Beranda / Romansa / Hasrat Liar Sahabat Suami / 6. Namamu diantara amarahnya

Share

6. Namamu diantara amarahnya

Penulis: Cherry Blessem
last update Tanggal publikasi: 2025-10-27 16:24:21

Setelah pertemuan dengan Fabio, Bima tampaknya memiliki ide baru untuk mengkritik Rani. Sekarang, apapun yang Rani lakukan akan dianggap Bima sebagai upaya "mencari perhatian Fabio".

Rani sendiri bahkan jadi muak mendengarnya namun tentu ia tidak mau ambil pusing. Biarkan saja mulut Bima berkicau sepuasnya.

"Kak, udah jam tiga. Gih, siap sana! Nanti kita telat ke acaranya Kak Fabio." kata Rani sambil mencuci wajan yang barusan dia pakai memasak.

Bima yang baru bangun tidur menguap dengan lebar sambil memandang Rani malas. Tatapannya penuh curiga dan siap sedia mencari masalah.

"Buru-buru banget! Kangen kah sama Fabio?" Heran Bima, menyindir Rani sambil menduduki kursi di meja makan.

Rani menghela nafas berat. "Kak. Kan kakak sendiri yang minta biar gak telat, diingetin!" kata Rani penuh penekanan di akhir.

"Alah! Alesan banget! Sengaja banget pengen ketemu Fabio." Bima membalas penuh tuduhan.

Rani menjadi kesal. "Ya, sudahlah. Tidak usah pergilah, kita."

Mendengar ancaman Rani, Bima tampak kesal. Tentu saja, Bima yang sangat inferior ini benci mengalah. "Palingan juga kamu yang siapnya lama. Masih harus ini lah, itu lah. Gak usah buat seolah aku yang lama deh. Aslinya, kamu aja yang gatel mau ketemu Fabio!"

"Ya, sudah! Kubilang juga aku tidak usah ikut, kan? Begitu kan?" Rani memandang Bima dengan sorot kesal.

Bima membanting gelas kaca di atas meja ke tembok, membuat gelas itu pecah dan hancur. Rani yang tadinya kesal langsung bungkam.

"Berani kamu mengancamku?" Bima berteriak.

Rani menghela nafasnya berat. Lagi dan lagi ia harus mengalah padahal dia tidak melihat ada kesalahan yang ia lakukan sama sekali.

Ia menyuruh Bima untuk segera mandi karena Bima sangat suka mengulur waktu. Rani sudah sangat hafal sifat Bima sebab keterlambatan mereka akan dilimpahkan padanya terlepas itu karena Rani atau karena Bima seorang.

Bima kemudian pergi sambil marah-marah ke dalam kamar. Rani bisa mendengarkan Omelan demi omelan dari mulut Bima.

Inilah kenyataan dari pernikahan yang Rani impi-impikan.

Tak lama kemudian, Bima keluar dengan tampilan lebih segar. Ia sudah selesai mandi dan berpakaian meskipun belum sepenuhnya.

"Cepat siap! Awas aja kalau kamu lama!" kata Bima sambil lewat menuju kulkas.

Rani sebenarnya sudah tak berselera ingin pergi namun Bima tampaknya tetap ingin Rani ikut.

Alasannya, tentu saja karena Bima ingin memamerkan istrinya pada teman-temannya. Terutama, teman kuliah Fabio.

Bima sadar penuh bahwa Rani adalah mahasiswi paling cantik dan cerdas di zamannya. Tentu, banyak teman Rani yang menginginkannya namun hanya Bima, seorang PNS lulusan SMA yang berhasil menggoyahkan hati Rani.

Setidaknya, itu satu-satunya pencapaian Bima yang membanggakan dari antara teman-temannya yang kini sudah sukses menjadi sesuatu.

Rani memandang Bima dengan kesal namun tetap diam saja. Ia kemudian menyusul Bima untuk mempersiapkan dirinya sendiri.

"Buruan dandannya. Bikin telat aja." Kata Bima, melewati Rani yang sedang sibuk merapihkan dandanannya.

Rani tidak bergeming. Bima akan mengungkit terus sampai ia puas karena kejadian tadi. Apapun yang membuat Bima kesal akan terus dibahas sampai dia muak.

Selesai berdandan dan meyakinkan penampilannya, Rani keluar kamar dan langsung mengajak Bima pergi.

"Ayo, Kak." Ajak Rani.

"Sebentar, aku ganti sepatu dulu." Bima menyimpan ponselnya di meja lalu pergi mengambil sepatu.

Rani memutar bola matanya. "Loh, Kak! Dari tadi aku siap kenapa gak langsung diganti?" keluhnya.

"Ya, aku baru liat gak cocok! Kenapa? Mau protes?" balas Bima tidak mau kalah.

