LOGINKeheningan menyelimuti ruangan beberapa detik. Semua orang masih mencerna informasi yang baru saja mereka dengar.David yang pertama kali bereaksi. "Kalian... kalian serius?""Sangat serius Papa," jawab Rara dengan senyum tulus. "Kami sudah berpikir matang tentang ini. Kami tahu ini mungkin terdengar terburu-buru. Tapi kami yakin dengan keputusan kami."Erik bangkit dari duduknya, wajahnya masih menunjukkan keterkejutan. "Tapi kalian baru saja... maksudku, bukankah kalian baru...""Baru putus dengan pasangan kami?" Reyhan melanjutkan kalimat Erik dengan tenang. "Iya, kami tahu. Tapi justru karena itu kami merasa ini adalah waktu yang tepat. Kami berdua memahami satu sama lain. Kami berdua tahu apa yang kami lewati. Dan kami yakin bisa saling mendukung, saling menguatkan."Rania menatap anaknya Raymond, seolah mencari konfirmasi. Raymond tersenyum dan mengangguk. "Aku mendukung mereka Mama. Kalau mereka sudah yakin, kenapa tidak?"Dara juga bangkit dan berlari memeluk Rara. "Aku sangat
Sore itu Reyhan dan Rara duduk berhadapan di sebuah cafe yang tenang. Di hadapan mereka masing-masing tersaji secangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat. Suasana di antara mereka terasa lebih ringan dibanding beberapa hari yang lalu, meski masih ada sedikit canggung yang menyelimuti.Reyhan menatap Rara dengan tatapan serius. Tangannya terulur di atas meja, menggenggam tangan Rara dengan lembut namun tegas."Rara, aku sudah berpikir panjang tentang usulanku kemarin," ucap Reyhan membuka pembicaraan. "Dan aku masih tetap pada pendirianku. Aku pikir kita bisa mencoba untuk saling membuka hati."Rara menatap genggaman tangan Reyhan, lalu mengangkat kepalanya menatap mata pria di hadapannya. "Aku juga sudah berpikir Rey. Dan sejujurnya, aku pikir ini bisa jadi solusi yang baik untuk kita berdua."Senyum tipis muncul di wajah Reyhan. "Jadi kamu setuju?""Iya," Rara mengangguk pelan. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Kita berdua masih mencintai orang lain. Tapi seperti yang kamu bilang,
Sore itu, matahari perlahan turun di balik puncak gunung yang menjulang, menciptakan siluet indah yang menenangkan jiwa. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma segar pegunungan yang menyegarkan.Dara berdiri di balkon villa yang luas, kedua tangannya bertumpu pada pagar kayu yang kokoh. Matanya terpaku pada pemandangan menakjubkan di hadapannya. Ini pertama kalinya dia benar-benar menikmati kebersamaan dengan Raymond tanpa harus bersembunyi atau merasa bersalah."Indah sekali," gumam Dara dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.Tiba-tiba dia merasakan sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Tubuh hangat Raymond menempel di punggungnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat."Tidak seindah kamu," bisik Raymond di telinga Dara, suaranya dalam dan serak, membuat bulu kuduk Dara merinding.Dara tersenyum, pipinya merona merah. "Kamu ini gombal sekali."Raymond mengendus lembut jenjang leher Dara, menghirup aroma vanilla yang selalu membuatnya mabuk kep
Pagi itu matahari bersinar cerah, menerangi kota dengan cahaya keemasan yang hangat. Udara terasa segar, membawa harapan baru setelah badai emosional yang melanda malam sebelumnya.Dara baru saja selesai sarapan ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raymond muncul di layar."Aku sudah di depan rumahmu. Pakai baju yang nyaman. Kita akan pergi."Dara mengerutkan kening membaca pesan itu. Pergi kemana? Raymond bahkan tidak memberitahunya sebelumnya. Tapi entah kenapa, dadanya terasa hangat. Ini pertama kalinya sejak semua drama kemarin mereka bisa bersikap terbuka tanpa perlu bersembunyi lagi.Dengan cepat, Dara mengganti pakaiannya dengan dress santai berwarna putih dan cardigan krem. Rambutnya diikat setengah, membiarkan sebagian helaian rambut panjangnya jatuh di punggung. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, dia mengambil tas kecil dan bergegas keluar.Raymond berdiri di samping mobilnya, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang dilipat sampai siku dan
Rara terdiam. Dadanya masih terasa sakit mendengar pengakuan itu. Tapi setidaknya sekarang dia mengerti. Dia mengerti kenapa Raymond selalu terlihat tidak bahagia. Kenapa tatapannya selalu kosong ketika menatapnya."Kamu bodoh Dara," ucap Rara tiba-tiba, membuat Dara tersentak. "Sangat bodoh.""Rara...""Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" tanya Rara dengan nada frustasi. Tapi tidak ada kemarahan di sana. Hanya kekecewaan. "Kenapa kamu harus berkorban seperti itu? Kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri?"Dara tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis dalam diam."Kamu pikir dengan berkorban seperti itu kamu jadi pahlawan?" Rara melanjutkan. "Tapi lihat sekarang. Kamu sakit. Aku sakit. Raymond sakit. Reyhan juga sakit. Semua orang sakit karena kamu memilih untuk tidak jujur!""Maafkan aku," bisik Dara dengan suara hampir tidak terdengar.Rara menggeleng. "Aku tidak butuh permintaan maafmu lagi. Yang aku butuh adalah kamu belajar dari kesalahan ini. Belajar untuk jujur. Belajar u
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Reyhan dan Rara kembali ke rumah Erik. Lampu-lampu di teras menyala terang, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Dari luar, mereka bisa melihat bayangan orang-orang yang masih berkumpul di ruang tamu melalui jendela besar.Rara berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya gemetar menyentuh kenop pintu. Dadanya terasa sesak membayangkan harus berhadapan dengan semua orang di dalam sana."Kamu tidak sendiri," bisik Reyhan sambil menyentuh pundak Rara dengan lembut. "Aku ada disini bersamamu."Rara menoleh dan tersenyum tipis pada Reyhan. Senyum yang penuh rasa terima kasih. Lalu dengan nafas yang dalam, dia membuka pintu dan melangkah masuk.Begitu pintu terbuka, semua mata langsung tertuju pada mereka. Suasana di ruang tamu masih terasa berat meski sudah berlalu beberapa jam. Laura masih duduk di samping Dara yang wajahnya bengkak karena menangis. Raymond berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Sementara orang tua mereka duduk dengan wa







