LOGINHari menjelang siang. Di dalam apartemen kecilnya, Tara mencoba mengalihkan perhatian dari pesan misterius yang baru diterimanya. Ada tugas dari Kepala Perpustakaan Kota Notting Hill, tempat dia bekerja, yang harus selesai sebelum pukul tiga.
Padahal, hari ini perpustakaan libur. Seharusnya Tara bebas tugas. Namun, seperti pegawai lainnya, dia tidak berani menolak perintah Elaine Stapleton. Tara tak mau mengambil risiko terus menerus ditekan sampai akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Dia mematikan ponsel dan menyembunyikannya di kabinet dapur agar konsentrasinya tidak buyar. "Itu hanya orang iseng," pikir Tara sambil mendengus pelan, berusaha mengenyahkan kegundahannya. Pandangannya tertuju pada halaman kosong di layar laptop. Jemarinya bertengger di atas keyboard, namun pikirannya masih tak bisa beranjak dari pesan tanpa nama tadi. Siapa pengirimnya? Apa yang dia mau? Kenapa dia repot-repot menggangguku? Dari mana dia tahu nomor teleponku? Pikirannya kembali terseret pada pesan misterius itu. Tara mencoba mengingat satu per satu wajah yang mungkin berada di baliknya. Dia tidak mengenal banyak orang selain rekan kerja di perpustakaan dan segelintir teman semasa kuliah serta mantan dosen. Dia memang punya kontak beberapa orang di sebuah klub menulis yang diikutinya selama dua tahun ini, namun Tara jarang menghubungi mereka. Rekan kerja di perpustakaan dan orang-orang kampus dapat dipastikan tidak ada yang tahu kalau dia menulis fiksi. Namun, rekan-rekan di klub menulis... rasanya mereka juga tidak punya alasan untuk mengusik Tara. Tulisannya sering dianggap tidak menarik dan kurang di sana-sini, seperti kritik para mentor dan senior yang sering Tara dengar. Berkali-kali pula Tara mendapati naskahnya ditulis ulang, atau sekadar diambil sebagiannya, tanpa izin dan tanpa pengakuan. Para mentor sering berkata, "Ide itu tidak berharga kalau kau tidak bisa mengolahnya dengan baik. Ide itu murah. Kau bisa dapat dari mana saja." Ungkapan itu selalu merobek hatinya. Jika ide memang murah dan mudah, mengapa sebagian teman-teman di klub sering mengeluh kehabisan ide? Biasanya, mereka akan menunggu Tara atau yang lain mengunggah tulisannya di forum online klub, untuk kemudian ditulis ulang dengan bahasa mereka sendiri. Ironisnya, tulisan mereka selalu lebih populer, seolah idenya datang dari kepala mereka sendiri. Sedangkan Tara terlihat seperti si pengekor yang hanya bisa meniru. Kenyataan itu kerap membuatnya patah hati dan bertanya-tanya, “Benarkah aku tidak berbakat?” Seperti yang selalu dilontarkan oleh seseorang yang menginginkan Tara hancur sepenuhnya. * Dua bulan lalu, terdorong rasa kecewa dan marah, Tara menulis kisah pembunuhan berantai. Tentu saja dengan menggunakan nama pena berbeda. Korbannya adalah para penulis yang pernah mencuri tulisannya dengan semena-mena. Nama-nama itu, sengaja tidak Tara samarkan. Korban pertama dalam tulisannya adalah Clarissa Maynard, seorang penulis terkenal yang juga pengurus klub menulisnya. Wanita itu beberapa kali meninggalkan komentar menyakitkan di naskah romance Tara. Tara masih ingat ucapan Clarissa, "Itu tidak masuk akal sama sekali. Kau kurang riset," atau, "Sungguh menggelikan ada cerita semacam itu." Tara ingin membela diri dan mengkonfrontasi Clarissa. Namun, itu hanya akan membuat situasi makin buruk. Semua orang akan membela Clarissa. Karena itulah Tara memilih diam. Yang lebih menjengkelkan, Clarissa menulis ulang naskah itu dan menjadikannya best seller. Entah berapa kali dia membiarkan naskahnya terbengkalai karena hujatan Clarissa dan yang lain. Tara merasakan kelegaan ketika membunuh Clarissa di dalam naskah cerita kriminalnya, seakan akhirnya dia bisa melakukan sesuatu setelah sekian lama dibuat tak berdaya. Tentu saja semua hanya di dalam khayalan. Tara hanya ingin menyalurkan rasa sakitnya. Naskah itu tidak pernah diunggah ke mana pun, hanya menjadi koleksi pribadi. Sialnya, entah sejak kana, sepertinya naskah itu tak lagi menjadi milik pribadi. Seseorang telah menemukannya dan membacanya. Mungkin seseorang itu juga punya niat lain yang tak pernah Tara duga. Apa seseorang di klub itu yang melakukannya? Hanya mereka yang kemungkinan besar membaca naskahku. Tapi, untuk apa? Pikiran-pikiran itu berkeliaran di benak Tara, merusak ketenangannya. * Setengah jam berlalu. Belum satu kata pun berhasil Tara ketik dalam draft undangan untuk Rowan Sterling, penulis besar yang akan diundang Elaine sebagai juri dalam acara Tantangan Membaca Fiksi. Nama itu membuat dadanya terasa ditekan dan perutnya mual. Tara bahkan tidak pernah bisa membaca karyanya sampai selesai. Meskipun, banyak yang berpendapat Rowan adalah seorang maestro di bidang penulisan fiksi. Karena tak kunjung tenang, Tara bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan mondar-mandir sambil melakukan peregangan ringan, lalu menyentuh tanaman rambat yang menjuntai dari pot kecil di depan jendela. Matanya memindai seisi ruangan hingga tanpa sengaja berhenti pada remote televisi yang tergeletak di atas tumpukan majalah lama. Sudah lama televisi di ruang tamunya tidak menyala. Tara terlalu sibuk menyelesaikan naskah The Silent Slasher dan tidak ingin terganggu. Sekarang, proyek itu sudah selesai. Tara pikir tidak ada salahnya melihat perkembangan dunia luar. Diraihnya remote itu dan mengarahkannya ke televisi. Wanita itu tidak pernah tahu, sebuah kejutan yang menghantam sedang menanti. Begitu menyala, televisi langsung menayangkan berita kriminal. "Penulis terkenal Clarissa Maynard ditemukan tewas di kediamannya pagi ini dalam kondisi mengenaskan. Polisi belum menetapkan tersangka. Namun, sumber menyebutkan kematian Clarissa mirip dengan salah satu adegan dalam novel yang ditemukan di atas meja kerjanya." Clarissa Maynard? Tara menyipitkan mata. Namun, matanya segera membesar dan mulutnya menganga. Cuplikan naskah novel dan halaman depan yang menampilkan judul serta nama penulisnya, terpampang jelas di depannya: The Silent Slasher. Oleh: Violet Crow. Wanita itu merasakan darahnya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya membeku. Tangannya gemetar. Remote control yang semula tergenggam terlepas dan jatuh membentur lantai parket. Tubuhnya langsung merosot dan terduduk di lantai. Kakinya seakan mencair. Jantungnya berdetak terlalu keras, sampai menyakiti telinganya sendiri. "Ya, Tuhan," bisiknya hampir tak terdengar. Telapak tangannya menekan dada. "Ini... tidak mungkin. Ini hanya mimpi..." Tara ingin berteriak, ingin menangis, namun suaranya tertahan. Seluruh energinya menguap entah ke mana.Tara membereskan meja kerjanya dengan sedikit tergesa-gesa. Kepalanya terasa penuh, bising oleh suara-suara yang bertentangan. Ada suara Greg yang penuh dominasi, suara Isaac yang penuh harap, suara Elaine yang penuh tuntutan, dan suara bisik-bisik rekan kerjanya yang penuh racun. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Langit London sudah menyerah pada kegelapan yang datang lebih awal, diiringi gerimis yang seakan enggan berhenti sejak pagi. Lampu-lampu di perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam operasional bagi publik. Dia tahu Greg masih ada di luar. Pria itu tidak mungkin pergi. Greg adalah jenis pria yang jika sudah menancapkan taringnya, tidak akan melepaskan gigitan sampai dagingnya terkoyak. Namun, Tara sudah memutuskan. Dia tidak akan menjadi boneka yang patuh. Jika Greg ingin bermain peran sebagai pemburu dan pelindung, Tara akan menjadi umpan yang sulit ditangkap. Wanita itu menyampirkan tas di bahu, merapatkan cardigan putih panjangny
Sementara itu, tiga jam lalu di lantai teratas New Scotland Yard, Bill masih duduk di sofa yang sama sambil menatap kosong cangkir kopinya yang juga sudah kosong. Seakan semua jawaban atas apa yang terjadi hari ini sudah menguap dari sana.Henry juga masih duduk di kursi kebesarannya. Pria itu seperti orang yang baru saja selamat dari serangan jantung, tetapi berharap untuk mati saja. Wajahnya yang biasanya memerah, kini sewarna kertas laporan di atas mejanya. Kertas-kertas bukti transfer dana ilegal, catatan penggelapan kasus, dan stempel 'Insufficient Evidence' pada kasus kekerasan seksual atas Tara Elizabeth Bradley yang sengaja dia kubur enam tahun lalu. Semuanya kini teronggok di depannya, menatapnya balik dan menuntut pertanggungjawaban. Pria itu dengan cepat membalik foto-foto hasil visum Tara agar tak makin menambah rasa berdosanya."Kau..." Henry mendesis ke arah Bill. Suaranya serak, goyah, kehilangan wibawa yang selama puluhan tahun dia bangun di atas fondasi kebohongan. M
