LOGINGreg tiba di depan pintu nomor 304 The Marowlane Residence, sebuah bangunan bata merah berusia lebih dari 100 tahun. Pria itu menarik napas dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuh selama beberapa saat. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Sebenarnya, detektif itu bisa saja menugaskan seseorang di timnya untuk datang sore ini menemui Tara. Rachel yang agresif akan dengan senang hati sampai mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan. Akan tetapi, Greg tidak melakukannya. Dorongan yang sama sekali tidak profesional, membawanya berdiri di depan pintu Tara saat ini. Tak sampai hitungan menit, suara langkah mendekat terdengar samar. Denting rantai pintu yang bergegser perlahan pun menyusul. Di tiap menitnya, jantung Greg berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Ibarat hitungan mundur sebuah bom yang siap meledak. Cahaya redup kekuningan perlahan menyusup keluar melalui celah. Diikuti aroma pekat bubuk coklat yang baru diseduh. Aroma manis yang mengingatkan Greg pada kenangan masa kanak-kanak. Kontras dengan naskah pahit dan gelap yang ditulis wanita itu. Mungkin, Tara memang tidak selaras. Tidak patuh pada standar umum yang berlaku di dunia. Mungkin juga, ketidakselarasan dan ketidakpatuhan itu, yang menarik dirinya untuk datang. Begitu pikir sang detektif. Perlahan, pintu pun terbuka. Hanya sedikit. Akan tetapi, di celah yang sedikit terbuka itulah, Greg melihat kembali wajah itu. Tara Elizabeth Bradley. Tanpa hoodie. Tanpa kertas-kertas tercecer. Tanpa rintik hujan dan kerumunan pagi. Hanya saja, ada bayangan yang muncul di sekitar matanya yang seolah-olah berbicara. Sepasang mata itu seperti baru saja pulih dari tangisnya. Apa yang Greg saksikan saat ini seharusnya dicatat sebagai detail kasus. Bukan malah membuatnya terkesima. Namun, pesona penulis naskah kriminal itu terlalu sulit untuk Greg tepiskan. Bahkan dalam sweater kebesaran, celana pendek, dan kaos kaki sebatas mata kaki, Tara terlihat memikat. Untuk sekian detik Greg terpaku. Rahangnya mengeras. Tubuhnya menjadi kaku. Pikiran rasionalnya mencemooh tindakannya yang melanggar aturan. Bagaimanapun, semua sudah terlanjur. Sama seperti Greg, Tara juga hanya mematung. Ekspresinya seperti seekor anak rusa yang tak sengaja berpapasan dengan serigala. Keheningan yang menegangkan menyusup di antara mereka. "Sial!" Greg memarahi diri sendiri secara mental. Menyadari mereka terdiam terlalu lama. "Fokus, Greg!" Pria itu pun berdeham pelan, lalu menyapa dengan formalitas yang telah lama dipelajarinya. "Selamat Sore, Nona Bradley." Dari luar, Greg terlihat tenang. Di dalam, jantung pria itu berdebar dengan ribut. Sesuatu yang tak pernah Greg rasakan ketika berhadapan dengan tersangka, saksi, atau korban manapun. Suara berat detektif itu mengguncang lamunan Tara. Dia mengerjap lalu menjawab dengan suaranya yang terngiang di pendengaran Greg sepanjang hari ini. "Ya. Selamat Sore." Tatapan wanita itu kemudian meniti Greg dari atas ke bawah lalu kembali ke wajah. Ekspresinya berubah dari waspada menjadi penuh tanya. Tubuh rampingnya sedikit menegang dan bergeming di tempat. Seakan sengaja memblokir penglihatan Greg dari ruang di belakangnya. Sebelum Tara sempat mengira dirinya adalah seorang penguntit acak, Greg menyodorkan warrant holder ke depan wajah wanita itu. "Gregory Evans dari unit kriminal Metropolitan." Wajah wanita itu memucat menatap kartu pengenal dan lencana yang Greg tunjukkan. Dia masih defensif dan menahan pintu selama beberapa detik. Sebelum akhirnya melangkah mundur, membuka pintu lebih lebar. "Masuklah, Detektif Evans. Segaris senyum terbentuk samar di bibir Greg menyambut izin