Share

Bab 10 - Penipu

Author: Frands
last update Huling Na-update: 2025-11-05 20:00:34
Keesokan paginya Beni kembali ke kampus setelah dua hari absen.

“Tumben kau gak bawa motor sendiri?” Sapa seorang teman saat melihat Beni baru saja turun dari ojek.

Beni memasang senyum ramah meski dalam pikirannya masih menyisakan kegelisahan tentang kejadian kemarin serta proyek dengan Rendra. “Motorku mogok gak bisa—”

Belum sempat Beni menyelesaikan kalimatnya, temannya langsung memotong. “Wajahmu kok terlihat berbeda dari biasanya? Apa kamu sakit?”

“Mungkin tadi lupa sarapan aja.” Jawab Beni sekenanya.

“Oh begitu,” Teman Beni tiba-tiba berjalan terlebih dahulu meninggalkan Beni.

Gerbang kampus Institut Seni Media Digital (ISMD) berdiri megah di depan mata, dengan desain arsitektur modern yang kontras dengan keadaan Beni yang lusuh karena semalaman tak bisa tidur.

Dia melangkah menuju gedung Fakultas Film dan Digital Media – Jurusan Sinematografi, tempatnya bercita-cita menjadi sineas seperti ayahnya dulu.

“Eh, lihat siapa yang datang,” sergah Rafael, pemimpin kelompok maha
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 65 - Atasan dan Bawahan Part 4

    Pintu kayu tebal kamar 312 hotel butik itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengisolasi mereka dari dunia luar. Suite-nya elegan namun minimalis: tempat tidur king size dengan sprei putih, lampu temaram, dan balkon kecil dengan pemandangan lampu kota. Begitu masuk, Catherine melepas blazernya dengan gerakan yang sudah begitu biasa, lalu duduk di tepi tempat tidur, melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas lega.Beni masih berdiri dekat pintu, keraguan akhirnya menyeruak mengatasi hasrat dan kepatuhannya sepanjang malam ini.“Bu,” ujarnya, suaranya serak. “Ini… apa yang kita lakukan ini benar?”Catherine mengangkat alis, memandangnya dengan ekspresi datar. “Kau baru mempertanyakannya sekarang? Setelah kita melakukan lebih saat di kantor.”“Tapi… suamimu. Bagaimana jika…” Beni tak melanjutkan, tapi pertanyaannya menggantung di udara ber-AC yang sejuk.Wanita itu mengeluarkan tawa pendek, getir, dan tanpa kebahagiaan. Dia memutar gelang emas sederhana di pergelangan tanga

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 64 - Atasan dan Bawahan Part 3

    “Kau... benar-benar pria muda yang tak kenal lelah,” ucap Bu Catherine, suaranya serak namun ada nada kagum yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Dia meninggalkan blazernya dan mendekat lagi, tapi langkahnya tidak lagi seanggun tadi. Ada goyangan kecil, bukti bahwa tubuhnya sudah mencapai batas.Dia berlutut di sisi sofa, wajahnya hanya berjarak sehasta dari hasrat Beni yang masih menyala. “Aku ingin melanjutkan,” bisiknya, jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit panas Beni, membuat keduanya sama-sama terkesiap. “Tapi tubuhku... sungguh lelah.”Dia menarik napas dalam, dan untuk pertama kalinya malam itu, Beni melihat kerentanan sejati di wajahnya—kerutan halus di sudut mata, gemetar kecil di tangan yang biasanya begitu tegas.“Ronde kedua,” gumam Bu Catherine, lebih kepada dirinya sendiri. Matanya menatap Beni dengan intensitas baru. “Tapi tidak di sini. Tidak di sofa kantor yang sempit ini.”Dia berdiri dengan sedikit kesulitan, lalu mengambil blazernya. Saat mengenakannya, dia b

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 63 - Atasan dan Bawahan Part 2

