Di sana ada sebuah taman dengan rumput Jepang yang menghampar hijau. Sungguh pemandangan yang asri dan menyegarkan mata. Tapi tidak untuk saat ini karena Amber harus berlutut di sana.
"Sebenarnya apa yang Nona lakukan hingga Tuan Dave marah seperti itu?" tanya Alfred yang ikut ketakutan. "Aku... aku hanya bertanya tentang siapa pacar pria Dave?" jawab Amber dengan wajah cemas. "Astaga Nona, kenapa kamu tanyakan hal itu?" Alfred berdecak. "Apa aku salah. Aku hanya penasaran apakah Dave benar-benar gay atau bukan?" "Jangan tanyakan hal itu lagi kalau kamu ingin selamat Nona." Alfred menggeleng. "Alfred, bolehkah aku bertanya?" tanya Amber sebelum berlutut. "Kenapa Nona?" "Kenapa Dave hobi sekali marah-marah, apa dia terus seperti ini bila dia marah?" "Nona emosi Tuan Dave memang tidak stabil, maka dari itu Nona jangan sampai membuat dia marah lagi." "Cepatlah berlutut Nona, lihat Tuan Dave sedang memperhatikan kita." Alfred terlihat ketakutan saat melihat Dave sedang melihat ke arah mereka. Amber menghela napasnya,ia melirik sekilas ke arah Dave. Gawat, rupanya lelaki itu akan tetap menunggunya sampai ia berlutut di atas rumput ini. Benar-benar menjengkelkan. Dengan terpaksa Amber berlutut di atas rerumputan itu. Meski tidak langsung menyentuh tanah, tetapi tetap saja lutut gadis itu terasa sakit dan ngilu. "Nona, saya tinggal dulu. Berlututlah sampai Tuan Dave memaafkanmu." Alfred mewanti-wanti. Amber hanya bisa mengangguk. Jika bukan karena terpaksa ia pasti sudah hengkang dari rumah yang lebih mirip neraka ini. Alfred kembali menemui Dave, pria itu sangat menghormati Dave dan terlihat begitu takjim. "Apalagi yang harus saya lakukan Tuan?" "Tetap awasi dia, jangan sampai ada satu orang pun yang membiarkan dia berdiri ataupun menolongnya." Dave begitu kejam, sampai tak ada rasa belas kasihan sedikit pun pada Amber. Alfred menelan salivanya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Amber diperlakukan seperti itu oleh Dave, tapi apa boleh buat, ia juga terlalu takut untuk menentang majikannya itu. Satu jam berlalu. Rasanya kedua kaki Amber mati rasa. Peluh bercucuran di pelipis gadis itu. Matahari sudah tenggelam menuju peraduannya sedari tadi. Amber masih berlutut di taman belakang. Ia tidak tahu kapan penderitanya ini akan berakhir. "Bajingan sialan! Dasar manusia terkutuk!" Amber tak henti merutuk dalam hati meluapkan kekesalannya pada Dave. Sementara lelaki yang ia umpat sedang mengawasinya dari balik jendela kamarnya. Seulas senyum tipis tersemat di bibirnya. Ia senang karena gadis itu terlihat sangat menderita. Salah siapa percaya pada rumor menyebalkan itu. DUAARRR...!!! Tiba-tiba saja petir menyambar dan hujan turun seketika tanpa memberi jeda. Dave terkejut. Saat ini memang memasuki musim penghujan tapi tidak biasanya hujan deras tiba-tiba turun tanpa menunjukkan tanda sebelumnya. Di bawah sana, tubuh Amber menggigil kedinginan. Rasa sakit dan dingin telah membuat tubuhnya benar-benar mati rasa. "Dave sialan! Sampai kapan aku harus berlutut di sini?" Amber berteriak dalam hujan. Tidak mungkin terdengar karena suaranya tersamarkan oleh bunyi angin dan derasnya hujan. Dari kejauhan Alfred menatap iba pada Amber. Jika tidak takut pada Dave, ia mungkin sudah berlari dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. "Pria kejam, tidak punya hati! Pergilah kau ke neraka!" teriak Amber dengan keras, lagi-lagi mengutuk Dave. Ia mendongak sambil memejamkan matanya menahan derasnya tetesan air hujan yang terasa perih menghantam wajahnya. "Siapa yang kamu suruh pergi ke neraka?" Suara bariton itu terdengar jelas. Mengalahkan suara derasnya hujan. "Dave?!" Amber membuka matanya. Ia terlonjak kaget saat melihat sosok pria yang baru saja ia kutuk. Gadis itu mengatupkan bibirnya. Sesekali matanya mengerjap tertimpa