Share

[21] Benar-benar Muak

Penulis: Kim Meili
last update Tanggal publikasi: 2025-12-01 14:58:37

“Darimana saja kamu, Simon?”

Simon langsung menghentikan langkah ketika mendengar teguran itu. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat wanita paruh baya tengah duduk dan menatapnya, Simon tersenyum lebar. Dia mendekat ke arah wanita tersebut dan duduk dengan tenang.

“Ini sudah malam. Kenapa baru pulang?”

“Ada urusan di luar,” jawab Simon, “kenapa Mama juga belum tidur?”

Gauri Ginela—mama Simon, menarik napas dalam dan membuang secara perlahan. Dia menatap ke arah Simon dan men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [112] Meminta Hakku

    “Selamat, anda hamil.”Benar-benar seperti tersambar petir. Elsa yang baru saja melakukan pemeriksaan di rumah sakit dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja dokter katakan. Wajahnya tampak membeku, tidak bereaksi apapun. “Usia kandungan sudah enam Minggu. Ini resep yang saya berikan. Jangan lupa minum obat. Usahakan juga selama masa kandungan ibu hamil jangan terlalu banyak pikiran dan stres. Jangan melakukan aktivitas yang cukup berat juga,” kata sang dokter lagi. Elsa masih tidak memberikan respon apapun. Keisha yang menemani sahabatnya itu pun mengambil kertas resep yang diberikan sang dokter. Melihat Elsa yang tidak ada reaksi apapun, dia mulai menyenggol wanita itu. “Ayo keluar,” kata Keisha. Setelah itu, Keisha pun keluar bersama dengan Elsa yang masih tampak bingung. Wanita itu tidak merespon dengan ekspresi bahagia ataupun penuh kelegaan. Bahkan sampai duduk di ruang tunggu pun Elsa masih terdiam. “Elsa, kamu kenapa? Kenapa kamu diam?” tanya Keisha. “Dokter itu bilan

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [111] Sedikit Mual

    “Sialan!”Elsa yang baru saja sampai di apartemen langsung membanting tas dengan begitu keras. Dia benar-benar emosi karena tidak bisa mendapat perhatian dari Sean. Padahal dulu pria itu selalu memperhatikannya, tetapi sekarang melihat pun sudah tidak mau. Selama di kantor Sean juga tidak memberikan perhatian seperti sebelumnya. “Benar-benar ingin membunuh Olivia sekarang juga,” ucap Elsa sembari duduk di sofa. Nafasnya terdengar memburu, menunjukkan emosi yang jelas terlihat. Keisha yang saat itu berada di apartemen Elsa pun langsung keluar. Dia masih sibuk membuat makanan untuk makan malam, tetapi melihat sahabatnya yang begitu kesal, dia menghentikan aktivitas. Dia mulai mendekat dan duduk tepat di sebelah Elsa. “Kamu kenapa marah-marah?” tanya Keisha dengan raut wajah bingung. Padahal waktu berangkat Elsa terlihat baik-baik saja. “Aku membenci Olivia. Aku benar-benar ingin membunuhnya sekarang,” jawab Elsa. Kedua tangannya mengepal. Rahangnya juga mengeras. Setiap kali menging

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [110] Jauhi Dia!

    Seperti tersambar petir, Gauri langsung terdiam dengan kedua mata melebar. Perkataan Charles benar-benar membuatnya terkejut. Tubuhnya membeku, bingung harus bereaksi seperti apa. “Aku datang ke sini hanya ingin memperingatkanmu, didik Simon dengan benar. Jangan jadikan dia perusak rumah tangga orang lain,” kata Charles lagi. Gauri menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Dia mencoba menenangkan diri, menghilangkan keterkejutan dan kembali bereaksi normal. Setelah dirasa membaik, dia menyahut, “Putraku tidak akan mungkin begitu. Aku tahu seperti apa Simon dan dia tidak akan pernah merusak rumah tangga orang lain.”Charles tersenyum sinis mendengarnya. Dia pun mengambil sesuatu dari dalam kantong dan menyerahkan ke arah Gauri. Jelas aja Gauri langsung menerima dan melihat satu per satu foto yang baru saja diberikan untuknya. “Itu bukti perselingkuhan mereka,” ucap Charles. Gauri terdiam. Dia meremas foto tersebut dengan ekspresi bercampur aduk. Dia kesal dan marah karena p

