Home / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 06. Harapan Baru.

Share

Bab 06. Harapan Baru.

Author: eslesta
last update Last Updated: 2025-10-07 11:55:49

Olivia berdiri diam di depan cermin, matanya menelusuri bayangannya sendiri yang baru saja tertangkap. Kemeja putih lembut yang kemarin ada di dalam kotak kini melekat pas di tubuhnya, seperti dibuat khusus untuknya. Celana abu tua serasi memberikan kesan rapi dan profesional, sementara rambut yang ia biarkan terurai sebagian disisir rapi dan ujungnya sedikit ditiup blow.

Make up tipis menghidupkan rona segar di wajahnya, dan sepasang kacamata bening menghias hidung, memberi kesan cerdas sekaligus dewasa.

Olivia menarik napas dalam, dadanya mengembang penuh keyakinan meski hatinya masih terselip keraguan kecil.

"Oke, kamu bisa. Tundukkan siapapun HR di balik meja itu, Via," gumamnya pelan, menatap bayangan sendiri dengan senyum kecil yang berusaha menyingkirkan gelisah.

Olivia melirik arlojinya. "Sebaiknya aku sarapan dulu. Masih ada waktu, interview aku pukul sembilan."

Gadis cantik itu menatap cermin sekali lagi untuk memastikan penampilannya, lalu memutar tubuhnya menuju pintu.

Langkah kaki Olivia terdengar pelan saat menuruni anak tangga menuju ruang makan. Matanya sesekali menatap ke bawah, seolah sedang menenangkan denyut jantung yang mulai bergejolak.

Di meja, Adrian sedang menuang teh ke cangkir, lalu ia mendongak begitu melihat Olivia masuk. Matanya terpaku, tak mampu mengalihkan pandangannya. Waktu seolah melambat sejenak di antara mereka.

"Cantik sekali..." bisiknya tanpa sadar.

Olivia berdiri dengan penampilan menawan, sesuatu dalam dirinya memancarkan kekuatan yang baru, seperti cahaya yang memancar dari perempuan yang mulai bangkit dari luka.

"Kamu..." Adrian bersuara pelan, suaranya hampir terhenti. "Terlihat sangat siap pagi ini, Via."

Olivia menurunkan pandangan, lalu tersenyum canggung. "Serius, Om? Penampilanku nggak berlebihan, ya? Ini pertama kali, takutnya malah terlalu wah untuk interview."

Adrian melepaskan senyum hangat, dadanya seakan menyimpan rasa bangga yang sulit ia ungkapkan. 'Justru kamu terlihat menawan dan cantik sekali, Via,' bisiknya dalam hati.

"Aku yakin ini nggak berlebihan, Via. Kamu malah kelihatan siap, seperti yang aku bilang tadi. Penampilan kamu wajar banget, sangat wajar. Pasti HR akan kasih nilai plus seribu persen untuk kamu!" katanya sambil tersenyum menilai penampilan Olivia dari atas sampai bawah.

Olivia terkikik kecil, matanya berbinar sedikit lega. "Om berlebihan. Pakaian dari Om Adri bikin aku seperti orang yang berbeda pagi ini. Makasih ya, Om."

"Sama-sama, Via. Mari kita sarapan dulu."

"Ya, Om."

Olivia duduk perlahan di kursi favoritnya, tangannya sibuk merapikan lipatan kemeja, sesekali menarik napas pendek seolah mencoba menenangkan hati yang bergemuruh. Wajahnya tampak tenang, tapi Adrian tahu benar ada kegelisahan yang berusaha disembunyikan.

"Pagi," suara Bik Surti terdengar dari dapur, datar dan tanpa semangat, saat ia meletakkan sepiring roti panggang dan potongan buah di meja.

"Pagi Bik," jawab Olivia singkat, lalu cepat mengalihkan pandangannya ke cangkir teh di depannya, matanya tak berani menatap siapa pun.

Adrian duduk di seberangnya, diam-diam mencuri pandang. Ia sudah sering melihat Olivia di rumah ini—kadang dengan rambut acak-acakan, wajah lelah dengan mata sembab. Tapi pagi ini berbeda.

Ada sesuatu dalam cara Olivia duduk tegak, dalam caranya tersenyum kecil menahan gugup, dan dalam sorot matanya yang hidup kembali.

"Deg-degan, ya?" Adrian bertanya lembut sambil menyeruput tehnya.

"Sedikit, Om," jawab Olivia, memotong roti kecil-kecil sebelum akhirnya menatapnya. "Tapi aku udah coba latihan jawab pertanyaan. Seperti yang Om ajarkan."

Adrian tersenyum bangga. "Jawaban favorit kamu buat pertanyaan ‘kenapa kamu tertarik kerja di sini’?"

Olivia sengaja menahan senyum sambil menirukan suara serius, "Karena saya ingin belajar dari perusahaan yang sedang bertumbuh, dan saya bisa bekerja dengan kecepatan serta tekanan."

