เข้าสู่ระบบAku semakin dekat. Napas ibu mertuaku terdengar berat—teratur tapi ada getaran aneh, seperti menahan sesuatu. Dari jarak ini, aroma parfum lembutnya bercampur dengan hangat tubuhnya. Bau itu seperti masuk lewat hidung lalu mengusir semua logika yang tersisa di kepalaku.
Tatapan Lydia tak berpaling, menempel pada mataku seakan ingin menembus isi pikiranku. “Mama…” suaraku serak, separuh ingin bertanya, separuh takut mendengar jawabannya. “Diam saja…” bisiknya, pelan tapi tegas. Tangannya meraih dadaku, jemarinya bergerak lambat menelusuri garis otot di balik kaus tipis yang kupakai. Sentuhan itu ringan, lembut… tapi cukup untuk membuatku kehilangan fokus, dan… kehilangan akal sehat. Aku menelan ludah. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang: satu langkah maju bisa menghancurkan segalanya, tapi entah kenapa kakiku justru ingin melangkah. Dia mencondongkan tubuh. Napasnya terasa di pipiku, lalu di leherku. Semakin dekat… hanya satu gerakan kecil lagi dan bibirnya akan menyentuh kulitku. “Ma…” aku mencoba bersuara, ingin menghentikan ini, tapi seluruh tubuhku kaku. Lydia tersenyum tipis. “Rey…” suaranya kali ini dalam, menggoda, membuat bulu kudukku berdiri. “Kenapa malam ini kamu terlihat begitu macho?” Aku mengangkat tangan, jariku menyentuh pipinya. Dia tak menolak. Lalu jemariku turun, mendekati bibirnya— CREK! Terdengar pintu kamar di lantai dua terbuka. Kami berdua refleks menoleh, menunggu suara lanjutan. Dan ketika suara pintu tertutup dan diikuti dengan suara langkah kaki, ibu mertuaku dengan cepat mendorong dadaku dengan keras. “Menjauh!” katanya cepat, hampir terdengar seperti bentakan. Aku terhuyung ke belakang, jantungku berpacu. Tidak lama kemudian, Amanda berdiri di anak tangga terakhir, tatapannya tajam menatap kami yang berada di sofa. Wajahnya mengkerut, penuh tanya. “Apa yang sedang kalian lakukan?” “Eh, b-bukan… bukan apa-apa,” aku berusaha terdengar santai. “kaki Mama keseleo.” Amanda melangkah mendekat. Lalu dia bertanya dengan nada yang terdengar Tidak percaya. “Keseleo? Kok bisa?” Ibu mertuaku berusaha berdiri, namun tidak sanggup dan kembali duduk. “Tadi Mama habis minum, terus mau ke kamar lagi, eh, nggak tahu, tiba-tiba aja Mama kesandung kaki sendiri, dan akhirnya keseleo.” “Untungnya ada Rey, jadi dia menangkap Mama. Kalau nggak ada dia, Mama pasti jatuh. Mungkin lebih parah sakitnya,” lanjutnya. Amanda langsung menunduk, melihat kaki mamanya. Dan ternyata benar, kakinya merah dan terlihat sedikit bengkak. “Sini, biar aku urut, Ma,” kata Amanda. “Nggak usah. Tadi Reu udah urut sebentar,” jawab ibunya cepat. “Mama udah baikkan. Bantu Mama ke kamar saja.” Dengan cepat, aku menawarkan, “Biar aku bopong, Ma.” “Nggak perlu, Rey,” jawabnya, suaranya tegas. “tuntun saja. Mama udah bisa jalan, kok.” Amanda masih terlihat curiga, tapi ia memegang tangan mamanya, sementara aku di sisi lain menuntun pelan. Langkah-langkah itu terasa lebih lama dari seharusnya, karena pikiranku masih berputar pada apa yang hampir terjadi tadi. Sesampainya di kamar orang tua Amanda, ayah mertuaku, Surya Kusuma, terbangun. Dia duduk di tepi ranjang dengan wajah bingung. “Ada apa ini?” tanyanya. “Mama keseleo,” jawabku. “tadi aku sudah urut sebentar, tapi Mama bilang udah cukup. Sekarang biarkan dia istirahat saja. Besok kalau masih belum sembuh, Rey urut lagi.” Tiba-tiba saja aku kepikiran untuk memijat lagi mertuaku itu. Sensasi yang terjadi tadi, masih tersisa cukup banyak di dalam diriku. Ayah mertuaku mengangguk, menerima tubuh istrinya, sementara aku segera berbalik dan melangkah cepat menuju ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku langsung menutup pintu. Kemudian aku duduk di tepi ranjang, menunduk, mencoba menenangkan degup jantung. Bayangan tadi kembali bermain di kepalaku—tatapan itu, sentuhan itu, jarak yang hanya tinggal beberapa senti… Aku menghembuskan napas panjang. “Gila…” Aku merebahkan badan di kasur sambil menutup mata dengan telapak tangan. Saat ini, bayangan tentang keinginan Amanda, terlintas di benakku dan kami melakukannya. Namun wanita satunya itu adalah Lydia. Ketika sedang membayangkan yang terjadi, terdengar pintu kamar dibuka, aku terkejut, lamunanku buyar. Amanda duduk di sampingku yang masih rebahan. Dia menoleh dan menatapku. “Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kalian lakukan tadi? Sepertinya ada sesuatu yang berbeda,” tanya Amanda. Aku mengerutkan kening. Lalu bertanya, “Apa yang berbeda? Aku hanya menolong mama, aja. Dia keseleo dan aku berusaha mengurutnya. Kan kamu sendiri yang sering bilang kalau pijatanku itu enak, jadi, aku coba lakukan ke mama, siapa tahu membuat kakinya nggak terlalu parah.” “Enak yang aku maksud itu berbeda, Rey,” kata Amanda. “pantas saja wajah mama merah seperti itu.” Deg! Apakah Amanda mengetahui apa yang aku lakukan?Udara di kamar utama Mansion Morales terasa semakin menipis. Pendingin ruangan yang menyala senyap tidak mampu meredam hawa panas yang menguar dari tubuh kami bertiga.Aku masih terbaring di atas seprai sutra hitam, ditindih oleh Amanda. Ciumannya brutal, menuntut, dan penuh dengan kepemilikan. Dia menciumku bukan seperti sepasang kekasih yang saling merindu, melainkan seperti predator yang sedang menandai buruannya agar hewan lain tidak berani mendekat.Tangan Amanda meremas dadaku, kuku-kuku panjangnya yang bercat merah sesekali menggores kulitku. Napasku memburu, terseret ke dalam pusaran gairah gelap yang selalu berhasil dia bangkitkan. Obat di dalam darahnya membuat setiap gerakannya liar dan tak terprediksi.Di sudut mataku, aku bisa melihat Livia.Gadis itu meringkuk di tepi ranjang. Lututnya ditarik ke dada, matanya basah oleh air mata yang tertahan. Dia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap pergumulan panas di depannya. Kepintarannya di gudang logistik tadi seolah menguap,
Setelah krisis di ruang medis teratasi, aku membawa Livia kembali ke kamar utama kami di lantai dua. Gadis itu kelelahan secara mental dan fisik. Telapak kakinya lecet dan sedikit berdarah karena nekat berlari tanpa sepatu di atas lantai marmer dan beton demi mengambil cairan kimia dari gudang teknisi tadi.Aku duduk di tepi ranjang berseprai sutra hitam, meletakkan kaki Livia di pangkuanku, dan mengoleskan salep antiseptik dengan hati-hati menggunakan kapas.Livia mendesis pelan menahan perih, tapi ada senyum tipis di bibirnya yang pucat."Rey..." bisik Livia, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang dipenuhi rasa tak percaya. "Tuan Besar Lucas... ayahmu... dia benar-benar memujiku tadi."Aku mengangguk, membalut telapak kakinya dengan perban putih. "Dia bilang pikiranmu cepat. Percayalah, Liv, Ayahku nggak pernah memuji orang hanya untuk basa-basi. Dia mengakui kemampuanmu."Livia tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat lega. "Aku merasa... aku bukan lagi sek
