分享

Bab 5. Aturan Main

作者: Seaira
last update publish date: 2026-06-10 16:42:23

Hujan mulai turun tak lama setelah Manisha berada di villa. Rintiknya jatuh pelan di atap, menciptakan irama yang menenggelamkan suara api unggun yang perlahan padam di teras.

Rama membawa Manisha ke ruang tengah. Di sana hanya diterangi lampu gantung rotan yang temaram dan perapian kecil di sudut ruangan yang baru saja dinyalakan penjaga villa sebelum pamit undur diri.

Manisha duduk di karpet tebal dekat perapian, lututnya ditekuk ke dada, memeluk dirinya sendiri. Cahaya api membuat separuh wajahnya bercahaya jingga, separuh lainnya tenggelam dalam bayang.

"Kau tidak duduk di sofa?" tanya Rama, berdiri di ambang pintu.

"Aku suka lantai. Lebih dekat dengan api." Manisha menepuk karpet di sampingnya, tanpa menoleh. "Duduk sini tapi jaga jarak."

Rama menurut, duduk dengan jarak yang cukup jauh untuk terasa sopan, cukup dekat untuk terasa canggung. "Jadi bagaimana? Soal peraturannya."

"Sangat tidak sabar,” tegur Manisha.

"Maafkan aku." Rama menyandarkan punggungnya ke sofa di belakang mereka. "Dari tadi aku coba menebak-nebak. Tidak boleh terlambat? Tidak boleh bohong? Atau semacam kode etik yang aneh?"

Manisha tertawa kecil, pertama kalinya malam itu tawa itu terdengar tanpa jarak. "Bukan semua itu."

"Lalu apa?"

Manisha menghela napas panjang, seolah menimbang apakah kalimat berikutnya layak diucapkan malam ini. "Kau tidak boleh menyentuhku."

Rama mengernyit. "Sama sekali?"

"Sampai aku yang duluan." Manisha akhirnya menoleh, menatap Rama lurus-lurus, tidak ada lagi nada bercanda di suaranya. "Aku yang menentukan kapan. Bukan dirimu."

Hening sebentar, hanya suara hujan dan derak kayu di perapian yang mengisi jarak di antara mereka.

"Kenapa?" tanya Rama akhirnya, lebih pelan. Terdengar seperti nada putus asa.

"Karena dulu, aku tidak pernah diberi pilihan." Manisha memeluk lututnya lebih erat. "Semua orang merasa berhak menyentuhku dulu, bicara dulu, memutuskan dulu, sebelum aku sempat bilang iya atau tidak. Orang tuaku, mantan kekasihku, bahkan kamu, di garden pavilion malam itu."

"Aku minta maaf soal itu."

"Aku tahu." Manisha menimbang perkataannya sebentar. "Makanya sekarang aku yang buat aturannya. Bukan berarti aku menolakmu, Rama. Aku cuma menolak diperlakukan seperti barang yang bisa diambil kapan saja orang mau."

"Aku mengerti." Rama menjawab sambil menatap wajah Manisha yang diterangi api. "Boleh aku mau tanya sesuatu?"

"Tanya apa?"

"Kalau aku setuju dengan aturanmu, dan aku sungguh-sungguh tidak akan menyentuhmu sampai kau yang mulai," Rama menatapnya serius. "Aku akan bersabar sampai kau siap."

Manisha terdiam, memperhatikan Rama secara saksama. "Kau serius mau menunggu?"

"Aku tidak pernah menunggu apapun seumur hidupku." Rama tersenyum kecil, jujur untuk pertama kalinya malam itu. "Tapi untuk ini, sepertinya aku mau coba."

"Kenapa?"

"Karena kau orang pertama yang membuatku sadar, aku tidak pernah benar-benar bertanya apakah orang lain mau, sebelum aku ambil apa yang aku mau." Rama menunduk sedikit, suaranya lebih rendah. "Mungkin aku juga butuh belajar."

