LOGINRani terkejut mematung kala wajah Fabio muncul begitu tiba-tiba dari balik tirai, hanya beberapa inci dari wajahnya saat ia hendak melangkah keluar menuju ruang tamu.
“Kakak!” serunya spontan, tubuhnya sedikit melompat mundur karena kaget hampir menabrak Fabio. Fabio yang tak kalah terkejut segera menyingkir satu langkah ke belakang. Ia menatap Rani dengan wajah yang lembut, suaranya tenang seperti biasa. “Oh, maaf! Aku mau pamit pulang,” ujarnya sopan, seolah khawatir telah membuat Rani terkejut setengah mati. Rani berdiri canggung, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. Ia sempat melirik sekilas ke arah ruang tamu—ke arah Bima yang duduk sambil memperhatikan mereka. “Tidak apa-apa, Kak,” ucapnya cepat, senyum tipis terukir di bibirnya. “Maaf juga, aku yang nggak lihat tadi.” Fabio tersenyum kecil, senyum yang menenangkan sekaligus menimbulkan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dalam dada Rani. “Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Nanti, datang ya ke acara syukuran rumahku. Bareng Bima.” Suaranya terdengar ramah, tapi di balik nada santainya ada kehangatan yang menimbulkan debar aneh di dada Rani. Ia hanya sempat mengangguk kecil sambil tersenyum. Fabio berbalik, berjalan perlahan ke arah pintu. Dari ruang tamu, Bima bangkit dengan senyum lebar yang tampak sedikit dibuat-buat, lalu menghampiri Fabio. Ia merangkul bahu sahabat lamanya itu sambil tertawa kecil, menuntunnya keluar ke emperan rumah dengan sikap penuh keakraban. Rani diam di tempat, menatap punggung suaminya yang semakin menjauh bersama Fabio. Perlahan, ia melangkah menuju kamar depan. Dari balik tirai jendela, ia mengintip—sekadar ingin memastikan mereka sudah benar-benar pergi. Di luar, lampu teras yang temaram memantulkan bayangan dua sosok pria yang sedang berpamitan hangat. Gerak-gerik mereka terlihat akrab, tapi entah mengapa dada Rani terasa sedikit sesak melihatnya. Saat itu, ekor mata Fabio tampak menangkap sesuatu. Ia menoleh pelan, dan pandangannya langsung bertemu dengan mata Rani di balik jendela. Refleks, Rani terlonjak. Ia buru-buru menarik diri, menutup tirai dengan panik. Pipi dan telinganya terasa panas karena malu. Tertangkap sedang mengintip adalah hal terakhir yang ia harapkan terjadi hari itu. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri. Namun ketika akhirnya memberanikan diri mengintip kembali, Fabio sudah tak lagi terlihat di halaman. Hanya lampu teras yang berayun pelan tertiup angin, dan suara langkah Bima yang menjauh. Ada keheningan yang menggantung di udara. Dan di wajah Rani, tersisa sebersit rasa kecewa yang ia sendiri tak mengerti asalnya. * Selepas itu, Bima masuk kembali ke dalam rumah dan langsung mencari istrinya. Menyadari Bima yang mendekat, Rani segera pura-pura sibuk di kamar dan bertingkah seolah sedang beres-beres untuk mendukung alibinya. "Kak Fabio udah pulang?" tanya Rani, berusaha menutupi kecanggungannya semula. "Hmm." Bima berdeham mengiyakan. Ia kemudian duduk di atas kasur sambil menonton istrinya. "Aku gak tau kamu kenal dekat dengan Fabio." kata Bima dengan tajam. Rani bisa merasakan malapetaka yang sedang datang. Sebisa mungkin, ia ingin menangkal badai yang sedang mencari celah. "Iya. Dulu dosenku sering minta kami untuk satu proyek bareng." kata Rani hati-hati meskipun