LOGIN
"Ma, ngapain sih nikah lagi?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir mungil seorang gadis berusia 24 tahun.
Sang pengantin wanita yang menjadi objek dalam cermin besar, hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putri satu-satunya itu. Wanita cantik itu bernama Sheila Anggraini. "Mama!" tegur gadis itu lagi, kali ini dengan nada setengah tak sabar. "Kalau ada pria baik yang bersedia memberikan rasa aman dan menawarkan pundaknya pada Mama, kenapa tidak?" jawabnya lembut, sambil memutar sedikit tubuhnya agar sang penata rias bisa menyempurnakan detail kebaya di punggungnya. "Ya tapi Mama kan udah 44 tahun. Kenapa setelah 15 tahun menjanda, baru kepikiran menikah sekarang?" "Itu karena baru ketemu jodohnya, Olivia Sayang," jawabnya singkat, matanya tak lepas dari bayangan dirinya di cermin—penuh harapan, tapi juga sedikit gugup. Olivia, yang sejak tadi duduk di sofa beludru krem di sudut ruangan, bangkit sambil membetulkan lipatan gaun merah muda dengan potongan A-line klasik, bertabur kristal halus. Ia tersenyum mengejek. "Mama ini sebenarnya puber kedua sama Om Adrian, kan?" Sheila terkekeh kecil, ekspresinya seolah menertawakan diri sendiri. Tangannya mengusap pelan bagian depan kebaya putih modern yang membingkai lehernya dengan lembut. "Mungkin bisa dibilang begitu, Via Sayang," katanya sambil memandangi cermin, suaranya ringan namun dalam. "Tetap saja Via nggak setuju! Via nggak mau punya ayah tiri!" seru Olivia sambil menyilangkan tangan di dada, tatapannya tajam tapi mengandung rasa cemas yang disembunyikan di balik nada sinis. Sheila berbalik pelan dan menghampiri putrinya, lalu menggenggam kedua tangannya. Tatapannya lembut namun tegas. "Kamu pasti bakalan suka dengan Om Adrian, Sayang. Dia baik. Meskipun usianya 40 tahun tapi dia bisa berbaur dengan anak-anak muda karena Om Adrian memang menyenangkan bagi orang di sekelilingnya. Makanya Mama bisa jatuh cinta dengan dia," kata Sheila dengan senyum penuh keyakinan. Olivia menatap ibunya dengan dahi berkerut, "Pokoknya, aku nggak bakal manggil Om Adrian Ayah, Papa, atau apalah itu!" suaranya sedikit meninggi, tanda protesnya belum padam sejak seminggu terakhir. Sheila terkekeh pelan, menatap putrinya yang dengan keras kepala menolak menerima kehadiran Adrian Fabian dalam hidup mereka. Pria yang, setelah bercerai tiga tahun lalu, juga ingin menghapus sepi dalam dirinya. "Mama yakin, suatu saat kamu bakal manggil dia bukan Om lagi. Mungkin Daddy," goda Sheila sambil menyunggingkan senyum lebar. "Mana mungkin, Ma!" "Mungkin aja." "Mama jangan terlalu berharap deh." "Masa nggak boleh." Olivia semakin cemberut karena sikap santai sang Ibu, bahunya sedikit menegang. Dalam hati dia gelisah, tidak bisa melarang ibunya, tapi juga berat menerima jika ada laki-laki lain yang menyusup ke dalam dunia kecil mereka yang selama ini nyaman diisi berdua saja. "Duh Mama gugup! Sebentar lagi harus duduk di depan meja akad," ucap Sheila, mencoba mengalihkan suasana. Olivia mendengus. "Harusnya Via yang duduk di meja akad lebih dulu, Ma." Suara tawa Sheila menggema, terdengar lebih lepas, seperti sedang menikmati momen kecil itu. Tiba-tiba dari balik pintu, seorang pria berseragam hitam mengintip, menahan senyum sebelum menyampaikan, "Ibu Sheila, ditunggu di meja akad. Sepuluh menit lagi acara akan dimulai." Sheila mengangguk, matanya melirik ke cermin besar yang terpajang di depan. Refleksi wajahnya tampak tenang tapi ada kesedihan lembut yang sulit disembunyikan. Ia meraih kedua tangan Olivia