Share

Hasrat Terlarang Kakak Ipar
Hasrat Terlarang Kakak Ipar
Author: Kim Meili

[1] Tidur Denganku

Author: Kim Meili
last update publish date: 2025-10-01 13:23:37

“Terima kasih sudah datang ke acara ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Saya harap, semoga kami bisa menjadi pasangan yang semakin baik dan pernikahan ini berjalan langgeng.”

Semua tamu undangan yang hadir pun langsung bertepuk tangan dan mendoakan pasangan yang saat ini berada di hadapan mereka. Semua orang tampak bahagia. Pasangan yang selalu terlihat mesra itu, benar-benar mendapat berkat dari semua orang.

Namun, hal berbeda tampak ditunjukkan sang bintang utama, Olivia Chandra. Wanita dengan rambut sepunggung itu hanya terdiam dan mengulas senyum tipis. Meski sebelah tangannya menggandeng sang suami, pandangannya tampak kosong.

“Sean, selamat. Kalian memang pasangan yang serasi. Yang satu cantik, satunya tampak. Benar-benar paket sempurna.”

Olivia yang mendengar hal itu pun mengalihkan pandangan. Dia menatap ke arah pria yang bersama sang suami dan melempar senyum tipis. Itu adalah sahabat Sean.

“Aku doakan kalian segera memiliki momongan,” kata Brian—salah satu sahabat Sean.

‘Memiliki momongan?’ batin Olivia. Dia berpikir sejenak, tetapi dalam hati dia tertawa miris. Rasanya lucu ketika semua mendoakan supaya dia memiliki momongan, tetapi Sean bahkan belum pernah menyentuhnya.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalian silahkan bermesraan lagi,” ucap Brian menggoda.

Sean hanya melempar senyum dan menganggukkan kepala. Tapi, semua berubah saat dia menatap ke arah Olivia berada. Senyum yang sejak tadi ditunjukkan, kali ini menghilang sepenuhnya. Bahkan Sean menunjukkan ekspresi datar dan tidak bersahabat.

“Aku mau pergi menemui tamu,” kata Sean dan langsung menuruni satu per satu anak tangga.

Olivia yang tahu jika itu hanya pemberitahuan pun hanya diam. Semua yang datang adalah teman dan rekan bisnis Sean. Di gedung ini, dia hanya sendiri. Hingga perlahan, dia menuruni anak tangga dan berusaha mencari tempat nyaman untuknya beristirahat.

Olivia menuju ke setiap sudut gedung dan berhenti ketika berada di kolam renang. Rasanya lelah karena sejak tadi tidak menemukan suaminya.

“Mencari siapa, Olivia?”

Olivia menoleh, menemukan seorang pria, salah satu tamu yang diundang dalam acara ini. Simon Charles—kakak tiri Sean, yang artinya kakak ipar Olivia.

“Bukan urusanmu, Simon,” jawab Olivia dengan nada sinis. Dia tahu suaminya tidak pernah akur dengan Simon, membuatnya tidak terlalu dekat dengan pria itu juga.

Selain itu, Olivia juga merasa tidak nyaman jika dekat dengan Simon. Pria itu sering bertingkah kurang ajar dan melewati batas.

Di luar dugaan, Simon meraih lengan Olivia dan menarik kasar. Olivia yang saat itu memang tidak siap pun langsung menabrak tubuh kekar Simon.

Berada di jarak yang begitu dekat, Olivia terdiam. Dia melebarkan kedua mata. Hingga jemari Simon menyentuh langsung kulit punggungnya, membuat Olivia tersentak kaget.

“Simon, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan aku!” ucap Olivia sembari mendorong tubuh Simon.

Sayangnya, Simon tidak mendengarkan. Dia malah semakin menundukkan tubuh, menatap Olivia dari jarak yang cukup dekat. Melihat wanita di depannya cemas dan takut, Simon tersenyum tipis.

“Dari tadi aku memperhatikan, kamu tampak murung. Padahal, ini acara di mana kamu harusnya berbahagia,” ujar Simon, satu tangannya menyentuh pipi Olivia yang memalingkan muka. Ibu jarinya mengusap bibir bawah wanita itu.

“Jangan bicara kurang ajar! Lepaskan aku!” kecam Olivia sambil memberontak.

“Kamu kenapa? Takut denganku?” tanya Simon tepat di depan wajah Olivia. Dia meniup bagian telinga Olivia.

Olivia merinding, merasakan sensasi aneh yang merayap dalam tubuhnya. Olivia menggigit bibir. Ini bukan pertama kalinya Simon bersikap lancang seperti ini. Bahkan, kadang batin Olivia terlena, seolah ingin membiarkan dirinya terjebak bersama pria itu, kabur dari pernikahannya yang menyedihkan.