yang diberikan Tara. Sang detektif sadar bahwa begitu dia melangkah melewati pintu, akan ada batas yang sulit dikembalikan. Namun, dia tetap melangkah masuk. * Tara mempersilakan Greg mendahuluinya. Melewati dapur kecilnya yang temaram. Pintu di belakang Tara menutup dan terkait dengan suara pelan. Suara itu terdengar terlalu jelas di ruangan sempit itu. Seolah-olah menandai bahwa dunia luar kini berada di sisi lain. Tara tidak tahu pasti. Alasan apa yang bisa membuatnya membiarkan pria asing bernama Gregory Evans itu masuk. Selain karena pria itu menunjukkan pengenal sebagai polisi. Mungkin... keterkejutan. Atau... ketidakmampuannya memisahkan bayangan pagi tadi dengan kenyataan sore ini. Pria bermantel abu-abu di trotoar stasiun Holloway Road pagi tadi... yang seperti tokoh detektif di film noir... yang buru-buru Tara hindari... kini berdiri di depannya. Tara yakin. Itu dia. Tidak salah lagi. Rambut hitam. Mata dan mantel kelabu. Celana jeans gelap. Aroma akar wangi di antara samar tembakau yang Tara yakin tak salah ingat. Tara tidak mungkin lupa. Dan di depan matanya sekarang, Greg tampak lebih tinggi. Lebih nyata. Sekaligus lebih mengancam daripada bayangan yang sempat singgah di benaknya. Dan, yang paling membuatnya gentar... ternyata benar... pria itu adalah seorang detektif. Ketertarikan yang bercampur dengan ketakutan itu membuat napas Tara tertahan di tenggorokan.Di seberang gedung Marrow Lane Residence, di balik bayangan pohon maple yang basah, sebuah senapan runduk dengan peredam suara terpasang diam menunggu. Larasnya mengintip dari celah tirai apartemen kosong di lantai empat, menyasar tepat ke unit 304. Unit yang selama ini Tara huni. Sabtu pukul 22.13 itu sebagian besar warga London memilih meringkuk di bawah selimut. Bukan tanpa alasan. Hujan kembali melanda. Bukan sekadar gerimis tipis, melainkan hujan deras dengan intensitas agresif. Seolah-olah alam semesta berkonspirasi bersama sang eksekutor untuk menunaikan tugasnya. Jalanan di antara kedua bangunan itu sepi. Tidak ada seorangpun melintas. Di dalam apartemen, lampu-lampu masih menyala. Dua siluet terlihat jelas dari balik tirai. Satu siluet pria, tinggi dan tegap di belakang sebuah kursi. Di depannya, siluet wanita, lebih mungil, dengan rambut panjang tergerai, duduk menghadap meja. Jari penembak itu bergerak pelan menarik pelatuk. Napasnya tertahan. Matanya menyipit mena
Greg tidak langsung membalas kemarahan Tara dengan kata-kata. Dia berjalan memutari meja, berlutut di depan kursi Tara, dan perlahan menarik tangan wanita itu dari wajahnya yang basah. "Lihat aku, Sayang," pintanya lembut. Tara mendongak. Matanya merah dan bengkak. "Kau tidak mengerti, Greg. Aku tidak punya apa-apa tanpa pekerjaan itu." Greg memberikan senyum tipis yang sulit diartikan. Dia merogoh saku celananya. Dari dalamnya, pria itu mengeluarkan sebuah benda kecil yang dapat digenggam dan tersembunyi di telapak tangan. Benda itu terbungkus sarung kulit berwarna hitam. Terdapat ornamen metal berwarna silver di atasnya. Sesosok wanita dengan tubuh membungkuk ke depan, sementara kedua tangan terantang ke belakang. Kain di pundaknya berkibar menyerupai sayap. Spirit of Ecstasy. Bersama benda itu, Greg juga menyerahkan sebuah dokumen lisensi kepemilikan. "Kau punya dirimu sendiri. Itu lebih dari cukup," hibur Greg sembari meletakkan kunci dan lisensi itu di telapak tangan