Manisha menatapnya lama, api di depan mereka memantul di kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca, meski dia buru-buru mengerjap untuk menyembunyikannya. "Kau tahu, ini pertama kalinya ada orang yang tidak langsung protes soal aturanku."

"Karena orang lain salah cara mendekatimu." Rama menggeser posisinya sedikit, tetap menjaga jarak yang tadi disepakati. "Mereka pikir cinta itu soal siapa yang paling cepat mengambil. Aku baru sadar, mungkin cinta itu soal siapa yang paling sabar menunggu diberi."

"Itu kalimat gombal paling jujur yang pernah aku dengar." Manisha tertawa, kali ini benar-benar lepas, membuat suasana yang tadinya berat terasa sedikit lebih ringan.

"Jadi?" Rama mengangkat satu alis. "Kita sepakat?"

"Sepakat." Manisha mengulurkan tangannya, bukan untuk disentuh, hanya untuk bersalaman, formal, seperti kesepakatan bisnis yang serius. "Tapi ingat, Rama. Aturan ini bukan permainan. Kalau kau langgar sekali saja, aku akan pergi. Tidak ada kesempatan kedua."

Rama menerima uluran tangannya, menjabatnya singkat, tidak lebih lama dari yang seharusnya. "Aku janji."

"Jangan janji." Manisha menarik tangannya kembali, menyandarkan kepala di lututnya sendiri, memandangi api yang mulai mengecil. "Buktikan saja."

“Aku akan buktikan," tegas Rama.

"Sekarang?" Manisha mendadak bangkit dari posisinya, bergeser mendekat, jauh lebih dekat dari jarak yang tadi mereka sepakati sendiri. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rama, napasnya terasa hangat menyentuh pipi Rama yang mendadak menegang.

"Manisha…"

"Kenapa?" Manisha tersenyum, matanya menatap lurus, penuh tantangan. "Aku belum menyentuhmu. Aku cuma dekat. Aturannya, kan, cuma soal siapa yang menyentuh duluan."

Jantung Rama berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Tangannya terkepal di atas paha, menahan diri sekuat tenaga, meski setiap sarafnya berteriak untuk membalas jarak yang sengaja dipersempit Manisha.

"Kau sedang mengujiku, ya,” lirih Rama.

"Memang." Manisha memiringkan kepalanya, semakin dekat, sengaja membiarkan ujung hidungnya nyaris menyentuh pipi Rama. "Kau bisa berhenti sekarang, kalau mau."

"Aku tidak mau berhenti." Suara Rama tercekat, tapi tangannya tetap diam di tempatnya. "Aku cuma tidak akan menyentuhmu duluan. Itu janjiku."

Detik berikutnya terasa panjang. Rama menahan napas, matanya terpejam sesaat, mengumpulkan seluruh kendali yang dia punya, sementara Manisha masih diam di jarak yang nyaris tidak bersisa, menunggu, mengamati, menguji sejauh mana kesabaran itu bisa bertahan.

Selanjutnya, alih-alih maju, Rama justru mundur perlahan, menjaga jarak yang tadi mereka sepakati, meski tangannya masih gemetar menahan diri.

"Kau lulus." Manisha menegakkan tubuhnya, menjauh secepat dia mendekat tadi, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun ada sesuatu di matanya, kekaguman yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Tidak kusangka kau benar-benar bisa bertahan."

"Kau pikir aku akan gagal?"

"Aku pikir semua pria akan gagal." Manisha menatap Rama perlahan, berubah jadi sesuatu yang lebih dalam, lebih penasaran daripada sebelumnya. "Kau yang pertama tidak."

"Kecewa karena aku lolos?"

"Sebaliknya." Manisha menoleh, menatapnya lekat-lekat, seolah baru menemukan alasan baru untuk tidak berhenti di sini. "Sekarang aku justru semakin penasaran, seberapa lama kau bisa bertahan."