Greg masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya yang tajam bak elang pengintai masih mengunci punggung wanita yang baru saja melakukan tindakan pengkhianatan paling halus tetapi paling menyakitkan di depannya.Gaun merah hati itu seharusnya dilarang berada di ruang publik. Apalagi di tempat yang hampir sakral seperti di perpustakaan ini.Gaun itu serta cardigan putih yang membungkus tubuh Tara ibarat darah segar yang mengalir di atas hamparan salju. Kontras, mengejutkan, dan berbahaya. Greg membayangkan bagaimana kain itu terasa di bawah telapak tangannya, dan mengapa Tara dengan sengaja memilihnya pagi ini.Dia menyatakan perang. Buntut dari Greg meninggalkannya dengan kata-kata kasar di apartemen tempo hari.Namun, yang membuat darah Greg mendidih hingga ke ubun-ubun bukan semata-mata karena pakaian yang mengekspos tubuh yang ingin dia kuasai sendirian. Kemarahannya dipicu oleh bagaimana Tara berbicara pada Isaac Irving.Dia melihatnya. Dia mendengar setiap intonasi yang Tara maink
Hari menjelang pukul dua siang. Di ruangannya, Tara menyisir rambutnya, menariknya ke atas, dan mengikatnya tinggi-tinggi hingga mengekspos garis lehernya yang jenjang. Bukan sekadar merapikan diri. Melainkan sebuah tindakan yang dia harap bisa memberikan rasa kendali.Dalam hitungan menit, dia harus sudah ada di ruangan kepala perpustakaan. Wanita itu menyambar buku catatan dan pulpennya, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak ke pintu. Menuju lorong-lorong rak tinggi yang menyerupai labirin kayu ek tua.Bau debu dari buku-buku tua yang biasanya mampu meredakan badai di dalam dirinya. Namun hari ini, aroma itu gagal. Setiap inci tubuhnya yang dibungkus dress merah hati yang menantang dan cardigan putih yang menyamarkannya, masih terasa panas. Memori akan sentuhan Greg masih menempel di kulitnya.Saat melewati rak psikologi, tangannya terulur, menyisir punggung buku yang berbaris di sana. Dia kerap mencuri waktu di sini, mencari perlindungan dalam teori-teori tentang trauma dan ikatan
Pagi itu, Notting Hill tidak lagi beraroma mawar, rempah-rempah, dan tembakau mahal. Tara terbangun dengan napas yang terasa berat, seperti menghirup debu dari buku tua yang sudah lama tak tersentuh. Dia membuka mata dan menyadari kamarnya telah bertransformasi menjadi ruang aseptis yang dingin. Petugas kebersihan kemarin telah menjalankan tugas mereka dengan ketelitian anggota tim forensik. Aroma laut buatan yang asin dan tajam mengepung ruang tengahnya. Sementara itu, dari balik pintu kamar mandi, sisa-sisa klorin menguap seperti gas air mata. Sebuah upacara penghapusan yang sempurna. Tak ada lagi helai rambut hitam di bantal, tak ada lagi sisa jejak sepatu boots di lantai parket, dan yang paling menyakitkan, tak ada lagi aroma maskulin yang sempat menjajah indranya. Greg Evans telah lenyap. Tara telah mengusir jejak pria itu dari dinding dan lantai apartemennya. Meskipun begitu, Tara tahu, dia gagal mengeluarkan sang detektif dari labirin dalam kepalanya. Tara merasa ha
Sidang di ruangan Henry Cavendish pagi itu berakhir dengan senyap. Pintu ruangan tertutup dengan dentuman yang lebih berat dari biasanya di belakang Greg. Meninggalkan ketegangan yang beku di lantai teratas New Scotland Yard. Henry masih terpaku di kursinya. Lembaran kertas di tangannya kini tampak seperti pisau cukur yang siap menyayat nadinya sendiri. Martabat yang dia bangun selama puluhan tahun, arogansi yang dia pamerkan di depan cerutu mahalnya, menguap begitu saja. Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam hitungan detik. Napasnya pendek, dan keringat dingin mulai membasahi kerah kemeja seragamnya. Bill, yang biasanya memiliki komentar untuk segala hal, hanya bisa menatap nanar ke arah meja. Dia tidak melihat isi amplop itu. Akan tetapi, dia melihat kehancuran di wajah atasannya. Masih lekat di pelupuk matanya saat Greg yang berjalan menjauh. Ada perasaan asing yang menyelimuti. Seolah-olah pria yang baru saja keluar dari ruangan itu bukanlah anak muda yang dia kena