Rani terdiam. Tak ingin memperkeruh masalah. Setelah Bima selesai mengganti sepatu. Ia mengganti bajunya lagi. Terus berulang begitu hingga dandannya berubah total.

Inilah yang dimaksud Rani dari awal. Bima sangat mengulur waktu.

"Udah ganti-gantinya?" kata Rani setengah menyindir.

"Udah. Ayo, jalan." balas Bima merogoh saku untuk mencari kunci motornya. "Lihat kunci motor, gak?" lanjutnya bertanya.

Rani menghela nafas. "Gak tahu, Kak. Yang biasa bawa motor kan kamu, kak."

"Iya! Kamu lihat apa enggak!" balas Bima dengan nada tinggi.

"Ya, enggak."

"Ya, cariin dong, Ran! Mau pergi gak, sih?!" kesal Bima.

Yah, inilah yang terjadi setiap mereka akan pergi ke acara apapun.

Setelah lima belas menit mencari, Rani dan Bima menemukan kunci motor yang terletak di atas dispenser. Rani sangat kesal karena Bima terus marah-marah terutama padanya padahal yang salah adalah Bima.

Apalah daya Rani selain menerima dan diam saja sebab jika Rani bersikeras, mereka mungkin berakhir membuat keributan.

"Aku naik, ya." Kata Rani setelah Bima menyalakan motor.

Sebelum kakinya naik, Bima menyuruhnya turun. "Tunggu! Aku mau buang air dulu."

"Apa? Lagi?" Rani tampaknya sudah tidak tahan lagi.

"Bentar, lah! Aku kebelet ini." kata Bima, sambil mematikan motor.

"Kak, kita udah buang waktu selama sejam loh, ini. Sejam!" keluhnya, memandang Bima yang kembali ke dalam rumah.

"Ya, emang kenapa? Udah gatel banget ya mau ketemu Fabio?" kata Bima sarkas pada Rani dengan menyindir. "Kunci!" pinta Bima.

Rani merogoh tasnya untuk mengambil kunci rumah lalu melemparnya pada Bima. Rani sudah cukup lelah jika harus membahas segala sesuatu dengan Bima lagi.

Setelah sepuluh menit, Bima kemudian muncul. Jujur saja, Rani sudah tidak ingin pergi namun tentu ia tak mungkin mengatakannya pada Bima yang pastinya akan mengamuk.

"Ayo, kita pergi." Kata Bima, mengembalikan kunci rumah sambil langsung menyalakan mesin motornya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   121. Melabrak Jihan

    “Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   120. Memberitahukan Fabio

    Rani memandang Fabio sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan. Napasnya terasa sedikit berat, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.“Aku sudah menceritakan soal kehamilanku pada Bima dan mertuaku tadi,” katanya akhirnya, menatap Fabio dengan serius.Jantung Rani berdebar kencang. Ia menunggu reaksi laki-laki itu—mencari tanda, sekecil apa pun, tentang apa yang sebenarnya Fabio rasakan.“Benarkah? Akhirnya!” Fabio tersenyum lebar, tampak benar-benar bahagia. Ia menggenggam tangan Rani, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku senang kamu mengatakannya. Aku bersyukur kamu tidak menahan semuanya sendirian dan membuat dirimu kewalahan menyembunyikan kehamilan ini.”Rani sedikit tertegun melihat reaksi itu. Hangat. Tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan seperti yang biasa ia terima dari Bima. Entah kenapa, perasaan lega langsung memenuhi dadanya.“Terima kasih banyak,” ucapnya tulus, menatap Fabio dengan mata yang sedikit berka

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   119. Pesan Ancaman

    Rani segera membuka pesan yang ia terima. Nama pengirimnya anonim, membuatnya tak yakin siapa orang iseng yang mengirim pesan itu.Begitu melihat isinya, tangan Rani langsung gemetar. Matanya seolah tak percaya hingga ia harus membacanya dua kali.Kumpulan foto kedekatannya dengan Fabio—foto terbaru. Termasuk tespek yang ia buang dan momen ketika Fabio menunjukkan tespek itu padanya.“Tidak mungkin .…” Rani lemas. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing, dan rasa mual menyerang.Bagaimana mungkin foto-foto ini dikirimkan tepat setelah ia membagikan kabar bahagia pada suami dan mertuanya?Tanpa pikir panjang, Rani segera meneruskan pesan itu pada Fabio. Tak butuh waktu lama hingga pesan tersebut terbaca. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar—Fabio langsung menelepon.“Halo .…” suara Rani terdengar lemah.“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku akan segera ke sana!” suara Fabio terdengar panik dan terburu-buru.“Aku di rumah. Aku …, baik-baik saja, Kak,” jawab Rani, berusaha terd

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   118. Kelembutan Yang Mengejutkan

