LOGINAda orang yang saat marah, suaranya meledak. Teriakan tajam, mengiris udara. Ada yang butuh gestur kasar: membanting benda, menutup pintu dengan bunyi debuman yang membuat dinding bergetar.Shana... justru sebaliknya. Dan itulah yang membuat Arion semakin gila.Sejak pintu kamar itu terkunci tanpa suara, apartemen terasa menyusut, mengecil hingga mencekik. Bahkan dengungan AC yang biasa menenangkan kini terdengar seperti bisikan dingin yang menuduh. Arion mondar-mandir, setiap langkahnya terasa berat dan sia-sia. Matanya terpaku pada pintu kayu itu, seolah ia sedang menatap pintu kandang yang ia buka sendiri, membiarkan makhluk buas—atau lebih tepatnya, makhluk yang tersakiti—bersembunyi di dalamnya.“Kendalinya di dia sekarang, ya…” gumamnya, memijat tengkuknya yang menegang. Ototnya terasa kaku. “Sampai kapan pun dia mau. Sampai aku luluh, atau dia pergi.”Mendengar suara dari balik pintu? Mustahil.Diam.Bukan diam karena ketiadaan. Ini adalah keheningan yang penuh, diisi oleh amar
Ada momen-momen tertentu di hidup seseorang ketika suara ketukan pintu terdengar lebih keras daripada teriakan. Bukan karena volumenya, tapi karena apa yang mungkin menunggu di baliknya. Dan kali ini, bukan hanya Arion yang takut membukanya. Shana ikut menahan napas, seolah paru-parunya berbagi udara dengan Arion.Mereka bertukar pandang. Di mata Arion, ada peringatan dan permohonan. Di mata Shana, ada ketakutan yang dihiasi lapisan baja ketenangan.“Stay di sini,” bisik Arion, suaranya serak.Shana mengangguk. Kepala ikut, tapi hati menolak. Ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini akan mengusik sesuatu yang baru saja ia tata dalam hidupnya.Arion berjalan. Setiap langkahnya berat, seakan ia sedang menuju meja operasi—meja vonis.Ia membuka pintu, perlahan.Ayah Arion berdiri di sana. Wajahnya tegas, rahangnya terkunci, tapi matanya memancarkan keteduhan khas seorang ayah yang sedang marah—bukan karena benci, tapi karena kekhawatiran yang gagal ia kendalikan.“Masuk, Yah,” kata Ario
Kadang yang paling sunyi bukanlah malam, bukan pula kesepian—melainkan ketika dua orang berada dalam ruangan yang sama… tapi berpikir untuk berlari ke arah yang berlawanan.Dan pagi itu, Arion merasakannya untuk pertama kalinya.Shana keluar dari kamar mandi pelan-pelan. Rambutnya masih menetes, wajahnya tampak segar… atau setidaknya ia berusaha terlihat begitu. Kaos putih tipis yang ia kenakan menempel sedikit di bahu basahnya.Arion yang duduk di sofa langsung berdiri begitu melihatnya.“Sha… kita bisa ngomong sebentar?”Shana berhenti.Tersenyum kecil. Senyum sopan—senyum yang biasanya ia pakai untuk orang asing yang menawarkan brosur.“Tentu, Kak. Mau ngomong apa?”Arion menelan ludah. “Tentang tadi.”Shana mengangkat alis. “Tadi yang mana?”Arion langsung gugup. “Yang… ya… kamu datang, terus aku… aku lagi—”“Olahraga?” potong Shana cepat, namun dengan raut polos.Arion terdiam.Shana tersenyum lagi. “Iya, aku lihat. Kamu pegang barbel, kan?”Arion ingin menjelaskan, tetapi kalima
Pintu itu belum terbuka, tapi lorongnya sudah terasa aneh—tebal oleh udara yang menahan napas, mencekam, seperti jeda sebelum petir menyambar. Seluruh dunia terasa menunggu tabrakan dua hati yang rapuh.Dan Shana, berdiri tepat di tengah-tengah jeda itu, bukan lagi seorang gadis yang mencari tempat berlindung.Ia adalah seseorang yang baru saja kehilangan sebuah ilusi, sehelai demi sehelai, tanpa suara.Kunci pintu berputar.Suara logamnya menciut, menusuk gendang telinga. Terlalu keras untuk sebuah putaran kunci yang seharusnya biasa saja.Shana mengangkat dagunya sedikit. Senyum kecil yang dipaksakan itu tetap ada, menempel, jernih seperti lem bening yang hampir tak terlihat. Bukan senyum bahagia, bukan juga patah hati. Lebih seperti perkenalan diri dengan sebuah kekuatan baru.Pintu terbuka sebatas bahu, tidak sepenuhnya.Arion muncul di celah itu—wajahnya basah oleh keringat tipis, rambutnya acak-acakan, napasnya masih terburu-buru. Shana tahu persis mengapa. Ia bahkan tidak perlu
Suara itu, tipis seperti benang sutra yang direntangkan, menyelinap dari bawah celah pintu. Desahan tertahan, hela napas yang terlalu panjang—semua merambat dan menghantam jantung Shana.Shana mematung. Kali ini, kakinya menancap ke lantai. Tidak ada naluri untuk mundur atau lari.Jika sebelumnya ia terlihat hancur, kini wajahnya menampilkan ketenangan dingin. Seperti seseorang yang baru saja menatap kegelapan di dalam dirinya, dan memutuskan untuk menyambutnya.Waktu seperti mencair, berdetak lambat. Arion di balik pintu sama sekali tidak menyadari kehadiran Shana.Dan di balik pintu itu, seakan ada sebuah panggung di mana dunia sedang mentertawakan kebodohan dan kesetiannya.Namun, Shana mengangkat kepalanya. Pandangan matanya yang semula jatuh, kini mendongak.Ia tidak boleh terlihat ringkih. Tidak di depan Arion. Dan yang lebih penting, tidak di depan cermin batinnya sendiri.Rasa cemburu itu masih ada, membakar seperti api. Tapi dalam sedetik, ia menarik napas, dan api itu beruba
Ayah Arion menghela napas pelan sambil merapikan kerah kemejanya. Ia memperhatikan istrinya yang masih menatap lift dengan wajah penuh tanda tanya.“Kamu yakin tadi lihat Shana?” tanyanya lembut.Ibu Shana tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada angka yang terus naik—lantai 3… 4… 7… seolah angka-angka itu sedang membawa bagian dari hatinya ikut terangkat ke atas.“Aku… nggak tahu,” ucapnya lirih. “Tadi cepat sekali. Tapi… rasanya seperti dia.”Ayah Arion mendekat, menepuk lengan istrinya dengan tenang.“Sayang, dengerin aku sebentar.”Ibu Shana memejamkan mata. “Aku cuma takut dia kenapa-kenapa, Mas.”“Aku tahu.” Suaminya tersenyum lembut. “Tapi kita harus pakai logika juga.”Ia mengangkat dagu sedikit, mengarahkan istrinya untuk menatapnya.“Kita baru saja dari atas. Arion buka pintu, dia keringetan, pegang barbel. Kamu lihat sendiri, kan? Dia jelas habis latihan.”Ibu Shana mengangguk pelan. “Iya… aku lihat.”“Dan dia bilang Shana lagi mandi,” lanjutnya. “Kalau Shana lag