Adrian menghela napas pelan lalu tertawa kecil. "Good. Itu jawaban yang kuat. Tegas."

Olivia meliriknya sejenak. "Aku juga sempat nulis versi jujurnya: ‘Karena aku butuh uang dan bosan nganggur.’ Tapi sepertinya kurang elegan."

Mereka tertawa bersamaan, dan suara itu terdengar seperti sesuatu yang lama tak ada di rumah itu.

Adrian menatap Olivia lebih lama dari biasanya, kacamata beningnya seolah memperjelas setiap detail wajah yang hari ini tampak berbeda—bukan hanya cantik, tapi ada semangat baru yang mengalir di matanya.

"Aku belum pernah lihat kamu begitu, lepas gini," ucap Adrian, jujur.

Olivia mengernyit, penasaran. "Maksudnya?"

"Bersinar," jawab Adrian singkat dengan senyum hangat.

Olivia terkekeh, menepis pernyataan itu sambil berkata, "Om ini bisa aja. Jangan bercanda deh, aku jadi makin gugup."

Adrian cuma tersenyum tenang. "Aku nggak bercanda. Serius."

Untuk pertama kalinya, Olivia tidak menanggapi dengan sinis. Ia hanya membalas dengan senyum tipis dan kembali menyesap tehnya, berusaha memfokuskan pikirannya pada proses interview nanti.

***

Suara ketukan jemari Olivia di layar ponsel berirama pelan, mengisi ruang tamu yang sepi pagi itu. Ia berdiri dekat pintu sambil membuka aplikasi transportasi online. Satu jemari menyentuh pelipis, ragu. Satu lagi menggenggam map berisi CV dan dokumen pelengkap. Rambutnya terurai rapi, kemeja putih bersih menyatu dengan celana abu-abu yang elegan.

"Loh? Kamu berangkat sekarang?" suara Adrian mengagetkan, sambil berdiri di ambang koridor ruang keluarga dengan kemeja rapi, meski hari ini dia hanya bekerja dari rumah.

Olivia mengangguk singkat. "Iya, Om. Takut kesiangan."

Adrian melangkah mendekat, matanya menyorot tak percaya. "Kamu mau naik apa?"

"Taksi online, Om. Ini aku mau pesan sebentar lagi," jawab Olivia sambil mengetik nama gedung tempat interview di aplikasi transportasi online.

Pria itu berhenti sejenak, menatapnya dalam-dalam. "Taksi online?"

"Iya."

"Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku antar," putus Adrian.

Olivia segera menggeleng, "Nggak usah, Om. Aku bisa sendiri."

Adrian menarik napas panjang, wajahnya berubah lembut. "Via, kalau Mama kamu masih hidup, dia pasti nggak akan ninggalin kamu hari pertama kerja. Minimal, dia bakal pastikan kamu sampai sana dengan tenang, tanpa bingung cari alamat atau waswas sendirian di mobil orang asing."

Olivia menatap ke lantai, bibirnya menggigit dalam diam. Kalimat itu benar, tapi dia masih keras kepala.

"Tapi aku nggak mau bikin Om repot," suara Olivia nyaris berbisik.

"Bukan repot, Via. Nganter kamu itu bukan beban. Lagipula, masa lebih enak ditemani sopir yang nggak kamu kenal ketimbang sama Om?" Adrian meyakinkan sambil tersenyum tipis.

Olivia tetap diam, pandangannya teralihkan ke layar ponsel yang kini muncul tulisan “Driver Sedang Dicari”. Sesekali jarinya menari tak sabar di atas layar.

Akhirnya, dia menghela napas pelan dan mengangguk kecil. "Tapi antar sampai depan kantor aja, Om. Jangan turun. Jangan masuk."

Adrian terkekeh ringan, suara itu hangat. "Oke, deal. Kamu tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil dulu!"

Olivia hanya mengangguk pelan, menunduk sebentar sebelum ikut berjalan ke mobil hitam itu di belakang Adrian.

Tak lama, keduanya sudah berada di perjalanan.

Di dalam sedan hitam yang melaju pelan, keheningan menggantung, hanya pemutar musik yang menyelinap membawa lagu sendu milik Suara Kayu berjudul “Kembali Pulang,” yang lembut memenuhi udara.

Olivia duduk tegak di kursi depan, matanya tak lepas dari jalanan lengang di depan. Sesekali tangannya mengecek ulang isi map di pangkuannya, menunjukkan kegelisahan yang tersembunyi.

Adrian mencuri pandang padanya, bibirnya menguntai senyum kecil. "Kamu sudah terlihat siap. Tapi jangan lupa... senyum. Kadang itu lebih penting daripada jawaban," katanya dengan suara ringan.

Olivia menarik napas pelan, sedikit menegakkan bahu. "Aku senyum, kok."

"Senyum ke jalan nggak dihitung," Adrian menyindir sambil menoleh ke jendela.

Akhirnya Olivia memalingkan wajahnya, menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Nih, Om. Lihat sini. Aku senyum, kan!"

