani dua pengawal tambahan untuk berjaga-jaga. Sesampainya di kantor polisi, mereka disambut oleh penyidik
Beberapa hari setelah kebakaran di kantor, tim penyelidik gabungan dari kepolisian dan detektif pribadi yang disewa Rama akhirnya menemukan titik terang. Rama dan Manisha memenuhi panggilan penyidik untuk mengetahui perkembangan informasi. "Pak Rama, kami sudah bandingkan pola kebakaran di kantor dengan kebakaran rumah Bapak beberapa waktu lalu," ucap penyidik itu sambil membuka map berisi laporan. "Modusnya mirip, sama-sama menggunakan celah kecil yang sengaja diciptakan untuk terlihat seperti kecelakaan." "Jadi ini orang yang sama, Pak?" tanya Rama. "Kami yakin begitu. Tim kami sudah berhasil melacak salah satu tersangka lewat rekaman CCTV di sekitar kantor Bapak." Penyidik itu menunjukkan foto seorang pria paruh baya. Wajahnya asing bagi Manisha, tetapi begitu Rama melihatnya, dia sudah tahu siapa sosok yang tengah memancing segala teror di hidupnya. "Ini Pak Wirawan," desis Rama, suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Pesaing bisnis saya dari perusahaan properti sebelah