air hujan. "Dave?!" Amber ketakutan. Beberapa detik kemudian tubuhnya terasa ringan melayang dan hangat. Saat ini ia berada dalam dekapan Dave yang menggendongnya masuk ke dalam rumah. Amber tak sanggup berkata apa-apa lagi saat Dave membawanya masuk ke dalam kamar. "Air hangatnya sudah siap, Tuan." Seorang pelayan menunggu di depan pintu kamar mandi. "Bagus, bantu Nona Amber membersihkan diri." Dave masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkan tubuh Amber di tepi bathtub berisi air hangat. Amber masih terdiam. Ia masih syok dengan sikap berbeda seratus delapan puluh derajat yang ditunjukkan Dave setelah dia menindasnya sebelum ini. "Bersihkan dirimu setelah itu turun dan temani aku makan malam." Dave berkata sebelum pergi. Amber hanya mengangguk dan menatap kepergian Dave dengan bingung. Tadi adalah kali pertama melihat wajah Dave yang begitu tenang tanpa emosi. Berbeda dengan ekspresi dingin yang selalu ia tunjukkan. Apakah Dave mempunyai kepribadian ganda? "Nona, mari saya bantu melepaskan pakaian Nona." Suara pelayan yang menemani Amber mandi membuyarkan lamunan gadis itu. Amber mengalihkan pandangannya pada sang pelayan yang mengulurkan tangan hendak melucuti pakaiannya. "Tidak usah, aku bisa mandi sendiri. Tolong tunggu saja di luar." Amber menolak. Ia merasa risih kalau harus dibantu orang lain yang baru ia kenal. "Baiklah Nona. Saya akan menunggu di luar kamar. Panggil saja saya jika Nona membutuhkan sesuatu." Pelayan itu undur diri dari hadapan Amber. Amber mengerutkan dahinya. Sikap Dave benar-benar membuatnya bingung. Sebentar sadis dan sesaat kemudian berubah jadi hangat. Malah memperlakukannya seperti seorang ratu. Amber menahan gejolak di dalam hatinya. Ia masih menduga-duga sebenarnya pria seperti apa Dave sebenarnya? Apa benar dia seorang penyuka sesama jenis seperti rumor yang beredar, atau itu hanya sebatas rumor belaka. Apapun itu Amber tak bisa lagi mengelak kalau sekarang dia adalah istri sah dari Dave Oliver. "Benar-benar tidak bisa dipercaya. Sebenarnya pria seperti apa yang aku nikahi ini?" gumam Amber lirih. Amber masuk ke dalam bathtub dan merasakan sensasi hangat yang perlahan menggantikan rasa dingin di tubuhnya. Amber menghela napas dan mulai memejamkan matanya menikmati kenyamaan ini. * * Sudah satu jam Amber belum juga turun, Dave sudah tidak sabar. Raut wajah yang nampak kesal membuat Dave mengepalkan tangannya. Alfred tahu apa yang dipikirkan oleh majikannya. Dia segera menyuruh pelayan lain naik dan memanggil Amber. "Panggil Nona Amber sekarang juga!" "Tidak usah, biar aku sendiri yang memanggilnya." Dave melarang dan langsung berdiri dari duduknya. Dave berjalan menaiki tangga. Langkah kaki panjangnya melewati dua anak tangga sekaligus menandakan kalau ia sangat terburu-buru. "Nona Amber masih berada di kamar mandi Tuan." Pelayan membungkuk hormat saat Dave memasuki kamar dan langsung menuju kamar mandi. "Amber, buka pintunya!" Dave berteriak dan berusaha membuka pintu yang terkunci dari dalam. Dave mengetuk pintu dengan keras. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. "Shit, Amber kenapa kamu menguncinya?" Dave berdecak. Di wajahnya kini tersirat kekhawatirannya. Dave terus mengetuk dengan keras berulang kali. "Amber, buka pintunya aku bilang!" Dave berteriak lagi. Namun tak ada sahutan sedikitpun dari dalam sana. Dave semakin khawatir. Di mengambil jarak beberapa langkah ke belakang sebelum berhambur untuk mendobrak pintu kamar mandi tersebut. BRAK! Pintu akhirnya terbuka. Pandangan Dave langsung tertuju pada tubuh Amber yang berendam di dalam bathtub. Kepalanya terkulai lemas dengan wajah pucat dan bibir membiru. "Amber... Amber bangun!" Dave menepuk pipi gadis itu. Terlihat sekali kekhawatiran di wajah Dave. Pria itu mengangkat tubuh telanjang Amber dari dalam air. "Keluar semuanya!" Dave memberi perintah sebelum ia melangkah membawa Amber keluar dari kamar mandi. Semua pelayan pun keluar dengan cepat. Kamar telah kosong dan Dave segera membaringkan tubuh polos Amber di atas tempat tidur. Tubuh polos Amber terpampang nyata di depannya. Membuat darah pria itu berdesir. Naluri kelelakiannya terbangun dari tidur panjangnya selama ini. "Amber apa kamu sengaja ingin menggodaku?" Dave menyugar rambutnya dengan gelisah.Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di pantai, Dave dan Amber memutuskan untuk kembali. Perjalanan pulang terasa sunyi, namun hangat. Ethan tertidur di jok belakang, sementara Amber duduk di depan di samping Dave yang menyetir.Sesekali mencuri pandang ke arah istrinya itu. Amber menangkap pandangan itu dan tersenyum tipis, lalu kembali menatap keluar jendela, membiarkan angin sore mengayun rambutnya yang tergerai."Aku senang sekali Sayang. Akhirnya kita bisa bersama lagi setelah bertahun-tahun berpisah. Kita bahkan seperti sepasang pengantin baru lagi. Apa kamu juga senang, Sayang?" tanya Dave sambil melirik ke arah Amber yang tersipu. "Apa masih perlu aku jawab? Kau tidak melihat ekspresiku? Kau juga tidak menyadari kalau selama liburan ini aku selalu patuh padamu dan melakukan apapun maumu termasuk menyerahkan diriku sepenuhnya padamu Dave?" Amber balik bertanya. "Hei, jangan terlalu banyak pertanyaannya. Aku jadi pusing, Sayang." Dave terkekeh pelan. Ia menatap gemas lalu
Malam perlahan turun. Lampu-lampu di resort menyala temaram, memantulkan cahaya hangat di antara rindangnya pepohonan dan semilir angin laut. Ethan sudah tertidur pulas setelah puas bermain seharian, sementara Amber duduk di sofa balkon dengan selimut tipis menyelimuti tubuhnya. Dave datang membawa dua cangkir teh hangat dan duduk di sebelahnya. Dia tidak langsung bicara, hanya memandangi wajah Amber yang tampak lelah, namun jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. “Terima kasih,” ucap Amber lirih, menerima cangkir dari tangan Dave. Dave mengangguk, “Terima kasih karena sudah mau ikut ke sini.” Amber menatap lautan di depan mereka. “Kau tahu, aku takut. Takut kalau semua ini hanya akan mengulang luka yang sama.” Dave memutar tubuhnya sedikit agar bisa memandangi Amber lebih jelas. “Aku paham, Amber. Dan aku tak menuntut jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu… aku serius. Aku ingin memperbaiki semuanya. Demi kau dan Ethan.” Amber menggigit bibirnya, menahan gempu
Mobil berhenti di depan sebuah resort mewah di pinggir pantai. Angin laut membawa aroma asin yang menenangkan. Amber turun dari mobil dengan Ethan yang tertidur di gendongannya, sementara Dave membantu membawakan barang-barang kecil mereka."Tempat ini..." Amber bergumam begitu matanya menangkap pemandangan yang akrab.Dave tersenyum hangat, memperhatikan ekspresi wanita yang begitu dicintainya. "Masih ingat? Ini tempat kita bulan madu kita dulu."Amber menoleh padanya, matanya membulat sedikit. Tentu saja ia masih ingat. Ini adalah tempat di mana mereka berdua dulu tertawa, bercanda, dan bermimpi akan membangun keluarga kecil yang bahagia. Amber sempat berpikir tempat ini sudah terkubur bersama semua kenangan pahit mereka. Tapi kini, Dave membawanya kembali ke sini, seolah menghidupkan kembali semua kenangan itu."Aku sudah lama ingin membawamu ke sini," kata Dave pelan, mengambil tas dari tangan Amber. "Aku ingin kau ingat, betapa dulu kita pernah berjanji menjadikan tempat ini seb
