LOGINSore itu, matahari perlahan turun di balik puncak gunung yang menjulang, menciptakan siluet indah yang menenangkan jiwa. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma segar pegunungan yang menyegarkan.Dara berdiri di balkon villa yang luas, kedua tangannya bertumpu pada pagar kayu yang kokoh. Matanya terpaku pada pemandangan menakjubkan di hadapannya. Ini pertama kalinya dia benar-benar menikmati kebersamaan dengan Raymond tanpa harus bersembunyi atau merasa bersalah."Indah sekali," gumam Dara dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.Tiba-tiba dia merasakan sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Tubuh hangat Raymond menempel di punggungnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat."Tidak seindah kamu," bisik Raymond di telinga Dara, suaranya dalam dan serak, membuat bulu kuduk Dara merinding.Dara tersenyum, pipinya merona merah. "Kamu ini gombal sekali."Raymond mengendus lembut jenjang leher Dara, menghirup aroma vanilla yang selalu membuatnya mabuk kep
Pagi itu matahari bersinar cerah, menerangi kota dengan cahaya keemasan yang hangat. Udara terasa segar, membawa harapan baru setelah badai emosional yang melanda malam sebelumnya.Dara baru saja selesai sarapan ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raymond muncul di layar."Aku sudah di depan rumahmu. Pakai baju yang nyaman. Kita akan pergi."Dara mengerutkan kening membaca pesan itu. Pergi kemana? Raymond bahkan tidak memberitahunya sebelumnya. Tapi entah kenapa, dadanya terasa hangat. Ini pertama kalinya sejak semua drama kemarin mereka bisa bersikap terbuka tanpa perlu bersembunyi lagi.Dengan cepat, Dara mengganti pakaiannya dengan dress santai berwarna putih dan cardigan krem. Rambutnya diikat setengah, membiarkan sebagian helaian rambut panjangnya jatuh di punggung. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, dia mengambil tas kecil dan bergegas keluar.Raymond berdiri di samping mobilnya, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang dilipat sampai siku dan
Rara terdiam. Dadanya masih terasa sakit mendengar pengakuan itu. Tapi setidaknya sekarang dia mengerti. Dia mengerti kenapa Raymond selalu terlihat tidak bahagia. Kenapa tatapannya selalu kosong ketika menatapnya."Kamu bodoh Dara," ucap Rara tiba-tiba, membuat Dara tersentak. "Sangat bodoh.""Rara...""Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" tanya Rara dengan nada frustasi. Tapi tidak ada kemarahan di sana. Hanya kekecewaan. "Kenapa kamu harus berkorban seperti itu? Kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri?"Dara tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis dalam diam."Kamu pikir dengan berkorban seperti itu kamu jadi pahlawan?" Rara melanjutkan. "Tapi lihat sekarang. Kamu sakit. Aku sakit. Raymond sakit. Reyhan juga sakit. Semua orang sakit karena kamu memilih untuk tidak jujur!""Maafkan aku," bisik Dara dengan suara hampir tidak terdengar.Rara menggeleng. "Aku tidak butuh permintaan maafmu lagi. Yang aku butuh adalah kamu belajar dari kesalahan ini. Belajar untuk jujur. Belajar u
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Reyhan dan Rara kembali ke rumah Erik. Lampu-lampu di teras menyala terang, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Dari luar, mereka bisa melihat bayangan orang-orang yang masih berkumpul di ruang tamu melalui jendela besar.Rara berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya gemetar menyentuh kenop pintu. Dadanya terasa sesak membayangkan harus berhadapan dengan semua orang di dalam sana."Kamu tidak sendiri," bisik Reyhan sambil menyentuh pundak Rara dengan lembut. "Aku ada disini bersamamu."Rara menoleh dan tersenyum tipis pada Reyhan. Senyum yang penuh rasa terima kasih. Lalu dengan nafas yang dalam, dia membuka pintu dan melangkah masuk.Begitu pintu terbuka, semua mata langsung tertuju pada mereka. Suasana di ruang tamu masih terasa berat meski sudah berlalu beberapa jam. Laura masih duduk di samping Dara yang wajahnya bengkak karena menangis. Raymond berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Sementara orang tua mereka duduk dengan wa
Raymond bergegas menghampiri Dara yang masih terduduk lemas di lantai. Tangannya terulur mencoba membantu Dara berdiri, tapi wanita itu justru menggeleng keras sambil menangis."Jangan sentuh aku," bisik Dara dengan suara parau. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Jangan dekati aku Raymond.""Dara kumohon," Raymond berlutut di hadapan Dara. Tangannya ingin menyentuh pipi basah itu tapi ditepis dengan kasar. "Dengarkan aku dulu.""Pergi!" teriak Dara frustasi. Matanya menatap Raymond dengan tatapan penuh luka. "Pergi kejar Rara! Dia lebih membutuhkanmu sekarang. Bukan aku!"Raymond terdiam. Dadanya sesak melihat Dara dalam kondisi seperti ini. Tapi sebagian hatinya juga khawatir pada Rara yang pergi dengan air mata."Dara...""Kumohon Raymond," Dara menatap mata Raymond dengan tatapan memohon. "Kejar Rara. Pastikan dia baik-baik saja. Aku yang sudah merusak segalanya. Setidaknya pastikan dia tidak melakukan hal yang bodoh."Sebelum Raymond sempat menjawab, Reyhan
Angga yang sejak tadi diam akhirnya bangkit. Wajahnya memerah, matanya menatap Raymond dengan tatapan tidak percaya."Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Angga dengan nada dingin. "Kamu tahu apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga kita kalau kamu membatalkan pertunangan begitu saja?""Aku tahu Papa," Raymond mengangguk. "Tapi aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Itu tidak adil untuk Rara. Dan juga tidak adil untukku."Erik yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama akhirnya angkat bicara. "Jadi selama ini kamu dan Dara..." dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi semua orang sudah mengerti maksudnya.Dara yang mendengar semua itu hanya bisa menangis dalam diam. Tubuhnya gemetar hebat. Ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Semua yang dia takutkan terjadi.Dia melirik ke arah Rara yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada air mata di wajah sahabatnya itu. Hanya keheningan yang mencekam.Dengan langkah gontai, Dara menghampiri Rara dan berlutut







