LOGINPukul lima pagi. Udara di area belakang rumah keluarga Pratama masih terasa menggigit, namun di dalam ruangan cuci yang lembap di dekat dapur, atmosfer terasa begitu panas dan menyesakkan. Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Andra memojokkan Sri ke dinding keramik yang dingin. Napasnya memburu, bau alkohol dari malam sebelumnya masih samar-samar tercium, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang kini terasa begitu liar. Andra mencium Sri dengan penuh hasrat, seolah-olah ia sedang mencoba menyedot seluruh energi kehidupan dari wanita itu untuk menutupi kehampaan jiwanya akibat masalah kantor. Ciumannya tidak lagi lembut, itu adalah ciuman seorang pria yang sedang frustrasi dan terdesak. Andra menggigit bibir bawah Sri dengan cukup keras hingga wanita itu merintih pelan, meninggalkan bekas kemerahan yang berdenyut, sebuah tanda kepemilikan yang berbahaya. "Hanya kau, Sri... hanya kau yang bisa menenangkanku," bisik Andra parau di sela cumbuannya. Tangannya yang gemetar merayap
Kantor pusat Pratama Group yang biasanya menjadi tempat Andra memamerkan kekuasaannya, kini terasa seperti penjara. Di atas meja kerjanya, tumpukan dokumen audit internal dan kontrak kerjasama terbengkalai. Pikiran Andra tidak lagi berada pada angka-angka pertumbuhan perusahaan, melainkan pada aroma tubuh Sri dan rencana-rencana rahasia untuk memanjakan wanita itu. Fokusnya benar-benar hancur. Karena rasa bersalah dan cintanya yang obsesif, Andra baru saja melakukan kesalahan fatal. Ia menandatangani kontrak pengadaan bahan baku dengan vendor yang tidak kredibel tanpa memeriksa detail klausulnya. Kesalahan itu berpotensi merugikan perusahaan dalam jumlah miliaran rupiah. Namun, yang lebih berbahaya adalah tangannya yang kini mulai bermain lebih jauh dengan kas perusahaan. Andra membuka laci mejanya, menatap buku cek pribadi yang terhubung dengan akun dana darurat perusahaan. Ia menarik napas panjang, lalu mulai menuliskan nominal yang fantastis. Lagi... aku melakukannya lagi, bati
Malam itu, rumah besar keluarga Pratama tampak tenang, namun di paviliun belakang, ketegangan yang berbeda sedang membara. Andra menyelinap masuk ke kamar Sri dengan langkah yang jauh lebih percaya diri daripada biasanya. Ia tidak lagi tampak seperti pengecut yang bersembunyi di dalam lemari, ia datang sebagai seorang pemenang. Begitu pintu terkunci, Andra langsung menghampiri Sri yang sedang duduk di kursi kayu kecilnya. Ia berlutut di depan wanita itu, menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang hangat. "Kau hebat tadi, Sri. Benar-benar hebat," bisik Andra dengan mata yang berbinar penuh kekaguman. "Sarah benar-benar bertekuk lutut. Dia meminta maaf padaku di mobil, menangis karena merasa telah memfitnah kita. Dia tidak akan berani mencurigaimu lagi dalam waktu dekat." Sri memberikan senyuman tipis, sebuah senyuman yang membuat Andra semakin terpesona. "Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, Tuan. Saya tidak ingin hubungan Anda dan Nyonya hancur hanya karena saya." "J
Di tengah keheningan butik yang mencekam, Andra menarik napas panjang. Alih-alih menunjukkan kepanikan, ia justru melepaskan tawa yang terdengar sangat ringan, seolah-olah tuduhan Sarah adalah lelucon paling konyol yang pernah ia dengar tahun ini. "Astaga, Sarah..." ucap Andra sambil menggelengkan kepala, ia menatap beberapa pelanggan butik yang sedang memperhatikan mereka dengan senyum canggung. "Kau dengar apa yang kau katakan? Kau menuduh suamimu sendiri berselingkuh dengan seorang pelayan di tengah butik mewah seperti ini? Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu banyak bekerja." Andra melangkah mendekat, mencoba memegang bahu Sarah, namun wanita itu menghindar. "Kau terlalu paranoid, Sayang. Sejak ibumu datang, pikiranmu jadi kacau. Kau mencari-cari kesalahan yang tidak ada hanya untuk melampiaskan stresmu." Sri, yang masih memegang tumpukan belanjaan berat, mengambil momen ini untuk masuk ke dalam panggung. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya sed
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota Jakarta yang padat. Di kursi kemudi, Andra mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Sarah duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi, sesekali melirik suaminya melalui kacamata hitamnya. Sementara itu, di kursi belakang, Sri duduk menunduk, namun matanya sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, menangkap mata Andra yang penuh kegelisahan. "Sri," panggil Sarah tiba-tiba, memecah kesunyian yang mencekam. "Bagaimana kabarmu dengan Bambang? Apa dia masih sering menghubungimu?" Sri tersentak pelan, lalu menjawab dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Sudah jarang, Nyonya. Mungkin dia sudah menemukan wanita lain di kampung." "Sayang sekali ya," sahut Sarah sambil melirik Andra yang mulai berkeringat dingin. "Padahal Bambang itu lelaki yang cukup tampan untuk ukuran supir. Kenapa kau memecatnya waktu itu, Sayang? Aku merasa dia jauh lebih berguna daripada supir kita yang sekarang." Andra b
Sinar matahari pagi menembus jendela ruang makan yang mewah, namun suasana di meja makan terasa jauh dari kata hangat. Nyonya Lydia duduk dengan anggun, menyesap tehnya perlahan, sementara matanya tak lepas dari Sarah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Andra sendiri belum turun, yang memberikan kesempatan bagi Lydia untuk membicarakan kejadian subuh tadi. "Sarah, kau harus benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di paviliun belakang," buka Lydia, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Subuh tadi, aku mendengar suara-suara intim dari kamar pelayan mudamu itu. Suara ranjang yang berderit dan tawa wanita yang sangat... menjijikkan untuk didengar di rumah ini." Sarah tertegun sejenak, namun kemudian ia tertawa kecil, berusaha menenangkan ibunya yang menurutnya terlalu sensitif. "Ma, Mama mungkin hanya salah dengar atau terlalu khawatir." Sarah duduk di hadapan ibunya, mencoba bersikap santai. "Dulu dia memang sangat dekat dengan mantan supir kita, namanya Bambang.







