Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / Bab 26. Kopi Yang Tak Pernah Diminum

Share

Bab 26. Kopi Yang Tak Pernah Diminum

last update Last Updated: 2025-10-29 12:05:39

Lampu ruang tamu apartemen terasa terlalu terang, memaksakan keberadaannya saat malam sudah mencapai puncaknya. Jam di dinding menunjukkan pukul 00:15.

Di meja kaca itu, uap dari cangkir kopi telah lama menghilang, meninggalkan sisa aroma pahit yang kini terasa menusuk hidung Shana, mengingatkannya pada kekosongan.

Shana duduk bersandar di sofa, badannya lelah namun pikirannya terlalu bising untuk tidur. Ponsel di tangannya menampilkan layar pesan yang sama, yang telah ia buka dan tutup puluhan kali.

“Kakak kapan pulang? Kopi buatan aku udah dingin.”

Sudah dua jam sejak pesan itu terkirim, dan hanya ada centang satu, yang berarti pesan itu belum sampai, atau mungkin, ponsel Arion mati. Yang jelas, tidak ada balasan. Tidak ada tanda dibaca.

Awalnya, ia bisa merasionalisasi. Arion mungkin lembur. Ia mungkin ketiduran di kantor setelah hari yang panjang. Tapi semakin larut, alasan itu terasa seperti selimut tipis yang gagal menutupi hawa dingin yang mulai menjalar di hatinya.

Bukan karen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Kakak Tiri   41. Garis Tembak

    Suara lift berdenting pelan. Terlalu pelan untuk menandingi degup jantung Arion yang baru saja diserang Rika barusan. Ia tetap berdiri di ruang tamu, bahu naik-turun, tatapan kosong ke lantai, seperti seseorang yang baru saja diseret keluar dari mimpi buruk masa lalu… lalu dilempar ke mimpi buruk yang baru.Ia belum sempat memproses ucapan Rika—belum sempat memproses tatapan Shana tadi—ketika getaran ponselnya mengiris keheningan.Satu pesan.Pendek.Tapi mematikan.“Aku di bawah. Aku naik sekarang. Ada yang tertinggal.” — NayaArion langsung menegakkan tubuhnya.“Tidak. Tidak sekarang. Sial…”Ia menutup wajah dengan kedua tangan.“Kenapa semua orang harus muncul di hari yang sama?!”Pintu kamar Shana terbuka sedikit—hanya celah tipis.“Ka?”Arion kaget setengah mati. “Shana, jangan keluar dulu.”Shana melihat wajah Arion—masih kacau, masih tegang—dan meski gengsinya tinggi, instingnya tetap bekerja.“Kak… ada apa lagi?”“Pokoknya jangan keluar. Tolong.”Nada Arion rendah, hampir memo

  • Hasrat Kakak Tiri   40. Gengsi

    Cahaya siang menabrak dinding putih apartemen Arion ketika suara ketukan keras memenuhi ruangan.Arion membeku di tempat.Shana keluar sedikit dari ambang pintu kamarnya—tidak penuh, setengah badan saja, seolah ia masih mencari alasan logis buat nongol… padahal jantungnya sudah lari duluan. Yang membuatnya berhenti adalah wajah Arion. Terlihat pucat, tegang, dan seperti kehilangan sepersekian detik waktu.Ia belum pernah melihat Arion sekaget dan sepucat itu.Bahkan saat ayahnya datang tadi siang pun tidak se dramatis ini.Arion berdiri mematung, seperti seseorang yang baru saja mendengar nama yang seharusnya mati di masa lalu.Ketukan kedua terdengar.Dan satu suara menyusul, datar tapi menusuk:“Kamu pikir aku nggak akan tahu soal ini, Arion?”Arion menutup mata sekejap.“Rika…” bisiknya. “Sial.”Shana mengerutkan dahi.Rika? Siapa?Pintu terbuka, dan Rika melangkah masuk. Tanpa menunggu izin. Cara ia berdiri saja sudah menjelaskan jikaia pernah menjadi bagian dari hidup Arion.Bag