Herman telah diseret keluar oleh Julian. Suara tangisannya memudar di ujung lorong, meninggalkan bau pesing samar di karpet ruang kerjaku.Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan psikologis ini.Radio komunikasi di sabukku berbunyi nyaring. Suara Kepala Tim Medis Veleno, Dokter Hans, terdengar panik memecah keheningan."Tuan Muda Rey! Tim Bravo sudah dievakuasi ke Sayap Medis Utama. Kondisi mereka kritis! Tiga orang sudah henti jantung. Kami tidak tahu penawar pastinya, racun ini campuran neurotoksin yang sangat agresif!"Aku mengumpat kasar, memukul meja mahoni hingga cangkir kopi Herman bergetar."Sialan!" geramku.Aku bisa menghabisi seratus anak buah Ruben dengan tangan kosong. Aku bisa menembak kepala musuh dari jarak dua ratus meter. Tapi menghadapi racun yang menggerogoti darah anak buahku dari dalam? Aku tidak berdaya. Otot dan peluru tidak berguna di ruang gawat darurat."Ayo, Liv!" Aku menyambar tangan Livia.Kami berlari menyusuri lorong mansion menuju Sayap Medis
Ruang kerjaku di lantai dua mansion bermandikan cahaya matahari siang yang menembus jendela kaca besar. Suasananya hangat dan tenang, sangat kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di kepalaku.Aku duduk bersandar di sofa kulit Chesterfield hitam, menyilangkan kaki dengan santai. Di atas meja mahoni di depanku, terhidang tiga cangkir porselen berisi kopi Espresso premium.Di sebelah kananku, Livia duduk dengan postur tegak sempurna. Dia memangku sebuah komputer tablet, jari-jarinya yang lentik mengetuk bagian belakang layar secara ritmis.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan pintu yang sopan terdengar."Masuk!” seruku ramah.Pintu terbuka. Herman melangkah masuk. Pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis itu mengenakan seragam keamanan Veleno yang disetrika rapi. Wajahnya menyiratkan campuran antara rasa hormat dan kegugupan yang berusaha disembunyikan.Dia mungkin mengira dipanggil untuk diinterogasi soal Borris, atau lebih baik lagi... promosi."Tuan Muda memang
Langkah kaki kami bergema pelan di lorong bawah tanah Mansion Morales.Setelah kepanikan di gudang medis tadi, suasana kini berubah menjadi keheningan yang mencekam. Tidak ada yang bicara. Julian berjalan di depanku dengan rahang mengeras, sementara Livia berjalan di sampingku, napasnya masih sedikit tidak teratur sisa adrenalin.Kami tiba di depan sebuah pintu baja berat tanpa kenop. Ini adalah Ruang Kontrol Keamanan Utama, jantung pengawasan dari seluruh wilayah Veleno.Julian menempelkan telapak tangannya ke panel pemindai biometrik.Pintu bergeser terbuka, menghembuskan udara AC yang jauh lebih dingin dari lorong.Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh puluhan layar monitor besar yang menempel di dinding, menampilkan setiap sudut mansion, gerbang, dan perimeter luar. Suara dengungan server dan bunyi ketikan keyboard memenuhi udara.Kepala regu keamanan yang sedang bertugas langsung berdiri tegak saat melihat kami masuk."Tuan Muda Rey. Paman Julian," sapanya dengan hormat yang ka
Gudang Medis Mansion Morales berbau alkohol steril dan debu tua.Tempat ini dulunya adalah wilayah kekuasaan Borris. Rak-rak besi setinggi langit-langit berjejer rapi, dipenuhi ribuan kotak obat, perban, dan suplemen vitamin untuk menyuplai pasukan Veleno di seluruh kota.Tapi hari ini, ada penguasa baru di sini.Livia berjalan menyusuri lorong rak dengan papan jalan di tangan. Dia mengenakan blus putih pas badan dan celana bahan hitam yang membalut kakinya dengan elegan. Rambut pirangnya diikat ekor kuda tinggi, memberinya aura profesional yang tajam.Aku bersandar di bingkai pintu, melipat tangan di dada, mengamati "Ratu Logistik" baruku bekerja."Borris benar-benar bajingan malas," gumam Livia sambil mencoret sesuatu di kertasnya. "Penyusunan stoknya berantakan. Antibiotik kedaluwarsa dicampur dengan stok baru. Dan kenapa ada kotak cerutu di rak infus?"Aku terkekeh pelan. "Dia lebih suka merokok daripada bekerja, Liv. Itu salah satu sebab kenapa Ayah memecatnya."Livia menghela na