Awan tebal menggantung rendah saat sebuah sedan mewah membelah kemacetan. Sedan itu bukan sekadar kendaraan. Itu adalah simbol status tertinggi. Bukan hanya pilihan para pesohor, tetapi juga para bangsawan dan keluarga kerajaan. Kendaraan itu melaju tenang menuju salah satu kawasan paling bergengsi di dunia. Knightsbridge. Di kursi penumpang, Tara Bradley, yang kini secara resmi menyandang nama Tara Evans dalam catatan sipil, meremas tali tasnya. Matanya menatap keluar jendela. Terpaku pada deretan butik mewah dan fasad bangunan klasik yang memancarkan kekayaan yang tak tersentuh. "Kita akan ke mana?" tanya Tara lirih. Suaranya masih terdengar rapuh setelah konfrontasi melelahkan dengan Javier di apartemennya. Greg meliriknya sekilas. Tangan kirinya kokoh memegang kemudi. Sementara tangan kanannya meraih jemari Tara, menggenggamnya erat. "Ke rumah kita. Sebuah penthouse di Knightsbridge. Anggap saja ini safehouse yang sudah kupersiapkan khusus untukmu. Kau tidak bisa kembali ke
Javier tidak langsung meninggalkan gedung Marrow Lane Residence. Amarah dan kecurigaan yang membakar dadanya tidak mengizinkannya pergi begitu saja. Alih-alih menuju tempat parkir, Javier memutar arah menuju lantai dasar, ke sebuah pintu kayu kusam bertuliskan Estate Manager. Tanpa mengetuk, Javier menerobos masuk. Suasana di dalam ruangan itu pengap, dipenuhi tumpukan berkas dan aroma kopi instan yang sudah dingin. Seorang petugas paruh baya dengan seragam yang tampak kebesaran tersentak dari kursinya. "Aku butuh rekaman CCTV seminggu terakhir. Sekarang juga!" tuntut Javier sambil menghantamkan kartu identitas organisasinya ke atas meja. Petugas itu mengerjap, tampak bingung sekaligus ketakutan. “Tuan, maaf, tapi..." "Tidak ada tapi. Ini menyangkut keselamatan klienku. Berikan aksesnya atau aku akan membawa polisi ke sini dengan surat perintah," gertak Javier. Petugas itu menghela napas pasrah, lalu memutar salah satu monitor di hadapan Javier. Layar itu gelap gulita. Hanya
Pintu terbuka lebar. Udara dingin dan aroma hujan pagi hari menyergap masuk. Tara hampir menjatuhkan cangkirnya saat mendapati sosok yang muncul di baliknya. “Javier Castillo,” sapa Greg tanpa intonasi. Matanya menatap dingin sosok pria seusia dirinya yang berdiri di depan pintu. Psikolog Javier Castillo adalah terapis Tara. Orang yang sudah lama Tara hindari. Dia juga pernah bekerjasama dengan Greg saat menangani korban kekerasan domestik bertahun lalu. Pria itu berwajah lembut. Meninggalkan kesan aristokrat yang dibingkai rambut coklat ikal sebatas leher. Pagi itu, Javier mengenakan mantel musim dingin coklat susu yang bernoda jejak hujan. Warna yang selaras dengan celana dan vest-nya. Kontras dengan kekelaman Greg dibalut pakaian serba hitam, Javier terlihat semringah dan hangat. Meskipun demikian, tetap saja Greg mengenali gestur defensif saat bersitatap dengannya. Javier tersenyum sarkastik ketika menyambut jabatan tangan Greg yang mengancam. “Wah, Detektif Evans. Pagi-p
Tirai linen yang menjuntai di jendela menjadi penghalang dari dunia luar. Bahkan di bawah cahaya pagi keperakan yang mulai mengintip, udara di kamar itu masih terasa padat. Bau keringat dan sisa Chardonnay membaur dengan gairah yang belum sepenuhnya reda. Napas mereka menderu, saling beradu, dengan ritme yang mulai melambat. Menit berikutnya, Greg terhempas di samping Tara, bersimbah peluh dan jantung bergemuruh seperti derap sepatu lars di lorong sunyi. Mereka saling berdiam diri selama beberapa saat. Memandangi langit-langit tinggi yang seakan menatap balik. Tara menarik selimut. Menutupi tubuh hingga ke dadanya yang masih naik turun oleh napas tersengal. Greg mengambil celananya dari lantai dan memakainya. Pria itu kemudian kembali berbaring memiringkan tubuh menghadap ke arah Tara, bertopang pada siku, memperlihatkan otot-otot di pundak dan lengannya. Caranya menelisik ke dalam manik zamrud Tara masih diliputi intensitas yang sama seperti semalam. Dia mengulurkan tangan,