“Wajahmu merah, Olivia? Kamu mau merasakan lebih?” bisik Simon di telinganya. “Sean tidak pernah bisa membuatmu merasa senang, kan?”

Ya, Simon mengetahuinya, entah bagaimana. Bahwa pernikahan Olivia dan Sean tidak bahagia.

Tapi, Olivia sudah bertekad untuk menjadi istri yang patuh. Dia tidak ingin berkhianat pada suaminya.

Simon mendekapnya lebih erat, mengecup sisi rahang Olivia, tepat di bawah telinganya. Napas Olivia tercekat. “Jangan…!”

Sadar dengan posisinya sekarang, Olivia langsung mendorong tubuh Simon. Setelah dekapan itu terlepas, Olivia menatap tajam ke arah Simon, merasa kesal karena pria itu menggodanya.

Olivia menghela napas kasar, hendak melangkah pergi, tetapi lagi-lagi Simon menahan lengannya, membuat langkah Olivia tertahan.

“Sebaiknya jangan ke sana,” ujarnya, kata-katanya penuh peringatan.

Olivia berbalik dengan tatapan tajam, mengempaskan tangan Simon dari lengannya. “Aku bilang, bukan urusanmu, Simon.”

Simon hanya tersenyum miring, tidak berniat menghalau Olivia lebih jauh. Dilepaskannya pergelangan tangan Olivia sambil mengangkat kedua tangan ke atas.

“Oke, oke. Lakukan sesukamu. Tapi … Kalau kamu mau lanjutkan yang tadi, aku ada di lantai atas,” ucapnya.

Olivia tak mendengarkan, segera meninggalkan pria itu di sana. Dia melangkah hingga mendekati sisi gedung yang sepi. Suara keramaian dari pesta di aula utama tidak mencapai sisi ini.

Semakin Olivia melangkah ke area itu, semakin terdengar suara aneh yang menyerupai rintihan dan erangan dari suatu ruangan tertutup.

‘Aneh, apakah di pojok sini, ada orang-orang yang…?’

Mengusir pikiran buruk di kepala, Olivia perlahan melangkah ke asal suara. Suara-suara itu, entah kenapa terdengar familiar.

Olivia terdiam dengan kedua mata melebar saat melihat adegan dari balik jendela ruangan yang tertutup. Dia langsung menutup mulut supaya tidak memekik karena terkejut.

Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Olivia saat melihat Sean tengah bercumbu dengan seorang wanita yang sangat dikenalnya.

‘Jadi, mereka memiliki hubungan di belakang?’

Dia melihat Elsa mendorong Sean dan berdiri di dekat jendela. Saat itu juga, Olivia menyembunyikan diri, tidak ingin tertangkap basah.

‘Ya Tuhan, kenapa rumah tanggaku begini?’ batin Olivia dengan air mata yang semakin deras mengalir.

Sedangkan di dalam kamar, Elsa melihat semuanya. Dia tahu ada Olivia di sana, memperhatikan mereka dari balik jendela, tetapi tidak berniat berhenti. Hingga dia melepaskan penyatuan bibir, mengalungkan tangan dan menatap lekat.

“Kamu di sini, gak takut kalau Olivia lihat?” tanya Elsa dengan nada menggoda.

“Kenapa harus takut?” Sean bertanya sembari mengelus punggung Elsa.

“Dia istrimu. Pasti akan marah kalau lihat kita berdua begini,” jawab Elsa.

“Aku tidak pernah mencintainya. Jadi, biarkan saja kalau dia marah. Lagi pula dalam hidupku hanya kamu yang paling penting. Kalau bukan karena Kakek, aku juga pasti sudah menceraikannya,” ucap Sean dan kembali mengecup bibir Elsa.

Mendengar semua itu, Olivia langsung memejamkan kedua mata, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahan meluncur dengan sendirinya. Olivia memeluk hatinya, merasa sakit dengan pengkhianatan Sean.

***

Olivia meneguk alkohol di depannya dengan air mata yang terus mengalir. Selama ini, meski dia sering diabaikan, dia tetap menghargai Sean sebagai suami, menjadi istri yang patuh. Dia pikir, suatu saat nanti, Sean akan mencintainya. Sayangnya, dia malah menemukan fakta, ada wanita lain di hati pria itu.

Olivia pun bangkit dan melangkahkan kaki. Kepalanya terasa pusing, membuat jalannya sempoyongan. Sampai langkahnya tidak seimbang dan akan jatuh.

