Masuk
Rani terkejut bangun ketika pintu rumahnya di gedor dengan kasar. Samar, suaminya berteriak dari luar memanggil namanya.
Sambil mengerjapkan matanya yang kantuk, Rani menendang selimut lalu bangun dan berjalan dengan tergesa sambil menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul tiga pagi. Ia menghela nafasnya dengan berat. Entah sejak kapan Rani mulai malas menegur Bima yang selalu pulang malam. Setiap kali Rani bicara, Bima pasti akan menjawabnya dengan marah-marah seolah dirinya yang bersalah. "Buka pintunya, Sialan!" Bima mengamuk dari luar membuat Rani makin mengejar langkahnya. Ia menjadi terburu-buru hingga tak sengaja tersandung karpet yang terlipat dan menabrak ujung meja kayu. Rani meringis kesakitan namun suaranya teredam pukulan Bima pada pintu yang makin brutal seperti akan membelah pintu rumah mereka. Sambil menahan sakit, Rani terseok menuju pintu dan membukanya namun sebelum pintu terbuka lebar, Bima langsung menyentaknya dan mendorong pintu dengan kuat hingga Rani terpental. Ia kembali meringis sakit namun Bima tampak tidak peduli. "Lama sekali kamu membukanya!" Bima terdengar sangat marah membuat dada Rani berdebar ketakutan. "Ma—maaf. Aku tersandung tadi ...," "Jangan bohong kamu, sialan! Kamu sengaja supaya aku terlihat bodoh, kan!?" Dengan nada tinggi, Bima memukul pintu hingga bergetar, mengejutkan istrinya. "Sttt, jangan keras-keras, Kak." Rani menegur pelan, berusaha lembut agar Bima tidak tersinggung. Pasalnya, sudah beberapa kali Rani ditegur tetangganya perkara suara tinggi Bima setiap kali ia mengamuk. Rasanya, hanya rumah Rani yang paling berisik padahal mereka hanya tinggal berdua. "Jangan suruh aku diam, dasar istri gak berguna! Berani-beraninya mengaturku!" Bima kembali berteriak, tidak terima dengan ucapan Rani. "Aku kan cuma ngasih tau." Rani mengecilkan suaranya namun Bima menanggapinya dengan emosi. Dengan marah, Bima meraih guci kecil diatas meja dan membantingnya hingga hancur ke lantai sambil menginjak-injaknya dan berteriak pada Rani. Rani melompat menelan suaranya. Ia memandang Bima dengan horor. Kepalanya memutar kembali masa lalunya bersama keluarganya. Ayahnya memiliki sifat serupa seperti Bima yang kasar. Dalam level emosi seperti ini, ibunya sudah pasti dipukul oleh ayahnya. Bagi Rani, level Bima masih dalam batas wajar. Dibanding memukul Rani, Bima lebih pilih membanting benda disekitarnya sebagai bentuk pelampiasan. "Beruntung kamu nikah denganku! Kalau dengan orang lain, sudah habis kamu dihajar!" kata Bima keras sambil menunjuk bola mata Rani sambil melotot. Bima langsung pergi meninggalkan Rani yang terdiam menuju kamar Melihat kekacauan di sekelilingnya, Rani tersadar akan kekosongan dalam rumahnya. Sifat Bima yang pemarah dan suka menghancurkan barang membuat rumah ini tampak luas dengan sofa usang dan meja kayu yang kakinya di perbaiki oleh Rani. Meskipun kayu tambalannya berantakan, meja itu selalu kokoh menjadi penyangga seperti Rani dalam rumah ini. Dengan pilu, ia memandang guci yang ia beli dengan uang menjadi tukang cuci piring setiap tetangga dan kenalannya ada acara. Sebuah profesi yang juga dijalani ibunya. Diam-diam Rani mengambil pekerjaan itu supaya bisa membelanjakan keperluannya dan Bima. Jika ibunya tahu, apakah ibunya akan marah? Sebab Rani dikuliahkan ibunya dengan susah payah agar Rani tak perlu repot mencari uang sepertinya. Dalam hati, Rani diam-diam memohon ampun pada sang ibu karena kala menikah dengan Bima, ia menyerah pada karirnya. Rani menghela nafasnya sambil memungut satu persatu pecahan dari guci