Amber baru saja selesai mengantarkan pesanan ke meja pelanggan saat pintu restoran berdenting. Ia menoleh tanpa banyak pikir, dan jantungnya sontak berdegup kencang saat melihat siapa yang baru saja masuk.Dave.Dengan setelan santai namun tetap memancarkan kharisma, pria itu melangkah masuk, matanya langsung mencari keberadaan Amber. Ketika pandangan mereka bertemu, Amber seketika merasa seluruh dunia mengecil, hanya menyisakan dia dan Dave.Amber buru-buru memalingkan wajah dan pura-pura sibuk membereskan meja. Ia berharap Dave akan pergi. Tapi langkah berat Dave justru mendekat, dan sebelum Amber sempat menghindar, Dave sudah berdiri tepat di depannya."Amber," suara itu terdengar penuh emosi. "Kita perlu bicara."Beberapa karyawan dan pelanggan mulai memperhatikan mereka, bisik-bisik kecil terdengar di sekeliling. Amber merasa wajahnya mulai memanas. Ia menggeleng dengan cepat."Aku sedang bekerja, Dave. Pergilah," bisiknya ketus.Namun Dave tidak bergeming. Ia justru melakukan se
Dave menghela napas panjang di dalam mobilnya, tangannya mengepal erat di atas setir. Suasana di dalam kendaraan itu terasa sesak, seolah-olah udara tidak cukup untuk menahan beban di dadanya. Kilasan wajah Amber yang marah dan penuh luka terbayang terus di benaknya. Dave memejamkan mata, mencoba mengendalikan rasa frustrasinya.Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan Amber berjuang sendirian menghadapi tuntutan konyol dari ayahnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil Ethan dari Amber, anak yang bahkan baru saja diakuinya sebagai darah dagingnya.Telepon genggamnya bergetar di saku jaket. Dengan cepat, Dave mengangkatnya. Di layar tertera nama Julian."Dave, aku sudah mencari tahu," suara Julian terdengar tergesa. "Ayahmu sudah menyiapkan pengacara terbaik di kota ini untuk memenangkan kasus hak asuh Ethan."Dave mengumpat pelan. "Aku harus bertemu denganmu sekarang."Mereka bertemu di sebuah kafe kecil yang cukup sepi. Begitu Julian duduk, Dave langsung mengutar
Julian membuka pintu ruang kerja Dave dengan tergesa, napasnya sedikit memburu. Dave yang tengah menatap layar laptop langsung mengangkat kepala, alisnya bertaut ketika melihat ekspresi serius di wajah tangan kanannya itu. "Ada apa, Julian?" tanya Dave, nada suaranya tenang tapi tajam. Julian menelan ludah. "Dave, ini bahaya.""Ada apa?" tanya Dave dengan alis berkerut. "Tuan Martin baru saja melayangkan gugatan hak asuh anak terhadap Amber," jawab Julian dengan wajah tegang. "Apa?" Dave langsung berdiri, kursi kerjanya bergeser dengan kasar. “Aku baru saja mendapat informasi dari kenalanku di pengadilan. Gugatan itu resmi. Suratnya sudah dikirim ke rumah Nenek Rose.” Wajah Dave langsung mengeras. Matanya dipenuhi amarah yang tak terbendung. "Shit! Kenapa Papa berani-beraninya mencampuri urusanku dengan Amber dan Ethan?!” gumamnya geram."Tenang dulu Dave, kau bisa membicarakan hal ini baik-baik dengan Tuan Martin siapa tahu dia bisa menarik gugatannya kembali. Kau juga h
Nyonya Eliza menatap suaminya dengan cemas dari balik cangkir teh yang belum sempat ia seruput. Wajah Tuan Martin tampak berubah drastis setelah mendengar kabar yang baru saja ia sampaikan. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sangka bahwa Amber ternyata memiliki anak dari Dave. “Ulangi sekali lagi, Eliza. Anak itu… Ethan… dia anak Dave?” Tuan Martin bertanya dengan suara tertahan namun jelas menunjukkan kemarahan yang ditahannya. Nyonya Eliza mengangguk pelan. “Iya. Namanya Ethan, usianya sekitar dua tahun. Aku baru saja bertemu dengannya. Dia sangat mirip Dave saat masih kecil.” Tuan Martin berdiri dari kursinya dengan ekspresi tak percaya. Ia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sambil menghela napas panjang. “Kenapa baru sekarang aku tahu soal ini?! Kenapa Dave tidak mengatakan apapun padaku?!” “Karena dia juga baru tahu, Pa. Dan dia sangat emosional setelah mengetahuinya. Anak itu adalah darah dagingnya. Itu alasan Dave begitu ngotot ingin memperbaiki hubungannya den
Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl
Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah