Beranda / Romansa / Hasrat Cinta Tuan Arsitek / Bab 6. Insiden Pemicu

Share

Bab 6. Insiden Pemicu

Penulis: Seaira
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 00:16:35

“Sha, serius kamu mau melakukan ini?” Hera tidak jengah bertanya pertanyaan yang sama, meski jawaban yang didapat tidak jauh berbeda.

Manisha menatap Hera dengan muka berseri sambil menyuruhnya memilih gaun. “Bagus yang kanan atau kiri?”

“Gak ada yang lebih bagus, Sha.” Hera bergidik mengetahui pilihan gaun Manisha. “Kamu niat pake baju nggak sih?”

“Terlalu berlebihan, ya?” Manisha menimbang kembali. “Pake dress merah yang kemarin aja kalau gitu, atau pake dress merah dengan model lain.”

“Merah lebih menggoda, sih, memang,” sahut Hera cepat. Dia menyapu pandang sekeliling lalu berkata lagi, “Mending undang Rama ke rumahmu aja, deh, Sha. Daripada ke hotel. Aku yakin orang tuamu juga setuju.”

Manisha menghentikan aktivitasnya yang sedang menempelkan dress merah ke badan. Dari cermin, dia dapat merasakan kekhawatiran Hera terkait kegilaan yang telah diaturnya.

“Aku nggak punya opsi selain rencana ini.” Dilihatnya kembali notifikasi ponselnya yang masih belum mendapatkan balasan pesan dari Rama.

“Pesanku jelas-jelas mengajaknya makan malam ke hotel, hanya berdua, dan aku mau menghabiskan malam minggu ini dengannya. Tapi Rama nggak ada kabar, “ kesal Manisha.

“Menurutku Rama sudah tahu rencanamu.” Hera berpendapat.

“Nggak mungkin.”

“Mungkin saja,” timpal Hera. “Bisa jadi Rama tahu taktikmu yang berniat menjebaknya di hotel nanti.”

Manisha buru-buru menyumpal mulut Hera dengan boneka beruang. “Pelankan nada bicaramu, Hera. Nanti terdengar keluar.”

Hera mendengus kasar. “Manisha!”

“Kamu tahu sendiri latar belakang Rama itu seperti apa.” Manisha menjelaskan dengan semangat. “Rama itu pemain. Dia banyak mendekati perempuan di luar sana. Dari informasi yang aku dapat, dia hanya menjadikan perempuan-perempuan itu sebatas teman tapi mesra. Nggak ada yang menjadi kekasih.”

“Tapi dia berani datang ke rumahmu, Sha. Bertemu orang tuamu langsung.” Hera menyangkal.

“Kau membelanya?” Manisha merengut atas respon temannya.

“Bukan begitu maksudku.” Hera mulai kelabakan. “Ada saatnya pria itu menjadi dewasa. Dia meninggalkan perilaku nakalnya dan berubah menjadi pria pemberani yang menepati janji untuk siap berkomitmen.”

“Masalahnya kita belum tahu dia berubah atau malah menjadi lebih parah.”

Kedua sahabat itu saling berpikir hingga Manisha memutuskan. “Aku akan mempermainkannya dahulu sebelum dia mempermainkan diriku.”

Keputusan Manisha tidak dapat diganggu gugat. Dia sudah mengatur makan malam romantis di rooftop hotel dengan Rama sekaligus melakukan sesuatu untuk menguji laki-laki itu lagi.

Hari berganti malam dengan cepat. Bulan purnama terhampar di langit berhiaskan awan dan bintang-bintang.

Manisha menyaksikan cahaya bulan yang menembus ke kaca meja makan, di atas rooftop hotel yang sudah dipesan. Rambut panjangnya dikucir kuda, menyisakan beberapa anak rambut yang menari diterpa angin malam.

“Dasar, Pramadya Harsa!” makinya sambil menatap kontak nomor Rama. “Pesanku tidak dibalas dari pagi.”

