Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 152. Pihak Lain

Share

152. Pihak Lain

last update publish date: 2026-10-12 15:59:27

Foto Arka saat meninggalkan lokasi pertemuannya dengan Arion.

Di sampingnya terdapat selembar kertas berisi beberapa baris tulisan.

Orang yang duduk di balik meja membaca laporan itu tanpa mengubah ekspresi.

Lalu ia mengangkat telepon.

"Dia sudah bertemu Arion," ujar sebuah suara dari seberang.

Orang itu terdiam sejenak.

"Baik. Untuk sekarang, jangan lakukan apa-apa."

Panggilan berakhir.

Ia kembali menatap foto di atas meja.

Kali ini, jarinya berhenti tepat pada wajah Arion.

"Sepertinya," gumam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Kakak Tiri   152. Pihak Lain

    Foto Arka saat meninggalkan lokasi pertemuannya dengan Arion.Di sampingnya terdapat selembar kertas berisi beberapa baris tulisan.Orang yang duduk di balik meja membaca laporan itu tanpa mengubah ekspresi.Lalu ia mengangkat telepon."Dia sudah bertemu Arion," ujar sebuah suara dari seberang.Orang itu terdiam sejenak."Baik. Untuk sekarang, jangan lakukan apa-apa."Panggilan berakhir.Ia kembali menatap foto di atas meja.Kali ini, jarinya berhenti tepat pada wajah Arion."Sepertinya," gumamnya pelan, "masalah ini tidak akan selesai semudah yang kita perkirakan."Foto Arka masih tergeletak di atas meja.Berdampingan dengan foto Arion yang diambil dari sudut berbeda.Di bawahnya terdapat beberapa lembar laporan.Laporan itu memuat informasi mengenai pergerakan keduanya.Dalam beberapa hari terakhir.Sosok yang duduk di balik meja menyandarkan tubuhnya.Belum sempat ia kembali memeriksa laporan tersebut...Pintu ruangan terbuka.Seorang pria masuk tanpa mengetuk.Usianya sekitar lima

  • Hasrat Kakak Tiri   152.Dialog Rahasia

    Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang.Jalanan malam relatif lengang. Lampu-lampu jalan berderet di sepanjang aspal, sementara deretan pertokoan yang mereka lewati sebagian besar sudah tutup.Arka memegang kemudi dengan kedua tangan.Di kursi penumpang, Arion duduk bersandar. Wajahnya tenang, tetapi sejak meninggalkan tempat pertemuan tadi, ia terus memikirkan alasan Arka meminta mereka berbicara secara diam-diam.Tidak ada tempat tujuan yang pasti.Tidak ada pembicaraan ringan.Hanya sebuah permintaan untuk bertemu dan larangan agar orang lain tidak mengetahuinya.Termasuk Shana.Arion akhirnya membuka suara."Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"Arka tidak langsung menjawab.Ia memastikan keadaan jalan di depan sebelum mulai bercerita."Gue dihadang beberapa mobil di jalan sepi."Arion menoleh."Di hadang?""Iya. Satu mobil menghalangi jalan gue. Dua lainnya muncul dari belakang dan samping.""Lo dirampok?""Bukan."Arka mengembuskan napas."Mereka justru nanya soal Al

  • Hasrat Kakak Tiri   15i. Mobil Misterius

    Alena menatap layar ponselnya.Dengan dahi berkerut dalam.Empat belas panggilan tak terjawab.Semuanya dari Arka Madya Raka."Ada apa sebenarnya?"Ia menggeser layar perlahan.Memastikan tidak ada kesalahan baca.Namun nama itu tetap muncul berulang kali.Menghiasi daftar panggilan masuk dengan deretan angka yang sama.Alena mengenal Arka cukup baik.Ia tahu laki-laki itu bukan tipe orang yang menelepon berkali-kali tanpa alasan penting.Apalagi sampai empat belas kali.Rasa herannya mendadak menguar.Membuat mimpi buruk yang baru saja membangunkannya perlahan terlupakan.Alena duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia mempertimbangkan untuk mengirim pesan terlebih dahulu.Namun akhirnya mengurungkan niatnya.Jika Arka sampai menelepon sebanyak itu...Mungkin ada sesuatu yang memang perlu disampaikan secara langsung.Ia menekan tombol panggil.Ponsel ditempelkan ke telinga.Namun, alih-alih mendengar nada sambung yang familier...Sebuah pemberitahuan otomatis berputar pelan."Nomor yan

  • Hasrat Kakak Tiri   150. Hanya Mimpi, Tapi...

    Roy dan Rina saling pandang.Teriakan itu terdengar begitu mendadak hingga keduanya sempat terpaku selama beberapa detik.“Alena!” seru Rina.Ia langsung berlari menuju kamar putrinya. Roy menyusul dari belakang dengan langkah cepat.Begitu sampai di depan pintu, Rina mengetuknya keras-keras.“Alena! Sayang, kamu kenapa?”Tidak ada jawaban.Rina kembali menggedor pintu.“Alena! Buka pintunya, Nak!”Roy ikut memanggil.“Alena! Kamu dengar Ayah? Jawab!”Keheningan dari dalam kamar membuat kecemasan mereka semakin menjadi-jadi.Rina menempelkan telinganya ke pintu, berusaha menangkap suara apa pun dari dalam.“Alena, tolong jawab Mama!”Tangannya mulai gemetar.Pikiran buruk bermunculan tanpa bisa ia kendalikan. Ia membayangkan putrinya jatuh sakit, terluka, atau mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk.Roy mencoba memutar gagang pintu.Terkunci.“Alena!” panggilnya lebih keras.Ia mengetuk pintu sekali lagi, kali ini dengan kepalan tangan.“Buka pintunya, Nak!”Tetap tidak ada jawaban.

  • Hasrat Kakak Tiri   149. Regon?

    Tubuh Rina seketika kaku.Hanya sesaat.Tapi Roy melihatnya.Tatapan Rina berubah setelah mendengar nama itu. Wajahnya yang sejak tadi terlihat lelah kini semakin tegang. Tangannya bahkan tanpa sadar mencengkeram ujung bajunya sendiri.Rina perlahan mengangkat kepala."Kenapa kamu menanyakan nama itu?"Roy menatap lurus ke arahnya."Aku cuma ingin tahu.""Untuk apa?""Karena aku ingat sesuatu."Rina tidak berkata apa-apa.Roy menyimpan kembali ponselnya. Gerakannya tenang, seolah pembicaraan itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Namun Rina tahu.Roy tidak pernah menyebut nama Regon tanpa alasan."Beberapa waktu lalu aku menemukan catatan lama."Rina menahan napas."Catatan apa?""Dokumen lama.""Dokumen tentang apa?""Tanah."Jantung Rina berdetak lebih cepat.Ia berusaha menyembunyikan perubahan wajahnya. Namun nama Regon dan kata tanah yang disebut berdekatan membuat pikirannya kembali kepada masa lalu yang selama puluhan tahun berusaha ia kubur.Roy tidak menyadarinya."At

  • Hasrat Kakak Tiri   148. Luka yang disimpan Rina

    Ibu jarinya menggantung di atas layar selama beberapa detik. Ada dorongan kuat untuk menekan tombol panggil. Sekadar memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun, ia menahannya. Jika orang-orang tadi tahu pasti posisinya malam ini... Besar kemungkinan sinyal dan jejak digitalnya pun sedang diawasi. Menghubungi Alena sekarang sama saja menyalakan tanda bahaya di tempat terang. Arka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. ... Rina duduk sendirian. Di balkon kamar. Malam telah semakin tua. Tetapi ia belum berniat untuk beranjak masuk ke dalam. Udara terasa dingin menusuk kulit. Halaman di bawah sana hampir seluruhnya tenggelam dalam pekat. Hanya ada cahaya samar dari beberapa lampu taman. Yang membuat bayangan pepohonan bergerak pelan saat tertiup angin. Di genggamannya, secangkir teh telah mendingin sejak tadi. Sama sekali tidak disentuhnya. Pikirannya kembali kepada Alena. Kemudian bergeser kepada Arion. Dan malam ini, tanpa i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status