tersebut. Rasanya seperti sedang memungut hatinya yang hancur. Jika ia mengeluh, kata-kata ibunya selalu bergetar di kepalanya. "Suami seperti itu karena kekurangan kita. Jangan mengeluh. Sabar saja dan doakan, dia pasti akan berubah. Sudah tugas istri untuk memaklumi dan memahami suami." Benar kata ibunya. Inilah takdir seorang istri. Rani merasakan hatinya berkedut. Setitik air mata jatuh ke lantai. * “Kak Bima, kayaknya ada orang di depan,” suara Rani terdengar dari dapur, di sela gemericik air saat ia membersihkan udang segar. Bima tetap terpaku pada layar ponselnya. Ibu jarinya lincah menekan tombol game sambil menyeruput kopi. “Kamu aja yang liat. Aku lagi sibuk,” sahutnya datar tanpa mengangkat kepala sedikit pun. Rani menarik napas berat, menyeka tangannya tergesa, lalu meletakkan baskom ke wastafel. Degupan jantungnya perlahan meningkat saat ketukan pintu terdengar. “Sebentar …,” gumamnya, menyeret langkah menuju ruang depan. Begitu pintu terbuka, udara seolah mengeras. Di hadapannya berdiri sosok perempuan berwajah dingin, dengan sorot mata tajam yang membuat bulu kuduknya meremang. “Halo, Bu …,” sapanya canggung. Jantungnya berdegup tak beraturan setiap kali menatap perempuan itu. Dina—ibu Bima mengamati Rani dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menilai barang murah di pasar. “Kenapa nggak ngabarin kalau mau datang, Bu?” tanya Rani, mencoba terdengar ramah meski tenggorokannya kering. “Buat apa?” Dina mendengus, melangkah masuk tanpa izin. “Ini rumah anakku. Aku nggak perlu minta izin sama kamu.” Kata-katanya menghantam seperti cambuk. Rani menahan sesak di dadanya. Dina segera melesat ke dapur, melihat putranya yang sedang santai di sana. Tak memperdulikan Rani. Ia kemudian mengobrol dengan putranya dan bertindak seolah-olah Rani tidak ada disana namun menerima pelayanan Rani seolah keberadaannya hanya sekedar pelayan rumah tangga. Dina memperhatikan Rani dari ujung kaki hingga rambut. Raut kesalnya tak dapat ia sembunyikan. Mata Dina lantas menangkap lebam di lengan dan kaki Rani. "Kenapa lengan dan kakimu biru?" tanya Dina. Rani terkejut kemudian melirik lengan dan kakinya. Daster tanpa lengannya menunjukkan bagian tubuhnya yang membiru karena kejadian semalam. Gerak tubuhnya berusaha menutupi. "Jatuh semalam," jawabnya lirih menyembunyikan kebenaran. "Sengaja ya, kamu pakai baju begitu? Biar ngadu ke orang-orang kalau badan kamu biru? Begitu?" kata Dina sambil menyesap kopinya menolak jawaban Rani. Rani yang terkejut langsung menggeleng. "E—enggak kok, Bu ...," Melihat wajah gugup Rani, Dina tampak meremehkannya. "Terus apa? Buat godain orang?" Segera Rani menyesal memakai dasternya ini. Ia tak terpikirkan sama sekali pemikiran yang diutarakan ibu mertuanya. "Bu—bukan, Bu! Saya pakai supaya bisa cepet-cepet kerja." Rani membantah walaupun ia tahu itu sia-sia. Tanpa banyak bicara, ia meraih sweater di jemuran dan memakaikannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan lagi. "Kamu sengaja, ya, pakai baju begitu buat pamer ke orang kalau kamu dipukul Bima?" Dina menolak melupakan pembicaraanya dan kembali menyudutkan Rani. "Kalau gitu sih, emang pantes dipukul. Aku gak ngapa-ngapain malah caper. Dasar istri gak bener!" Bima menimpali, setuju dengan kata-kata ibunya meski matanya menempel pada layar ponsel. Rani diam saja, tahu betul apapun yang ia katakan akan sia-sia. Dina menggelengkan kepalanya, memandang Rani dengan penuh penilaian. "Kamu udah cek ke dokter belum kandunganmu? Masa lima tahun gak hamil-hamil?" Rani terdiam sebentar. Tampaknya, niat hati Dina yang sebenarnya