    “Kamu beneran hamil?!” Bima tampak tak percaya, namun ekspresinya perlahan berubah dari kaget menjadi bahagia.Rani menelan ludah. Ia hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata. Ada rasa takut yang sempat menggelayut—seolah kabar ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk.Mata Rani langsung melirik ke arah ibu mertuanya yang tampak diam seribu bahasa. Wanita itu terlihat sulit ditebak. Meski jelas terkejut, ada sesuatu yang tetap terasa dingin dari sorot matanya.Mungkinkah kabar ini benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang?“Ibu! Rani akhirnya hamil!” seru Bima penuh semangat.Rani sendiri ikut terkejut dengan reaksi Bima. Kalau diingat-ingat, selama ini Bima selalu menjadi orang yang membelanya setiap kali ibunya menyinggung soal anak.Rani kembali membaca raut wajah ibu mertuanya yang misterius. Entah mengapa, wanita itu tetap tak berkata apa-apa. Padahal, selama ini ia selalu menuntut cucu dan kerap menyulitkan Rani karena hal itu.Sekarang ketika Rani benar-benar mengandung, aka

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   117. Berita Bahagia

    Rani merasakan cahaya lampu yang menusuk matanya ketika perlahan terbuka.Silau.Ia menyipit, berusaha menyesuaikan penglihatannya sambil mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya lemas. Perlahan, kesadarannya kembali. Rani kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia menoleh pelan ke kanan dan kiri, mendapati seorang dokter, Bima, dan ibu mertuanya duduk mengelilinginya.“Hati-hati,” ujar dokter dengan lembut sambil membantu Rani untuk duduk. Tangannya menopang bahu Rani agar tidak kembali terjatuh.Rani mengernyit pelan, menahan pusing yang masih tersisa.“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung setelah berhasil duduk bersandar.“Kamu pingsan,” jawab Bima cepat. “Aku panggil dokter karena kebetulan dia kenalanku,” lanjutnya, seolah tidak memberi ruang bagi Rani untuk mencerna keadaan.Rani menoleh ke arah ibu mertuanya.Tatapan Bu Dina tampak kesal, jelas tidak senang dengan situasi itu. Rani langsung merasa tidak enak. Ia pasti sudah merep

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   116. Kedatangan Bu Dina

    Bunyi benda-benda di meja jatuh terdengar keras.Bima tiba-tiba melempar tutup panci yang digunakan untuk menutup jagung dan ubi rebus di meja. Tutup panci itu melayang dan menghantam dinding dengan suara nyaring sebelum jatuh ke lantai.“Kenapa kalau aku pilih Rani sebagai istri?!” teriak Bima dengan suara menggelegar.Teriakan itu membuat ibunya langsung menegang.“Bima …?” Bu Dina terkejut, matanya melotot melihat reaksi putranya yang tiba-tiba meledak seperti itu.“Emang kenapa!?” Bima balas berteriak. “Aku tahu aku bukan yang paling pintar dan berhasil kayak saudara-saudaraku yang lain! Kalau ibu gak suka aku, gak usah datang!”Amarah Bima meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan.Seperti biasa, Bima paling tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahan direndahkan, apalagi dibandingkan dengan saudara-saudaranya.Dulu, justru sifat inilah yang membuat Rani jatuh cinta pada Bima. Bima pernah cukup berani—bahkan cukup gila—untuk membelanya di depan orang lain.Namun seiring wak

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   4. Nostalgia masa lalu

    Wajah Rani memerah. Tubuhnya memanas merasakan sengatan nostalgia yang kembali menyala. Masa-masa indah ketika kuliah berusaha mengambil alih pikiranya. Kala itu, Fabio merupakan mahasiswa berprestasi yang aktif berorganisasi dan rajin melakukan aksi kemanusiaan hingga luar negri. Prestasinya d

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   8. Retak di meja pesta

    “Fab!” seru seseorang dari belakang. Fabio menoleh dan langsung tersenyum. “Revan! Wah, lama banget!” Mereka berpelukan hangat, tawa kecil pecah di antara mereka. “Gila, udah kayak reuni aja nih,” celetuk Revan. Fabio terkekeh. “Emang, kebetulan banget semuanya ngumpul.” “Rani?” suara lain

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   7. Bayang diantara kami

    Rani kemudian menaiki motor dengan diam meskipun seleranya sudah hilang. Sungguh malas rasanya jika harus berdebat dengan Bima untuk hal seperti ini. Sepanjang jalan, Bima terus komplain karena menurut estimasi waktu, mereka sudah terlambat lima belas menit. Bima menyalahkan Rani yang tidak bis

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   5. Setelah tirai tertutup

    Rani terkejut mematung kala wajah Fabio muncul begitu tiba-tiba dari balik tirai, hanya beberapa inci dari wajahnya saat ia hendak melangkah keluar menuju ruang tamu. “Kakak!” serunya spontan, tubuhnya sedikit melompat mundur karena kaget hampir menabrak Fabio. Fabio yang tak kalah terkejut seg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status