    “Aku... aku tidak tahu,” jawab Beni, tapi tangannya meraih pinggul Catherine.“Kau tahu,” bantah Catherine sambil mempercepat ritme. “Kau hanya takut mengakuinya. Semua pria sesungguhnya ingin menikmati hidangan. Melepas beban tanggung jawab.” Dia berdiri, bibirnya menghampiri telinga Beni. “Lepaskan saja. Biarkan aku yang mengendalikan. Untuk saat ini, kau hanya pria yang membutuhkan pelarian.”Pelarian?” tanya Beni terengah.“Dari segala tekanan,” bisik Catherine, napasnya semakin berat. “Dari ekspektasi. Dari tugas besok. Dari...” Dia berhenti sejenak, sebelum akhirnya duduk di pangkuan Beni hingga menyatu. “Dari segala hal yang membuatmu takut di luar pintu ini.”Gerakannya semakin intens. “Sekarang, jangan berpikir. Rasakan saja. Rasakan bagaimana aku menggerakkan tubuhmu. Rasakan bagaimana kau menanggapi setiap perintahku.” Suaranya menjadi lebih rendah, lebih dalam. “Karena besok, kita akan kembali ke peran kita. Tapi untuk sekarang...”Dia menarik napas tajam sebelum meneruska

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 62 - Atasan dan Bawahan Part 1

    Beni memalingkan wajah, menghindari sentuhannya. “Saya menolak, Bu Catherine. Tolong, kita harus punya batasan sebagai atasan dan bawahan.”Penolakan itu justru seperti bensin pada api. Cahaya di mata Bu Catherine berubah dari rayuan menjadi kobaran keputusasaan dan amarah yang terpendam. “Batasan?” hardiknya, suara meninggi. “Kau pikir kau bisa masuk ke kantorku, menanyakan tentang kartu terkutuk itu, lalu bersikap suci? Tidak semudah itu!”Dia mengepalkan tangan di dada kemben hitamnya, napasnya memburu. “Aku tahu tentang investigasi sembunyi-sembunyimu dengan Nadia! Aku tahu kalian menyelidiki hal-hal yang tidak kalian pahami! Kau butuh pelindung, Beni. Dan aku bisa jadi pelindungmu… atau aku bisa menjadi mimpi buruk terbesarmu di kantor ini.”Ancaman itu menggantung, jelas dan tajam. Bu Catherine menggunakan semua kartunya—hasrat, kekuasaan, dan pengetahuan rahasia.“Apakah ini ancaman untuk saya, Bu?” tanya Beni, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.“Aku menaw

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 61 - Penawaran sang Atasan

    Beni menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Dia melihat ketegangan di wajah Bu Catherine—tidak hanya kemarahan, tetapi juga, sebuah kewaspadaan yang berlebihan. Seperti seseorang yang sedang mengantisipasi sebuah nama yang tak ingin didengarnya.Dengan tangan yang hampir gemetar, dipenuhi oleh keputusasaan dan keyakinan bahwa ini adalah satu-satunya jalan, Beni merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan kartu hitam itu, dan dengan gerakan cepat meletakkannya di atas meja kerja Bu Catherine, tepat di bawah cahaya lampu.“Ini, Bu,” katanya, suaranya serak. “Apakah ini berarti sesuatu bagi Anda?”Efeknya instan.Wajah Bu Catherine yang semula maskulin penuh kendali, mendadak pucat. Dia tidak menjerit atau menarik napas tajam, tapi seluruh tubuhnya kaku. Matanya membelalak, menatap kartu itu seperti melihat ular sungguhan. Kesal dan ketakutan itu berperang di raut wajahnya, sebelum akhirnya dikubur di bawah topeng dingin yang cepat kembali. Namun, keretakannya sudah terlihat.Dia mengan

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 60 - Kembali ke Kantor

    “Kau juga akan meliput kafe ini?” Tanya Jocelyn yang samar-samar mendengar gumaman Beni.Beni tersentak dari lamunan. “I—iya, atasanku memberi tugas untuk meliput kafe milikmu besok.”“Mungkin atasanmu juga tahu tentang mereka jika dia memberimu tugas untuk meliput ini.” Balas Jocelyn dengan sorot mata penuh kelelahan.“Itu... membuat segalanya semakin rumit,” gumam Beni, suaranya berat. Jocelyn mengangguk pelan, matanya berkaca. “Aku juga merasa hal yang sama. Aku seperti boneka. Diberi makan, dihias, tapi tali di leher ini tetap ada.” Dia melihat kartu nama yang Beni berikan.Kafe yang ramai di balik pintu kini terasa seperti panggung boneka, dan dia tidak tahu siapa yang menarik tali-tali itu, atau berapa banyak orang di sekitarnya yang juga terikat oleh benang yang sama.Beni mengepalkan kartu hitam itu. Rasa ingin tahu dan ketakutan kini bercampur dengan kewaspadaan yang membara. “Aku akan menanyakan langsung pada atasanku, Jocelyn. Terima kasih atas waktunya.”Beni keluar dari

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status