Namun, disaat yang sama, sebuah tangan kekar menangkapnya. Olivia pun tersenyum melihat wajah yang tidak asing baginya. Hingga perlahan, pria itu menegakkan tubuhnya. Melihat wajah tampan pria itu, Olivia mengulas senyum lebar.

“Kamu tampan,” kata Olivia. Jarinya mengelus pelan dada pria itu, melakukan gerakan ringan dan menarik kerah pakaian pria itu.

“Kamu mau tidur denganku?” tanya Olivia tepat di depan waja pria itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [142] Dia, Tidak Ada

    Hening. Suasana di dalam mobil terasa mencekam, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Simon yang baru saja memukul Sean pun hanya diam, membuat suasana di ruangan tersebut terasa mencekam. Hingga Olivia yang sejak tadi bungkam mulai bergerak, meraih jemari Simon yang sejak tadi mengepal dan menggenggam lembut.“Sakit?”Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Olivia. Sejak tadi dia hanya menutup mulut bukan karena takut melihat aura Simon yang mematikan, tetapi dia merasa kasihan dengan pria tersebut. Melihat banyak darah di tangan pria itu, ada perasaan sakit. Meskipun bukan darah Simon sendiri.Namun, tidak ada jawaban dari pria itu. Olivia sendiri tidak menanyakannya lagi. Dia memilih meraih kotak di depannya, mengambil tisu dan mengelap darah yang masih menempel di jemari pria itu. Ada sedikit lecet, membuat Olivia melakukannya secara perlahan dan mengobati. Sampai perban di jemari Simon selesai, membuat Olivia menghela napas lirih.“Setelah sampai rumah, jangan lupa untu

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [141] Memberi Pelajaran

    “Sean, kamu sudah gila! Kita itu sudah berpisah!”Olivia yang baru saja mendengar ucapan Sean mencoba untuk menyadarkan. Mereka sudah mendaftarkan perceraian dan tinggal menunggu sidang pertama yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Selain itu, Olivia juga sudah enggan berurusan dengan Sean, dalam hal apapun.Sayangnya, Sean tidak memperdulikan hal itu. Dia tersenyum sinis mendengar ucapan Olivia. Genggamannya juga semakin mengerat. Hingga dia menarik tangan Olivia, membuat wanita itu mendekat ke arahnya.“Aku tidak pernah mau berpisah denganmu, Olivia. Aku tetap ingin mempertahankan pernikahan ini,” ucap Sean dengan penuh penekanan.“Tapi aku sudah tidak mau, Sean. Sampai kapan pun aku tidak akan mau bersama kamu lagi,” sahut Olivia dengan tatapan tajam, menunjukkan keseriusan.Jujur, Sean sempat kesal mendengar sahutan itu. Dia sudah berniat memperbaiki semuanya. Bahkan berulang kali dia memohon, tetapi jawaban Olivia malah selalu melukainya. Sampai kekesalan itu mereda, membuat e

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [140] Memulai Pencarian

    “Sial. Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau Sean akan melakukan hal gila ini.”Simon yang berada di dalam mobil masih terus menggerutu dengan pikiran tidak karuan. Ekspresi wajahnya tampak tegang, merasa takut dan menyalahkan diri sendiri. Banyak andai yang terus saja dipikirkan. Andai dia lebih memperhatikan Olivia, memberikan pengawalan yang ketat, semua pasti tidak akan terjadi. Itulah yang terus saja bergumam di hati pria tersebut.Namun, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa ubahnya. Sekarang dia hanya perlu mencari keberadaan wanita itu. Berulang kali dia melihat ke layar ponsel, berharap anak buahnya memberikan kabar keberadaan sang kekasih. Kali ini, Simon tidak fokus dengan kemudi sama sekali, membuat Cakra yang ada di sebelahnya menjadi tidak tenang.“Simon, biar aku saja,” kata Cakra. Dia masih sayang dengan nyawanya sendiri karena beberapa kali Simon hampir menyebabkan kecelakaan.Sayangnya, Simon tidak mendengarkan sama sekali. Dia

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [139] Akhirnya Diam

    “Kamu atur semuanya, Dafa. Aku tidak mau ada kesalahan sama sekali.”Simon mulai memberikan perintah. Ekspresi wajahnya tampak tenang dan serius. Setelah itu, Simon kembali membuka dokumen di depannya. Hari ini, dia harus segera pulang supaya bisa bertemu dengan Olivia. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Simon mengalihkan pandangan.“Hera.”Simon yang melihat nama itu mengerutkan kening dalam. Tampak kebingungan dari ekspresi wajahnya. Pasalnya, Hera pergi dengan Olivia. Jadi, kenapa malah menghubunginya? Hingga Simon mengambil ponsel dan mengangkat panggilan tersebut.“Halo, Her—““Simon, Olivia dibawa pergi Sean.”Deg.Simon yang mendengar terkejut. Kedua matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka. Dia bahkan langsung berdiri karena tidak menyangka hal tersebut.“Kamu dimana?” tanya Simon yang langsung melangkah keluar ruangan.“Jangan urus aku. Kamu urus saja Olivia. Segera cari dia karena dia pasti dalam bahaya,” jawab Hera dengan suara cemas.“Aku akan cari dia,” kata Simo