Manisha berbalik dari pinggir pagar, derak sepatu heels terdengar jelas. Dia menyuruh pelayan membersihkan meja, kursi, hidangan, dan bunga beserta pernak-pernik yang ditata sedemikian mempesona.

“Daripada dibuang, makanannya untuk kalian saja. Bunga dan segala hiasan juga.”

“Tidak kita tunggu sebentar lagi, Nona? Mungkin Tuan Rama sedang sibuk, “ saran salah satu pelayan.

“Aku sudah menunggu sejak jam tujuh.” Manisha mengecek layar ponsel. “Ini sudah jam sepuluh. Aku mau pulang saja.”

Menimbang dan mengetahui minat Manisha yang lesu, para pelayan akhirnya membereskan tempat itu. Satu demi satu barang dipindahkan.

Manisha melihat semua pergerakan pelayan dengan saksama. Meninggalkan ruang kosong yang mulai merayapi hatinya hingga dering telepon mengalihkan pandangannya.

Rama menghubungi.

Rasa kesal dan sedih tidak bisa dibendung. Manisha sempat enggan mengangkat telepon, namun panggilannya berkali-kali masuk. Alhasil, dia menerima panggilan Rama.

“Kita batalkan saja-”

“Lima menit lagi aku sampai.” Rama memutus perkataan Manisha begitu saja. suaranya terdengar resah, dibarengi deru mobil yang melaju kencang.

Telepon masih tersambung. Dalam hati, Manisha ingin sekali menutup telepon, tetapi suara di seberang sana terlalu berisik. Jemarinya tak tega memutus panggilan secara sepihak. Maka, dia hanya diam mendengarkan.

“Sha, kamu masih di situ?” Perkataan Rama terdengar melemah. Deru napasnya tidak beraturan. Kemudian, bunyi mesin diotak-atik menambah pendengaran Manisha.

“Dia tidak apa-apa, kan?” Manisha hanya bisa mengucap dalam hati.

“Mesin mobilku macet. Kemudinya bermasalah.”

“Rama, kamu-”

Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Dari posisinya, Manisha menangkap mobil sport warna hitam milik Rama memasuki kawasan parkiran hotel.

Segera Manisha turun dari rooftop. Dia tidak peduli kakinya kesulitan berlari karena memakai heels. Fokusnya sekarang berada di tempat lain.

Ketika sampai di depan lift, Manisha menggerutu lantaran lift itu sedang digunakan. Jadi, dia tergesa-gesa menuju tangga. Akan tetapi, belum sempat menginjakkan kaki di tangga, ada suara yang memanggilnya.

“Manisha!”

Manisha refleks menoleh. Kedua netranya menangkap sosok Rama berada di dekat lift dengan baju kusut. Rambutnya berantakan. Peluh di dahinya sangat ketara. Dia berlari menuju Manisha sambil terengah-engah.

“Aku minta maaf. Sungguh aku tidak bermaksud-”

“Wajahmu terluka.” Manisha spontan menyentuh dahi Rama. Ada darah mengalir bercampur dengan peluh.

“Ikuti aku,” ujarnya sambil menggandeng tangan Rama. Sedangkan, laki-laki itu hanya tertegun menyaksikan sikap Manisha.

Manisha membawa Rama ke kamar hotel yang sudah ia hias dengan aneka bunga mawar yang berada di vas. Harum aroma mawar yang manis, lembut, dan romantis memenuhi ruangan.

“Ini kamar apa, Sha?” Rama keheranan.

“Diamlah!”

“Kamu yang mempersiapkannya?”

Manisha mengambil kotak obat di nakas dan duduk di samping Rama. Jarak mereka cukup dekat hingga Manisha mampu menghirup aroma semen dan pasir yang tertinggal di tubuh Rama.

“Kau habis dari mana?” tanyanya sembari mengoleskan obat merah di dahi Rama.