Rama mengangkat satu alis, menahan senyum kemenangan yang nyaris lolos begitu saja. "Kau baru saja menantangku lagi, kan?"

"Aku akan mengujimu lagi nanti." Manisha memandang Rama, menelisik secercah keseriusan sekaligus merencanakan sesuatu jika lelaki ini lolos lagi di ujian berikutnya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 8. Pesta Pernikahan

    Ballroom Hotel dipenuhi rangkaian bunga mawar putih yang membentang dari pintu masuk hingga ruang utama. Ratusan kursi tertata rapi menghadap pelaminan yang dihiasi lengkungan bunga lily, anyelir, hydrangea, dan didominasi mawar. Sementara lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke penjuru sudut. Keluarga Danudirja baru saja berfoto dengan pengantin. Mereka menyambut hadirnya anggota baru keluarga."Akhirnya anak bujangku menikah juga." Surya menepuk pundak Rama dengan bangga. "Ayah pikir kamu akan terus main-main sampai tua.""Ini berkat Manisha, Ayah. Pesonanya sulit dilupakan." Rama menyeringai, membuat Manisha salah tingkah."Ibu bahagia sekali mendapat seorang putri. Anak ibu ada empat. Tiga dari mereka laki-laki semua, hanya satu yang perempuan. Itu pun susah buat disuruh nikah." Suara Arumi, Ibu Rama bergetar menahan haru.“Mulai lagi, deh,” keluh Leila yang berada di samping Manisha. “Udah bener Rama nikah duluan. Jadi aku ada temennya.”Manisha mendapat pelukan han

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 7. Malam Kepastian

    Beberapa bulan setelah Manisha mengobati Rama di hotel, intensitas kedekatan mereka terjalin lebih intens. Banyak pesan mulai dikirimkan, panggilan telepon hampir tiap malam datang. Meski terkadang Manisha harus sabar menunggu apabila Rama berada di luar daerah yang tidak terjangkau internet. Awalnya Manisha mencoba menahan segala gejolak perasaan yang mengacaukan hatinya. Namun, lambat laun dia tidak bisa menyangkal bahwa ia mencintai Rama. Dilihat kembali pantulan dirinya di kaca. “Kenapa aku semangat sekali jalan dengan Rama?” tanyanya bermonolog. Suara pintu diketuk, disusul dibukanya pintu dari luar. “Rama sudah menunggu di bawah, Sha. Ayo, cepat!” perintah Nareswari. “Iya, Ma. Ini sudah selesai.” Manisha meraih tas selempangnya dan keluar kamar. Nareswari hanya tersenyum menyaksikan tingkah putrinya. Sementara itu, di ruang tamu, ada Rama dan Adiwira yang tengah mengobrol serius. Manisha

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 6. Insiden Pemicu

    “Sha, serius kamu mau melakukan ini?” Hera tidak jengah bertanya pertanyaan yang sama, meski jawaban yang didapat tidak jauh berbeda.Manisha menatap Hera dengan muka berseri sambil menyuruhnya memilih gaun. “Bagus yang kanan atau kiri?”“Gak ada yang lebih bagus, Sha.” Hera bergidik mengetahui pilihan gaun Manisha. “Kamu niat pake baju nggak sih?”“Terlalu berlebihan, ya?” Manisha menimbang kembali. “Pake dress merah yang kemarin aja kalau gitu, atau pake dress merah dengan model lain.”“Merah lebih menggoda, sih, memang,” sahut Hera cepat. Dia menyapu pandang sekeliling lalu berkata lagi, “Mending undang Rama ke rumahmu aja, deh, Sha. Daripada ke hotel. Aku yakin orang tuamu juga setuju.”Manisha menghentikan aktivitasnya yang sedang menempelkan dress merah ke badan. Dari cermin, dia dapat merasakan kekhawatiran Hera terkait kegilaan yang telah diaturnya.“Aku nggak punya opsi selain rencana ini.” Dilihatnya kembali notifikasi ponselnya yang masih belum mendapatkan balasan pesan dar