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [138] Akan Membawamu Pergi

    “Olivia.”Olivia yang mendengar suara itu langsung membeku. Dia cukup kenal dengan suara yang sangat familiar baginya. Tanpa melihat pun, dia tahu siapa sang pelaku, membuat jemari yang sejak tadi memegang sendok mulai mengepal.“Olivia, kam—““Kita pergi dari sini, Hera,” sela Olivia dengan cepat. Tanpa menunggu lama, dia langsung mengambil tas dan bangkit. Olivia bersiap untuk pergi.Namun, di waktu yang sama, Sean berdiri di depannya. Melihat pria itu, Olivia semakin kesal. Dia sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu, membuatnya memilih membalikkan tubuh dan mencari jalan lain. Sayangnya di waktu yang sama, Sean meraih pergelangan tangannya.“Olivia, kita perlu bicara,” kata Sean serius.Bicara? Olivia tertawa kecil mendengarnya. Dengan kasar dia menarik tangannya, membuat genggaman Sean terlepas. Manik matanya berganti, menatap ke arah Sean yang terlihat lemah. Hal itu bukan membuat Olivia simpati, tetapi dia malah meremehkan pria di depannya.‘Senjatamu itu tidak akan mempan

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [137] Menemukannya

    Sean menatap ruang operasi di depannya dengan sorot mata datar. Tidak ada rasa kehilangan sama sekali. Dia bahkan terlihat tenang, tidak terlalu memikirkan bagaimana kondisi Elsa yang masih berada di dalam. Sesekali, Sean memainkan ponsel. Hingga benda pipih itu berbunyi, membuat Sean langsung mengangkat panggilan.“Ada apa?” tanya Sean tanpa basa-basi.“Saya melihat keberadaan Nona Olivia, Tuan,” jawab Kevin dari seberang panggilan.Mendengar nama wanita itu, Sean langsung bangkit. Dengan antusias dia kembali bertanya, “Dimana dia?” “Di restoran Damai, Tuan.”Sean tersenyum sinis mendengarnya. Dengan tenang dia berkata, “Ikuti dia terus. Jangan sampai dia melihatmu dan kabari terus keberadaannya. Aku akan segera datang.”Sean langsung mematikan panggilan. Dia melangkah lebar, bersiap meninggalkan ruang operasi. Hingga dia teringat sesuatu, membuatnya berhenti. Sejenak, Sean menatap pintu operasi yang masih tertutup, menimang keputusannya. Sampai dia yang sudah yakin pun kembali mela

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [7] Menjemput Olivia

    “Kamu dandan semenor ini untuk apa, Olivia? Mau menggoda pria-pria di kantor?”Olivia yang masih mengenakan make pun langsung berhenti. Manik matanya menatap ke arah Sean dari pantulan cermin. Rahangnya tampak mengeras dengan tatapan tajam. Dia benar-benar kesal dan merasa sakit hati dengan ucapan

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [6] Pulang Sampai Malam

    “Simon, kamu mau apa?”Olivia yang melihat Simon melangkah mendekatinya pun langsung perlahan mundur. Dia menatap lekat, tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Olivia takut, kalau dia berpaling, pria itu akan menangkapnya.“Menurutmu, aku mau apa, Olivia?” Simon malah balik bertanya. Dia mulai me

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [5] Hari Pertama Bekerja

    “Silahkan, Nona. Tuan Simon sudah menunggu anda.”Olivia yang baru saja datang ke perusahaan Simon dibuat terpana dengan bangunan tersebut. Semua tersusun dengan rapi dan gaya yang elegan. Baru masuk saja, Olivia sudah disuguhkan dengan desain perusahaan yang berbeda dari perusahaan kebanyakan. Dia

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [4] Tidak Akan Membiarkan Dia Memikirkanmu

    “Pa, kenapa Papa malah mendukung Olivia kerja di perusahaan Simon? Papa tahu kan dia itu seperti apa? Dia tidak pernah menyukai keluarga kita.”Sean yang kesal karena sang papa mendukung keinginan Simon pun langsung melayangkan protes. Sejak tadi dia sudah menahan karena sang papa yang memberikan i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status