“Ada proyek di luar kota. Bangunan rumah di kawasan dataran tinggi. Tidak ada sinyal di sana, jadi aku tidak tahu kamu mengirim pesan. Aku segera kemari begitu membaca pesanmu.”

Kedua tangan Manisha menempelkan plester di dahi Rama.

“Aku tadi kecelakaan di jalan. Jalannya licin, mobilku hampir terperosok.”

Tangan kanan Manisha menyentuh rahang Rama. Matanya menelisik, menenggelamkan Rama pada pesona bola mata cokelatnya. Saat tatapan Rama terkunci padanya, Manisha berkata, “Kau mencintaiku?”

Rama mengangguk samar.

Detik selanjutnya, Manisha bertindak diluar batasnya.

“Jangan terluka lagi, sayang,” bisiknya pada Rama.

Demi apapun, Manisha tidak bisa menahan perasaannya. Semoga dia tidak salah dalam melangkah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 46. Sabotase Kedua

    Manisha tidak lagi merasa aman sepenuhnya, bahkan di dalam rumahnya sendiri. Ada sesuatu yang berbeda dari udara di sekitarnya. Sebuah kehadiran yang tidak terlihat tetapi terasa begitu nyata, seolah seseorang selalu mengamati dari sudut yang tidak bisa ia jangkau.Siang itu, ketika Rama sudah berangkat kerja lebih pagi dari biasanya, Manisha duduk sendirian di ruang tengah, tangannya dingin meski cuaca cukup panas. Firasat buruk terus menghantuinya sejak bangun tidur. Kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika apa pun."Aku mau ke kantor Rama," ucap Manisha akhirnya, tidak tahan lagi hanya duduk diam menunggu sesuatu yang tidak ia pahami sendiri. Dia pun bergegas pergi.Seorang pengawal mencegat Manisha di pintu utama. "Mohon maaf, Bu Manisha. Jika ingin pergi, Anda harus ditemani oleh kami.""Aku ingin pergi ke kantor suamiku. Aku ingin dekat dan berada di sampingnya hari ini."Manisha berangkat ditemani salah satu pengawal, tangannya sesekali mengusap lengannya sendiri, m

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 45. Kehadiran Yang Terasa

    Hujan turun dengan deras sejak sore, membungkus rumah mewah itu dalam kabut abu-abu yang lembab. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela terdengar seperti ribuan jari kecil yang mencoba mengetuk masuk. Di dalam rumah, keheningan terasa lebih berat daripada biasanya, seolah udara telah berubah menjadi cairan kental yang sulit untuk dihirup.Rama sedang berada di ruang kerjanya, tenggelam dalam panggilan telepon dengan pengacara dan detektif. Manisha, yang merasa bosan sekaligus tertekan di dalam kamar, memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ia hanya ingin mengambil segelas air, namun langkah kakinya justru membawanya berhenti di depan pintu ruang kerja Rama yang sedikit terbuka.Manisha tidak berniat menguping, tetapi ia bisa mendengar nada suara Rama yang rendah dan penuh tekanan."Aku tidak peduli berapa biayanya, Broto! Aku ingin tahu di mana perempuan itu berada sekarang. Aku tidak bisa tidur hanya dengan mengetahui dia berkeliaran di sekitar rumahku!"Manisha menghela napas

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 44. Kelelahan Mental

    Rumah baru itu seharusnya menjadi surga. Arsitekturnya sempurna, materialnya mewah, dan setiap sudutnya dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal. Namun bagi Manisha, rumah itu kini terasa seperti sebuah monumen kesunyian.Sudah dua minggu sejak Rama mengusir Dipta. Sejak saat itu, suasana di rumah semakin mencekam. Rama tidak lagi hanya meminta laporan keberadaan Manisha; ia memasang kamera pengawas di hampir setiap ruangan, kecuali kamar mandi dan tempat tidur. Alasan Rama selalu sama. Demi keselamatan.Siang itu, Manisha berada di studio lukisnya. Ia mencoba menggoreskan warna biru pada kanvasnya, namun tangannya gemetar. Setiap kali ia melirik ke arah pintu, ia bisa melihat bayangan pengawal yang berdiri tegak di koridor. Mereka tidak bicara, tidak tersenyum, hanya menatap dengan mata waspada yang seolah-olah sedang mengawasi seorang tahanan, bukan seorang nyonya rumah.Tiba-tiba, suara pintu depan tertutup dengan keras.Suara itu menggema di seluruh ruangan, memicu reaksi in