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 5. Aturan Main

    Hujan mulai turun tak lama setelah Manisha berada di villa. Rintiknya jatuh pelan di atap, menciptakan irama yang menenggelamkan suara api unggun yang perlahan padam di teras.Rama membawa Manisha ke ruang tengah. Di sana hanya diterangi lampu gantung rotan yang temaram dan perapian kecil di sudut ruangan yang baru saja dinyalakan penjaga villa sebelum pamit undur diri.Manisha duduk di karpet tebal dekat perapian, lututnya ditekuk ke dada, memeluk dirinya sendiri. Cahaya api membuat separuh wajahnya bercahaya jingga, separuh lainnya tenggelam dalam bayang."Kau tidak duduk di sofa?" tanya Rama, berdiri di ambang pintu."Aku suka lantai. Lebih dekat dengan api." Manisha menepuk karpet di sampingnya, tanpa menoleh. "Duduk sini tapi jaga jarak."Rama menurut, duduk dengan jarak yang cukup jauh untuk terasa sopan, cukup dekat untuk terasa canggung. "Jadi bagaimana? Soal peraturannya.""Sangat tidak sabar,” tegur Manisha."Maafkan aku." Rama menyandarkan punggungnya ke sofa di belakang me

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 4. Kencan Tidak Resmi

    Mobil berhenti di depan gerbang besi tempa yang berdiri kokoh di antara pepohonan pinus, kabut tipis menyelimuti jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan utama. "Sudah sampai?" Manisha melepas sabuk pengamannya, menatap keluar jendela. "Ayo turun," Rama mematikan mesin lalu bergegas turun lebih dulu, berjalan memutar ke sisi Manisha sebelum wanita itu sempat membuka pintunya sendiri. Pintu terbuka dari luar. "Hati-hati, jalannya berbatu." Rama mengulurkan tangannya. Manisha menatap tangan itu sejenak. Dia memilih turun sendiri tanpa menyentuhnya. "Aku bisa jalan sendiri, Rama." "Aku tahu kau bisa." Rama menarik tangannya kembali tanpa tersinggung dan melepas jasnya, menyampirkannya begitu saja di bahu Manisha. "Dingin. Pakai ini." "Kau selalu begini pada semua wanita?" "Belum pernah." Rama tersenyum kecil, mulai berjalan lebih dulu ke arah pintu utama. "Kau yang pertama." “Semua pria pemain mengatakan hal yang sama,” ejek Manisha. Rama membuka pintu lebar-lebar

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 3. Kencan Resmi

    Manisha berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya pada malam itu. Ayahnya sudah mengundang Rama makan malam di rumah, katanya untuk membahas kelanjutan proyek sekolah.Walaupun begitu, Manisha curiga ada urusan lain yang sebenarnya tidak terlalu ingin dia ketahui lebih dulu. Sesuatu yang pernah disinggung ayahnya beberapa hari lalu."Nona, ini sudah yang keempat kalinya ganti baju." Asisten rumah yang membantu merapikan kamarnya, tersenyum geli dari sudut ruangan. "Bukannya cuma makan malam biasa?"“Memang cuma makan malam biasa." Manisha memutar badan sekali lagi di depan cermin, mengamati dress merah yang akhirnya dia pilih. "Aku cuma nggak mau kelihatan berantakan di depan tamu Papa.""Tamu Tuan Adiwira atau tamu Nona?""Hanya tamu biasa." Manisha melirik tajam lewat pantulan cermin, meski sudut bibirnya nyaris tertarik jadi senyum yang buru-buru dia tahan.Rambutnya dibiarkan terurai, sisi kanan menjulur ke depan, sementara sisi lainnya membiarkan lehernya terekspos, dihias

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status