dadanya bergetar. "Sedekat apa?" tanya Bima, terang-terangan menginterogasi. "Sedekat mengerjakan tugas bersama." jawab Rani hati-hati sambil terus terlihat sibuk. Ia bisa merasakan ketakutan menjalar di dadanya. "Kamu tahu, dulu ada legenda cintanya Fabio yang terkenal di sirkelku," Cerita Bima dengan nada yang tersirat. Ia memandang istrinya dengan penuh selidik. Rani berusaha tidak menanggapi dan terus sibuk dengan urusannya. Dadanya berdebar, merasakan kemungkinan terburuk. "Katanya, ada anak fakultasnya yang pintar dan sampai sekarang menjadi satu-satunya perempuan yang memenangkan hatinya." Bima berdiri, menarik istrinya ke dalam pelukan yang terasa menusuk daripadanya nyaman. Tangannya memeluk erat sembari menyenderkan kepalanya di pundak Rani. "Aku penasaran, apa kamu tahu siapa perempuan itu?" Bima mengakhiri dengan nada sedikit mengancam. Rani menelan ludahnya. Ia bisa merasakan tubuhnya panas dingin karena ketakutan. Baru hari ini Rani tahu ada rumor semacam itu yang beredar bahkan hingga pertemanan Bima. Rani kemudian menggeleng, merasakan pusing di kepalanya. "Aku tidak tahu." Pelukan Bima mengerat. Kini ia mencium pipi kanan perempuan itu dengan lembut. Rani bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. "Bukannya kamu dekat dengan Fabio?" Bima kembali bertanya sambil menyampirkan rambut dari wajah Rani. "Tidak sama sekali. Aku tidak tahu apapun." Rani menjawab dengan tegas meskipun ia merasa pembuluh darahnya berbalik arah. Bima terdiam sebentar dalam pelukannya, nampak jelas sedang berpikir kemudian melonggarkan pelukannya. "Baiklah kalau begitu. Sifat murahanmu tadi membuatku mengira kamulah wanita itu." Bima langsung berubah dingin. Rani memandang sorot Bima dari cermin yang menatapnya dengan kasar. Rani mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari Bima yang mungkin saja akan meledak. "Ingatlah Rani. Kamu adalah istriku. Jangan coba-coba membohongiku soal apapun. Jika aku dapati kamu salah, kamu akan sangat menyesal." ancam Bima, membalik tubuh Rani untuk menatapnya. "Dan tolong jangan bicara dengan tamuku lagi! Sungguh tidak nyaman melihatmu berbicara dengan tamuku. Kamu tampak sangat murahan! Apa kamu ingin membuatku malu dengan sifatmu yang gampangan?" Semakin lama, nada Bima semakin meninggi, menguji hati Rani yang sudah goyah. "Aku tidak melakukan apapun yang salah." Rani berusaha membela diri. Rasanya, tuduhan Bima sudah sangat berlebihan. Melihat Rani membalas perkataannya, Bima meraih apapun benda yang bisa ia genggam untuk ia banting ke tanah. Rani terkejut mendengar Bima membanting botol minyak yang terbuat dari kaca. "Berani kamu membantahku?!" Bima berteriak emosi. Rani hanya diam, menolak mengambil langkah lebih dan berakhir dalam pertengkaran. "Jangan coba-coba menunjukkan sifat pelacurmu pada teman-temanku! Jangan coba-coba mempermalukanku dengan menjual dirimu yang tidak berarti itu! Kamu hanya sampah yang aku pungut dan kuperbaiki! Sadarilah tempatmu, sialan!" Bima lanjut memaki. Ia kemudian menendang lemari kayu mereka hingga lemari itu lubang untuk melepas emosinya. Rani mundur selangkah, merasakan tubuhnya gemetar karena ketakutan. Ia sudah terbiasa menghadapi pria pemarah seperti Bima namun tubuhnya masih saja gemetar setiap itu semua terjadi. Bima kemudian melangkah menuju pintu kamar