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 43. Tuduhan

    Suasana di kantor Archie Design tidak pernah sesunyi ini. Para karyawan bekerja dengan kepala tertunduk, tidak ada lagi candaan di sela-sela jam istirahat. Mereka semua tahu, sang Direktur sedang berada di ambang ledakan.Di dalam ruang kerjanya, Rama tidak menyentuh meja gambarnya selama tiga hari. Ia duduk terkurung di balik meja besar, dikelilingi oleh tumpukan dokumen audit dan cetakan data digital yang tersebar berantakan. Matanya merah, kantung matanya menghitam. Ia tidak tidur, hanya mengonsumsi kopi hitam pekat dan kemarahan yang membara.Rama menggeser lembaran data akses server perusahaan. Ada satu pola yang terus mengganggunya. Data yang bocor ke Pak Baskoro diambil menggunakan otoritas tingkat tinggi, akses yang hanya dimiliki oleh dirinya dan satu orang kepercayaan lainnya.Pintu ruang kerja terbuka. Dipta masuk membawa beberapa berkas baru, wajahnya tampak cemas."Aku sudah mencoba melacak alamat IP pengirim dokumen itu lagi, tapi mereka menggunakan keamanan berlapis. Sa

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 41. Gangguan

    Ruang rapat di kantor pusat Archie Design terasa mencekam. Pendingin ruangan yang disetel rendah tidak mampu meredam hawa panas yang memancar dari raut wajah Rama. Di hadapannya, Pak Baskoro, salah satu investor terbesar untuk proyek pembangunan museum seni kontemporer, menyandarkan punggungnya dengan ekspresi dingin."Aku tidak bisa melanjutkan ini, Rama," ujar Pak Baskoro datar.Rama mengerutkan kening, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme cepat. "Maaf, Pak? Apa maksud Anda? Kita sudah mencapai tahap finalisasi desain. Semua material sudah dipesan.""Itu sebelum aku menerima dokumen ini," Pak Baskoro menggeser sebuah map biru ke hadapan Rama. "Ada laporan mengenai kebocoran data internal dan indikasi manipulasi biaya di beberapa sub-kontraktor. Reputasiku terlalu berharga untuk dikaitkan dengan skandal korupsi atau ketidakbecusan manajemen."Rama membuka map itu dengan kasar. Kertas-kertas di dalamnya menunjukkan data yang tampak sangat meyakinkan, meski Rama tahu itu adalah fa

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 41. Sangkar Emas

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, namun bagi Manisha, cahaya itu tidak membawa kehangatan. Ia terbangun dengan perasaan berat di dadanya, seolah ada batu besar yang menghimpit napasnya. Di sampingnya, Rama masih terlelap dengan napas teratur. Wajah pria itu tampak begitu tenang. Sangat kontras dengan sosok yang mengintimidasi dan mendominasi dirinya kemarin sore.Manisha bergeser perlahan, mencoba menjauhkan diri tanpa membangunkan suaminya. Namun, sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya kembali hingga punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Rama."Mau ke mana, Sayang?" bisik Rama. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun ada nada kepemilikan yang kental di sana.Manisha membeku. Sentuhan yang biasanya terasa nyaman, kini mengirimkan gelombang kegelisahan di sekujur tubuhnya. "Aku... aku mau ke kamar mandi," jawabnya kaku.Rama tidak melepaskannya. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Manisha, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status