  • Hasrat Kakak Tiri   Bab 39. Wanita Selalu Tidak Salah

    Ada orang yang saat marah, suaranya meledak. Teriakan tajam, mengiris udara. Ada yang butuh gestur kasar: membanting benda, menutup pintu dengan bunyi debuman yang membuat dinding bergetar.Shana... justru sebaliknya. Dan itulah yang membuat Arion semakin gila.Sejak pintu kamar itu terkunci tanpa suara, apartemen terasa menyusut, mengecil hingga mencekik. Bahkan dengungan AC yang biasa menenangkan kini terdengar seperti bisikan dingin yang menuduh. Arion mondar-mandir, setiap langkahnya terasa berat dan sia-sia. Matanya terpaku pada pintu kayu itu, seolah ia sedang menatap pintu kandang yang ia buka sendiri, membiarkan makhluk buas—atau lebih tepatnya, makhluk yang tersakiti—bersembunyi di dalamnya.“Kendalinya di dia sekarang, ya…” gumamnya, memijat tengkuknya yang menegang. Ototnya terasa kaku. “Sampai kapan pun dia mau. Sampai aku luluh, atau dia pergi.”Mendengar suara dari balik pintu? Mustahil.Diam.Bukan diam karena ketiadaan. Ini adalah keheningan yang penuh, diisi oleh amar

  • Hasrat Kakak Tiri   38. Introgasi Ayah Arion

    Ada momen-momen tertentu di hidup seseorang ketika suara ketukan pintu terdengar lebih keras daripada teriakan. Bukan karena volumenya, tapi karena apa yang mungkin menunggu di baliknya. Dan kali ini, bukan hanya Arion yang takut membukanya. Shana ikut menahan napas, seolah paru-parunya berbagi udara dengan Arion.Mereka bertukar pandang. Di mata Arion, ada peringatan dan permohonan. Di mata Shana, ada ketakutan yang dihiasi lapisan baja ketenangan.“Stay di sini,” bisik Arion, suaranya serak.Shana mengangguk. Kepala ikut, tapi hati menolak. Ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini akan mengusik sesuatu yang baru saja ia tata dalam hidupnya.Arion berjalan. Setiap langkahnya berat, seakan ia sedang menuju meja operasi—meja vonis.Ia membuka pintu, perlahan.Ayah Arion berdiri di sana. Wajahnya tegas, rahangnya terkunci, tapi matanya memancarkan keteduhan khas seorang ayah yang sedang marah—bukan karena benci, tapi karena kekhawatiran yang gagal ia kendalikan.“Masuk, Yah,” kata Ario

  • Hasrat Kakak Tiri   37. "Apakah Kamu Sayang Aku"

    Kadang yang paling sunyi bukanlah malam, bukan pula kesepian—melainkan ketika dua orang berada dalam ruangan yang sama… tapi berpikir untuk berlari ke arah yang berlawanan.Dan pagi itu, Arion merasakannya untuk pertama kalinya.Shana keluar dari kamar mandi pelan-pelan. Rambutnya masih menetes, wajahnya tampak segar… atau setidaknya ia berusaha terlihat begitu. Kaos putih tipis yang ia kenakan menempel sedikit di bahu basahnya.Arion yang duduk di sofa langsung berdiri begitu melihatnya.“Sha… kita bisa ngomong sebentar?”Shana berhenti.Tersenyum kecil. Senyum sopan—senyum yang biasanya ia pakai untuk orang asing yang menawarkan brosur.“Tentu, Kak. Mau ngomong apa?”Arion menelan ludah. “Tentang tadi.”Shana mengangkat alis. “Tadi yang mana?”Arion langsung gugup. “Yang… ya… kamu datang, terus aku… aku lagi—”“Olahraga?” potong Shana cepat, namun dengan raut polos.Arion terdiam.Shana tersenyum lagi. “Iya, aku lihat. Kamu pegang barbel, kan?”Arion ingin menjelaskan, tetapi kalima

  • Hasrat Kakak Tiri   Bab 36. New Shana

    Pintu itu belum terbuka, tapi lorongnya sudah terasa aneh—tebal oleh udara yang menahan napas, mencekam, seperti jeda sebelum petir menyambar. Seluruh dunia terasa menunggu tabrakan dua hati yang rapuh.Dan Shana, berdiri tepat di tengah-tengah jeda itu, bukan lagi seorang gadis yang mencari tempat berlindung.Ia adalah seseorang yang baru saja kehilangan sebuah ilusi, sehelai demi sehelai, tanpa suara.Kunci pintu berputar.Suara logamnya menciut, menusuk gendang telinga. Terlalu keras untuk sebuah putaran kunci yang seharusnya biasa saja.Shana mengangkat dagunya sedikit. Senyum kecil yang dipaksakan itu tetap ada, menempel, jernih seperti lem bening yang hampir tak terlihat. Bukan senyum bahagia, bukan juga patah hati. Lebih seperti perkenalan diri dengan sebuah kekuatan baru.Pintu terbuka sebatas bahu, tidak sepenuhnya.Arion muncul di celah itu—wajahnya basah oleh keringat tipis, rambutnya acak-acakan, napasnya masih terburu-buru. Shana tahu persis mengapa. Ia bahkan tidak perlu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status