untuk pergi. Sebelum pergi, ia berhenti dan membalik tubuhnya setengah untuk melihat Rani. "Ah, benar. Ada yang ingin kukatakan padamu.” Rani memandang Bima dengan seksama, memperhatikannya dengan harapan laki-laki itu segera pergi. "Fabio sudah menikah. Tolong jangan bersikap menjijikan dengan menggodanya. Gayamu tadi sungguh memalukan!" lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Rani. Rani tampak terpukul mendengar kata-kata Bima yang terus menghina dan menginjak harga dirinya. Hatinya sangat sakit. Namun, lebih sakit lagi karena Fabio ternyata sudah menikah. Rani menggelengkan kepala memaki dirinya. Sungguh benar kata-kata Bima. Rani sangat tidak tahu malu.Rani merasa kepalanya semakin pusing, sementara rasa ingin muntah kembali menendang perutnya tanpa ampun. Ia tak sanggup menahannya lagi dan akhirnya bersandar di wastafel, muntah-muntah sekali lagi, hanya mengeluarkan cairan dan ludah yang justru membuat tenggorokannya perih dan pikirannya semakin kacau.“Minum dulu, Rani,” kata sang ibu sambil menyodorkan segelas air hangat. Wanita itu lalu memijat punggung Rani perlahan, berusaha menenangkan putrinya dan membantu meredakan rasa pusing yang menyerang.“Terima kasih banyak, Bu,” ucap Rani lirih sambil tersenyum tipis. Ia menerima gelas itu dan meneguk air hangat sedikit demi sedikit.“Kamu sudah cek kehamilan kamu?” tanya ibu Rani tiba-tiba, tepat ketika Rani masih menelan air minumnya.Pertanyaan itu membuat Rani hampir memuntahkan kembali air yang baru saja diminumnya. “Ibu…” katanya lemah, napasnya tertahan.“Kenapa? Kamu belum tes?” tanya wanita itu lagi, seolah tak terlalu memedulikan keterkejutan di wajah putrinya.Rani terdiam
Ketika Rani membuka pintu, tampak seorang perempuan berdiri dengan canggung di hadapannya, masih mengenakan helm yang belum dilepas.“Rumah Pak Bima?” tanya wanita itu hati-hati, suaranya terdengar ragu.Rani mengangguk pelan sambil memandangnya heran. “Iya. Ada perlu apa?” tanyanya sopan.“Oh, Bu, ini kami mau ngasih undangan,” kata perempuan itu sambil menyodorkan sebuah amplop undangan ke arah Rani.Rani menerimanya dan membuka sekilas. Ternyata itu undangan pernikahan kerabat Bima. “Oh, iya. Terima kasih banyak, ya,” ucap Rani setelah membacanya singkat.“Itu saja, Bu. Saya pamit dulu. Masih mau nganterin ke yang lain lagi,” kata perempuan itu sopan sebelum berbalik dan pergi.Rani menutup pintu perlahan. Dari dalam rumah, ibunya sudah berdiri mendekat, jelas penasaran dengan tamu yang datang.“Siapa, Nak?” tanya sang ibu heran.Rani menoleh, tersenyum kecil, lalu kembali ke ruang makan sambil membawa undangan itu. “Orang,” jawabnya ringan. “Nganterin undangan doang ternyata,” lan
“Loh, Mira? Kok kamu di sini?” Rani terkejut melihat Mira muncul dari balik mobil setelah wanita itu menurunkan kaca dan menyapa.“Pak Fabio menyuruh saya untuk menjemput ibu di sini,” jawab Mira dengan ekspresi datar, nyaris tanpa perubahan raut wajah.Ibunya memandang Mira dengan heran. Sejak tadi ia tersenyum ramah, namun Mira sama sekali tak membalas senyum itu. Kebingungan jelas tergambar di wajah wanita tua tersebut. Ia tampak ragu—apakah wajar ia diantar oleh perempuan yang asing dan bersikap sedingin itu?Rani menghela napas berat. Ah, bukankah sudah ia katakan pada Fabio bahwa ia ingin menjemput ibunya sendiri?“Kata Bapak, kalau-kalau Anda ingin menolak, ingatlah bahwa saya yang menjemput Anda, bukan Pak Fabio,” lanjut Mira, menjelaskan dengan gamblang tanpa sedikit pun basa-basi.Statusnya yang berselingkuh dengan Fabio membuat dada Rani terasa mengencang. Ia bergidik pelan. Sekilas pikirannya melayang pada ibunya—pada apa yang mungkin wanita tua itu pikirkan jika tahu kebe
