MasukMobil Roy melaju membelah jalanan menjelang malam.Lampu-lampu kendaraan berkelebat dari arah berlawanan. Sesekali, ia mengurangi kecepatan ketika melewati persimpangan, tetapi pikirannya tak benar-benar berada di jalan.Ada terlalu banyak hal yang belakangan ini terasa janggal.Ancaman terhadap Arka.Desakan agar Arion menikahi Alena.Kunjungan orang-orang yang tak pernah diketahui identitasnya.Lalu, percakapannya dengan Damar di kafe beberapa waktu lalu.Semua itu seperti potongan puzzle yang tersebar di atas meja. Bentuknya belum sempurna, tetapi Roy mulai melihat garis yang menghubungkan satu potongan dengan potongan lainnya.Ia teringat kembali pada catatan transaksi lama yang sempat ditanyakannya kepada Rina. Nama Reygon muncul di sana, membuat istrinya ketakutan dengan cara yang sulit dijelaskan.Mengapa nama lelaki itu masih muncul setelah sekian lama?Dan mengapa urusan pernikahan Arion dengan Alena terasa semakin mendesak?Roy memperlambat mobil.Pikirannya kembali pada per
Nama Reygon terpampang di layar ponsel.Pria di dalam mobil itu segera menekan tombol panggil.Panggilan tersambung setelah dering kedua.“Ya?”“Pak, saya baru saja melihat Roy meninggalkan apartemen Arion.”Hening sejenak di ujung telepon.“Roy?”“Benar, Pak. Dia datang membawa makanan. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi kunjungannya berlangsung cukup lama.”Reygon tidak langsung menjawab.Ia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, memandang hamparan lampu kota yang mulai menyala. Sebatang rokok terjepit di antara jarinya, tetapi sejak tadi belum juga ia hisap.“Apakah dia datang sendirian?”“Sejauh yang saya lihat, iya.”“Dan Shana?”“Saya tidak melihatnya.”Reygon menyipitkan mata.Ia tidak mengetahui bahwa Shana telah pindah dari apartemen Arion. Berdasarkan informasi yang selama ini dikumpulkannya, perempuan itu masih tinggal bersama Arion.Kunjungan Roy membuatnya memikirkan kemungkinan lain.Mungkin lelaki itu mulai khawatir melihat kedekatan putrinya dengan Ari
Roy tiba di apartemen Arion menjelang sore.Sebuah kantong berisi makanan tergantung di tangannya. Ia berniat menemui Shana, sekadar memastikan putrinya baik-baik saja setelah beberapa hari terakhir jarang bercerita panjang kepadanya.Pintu terbuka tak lama setelah bel ditekan.Arion berdiri di ambang pintu, tampak sedikit terkejut.“Om Roy?”“Sedang sibuk?”“Tidak. Silakan masuk, Om.”Roy melangkah ke dalam. Pandangannya berkeliling ruang tamu yang tertata rapi, lalu berhenti pada sudut ruangan dekat jendela.Biasanya, ada barang-barang Shana di sana. Bantal kecil, selimut yang kadang tergeletak sembarangan, atau tas yang ditinggalkannya begitu saja.Sekarang, sudut itu kosong.“Shana mana?”Arion menutup pintu.“Dia sudah pindah.”Roy menoleh.“Pindah ke mana?”“Ke apartemen lain. Dekat kantornya.”Roy meletakkan kantong makanan di atas meja. Ia tidak langsung duduk.“Kapan?”“Beberapa hari lalu.”Ada sedikit perubahan pada wajah Roy. Bukan kemarahan, melainkan keterkejutan yang seg
Pria berkemeja gelap itu mendekat. Matanya jatuh pada satu nama yang tertulis di bagian bawah laporan. Seketika, wajahnya kehilangan warna. Ia membaca nama itu sekali lagi. Seolah berharap dirinya telah salah melihat. Namun, nama tersebut tidak berubah. "Ini tidak mungkin..." bisiknya. Sosok di balik meja menatapnya lekat-lekat. "Sayangnya, laporan ini mengatakan sebaliknya." Pria itu mengangkat wajah dengan napas tertahan. "Kalau dia benar-benar terlibat..." "Berarti selama ini..." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Sosok di balik meja menutup laporan itu perlahan. "Ya." Tatapannya beralih ke foto-foto di atas meja. "Selama ini, mungkin kita bukan satu-satunya pihak yang sedang menyusun rencana." Keduanya mulai mempertanyakan satu hal. Satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada kemungkinan kegagalan. Bagaimana jika sejak awal... merekalah yang sedang diarahkan menuju jalan buntu? ....Kafe kecil itu terletak di pinggiran kota.Jauh dari keramaian pusat b
Foto Arka saat meninggalkan lokasi pertemuannya dengan Arion.Di sampingnya terdapat selembar kertas berisi beberapa baris tulisan.Orang yang duduk di balik meja membaca laporan itu tanpa mengubah ekspresi.Lalu ia mengangkat telepon."Dia sudah bertemu Arion," ujar sebuah suara dari seberang.Orang itu terdiam sejenak."Baik. Untuk sekarang, jangan lakukan apa-apa."Panggilan berakhir.Ia kembali menatap foto di atas meja.Kali ini, jarinya berhenti tepat pada wajah Arion."Sepertinya," gumamnya pelan, "masalah ini tidak akan selesai semudah yang kita perkirakan."Foto Arka masih tergeletak di atas meja.Berdampingan dengan foto Arion yang diambil dari sudut berbeda.Di bawahnya terdapat beberapa lembar laporan.Laporan itu memuat informasi mengenai pergerakan keduanya.Dalam beberapa hari terakhir.Sosok yang duduk di balik meja menyandarkan tubuhnya.Belum sempat ia kembali memeriksa laporan tersebut...Pintu ruangan terbuka.Seorang pria masuk tanpa mengetuk.Usianya sekitar lima
Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang.Jalanan malam relatif lengang. Lampu-lampu jalan berderet di sepanjang aspal, sementara deretan pertokoan yang mereka lewati sebagian besar sudah tutup.Arka memegang kemudi dengan kedua tangan.Di kursi penumpang, Arion duduk bersandar. Wajahnya tenang, tetapi sejak meninggalkan tempat pertemuan tadi, ia terus memikirkan alasan Arka meminta mereka berbicara secara diam-diam.Tidak ada tempat tujuan yang pasti.Tidak ada pembicaraan ringan.Hanya sebuah permintaan untuk bertemu dan larangan agar orang lain tidak mengetahuinya.Termasuk Shana.Arion akhirnya membuka suara."Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"Arka tidak langsung menjawab.Ia memastikan keadaan jalan di depan sebelum mulai bercerita."Gue dihadang beberapa mobil di jalan sepi."Arion menoleh."Di hadang?""Iya. Satu mobil menghalangi jalan gue. Dua lainnya muncul dari belakang dan samping.""Lo dirampok?""Bukan."Arka mengembuskan napas."Mereka justru nanya soal Al







