Share

Bab 91

Author: Ipak Munthe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-06 23:59:15

"Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya.

Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana?

Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin.

"Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian.

Hah?

Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian?

Ini sungguh sangat tidak mungkinkan?

"I-iya," Ara mengangg
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 94

    "Bos, jangan hancurkan hubungan anda dan Ibu Indah yang sudah ada kemajuan ini," bisik Robby. Adrian pun menatap Robby sesaat, lalu berjalan masuk ke dalam vila. Robby merasa lebih tenang sekarang, sebenarnya siapa yang memiliki masalah? Kenapa ia harus sepanik ini? Ah kacau.Sang Bos yang cemburu ia ikut pusing, pusing menyelamatkan bonus bulannya. *** Indah merasa sangat lega karena untuk hari ini syuting berjalan dengan sangat lancar, dan syuting akan segera selesai. Ia berharap film ini akan meledak di pasaran. Film pertama ini tentu banyak sekali mengajarkan perjuangan awal penuh kesan. "Indah," Brian pun duduk di kursi sebelahnya. "Ya?" Indah menoleh. "Nih, cobain," Brian kembali memberikan makanan masakan yang dikirimkan sang Mama seperti yang ia katakan sebelumnya. "Wah, terimakasih," kata Indah. Brian pun mengangguk, "Indah, sebenarnya aku punya maksud sama kamu," kata Brian. "Aku?" Indah menatap bingung. Brian menggangguk lalu melihat sekitarnya, suas

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 93

    "Kenapa mukanya?" tanya Maya. Ara yang duduk bersebelahan dengan Maya pun menatapnya sinis, tapi kemudian merebahkan kepalanya pada meja tanpa ingin menjawab. Sedangkan Indah yang duduk bersebelahan dengan mereka mulai merasa malu, ia memilih mengunyah makanannya. "Kalian kenapa sih?" tanya Maya makin penasaran. "Aku nggak bisa tidur gara-gara dia," Ara menunjuk Indah. "Kenapa?" Indah tetap diam, tapi di kursi lainnya tanpa sengaja ia melihat Adrian tengah meliriknya diiringi sedikit senyuman. Ia juga membalasnya tapi kemudian ia juga kembali fokus pada makannya berpura-pura tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian Mita pun muncul dan mengedarkan pandangan, tapi kursi kosong hanya tersisa disamping Indah saja. Terpaksa ia pun duduk di sana. "Kamu kenapa?" Tanya Maya karena keduanya teman sekamar. Tapi Mita malah terlihat tidak senang dan justru melirik Indah dengan tajam, sebab karena gagal mengerjai Indah hingga ia seperti ini. Bahkan semalaman Mita tidak bisa tid

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 92

    Di luar kamar Mita sudah memegang gagang pintu, tetapi ada tangan yang menghentikannya. Lalu ia pun menoleh. "Kak Ria?" Mita mungkin masih belum percaya bahwa sahabat Kakaknya ada di depan matanya. Kemudian ia pun menghempas tangan Rio, lalu menoleh ke samping, meminta seseorang yang ikut bersamanya segera pergi. "Tunggu!" Rio menghentikan langkah pria itu. Mita meneguk saliva susah payah, "pergi!" perintahnya cepat. Tapi saat pria itu akan melangkah lagi Rio mengambil sesuatu yang dibawa pria itu dan melihatnya. Ular. Meski tidak terlalu besar tapi tetap saja itu adalah hewan yang membahayakan. Ketika itu pria asing itu langsung melahirkan diri. Mita bingung harus bagaimana. Pergi. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Tapi Rio sudah meraih tangannya kemudian menariknya. "Kak Rio, kamu mau apa? Jangan kurang ajar!" Tapi Rio tidak peduli, ia pun membawa Mita masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. "Kak Rio, jangan macam-macam! Kalau ak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 91

    "Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya. Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana? Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin. "Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian. Hah? Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian? Ini sungguh sangat tidak mungkinkan? "I-iya," Ara mengangguk cepat lalu ia masuk ke dalam toilet, ia bisa duduk disana sambil bermain ponsel menunggu Adrian pergi. *** "Mas, kamu kok disini?" tanya Indah. Duar. Suara petir kembali menggelegar, membuatnya membeku. Adrian kembali memeluknya erat, seolah menenangkan Indah. 'Indah, kamu nggak usah lebay. Ini cuma petir, memangnya kenapa?' batinnya. "Mas, kamu pergi sana. Kenapa kesini," protes Indah. "Kenapa? Aku kangen sama kamu, aku ini suamimu. Aku sekarang mikir jika pernikahan ini nggak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 90

    "Bos, Anda mau pergi sekarang?" tanya Robby ketika melihat Adrian sudah mengambil ponselnya. Adrian pun menatap Robby dengan sinis, "Besok!" Robby pun menundukkan wajahnya karena takut pada Adrian, 'Cuaca tidak bisa ditentukan oleh cerahnya matahari,' batinnya. Adrian melirik jam tangannya. "Masih ada waktu." "Kalau begitu, kenapa sudah siap-siap?" "Aku mau memastikan tempatnya aman." Robby mengerutkan kening. "Tempat apa, Bos?" Adrian menatapnya datar. "Bawah pohon jeruk." Oh." Robby mengangguk pelan. Ternyata bosnya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. "Jangan sampai ada yang melihat," pesan Adrian. "Siap, Bos." Adrian pun keluar dari kamar dengan langkah penuh percaya diri. Sementara itu, Robby hanya bisa menggelengkan kepala. "Benar-benar puber terlambat." *** Adrian sudah berada di belakang vila. Sesuai pesannya, ia menunggu di bawah pohon jeruk yang tumbuh tidak jauh dari bangunan utama. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah hampir s

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 89

    Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status