“Kak Fabio?” Rani memandang kaget laki-laki yang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan yang tak sempat ia sembunyikan.Tanpa basa-basi, Fabio langsung melangkah maju dan memeluk Rani dengan erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja. Pelukan itu hangat, kuat, dan terlalu familiar—membuat jantung Rani berdegup tak karuan.Rani sendiri masih terkejut dengan kehadiran sang kekasih. Bagaimana bisa Fabio ada di sini? Di saat yang sama, di tempat yang sama, ketika hidupnya sedang terasa begitu sempit.“Kok Kakak ke sini? Bukannya Kakak sibuk?” tanya Rani di sela-sela pelukan Fabio. Kali ini ia tak menolak seperti biasanya. Rasa rindu telah menghapus kewarasannya sendiri.Fabio tersenyum, lalu perlahan melepas pelukannya meski jelas ia belum puas. Dengan tangan kanannya, ia menyibakkan rambut Rani yang jatuh ke wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan lembut.“Aku berhasil dapat waktu kosong. Kam
Rani memandang bengong hasil tes yang sudah menunjukkan jawabannya. Matanya ia kerjap-kerjapkan berulang kali, seolah berharap penglihatannya keliru, seolah dua garis itu akan lenyap jika ia cukup lama menatapnya.Ini sungguh gila. Garisnya ada dua. Napas Rani tercekat, tubuhnya mendadak melemas hingga ia harus berpegangan pada wastafel. Benarkah apa yang ia lihat? Ataukah pikirannya hanya mempermainkannya karena lelah dan cemas?“Rani!” teriak Bima dari luar, suaranya terdengar kasar dan tak sabar.Rani yang masih seperti melayang tak menyangka harus segera kembali ke dunia nyata. Dengan tangan sedikit gemetar, ia buru-buru mengumpulkan kesadarannya. Hasil tes itu diselipkannya ke dalam saku, lalu ia keluar dari kamar kecil dengan langkah yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.“Iya, Kak,” jawab Rani lirih, suaranya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.“Kenapa suara kamu lemah begitu, hah? Kamu sudah bosan melayani suami kamu? Dasar gak becus! Kamu gak pernah becus!” b
“Tespek?” tanya pelayan apotek itu dengan suara yang cukup besar, membuat Rani seketika panik dan gugup mendengarnya.Padahal Rani sengaja memelankan suaranya karena malu, namun perempuan itu justru mengucapkannya dengan lantang tanpa ragu. Beberapa pasang mata di sekitar seakan bergerak ke arah Rani, membuat tengkuknya terasa panas.Rani menelan ludah, wajahnya memerah. “I—iya, Kak. Ada?” tanyanya pelan dan berhati-hati, nyaris seperti berbisik.Melihat sikap Rani yang canggung dan tertutup, pelayan itu memandangnya agak lama. Ada ekspresi heran di wajahnya, namun tak berlangsung lama—barangkali ia sudah terlalu sering menemui pelanggan dengan ekspresi serupa.“Ada. Sebentar ya, saya ambilkan. Mau yang jenis apa?” tanyanya kemudian, kali ini dengan nada lebih rendah dan hati-hati.Rani justru tampak bengong. Dalam kepalanya muncul pertanyaan polos: memangnya ada berapa jenis tespek di dunia ini? “Apa saja, Kak,” jawabnya sopan, pasrah.“Baik, Bu. Sebentar ya,” kata pelayan itu ramah