dengan lembut, tatapannya berubah menjadi penuh kehangatan dan sedikit takut. "Via, temani Mama, ya. Mama tahu, kamu pasti khawatir Mama akan berubah karena ada orang lain yang nanti Mama urus. Tapi percaya, Mama nggak akan berubah. Justru kamu akan dapat kasih sayang baru dari orang itu." Olivia menatap mata ibunya, senyum kecil mengembang di bibirnya. "Iya, Ma. Janji, ya?" "Iya, Sayang," Sheila membalas, menggenggam tangan putrinya lebih erat seolah menegaskan tekadnya. Mereka berdua keluar dari ruangan itu, melangkah bersama menuju venue pernikahan yang dipenuhi dekorasi indah serta kehadiran kerabat, sahabat dan para tamu yang juga sudah tak sabar menyaksikan momen sakral. Meskipun bukan pernikahan pertama, detak jantung Sheila tetap berdentam kencang, menandai betapa berarti momen itu baginya. *** ".... dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya, Sheila Anggraini binti Bapak Adnan Hutomo dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" Adrian Fabian, lelaki berwajah tampan, menyuarakan ijab kabulnya dengan penuh keyakinan di depan wali nikah. Detik-detik suara itu menggema, suasana hening menegang. Dua saksi duduk berdampingan dengan Pak Penghulu, mata mereka tidak berkedip, menilai tiap kata yang terucap untuk memastikan keabsahan pernikahan itu. Saat mereka mengangguk, konfirmasi kesahihan terucap sinkron dari bibir para hadirin, "Sah? Sah! Alhamdulillah..." Sheila, yang sejak awal menundukkan kepala, sekarang tangannya terkatup rapat di sisi Adrian, suaminya yang lebih muda empat tahun darinya. Lelaki yang baru saja mengucapkan kalimat sakral pernikahan untuknya. "Sekarang kalian sudah sah, silakan Mbak Sheila mencium tangan suaminya," perintah Pak Penghulu dengan suara yang tegas namun ramah. Sheila merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia tersenyum haru di depan Adrian, pria yang sekarang menjadi suami sahnya, baik di mata agama maupun negara. Dengan perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada tangan yang telah terulur di hadapannya. Tangan besar Adrian yang terbuka, menanti. Jemari Sheila yang halus bergetar sedikit sebelum akhirnya menyentuh punggung tangan lelaki itu, mengecupnya dengan lembut dan penuh cinta. "Nah, sekarang gantian, Mas Adrian boleh mencium kening Mbak Sheila," ucap Pak Penghulu lagi. Sheila mengangkat kepalanya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi. Mata Adrian yang teduh menatapnya, membuat Sheila merasa semakin gugup. Ia berusaha menenangkan diri. Sheila menahan napas, matanya terpejam, saat bibir Adrian yang lembut menyentuh keningnya. Detik berlalu seperti menit, bibir Adrian masih bertahan di sana, menambah rasa gugup yang menguar. Pak Penghulu mengurai kebekuan dengan lelucon ringan. "Mas Adrian, udah, Mas!" serunya setengah bercanda. "Oh, sudah ya?" Adrian menyahut, pura-pura kecewa. "Nanti saja lanjut di kamar! Buru-buru banget mau unboxing," candanya lagi, diikuti tawa dari tamu yang hadir. Saat tawa menggema, wajah Sheila bersemu merah. Sudah lama dia tidak merasakan kebahagiaan yang membuncah seperti ini. "Selanjutnya, tanda tangan buku pernikahan. Silakan tanda tangan di sini," titah Pak Penghulu. Sheila dan Adrian meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangan di sana. "Ya! Tahan, foto dulu sebentar!" seorang fotografer profesional sibuk mengabadikan momen tersebut. Pesta resepsi pun resmi dimulai, diiringi ucapan selamat yang mengalir tanpa henti dari kerabat dan sahabat. Halaman luas restoran milik Adrian yang sedari kemarin