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [109] Ajari Dia

    “Kenapa kamu melamun? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?” Olivia yang ditanya langsung mengalihkan pandangan. Melihat Simon yang masih memperhatikan, Olivia membuang nafas kasar. Dia menyandarkan tubuh dengan punggung kursi dan memasang raut wajah tidak bersemangat. “Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?” Simon kembali bertanya. “Aku hanya malas pulang ke rumah. Melihat mereka yang bahagia dan tidak merasa bersalah sama sekali benar-benar membuatku muak. Aku tidak rela melihat mereka yang baik-baik saja,” jawab Olivia. Sejak mengetahui jika Charles adalah dalang dari kematian orang tuanya, Olivia semakin merasa tertekan di rumah itu. Ada rasa bersalah dengan kedua orang tuanya karena sampai saat ini tidak bisa memberikan balasan yang setimpal. Simon cukup mengerti dengan hal itu. Dia pun mengulurkan tangan, mengelus puncak kepala Olivia dan berkata, “Kalau memang kamu tidak ingin disana, Kamu bisa tinggal di rumahku.”Olivia diam. Tidak ada semangat sama sekali. Sekarang yang dipikirkan

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [108] Mengadu

    “Sialan!”Sean langsung membanting foto yang menunjukkan kedekatan Olivia dan Simon dengan kasar. Rasanya benar-benar kesal karena ternyata keduanya begitu akrab. Dulu bahkan keduanya tidak pernah saling berbicara, tapi sekarang malah menjalin hubungan. Hal yang membuat Sean benar-benar kesal. “Anak haram itu benar-benar semakin membuatku muak!” omel Sean lagi. Dia langsung duduk di sofa bar dengan kasar. Ya, Sean memilih mengurungkan niatnya untuk bekerja karena mood yang tidak baik. Sejak melihat foto Simon yang sedang bercumbu dengan Olivia membuat emosinya kembali meningkat.Sedangkan Revan yang duduk di sebelah Sean langsung mengambil lembaran kertas tersebut. Dia melihat dengan cukup sesama sembari menganggukkan kepala. Tidak berkomentar apapun. ‘Tidak salah kalau Olivia melakukan hal ini. Lagi pula selama ini suaminya sendiri malah menyia-nyiakannya,’ batin Revan. “Pantas akhir-akhir ini dia selalu membela Simon. Ternyata keduanya memiliki hubungan yang lebih dari seorang s

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [107] Kamu Sudah Tidak Berarti

    Olivia benar-benar mengeluarkan semua keluhan yang sejak tadi dipendam. Ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan yang jelas begitu kentara. Bahkan dadanya terlihat naik-turun karena emosi yang menggebu. Hingga dia yang sudah merasa membaik pun membuang nafas kasar dan memilih untuk duduk kembali. Namun, hal berbeda malah ditunjukkan Simon. Melihat Olivia yang kesal, pria itu malah mengulum senyum, menahan agar tawanya tidak sampai keluar.“Aku serius, Simon. Kalau harus bertahan lebih lama lagi di sana, aku benar-benar sudah tidak bisa. Aku Ingin secepatnya bercerai dengan Sean. Kalau kamu tidak mau mengurus, aku akan mengurusnya sendiri,” tegas Olivia. Membayangkan tinggal di satu atap dengan orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya benar-benar membuat Olivia tidak nyaman. Dia merasa bersalah dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Simon diam, cukup mengerti dengan perasaan Olivia kali ini. Dia pun melangkahkan kaki, berhenti di sebelah Olivia, menarik kepala wanita itu

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [89] Alasan Menikahkan

    “Kalian di sana yang akur. Kalau memang sudah terlalu sore, kalian bisa menginap di hotel saja. Untuk biayanya Biar Papa yang menanggung.”Olivia dan Sean yang mendengar ucapan Charles hanya menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Keduanya tampak tenang, tetapi hatinya cukup bergemuruh. Olivia sen

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [88] Mencaritahu Sendiri

    “Benar-benar kurang ajar.”Olivia yang baru sampai di dalam kamar langsung menggerutu dengan raut wajah kesal. Dia pikir Sean akan membantunya berbicara, tetapi pria itu malah semakin memperkeruh keadaan. Sekarang, rasanya Olivia benar-benar sudah tidak bisa mundur lagi. Mau tidak mau, dia harus me

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [87] Pergi Bersama

    “Sebenarnya apa yang mau Papa bicarakan? Kenapa aku merasa kalau suaranya terdengar serius?”Olivia yang baru sampai rumah langsung keluar dari mobil. Sejak tadi dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mertuanya tidak membiarkan untuk bekerja lembur? Apa ada hal serius yang terjadi

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [83] Perasaan Berbeda

    “Bagaimana kabar Olivia dan Sean, Gina?” Gina yang baru saja menyendok makanan langsung berhenti. Dia menatap ke arah sang suami dan menjawab, “Baik-baik saja. Kemarin Sean juga mengatakan kalau hubungannya dan Olivia sudah mulai membaik.” Charles tersenyum mendengar hal itu. Kepalanya menganggu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status