Adrian mengangguk, ikut tersenyum. "Bagus. Itu baru calon karyawan keren. Jangan lupa berdoa."

"Iya, Om. Sejak tadi aku berdoa di dalam hati."

"Good."

Diam pun datang, tapi bukan keheningan canggung. Ada percikan kehangatan dari dua orang yang mencoba mengerti satu sama lain lewat kata-kata yang tak terucap.

"Om..." suara Olivia memecah sepi.

"Hmm?" jawab Adrian, menoleh ke arah Olivia dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Kenapa sih... Om baik banget ke aku? Padahal aku nggak pernah benar-benar ramah ke Om."

Adrian kembali memandang lurus ke depan, jarinya mantap menggenggam setir. Suaranya pelan, berat, "Karena kamu bagian dari Sheila. Selama aku masih bisa jaga apa yang dia cintai... rasanya seperti aku masih dekat sama dia."

Olivia menunduk. Ada jeda lama sebelum ia bersuara lagi. "Kadang aku masih marah sama Mama karena ninggalin aku. Padahal aku tahu itu bukan salah dia."

Adrian tak segera membalas. Ia membiarkan kata-kata Olivia mengendap di antara mereka.

"Aku juga masih marah," ucapnya akhirnya. "Tapi bukan ke Sheila. Ke diri sendiri. Karena aku telat datang ke hidup kalian."

Olivia menoleh padanya, tapi Adrian tetap fokus menyetir. Tak ada air mata di wajahnya, tapi nadanya berat. Penuh penyesalan yang tidak butuh penjelasan panjang.

Beberapa menit kemudian, mobil mulai melambat. Di sisi kiri jalan, sebuah gedung kantor sederhana bertingkat tiga muncul samar.

"Ini?" tanya Adrian.

Olivia mengangguk pelan. "Iya, Om. Berhenti di sini aja. Jangan turun."

Adrian menepikan mobil perlahan. Ia tak membuka pintu, hanya menoleh dan menatap Olivia sebentar. "Kalau nanti selesai dan kamu perlu dijemput, tinggal kabarin. Saya tunggu di restoran, ternyata lokasinya cukup dekat."

Olivia membuka sabuk pengaman, lalu memegang gagang pintu. "Ya, Om. Tapi terima kasih. Mungkin nanti saya bisa naik taksi."

Saat Olivia hendak turun, Adrian memanggil pelan, "Via."

Olivia menoleh.

"Kamu hebat, tahu?" ucap Adrian, suaranya lembut namun penuh arti.

Ia tak membalas. Tapi dari balik kacamata beningnya, Adrian bisa melihat sorot mata yang mulai berubah.

Olivia menutup pintu dengan perlahan. Langkahnya menjauh, punggungnya tetap tegak walau terlihat ragu di tiap gerak kakinya.

Di balik kemudi, Adrian menatap sosok itu dalam-dalam, seolah berusaha membaca luka yang belum sembuh di balik senyum dan sikap Olivia. Napasnya berat, ia menekan pedal mobil perlahan, mencoba fokus pada kemacetan yang mulai menumpuk. Namun, tiba-tiba aroma parfum Olivia yang masih tersisa di kursi sebelah mengalihkan perhatiannya. Ia mengernyit, tak bisa menahan senyum kecil karena ia menyukai wangi itu.

Bayangan senyum manis dan sikap lembut Olivia tadi menari di pikirannya. Adrian tertegun, menyadari betapa cantiknya perempuan itu—bibirnya yang tipis begitu pas, dan mata lebarnya dihiasi bulu mata lentik yang menawan hati.

Duda tampan itu segera menggelengkan kepala, gusar pada dirinya sendiri.

"Sial! Mikir apa sih gue?!" gumamnya pelan, mencoba mengusir perasaan yang tak ia mengerti.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 108. Apakah Suatu Pertanda?

    Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan Mariska untuk usaha kafenya.“Ris,” panggil Olivia akhirnya, memecah keheningan. “Lo yakin mau buka kafe? Lo kan nggak pernah benar-benar terjun di dunia itu. Keluarga lo dari dulu di pendidikan. Kenapa nggak sekalian pegang salah satu yayasan papa lo?”Mariska tidak langsung menjawab. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar dan sudah lama ia siapkan jawabannya.“Gue nggak pernah ngerasa hidup di dunia pendidikan, Via. Biar Papa sama Mama aja yang sibuk di sana.”Olivia menghela napas pelan. “Tapi lo anak satu-satunya, Ris. Cepat atau lambat, semuanya bakal jatuh ke tangan lo.”Mariska terkekeh kecil, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Justru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 107. Yang Sudah Memeluk, dan Yang Masih Mendekat.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 106. Harga Sebuah Kepercayaan.

    Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 105. Api Kecil di Dapur Bisnis.

    Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 104. Hari-hari Setelah Sah.

    Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 103. Satu Bahagia, Satu Terluka.

    Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status