malam sudah disulap menjadi venue megah mereka, kini penuh sesak dengan tawa dan sorak sorai. Lampu-lampu gantung kristal berkelap-kelip, menambah semarak suasana yang menggema hingga sore hari. Waktu berjalan tanpa terasa. Saat suara tawa mulai mereda, mereka sudah duduk dalam mobil sedan hitam yang siap membawa ke kamar hotel untuk malam pertama. Sambil fokus pada jalanan di depannya, Adrian melemparkan senyum lembut lalu mencondongkan tubuh, mengecup punggung tangan Sheila dengan penuh kasih sayang. "Kamu capek, sayang?" tanyanya pelan. Sheila mendongak, senyum manja terlukis di bibirnya. "Capek, Mas. Tapi bahagia banget." Adrian menatap matanya, masih penuh perhatian. "Tapi masih kuat, kan?" "Buat?" "Buat … malam pertama, dong," goda Adrian. Sheila tersipu, sembari mengangguk pelan. Sudah seperti kali pertama menikah saja. "Mas, aku minta kamu bisa menyayangi Olivia seperti anakmu sendiri, ya." "Iya, Sayang." "Dia memang keras kepala dan syok karena ibunya tiba-tiba menikah lagi setelah puluhan tahun kami hanya hidup berdua, tapi aku yakin kalian berdua akan segera akrab." Adrian mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba, mobil yang dikemudikan Adrian bergetar ringan. Pegangan setir terasa goyah, dan mobil agak oleng. Dengan sigap Adrian menurunkan kecepatan. "Sayang, sepertinya bannya kempes. Aku cek dulu, ya. Kita berhenti sebentar." Sheila mengangguk, "Ya, Mas. Dicek dulu aja." Adrian membawa mobil sedan hitamnya pelan ke bahu jalan, lalu membuka pintu dengan hati-hati. Napasnya terhenti sejenak saat matanya menangkap paku yang tertancap di ban sebelah kiri. Dengan langkah cepat, dia mendekati Sheila yang duduk di kursi depan. "Beneran bocor, Sayang. Aku ganti ban dulu, ya. Kamu tunggu di sini aja. Nggak lama kok." "Ya, Mas," Sheila mengangguk pelan, matanya mengikuti Adrian mengambil ban cadangan dari bagasi. Tak lama, suara ketukan dan gesekan terdengar jelas di tengah ramainya jalan tol. Di dalam mobil, Sheila melirik dirinya di kaca spion, wajahnya tampak bosan dan gelisah. "Hmm, aku butuh udara segar," bisiknya, sebelum tanpa pikir panjang membuka pintu dan turun. Adrian yang berada di depan mobil masih sibuk mengganti ban yang bocor, tidak menyadari istrinya turun. Dengan gaun pengantin yang masih melekat, dia berjalan perlahan ke belakang mobil, tangan gemetar saat membetulkan tanda segitiga yang terjatuh di aspal. Angin lalu lalang membuat gaunnya berkibar samar. Tanpa diduga, dari arah belakang sebuah truk besar melaju kencang, mencoba menyalip kendaraan di jalur kiri. Sopir truk terlalu fokus hingga tak melihat mobil mereka yang terparkir di bahu jalan. Tubuh Sheila membelakangi truk itu saat tiba-tiba terdengar suara rem yang menyayat telinga. Truk mencoba menghindar, tapi tubuh besar kendaraan itu tetap menyenggolnya dengan keras. Sheila terpental ke aspal, gaunnya robek, tubuhnya terluka parah dan napasnya terhenti. Suara dentuman keras dan jeritan kesakitan pecah membelah jalan tol yang ramai itu. Gaun pengantin mewah di tubuh Sheila berubah menjadi merah pekat akibat darah yang mulai mengalir di atas aspal. "Sheila!" suara Adrian pecah, menggema penuh kecemasan dan panik. Bersambung...Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.
Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per
Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana
Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian
Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p
Adrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb







