Share

Hasrat Cinta Tuan Muda Damian
Hasrat Cinta Tuan Muda Damian
Author: Araina_ina

Bab 1

Author: Araina_ina
last update Last Updated: 2025-12-08 18:51:24

“Sayang ... pelan sedikit!” Suara lembut dan menggoda tiba – tiba terdengar dari ruangan samping, tatkala Renata mulai siuman dari pingsannya.

“Ah ... sayang! Bagaimana bisa kamu tampak begitu menggoda seperti ini?! Kamu benar – benar luar biasa, sayang.” suara seorang pria dengan nafas sedikit tertahanan kembali menyapa indera pendengaran Renata.

Saat membuka matanya, Renata merasa kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu. Terasa sakit tapi juga menekan. Pandangannya berbayang saat melihat ke sekitar. Butuh waktu beberapa saat untuk bisa menormalkan penglihatannya.

Saat ia tersadar, rupanya ia berada di ruangan yang tidak asing. Ruangan yang beberapa hari lalu ia pesan atas namanya. Ruangan yang akan ia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama tunangan sekaligus orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Hanya saja, saat ia melihat ke segala sudut yang sunyi itu, ia sedikit mengernyitkan kening. Matanya yang sejernih air melihat ke semua arah, mencari sosok yang seharusnya ada di sana. Bersamanya.

Sayangnya, tidak peduli seberapa ia berusaha mencari, sosok itu tidak juga ia temukan.

Saat ia bertanya – tanya kemana sosok yang seharusnya ada itu berada, telinganya kembali menangkap pembicaraan dua orang dari luar.

Membuat Renata kaku di tempatnya. Ia bahkan belum sempat merespon apa yang saat ini terjadi tetapi telinganya kembali mendengar percakapan dari dua orang yang berada di luar ruangan itu.

“Sayang, bagaimana jika Renata terbangun dari pingsannya?’’ Meski kalimatnya terdengar khawatir, tapi siapapun yang mendengar nadanya akan merasa jika perempuan itu sangat menikmati momen saat ini.

“Jangan khawatir. Dia tidak akan bangun sampai besok pagi. Aku sudah memberikan obat bius dosis tinggi untuknya. Akan lebih bagus jika dia tidak bangun selamanya.”

Hati Renata berdesir saat mendengar percakapan dua orang itu. Ia berpikir jika dirinya mungkin saja mabuk hingga berhalusinasi mendengar suara – suara yang tidak seharusnya ada.

Hanya saja derit ranjang dari ruangan samping tidak juga berhenti dan justru semakin terdengar intens. Diiringi suara geraman dan desahan yang saling menyahut satu sama lain.

Renata sendiri masih termangu di tempatnya. Kepalanya berdengung hingga ia tidak tahu harus memroses semua ini seperti apa.

Tentu saja ia sangat mengenali suara dua orang yang tengah bercumbu itu. Satunya adalah suara yang dimiliki oleh orang yang paling ia benci dalam hidup, satunya lagi adalah suara milik orang yang sangat ia cintai selama ini.

Pria itu adalah Julian, tunangannya, sekaligus orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Sementara perempuan yang tengah bercumbu dengan tunangannya itu adalah Juwita. Wanita yang ia benci.

“Tidak mungkin ...” gumam Renata pelan.

Meski sudah mendengar percakapan dua orang itu Renata masih ingin memastikan sesuatu. Dengan begitu, ia tetap menyeret tubuhnya yang masih sangat lemah untuk keluar dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana.

Memanfaatkan celah pintu yang terbuka, Renata bisa melihat aktivitas yang dilakukan dua orang di sana. Mereka tengah bergumul dan menikmati momen intim mereka tanpa peduli sekitar.

Mata Renata melebar, air mata terjatuh begitu saja sementara mulutnya terkunci rapat. Pemandangan yang terpampang di depannya ini bagaikan pukulan telak baginya.

‘Buugh’ kedua kaki Renata lemas hingga membuatnya jatuh ke lantai.

Mungkin karena kedua orang di depannya itu asik dengan dunia mereka, mereka bahkan tidak menyadari suara benturan yang terdengar.

Dengan pelan Renata menyenderkan tubuhnya yang lemah ke balik dinding. Matanya kosong tapi ia merasa hatinya seperti dicabik – cabik. Merasa seluruh dunianya gelap.

Ia tidak pernah menyangka bahkan dalam mimpi terburuknya, ia akan mengalami pengkhianatan dari orang yang ia percayai selama ini.

Butuh waktu selama satu jam bagi dua orang di luar menyelesaikan aktivitasnya. Sementara Renata masih bersandar lemah di dinding dengan posisi yang masih sama.

“Sayang, tadi sangat luar biasa. Terima kasih.” Suara Julian terdengar dengan nafas yang terdengar masih memburu.

Sementara Juwita menjawab dengan nafas yang tersengal dan nada yang menggoda, “Aku bahagia jika kamu senang. Sayang ... sebenarnya sampai kapan kita akan berhubungan diam – diam seperti ini? Hatiku sakit saat melihat kamu yang harus berduaan dengan Renata.”

Suara kecupan terdengar sebelum Julian menjawab, “Tenang saja. Sebentar lagi aku akan memutuskannya. Sejujurnya aku juga sudah tidak kuat jika harus terus bersikap baik dengannya. Menjengkelkan! Jika bukan karena pertunangan yang sudah dirancang itu aku tidak akan sudi bersikap baik padanya.” dengan nada mengandung rasa jijik yang terdengar jelas, Julian menjawab.

Juwita pun ikut menambahkan dengan nada yang terdengar khawatir, “Meski begitu, kita perlu berhati – hati agar pemutusan pertunangan ini tidak membuat dampak negatif pada Keluarga Herlambang”

“Sayang ... kamu bisa mempercayaiku. Kali ini keputusanku dan jalan yang ku ambil tidak akan salah. Aku sudah merancang semuanya untuk memutuskan pertunangan sialan ini tanpa perlu membuat Keluarga Herlambang dalam bahaya.”

Dan seluruh percakapan ini sudah didengar oleh Renata. Ia bahkan sudah kembali ke ranjangnya dan merekam semuanya.

Dengan tatapan dingin dan penuh dendam, Renata bergumam dalam hati, “Julian, Juwita, aku akan mengingat ini dengan baik!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   59

    Renata datang ke kantor HA tepat waktu, seperti biasa. Ia tidak mengenakan sesuatu yang mencolok, hanya setelan sederhana dengan potongan rapi yang membuat langkahnya terlihat tenang dan terukur. Sejak pengumuman Elly, sorot mata orang-orang di lobi berubah sedikit ketika melihatnya, ada yang penasaran, ada yang sekadar ingin memastikan kabar yang mereka baca pagi tadi memang benar.Renata tidak berhenti untuk membaca ekspresi mereka. Ia merasa sudah terbiasa dan tidak mempedulikan mengenai itu.Panggilan dari Julian semalam terdengar resmi, bahkan terlalu resmi baginya.“Kita perlu membicarakan beberapa penyesuaian pekerjaan,” begitu katanya.Maka ia datang, tanpa dugaan lain. Namun ketika pintu ruang kerja Julian terbuka, suasana di dalamnya tidak seperti ruang rapat yang biasanya. Tidak ada berkas terbuka, tidak ada layar presentasi, bahkan meja kerja terlihat lebih rapi dari biasanya, seolah sengaja dikosongkan.Dan di atas meja kecil dekat jendela, terdapat satu kotak beludru ge

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 58

    Sore itu, Julian dipanggil pulang. Bukan dengan nada marah. Bukan pula dengan perintah keras. Pesan singkat dari Abimana Herlambang hanya berisi satu kalimat: “Pulang. Kita bicara.”Di ruang kerja keluarga, suasana dingin. Abimana duduk di balik meja besar, berkas laporan terbuka di hadapannya. Julian berdiri beberapa langkah dari sana. Tidak ada basa-basi.“Saham turun lagi pagi ini,” ujar Abimana tenang.Julian terdiam.Namun Abimana tetap melanjutkan ucapannya, “Bukan karena kinerja, ini semua karena kepercayaan.”Ia mengangkat pandangan. “Kau mengira ini masih urusan pribadi?”Julian membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tidak ada suara yang keluar, dia terduduk dan pandangannya masih terpaku di lantai. “Kau boleh salah,” kata Abimana pelan namun tajam. “Tapi ketika kesalahanmu menyeret nama keluarga dan perusahaan, itu bukan lagi urusan perasaan.”Keheningan akhirnya jatuh di antara mereka berdua. “Aku

