로그인“Selamat, anda hamil.”Benar-benar seperti tersambar petir. Elsa yang baru saja melakukan pemeriksaan di rumah sakit dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja dokter katakan. Wajahnya tampak membeku, tidak bereaksi apapun. “Usia kandungan sudah enam Minggu. Ini resep yang saya berikan. Jangan lupa minum obat. Usahakan juga selama masa kandungan ibu hamil jangan terlalu banyak pikiran dan stres. Jangan melakukan aktivitas yang cukup berat juga,” kata sang dokter lagi. Elsa masih tidak memberikan respon apapun. Keisha yang menemani sahabatnya itu pun mengambil kertas resep yang diberikan sang dokter. Melihat Elsa yang tidak ada reaksi apapun, dia mulai menyenggol wanita itu. “Ayo keluar,” kata Keisha. Setelah itu, Keisha pun keluar bersama dengan Elsa yang masih tampak bingung. Wanita itu tidak merespon dengan ekspresi bahagia ataupun penuh kelegaan. Bahkan sampai duduk di ruang tunggu pun Elsa masih terdiam. “Elsa, kamu kenapa? Kenapa kamu diam?” tanya Keisha. “Dokter itu bilan
“Sialan!”Elsa yang baru saja sampai di apartemen langsung membanting tas dengan begitu keras. Dia benar-benar emosi karena tidak bisa mendapat perhatian dari Sean. Padahal dulu pria itu selalu memperhatikannya, tetapi sekarang melihat pun sudah tidak mau. Selama di kantor Sean juga tidak memberikan perhatian seperti sebelumnya. “Benar-benar ingin membunuh Olivia sekarang juga,” ucap Elsa sembari duduk di sofa. Nafasnya terdengar memburu, menunjukkan emosi yang jelas terlihat. Keisha yang saat itu berada di apartemen Elsa pun langsung keluar. Dia masih sibuk membuat makanan untuk makan malam, tetapi melihat sahabatnya yang begitu kesal, dia menghentikan aktivitas. Dia mulai mendekat dan duduk tepat di sebelah Elsa. “Kamu kenapa marah-marah?” tanya Keisha dengan raut wajah bingung. Padahal waktu berangkat Elsa terlihat baik-baik saja. “Aku membenci Olivia. Aku benar-benar ingin membunuhnya sekarang,” jawab Elsa. Kedua tangannya mengepal. Rahangnya juga mengeras. Setiap kali menging
Seperti tersambar petir, Gauri langsung terdiam dengan kedua mata melebar. Perkataan Charles benar-benar membuatnya terkejut. Tubuhnya membeku, bingung harus bereaksi seperti apa. “Aku datang ke sini hanya ingin memperingatkanmu, didik Simon dengan benar. Jangan jadikan dia perusak rumah tangga orang lain,” kata Charles lagi. Gauri menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Dia mencoba menenangkan diri, menghilangkan keterkejutan dan kembali bereaksi normal. Setelah dirasa membaik, dia menyahut, “Putraku tidak akan mungkin begitu. Aku tahu seperti apa Simon dan dia tidak akan pernah merusak rumah tangga orang lain.”Charles tersenyum sinis mendengarnya. Dia pun mengambil sesuatu dari dalam kantong dan menyerahkan ke arah Gauri. Jelas aja Gauri langsung menerima dan melihat satu per satu foto yang baru saja diberikan untuknya. “Itu bukti perselingkuhan mereka,” ucap Charles. Gauri terdiam. Dia meremas foto tersebut dengan ekspresi bercampur aduk. Dia kesal dan marah karena p
“Kenapa kamu melamun? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?” Olivia yang ditanya langsung mengalihkan pandangan. Melihat Simon yang masih memperhatikan, Olivia membuang nafas kasar. Dia menyandarkan tubuh dengan punggung kursi dan memasang raut wajah tidak bersemangat. “Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?” Simon kembali bertanya. “Aku hanya malas pulang ke rumah. Melihat mereka yang bahagia dan tidak merasa bersalah sama sekali benar-benar membuatku muak. Aku tidak rela melihat mereka yang baik-baik saja,” jawab Olivia. Sejak mengetahui jika Charles adalah dalang dari kematian orang tuanya, Olivia semakin merasa tertekan di rumah itu. Ada rasa bersalah dengan kedua orang tuanya karena sampai saat ini tidak bisa memberikan balasan yang setimpal. Simon cukup mengerti dengan hal itu. Dia pun mengulurkan tangan, mengelus puncak kepala Olivia dan berkata, “Kalau memang kamu tidak ingin disana, Kamu bisa tinggal di rumahku.”Olivia diam. Tidak ada semangat sama sekali. Sekarang yang dipikirkan