untuk mengunjungi Bima sedang ia utarakan. Lagi-lagi, topik melelahkan ini yang dibahas. "Masih nunggu," "Nunggu apaan selama lima tahun? Kamu ini bisa punya anak gak? Lama-lama kan saya jadi mikir kamu ini mandul!" Dina berteriak marah. Sepertinya, menunggu selama ini sudah mencapai batas sabar semua orang. Rani juga tentu sudah tidak sabar lagi ingin punya anak. Namun, apalah daya dirinya? Ia sudah berusaha dan hampir putus harapan terutama ketika orang-orang terus menggunjingkannya. Rani memandang Bima, berharap ia mau membantu Rani menjawab sebab Bima lah orang yang menolak pergi ke dokter untuk menunggu hasil secara alami. Bima jelas tidak tertarik untuk menolong Rani. Tiba-tiba saja Bima berdiri dengan pandangan horor pada ponselnya. "Sialan!" kata Bima, mengejutkan semua orang.“Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun
Rani memandang Fabio sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan. Napasnya terasa sedikit berat, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.“Aku sudah menceritakan soal kehamilanku pada Bima dan mertuaku tadi,” katanya akhirnya, menatap Fabio dengan serius.Jantung Rani berdebar kencang. Ia menunggu reaksi laki-laki itu—mencari tanda, sekecil apa pun, tentang apa yang sebenarnya Fabio rasakan.“Benarkah? Akhirnya!” Fabio tersenyum lebar, tampak benar-benar bahagia. Ia menggenggam tangan Rani, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku senang kamu mengatakannya. Aku bersyukur kamu tidak menahan semuanya sendirian dan membuat dirimu kewalahan menyembunyikan kehamilan ini.”Rani sedikit tertegun melihat reaksi itu. Hangat. Tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan seperti yang biasa ia terima dari Bima. Entah kenapa, perasaan lega langsung memenuhi dadanya.“Terima kasih banyak,” ucapnya tulus, menatap Fabio dengan mata yang sedikit berka
Rani segera membuka pesan yang ia terima. Nama pengirimnya anonim, membuatnya tak yakin siapa orang iseng yang mengirim pesan itu.Begitu melihat isinya, tangan Rani langsung gemetar. Matanya seolah tak percaya hingga ia harus membacanya dua kali.Kumpulan foto kedekatannya dengan Fabio—foto terbaru. Termasuk tespek yang ia buang dan momen ketika Fabio menunjukkan tespek itu padanya.“Tidak mungkin .…” Rani lemas. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing, dan rasa mual menyerang.Bagaimana mungkin foto-foto ini dikirimkan tepat setelah ia membagikan kabar bahagia pada suami dan mertuanya?Tanpa pikir panjang, Rani segera meneruskan pesan itu pada Fabio. Tak butuh waktu lama hingga pesan tersebut terbaca. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar—Fabio langsung menelepon.“Halo .…” suara Rani terdengar lemah.“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku akan segera ke sana!” suara Fabio terdengar panik dan terburu-buru.“Aku di rumah. Aku …, baik-baik saja, Kak,” jawab Rani, berusaha terd
“Kamu beneran hamil?!” Bima tampak tak percaya, namun ekspresinya perlahan berubah dari kaget menjadi bahagia.Rani menelan ludah. Ia hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata. Ada rasa takut yang sempat menggelayut—seolah kabar ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk.Mata Rani langsung melirik ke arah ibu mertuanya yang tampak diam seribu bahasa. Wanita itu terlihat sulit ditebak. Meski jelas terkejut, ada sesuatu yang tetap terasa dingin dari sorot matanya.Mungkinkah kabar ini benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang?“Ibu! Rani akhirnya hamil!” seru Bima penuh semangat.Rani sendiri ikut terkejut dengan reaksi Bima. Kalau diingat-ingat, selama ini Bima selalu menjadi orang yang membelanya setiap kali ibunya menyinggung soal anak.Rani kembali membaca raut wajah ibu mertuanya yang misterius. Entah mengapa, wanita itu tetap tak berkata apa-apa. Padahal, selama ini ia selalu menuntut cucu dan kerap menyulitkan Rani karena hal itu.Sekarang ketika Rani benar-benar mengandung, aka