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 58

    Juwita tidak tahan pada keadaan saat ini yang terus menerus berkembang ke arah yang menyudutkannya. Sejak pagi, namanya terus muncul di linimasa, bukan sebagai pusat pujian, melainkan sebagai bayangan yang menempel pada satu isu yang sama. “Dugaan perselingkuhan” Pertunangan yang dibatalkan. Foto lama yang kembali diangkat. Tatapan yang terlalu dekat untuk sekadar kolega.Ia tahu, diam terlalu lama akan membuat rumor semakin tumbuh liar. Maka dari itu ia memilih untuk bicara.Sebuah unggahan singkat muncul di akun resminya. Foto dirinya dengan riasan rapi, sudut wajah yang paling aman, disertai kalimat yang terdengar tenang: “Tidak semua yang terlihat adalah kebenaran. Aku berharap publik bisa lebih bijak.”Tidak menyebut nama, tidak membantah dan juga tidak menjelaskan. Namun justru di situlah letak kesalahannya.Komentar datang dengan deras.“Kalau tidak salah, kenapa tidak tegas?”“Bijak bagaimana? Foto-fot

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 57

    Kantor terasa terlalu sempit bagi Julian pagi itu. Ia berdiri di depan jendela, menatap lalu lintas di bawah tanpa benar-benar melihatnya. Di tangannya, ponsel terus bergetar. Notifikasi datang beruntun. Baik dari media, rekan bisnis, kenalan lama. Tidak satu pun bertanya apakah ia baik-baik saja. Semuanya bertanya hal yang sama. ‘Kenapa dibatalkan?’Julian mengepalkan tangannya. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan saat ini. Pernyataan yang diumumkan itu terlalu rapi dan juga terlalu bersih. Herman Aditama memotong semua jalur klarifikasi sebelum ia sempat bergerak. Tidak menyisakan ruang untuk penjelasan, juga tidak ada celah untuk mengendalikan narasi publik. Dan ini benar – benar membuatnya terasa terhimpit. Dan yang paling membuatnya tertekan adalah kebisuan Renata saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali ia mencoba menghubungi Renata. Baik dari pesan yang terkirim ataupun dari panggilan. Akan tetapi, semuanya tidak kunjung direspon. Dari pesan yang tidak dibaca dan pang

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 56

    Pengumuman itu muncul tanpa tanda-tanda terlebih dahulu. Tidak ada konferensi pers, tidak pula ada panggung megah.Satu pernyataan resmi dari Keluarga Aditama dikirim ke beberapa media utama pada pagi hari, disertai tanda tangan pribadi Herman Aditama. Isinya singkat, lugas, dan tidak memberi ruang tafsir berlebihan.“Dengan ini, saya, Herman Aditama, menyampaikan bahwa pertunangan antara putri saya, Renata Aditama, dan Tuan Julian Abimana, dinyatakan batal terhitung mulai hari ini.”Tidak ada kata-kata emosional. Tidak ada penjelasan panjang.“Keputusan ini diambil demi kebaikan dan masa depan putri saya. Saya berharap publik menghormati keputusan ini dan tidak menyeret Renata Aditama ke dalam spekulasi yang tidak perlu.”Pernyataan itu berakhir di sana. Justru karena singkat dan tegas, dampaknya terasa jauh lebih besar.###___####Reaksi publik datang nyaris seketika. Nama Renata kembali memenuhi linimasa, namun kali ini dengan nada yang berbeda. Banyak yang terkejut karena pembatal

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   55

    Di pagi hari, di apartemen milik Julian, cahaya matahari masuk tipis dari sela tirai, jatuh di lantai yang dingin. Juwita sudah terbangun lebih dulu. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Malam kali ini pun tidak memberi sepenuhnya ketenangan. Yang tersisa hanya rasa kosong yang semakin sulit diabaikan.Di sampingnya, Julian masih tidur. Nafasnya tampak teratur, wajahnya tenang, seolah apa yang terjadi semalam tidak meninggalkan jejak apa pun. Juwita menoleh sebentar ke arahnya, sebelum ia akhirnya bangkit. Ia mengenakan pakaiannya dengan gerakan pelan, rapi, seperti biasa.Saat melangkah ke ruang tamu, ponselnya bergetar. Beberapa notifikasi masuk. Potongan berita, komentar singkat, dan lagi-lagi satu nama yang muncul berulang. ‘Renata.’Tidak ada nada sensasional. Tidak ada tuduhan. Hanya penyebutan yang wajar, seolah kehadiran Renata di sana memang sudah seharusnya.Juwita menggenggam ponselnya lebih erat dan keluar dari apartemen itu tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status