“Sialan!”Sean langsung membanting foto yang menunjukkan kedekatan Olivia dan Simon dengan kasar. Rasanya benar-benar kesal karena ternyata keduanya begitu akrab. Dulu bahkan keduanya tidak pernah saling berbicara, tapi sekarang malah menjalin hubungan. Hal yang membuat Sean benar-benar kesal. “Anak haram itu benar-benar semakin membuatku muak!” omel Sean lagi. Dia langsung duduk di sofa bar dengan kasar. Ya, Sean memilih mengurungkan niatnya untuk bekerja karena mood yang tidak baik. Sejak melihat foto Simon yang sedang bercumbu dengan Olivia membuat emosinya kembali meningkat.Sedangkan Revan yang duduk di sebelah Sean langsung mengambil lembaran kertas tersebut. Dia melihat dengan cukup sesama sembari menganggukkan kepala. Tidak berkomentar apapun. ‘Tidak salah kalau Olivia melakukan hal ini. Lagi pula selama ini suaminya sendiri malah menyia-nyiakannya,’ batin Revan. “Pantas akhir-akhir ini dia selalu membela Simon. Ternyata keduanya memiliki hubungan yang lebih dari seorang s
Olivia benar-benar mengeluarkan semua keluhan yang sejak tadi dipendam. Ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan yang jelas begitu kentara. Bahkan dadanya terlihat naik-turun karena emosi yang menggebu. Hingga dia yang sudah merasa membaik pun membuang nafas kasar dan memilih untuk duduk kembali. Namun, hal berbeda malah ditunjukkan Simon. Melihat Olivia yang kesal, pria itu malah mengulum senyum, menahan agar tawanya tidak sampai keluar.“Aku serius, Simon. Kalau harus bertahan lebih lama lagi di sana, aku benar-benar sudah tidak bisa. Aku Ingin secepatnya bercerai dengan Sean. Kalau kamu tidak mau mengurus, aku akan mengurusnya sendiri,” tegas Olivia. Membayangkan tinggal di satu atap dengan orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya benar-benar membuat Olivia tidak nyaman. Dia merasa bersalah dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Simon diam, cukup mengerti dengan perasaan Olivia kali ini. Dia pun melangkahkan kaki, berhenti di sebelah Olivia, menarik kepala wanita itu
Olivia menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Dia mengamati wajah yang tidak menggunakan make up sama sekali. Sebenarnya tidak ada yang salah. Olivia hanya memeriksa penampilannya telah menggunakan beberapa produk kecantikan yang memang dikhususkan untuk malam hari. Setelah selesai, Olivia pun
Deg.Bram yang mendengar pertanyaan Simon langsung terdiam dengan kedua mata melebar. Tidak bisa dipungkiri, dia terkejut mendengar pertanyaan pria di depannya. Dia merasa ada yang aneh. Bagaimana tidak? Simon menanyakan mengenai kematian orang tua Olivia. Padahal saat kedua orang tua gadis itu men
Denting singkat ponsel terdengar. Bram yang saat itu baru saja keluar dari perusahaan langsung menghentikan langkah. Dia melihat notifikasi yang baru saja masuk dan tersenyum lebar. “Aku tahu kamu pasti akan mengirimnya, Charles,” gumam Bram dengan senyum tipis. Raut wajah penuh kemenangan langsu
“Mama tidak melarangmu untuk dekat dengan Elsa, tapi mama harap kamu tahu batasannya.”Olivia yang baru saja meletakkan kaki di lantai dasar pun langsung berhenti ketika mendengar seseorang berbicara. Dia mulai menajamkan pendengaran ketika tahu siapa pemilik suara itu. Sang mertua dan juga suaminy