Rani merasakan cahaya lampu yang menusuk matanya ketika perlahan terbuka.Silau.Ia menyipit, berusaha menyesuaikan penglihatannya sambil mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya lemas. Perlahan, kesadarannya kembali. Rani kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia menoleh pelan ke kanan dan kiri, mendapati seorang dokter, Bima, dan ibu mertuanya duduk mengelilinginya.“Hati-hati,” ujar dokter dengan lembut sambil membantu Rani untuk duduk. Tangannya menopang bahu Rani agar tidak kembali terjatuh.Rani mengernyit pelan, menahan pusing yang masih tersisa.“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung setelah berhasil duduk bersandar.“Kamu pingsan,” jawab Bima cepat. “Aku panggil dokter karena kebetulan dia kenalanku,” lanjutnya, seolah tidak memberi ruang bagi Rani untuk mencerna keadaan.Rani menoleh ke arah ibu mertuanya.Tatapan Bu Dina tampak kesal, jelas tidak senang dengan situasi itu. Rani langsung merasa tidak enak. Ia pasti sudah merep
Bunyi benda-benda di meja jatuh terdengar keras.Bima tiba-tiba melempar tutup panci yang digunakan untuk menutup jagung dan ubi rebus di meja. Tutup panci itu melayang dan menghantam dinding dengan suara nyaring sebelum jatuh ke lantai.“Kenapa kalau aku pilih Rani sebagai istri?!” teriak Bima dengan suara menggelegar.Teriakan itu membuat ibunya langsung menegang.“Bima …?” Bu Dina terkejut, matanya melotot melihat reaksi putranya yang tiba-tiba meledak seperti itu.“Emang kenapa!?” Bima balas berteriak. “Aku tahu aku bukan yang paling pintar dan berhasil kayak saudara-saudaraku yang lain! Kalau ibu gak suka aku, gak usah datang!”Amarah Bima meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan.Seperti biasa, Bima paling tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahan direndahkan, apalagi dibandingkan dengan saudara-saudaranya.Dulu, justru sifat inilah yang membuat Rani jatuh cinta pada Bima. Bima pernah cukup berani—bahkan cukup gila—untuk membelanya di depan orang lain.Namun seiring wak
"Halo,” sapa Rani pelan setelah mengangkat telepon. “Kamu sedang apa?” tanya Fabio segera setelah itu. Suaranya terdengar lembut, seperti biasa, selalu saja tenang dan menenangkan. Rani melirik sekilas ke arah jam di dinding. Masih siang. Kenapa dia menelepon sekarang? “Aku lagi istirahat sebentar
Rani merasa kepalanya semakin pusing, sementara rasa ingin muntah kembali menendang perutnya tanpa ampun. Ia tak sanggup menahannya lagi dan akhirnya bersandar di wastafel, muntah-muntah sekali lagi, hanya mengeluarkan cairan dan ludah yang justru membuat tenggorokannya perih dan pikirannya semakin
Ketika Rani membuka pintu, tampak seorang perempuan berdiri dengan canggung di hadapannya, masih mengenakan helm yang belum dilepas.“Rumah Pak Bima?” tanya wanita itu hati-hati, suaranya terdengar ragu.Rani mengangguk pelan sambil memandangnya heran. “Iya. Ada perlu apa?” tanyanya sopan.“Oh, Bu,
“Loh, Mira? Kok kamu di sini?” Rani terkejut melihat Mira muncul dari balik mobil setelah wanita itu menurunkan kaca dan menyapa.“Pak Fabio menyuruh saya untuk menjemput ibu di sini,” jawab Mira dengan ekspresi datar, nyaris tanpa perubahan raut wajah.Ibunya memandang Mira dengan heran. Sejak tad







