LOGIN"Kalau sudah jadi wanitaku... kamu gak bisa bermain-main dengan pria lain! kalau sampai itu terjadi... kamu pasti akan menderita," ucap Erfan. Perkataannya itu terdengar mengancam.Bu Nana mengalungkan tangannya di leher Erfan."Kalau Tuan Muda mampu adil, dan membuatku nyaman menjadi wanitamu... untuk apa aku selingkuh," balas Bu Nana."Aku selalu adil, dan selalu berusaha membuat wanitaku nyaman dalam berbagai hal... tapi... masih ada saja wanitaku yang berselingkuh," ucap Erfan dengan serius."Gak semua wanita seperti itu! kalau ada wanita Tuan Muda seperti itu, anggap saja Tuan Muda lagi gak beruntung!" balas Bu Nana dengan penuh penegasan.Erfan berpikir sejenak, lalu dia mengangguk, tanda menyetujui ucapan wanita itu."Mau lanjut Tuan Muda?" tanya Bu Nana. Tangannya tampak mengelus batang Erfan."Tentu mau, dong!" balas Erfan."Aku di atas! Tuan Muda harus mencoba goyanganku," ucap Bu Nana dengan nada menggoda.
Erfan kembali menekan tubuh wanita itu, sampai posisi batangnya menempel di apem wanita itu."Boleh aku mulai sekarang?" tanya Erfan dengan nada menggoda, sambil menggesekkan batangnya di apem wanita itu.Bu Nana mengangguk setuju.Tak membuang waktu, Erfan langsung mengambil posisi. Dia berlutut, menempatkan ujung batangnya di apem wanita itu, lalu menekannya masuk."Ahhh..." desahan merdu keluar dari mulut Bu Nana ketika dia merasakan batang besar itu menerobos masuk ke dalam apemnya.Erfan merasakan batangnya cukup sulit masuk, walau apem itu sudah sangat basah. "Vaginamu... masih sangat sempit!" ucap Erfan dengan suara berat. Tampak dia berusaha lebih keras untuk memasukkan batangnya ke apem wanita itu."Ahh... ahh... milik Tuan Muda terlalu besar! pelan-pelan, agak sakit!" balas Bu Nana.Erfan mendorong masuk perlahan, karena wanita itu yang tampaknya sedikit kesakitan."Kamu belum pernah melahirk
Erfan memikirkan semua wanitanya. Apa mereka akan sama seperti Bu Nana, kalau mendapatkan godaan seperti itu. Erfan buru-buru menyingkirkan pikiran jeleknya itu. "Semoga saja, semua wanitaku sekarang, setia kepadaku!" gumam Erfan di dalam hati. Erfan menarik Bu Nana, sampai wanita itu duduk di pangkuannya. "Mau main di sini saja?" tanya Erfan dengan nada main-main, sambil meremas kembali payudara wanita itu. "Di sini saja!" balas Bu Nana, lalu dia mengambil inisiatif mencium bibir Erfan. Mendapatkan serangan itu, Erfan tak sungkan lagi. Dia langsung menanggapinya. Pada akhirnya, mereka berciuman dengan penuh gairah. Bu Sumi mengintip di pintu kamar. Ketika dia melihat Adiknya dan Erfan sedang berciuman, senyuman tipis penuh arti, terlukis di bibirnya. "Nana... Nana... Sesetia apapun kamu, di bawah godaan Tuan Muda, kamu pasti akan menyerah!" gumamnya di dalam hati. === Erfan melepaskan ciuman
Di sisi lain.Bu Nana tampak sedang duduk di ruang depan rumah. Mendengar suara-suara menggairahkan itu kembali bergema, membuat wanita itu merasa tubuhnya panas kembali."Ahh... Tuan Muda, batangmu emang yang terbaik! mentok di dalam Tuan Muda... Sangat sesak, ahh.." Terdengar suara racauan liar Bu Sumi.Mendengar racauan itu, membuat Bu Nana menjadi penasaran."Apa senikmat itu bercinta dengannya? Tapi... Kalau di lihat dari ukurannya sih... Itu sudah pasti nikmat," Bu Nana kembali mengingat, saat dia melihat batang Erfan.Dia menggigit bibirnya, tubuhnya terus memanas, sampai matanya menjadi sayu. Hasrat itu, mulai menguasai dirinya, perlahan memengaruhi kewarasannya.Di dalam hatinya, Bu Nana sangat ingin meninggalkan rumah itu, agar hasratnya padam kembali. Namun, tubuhnya tak mengijinkannya, yang membuat dirinya hanya terpaku di sana.Terus menerus mendengar suara-suara itu, Bu Nana tak bisa menahan lagi. Tampak sa
Ketika Bu Sumi melihat siapa wanita itu, dia menjadi sangat panik. Buru-buru dia menutup tubuhnya menggunakan selimut. Sementara itu, Erfan tampak lebih santai, namun tak do sangkal, dia pun merasa panik. "Nana... Kenapa... Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bu Sumi dengan nada ketakutan. "Aku mau mengunjungi kakak! Tapi gak di sangka, aku akan melihat pemandangan seperti ini!" ucap wanita itu dengan nada marah. Bu Sumi tak bisa mengelak lagi. Dia hanya bisa meminta agar wanita bernama Nana itu tak memberi tahu siapapun tentang masalah ini. "Nana, kakak salah! tapi kakak mohon... Kamu jangan bilang siapapun, oke!" "Kakak! kenapa sih kakak melakukan ini?" tanya Nana, dia tak menjawab permintaan Bu Sumi. "Aku... Aku..." Bu Sumi tak bisa menjawab. "Apa kakak gak kasihan dengan suami kakak?" tanya Nana kembali, pemuja penekanan. Bu Sumi menundukkan kepalanya, dia sudah tak mampu menjawab apapun.
Erfan membiarkan Bu Sumi menikmati puncaknya selama beberapa saat. Setelah wanita itu kembali tenang, barulah dia mengajaknya memulai ke permainan inti.Bu Sumi tak keberatan, dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. "Ayo, Tuan Muda... Masukkan batang besar mu itu," ujar Bu Sumi dengan nada penuh godaan.Erfan tersenyum tipis, ekspresi wajahnya tampak nakal dan penuh nafsu."Kalau gitu... Aku gak sungkan!" Erfan berlutut di antara kaki wanita itu, lalu memosisikan batanya di lubang apem itu. Setelah posisi di rasa pas, dia mendorongnya masuk ke dalam apem itu."Ahhh..." Desahan merdu keluar dari mulut Bu Sumi, saat di merasakan batang besar itu menerobos masuk ke dalam dirinya.Erfan memasukkan batangnya itu sampai mentok di dalam sana.Merasakan batang itu menabrak ujung terdalam apemnya, membuat Bu Sumi merasakan rasa nikmat yang tiada tara."Tuan Muda, batangmu... memang yang terbaik!" puji Bu Sum
Akhirnya mereka sampai di vila, Setelah Erfan menurunkan Pak RW, dia melajukan mobil nya ke Vila. Hari ini Erfan harus berangkat ke Kota Hua, Sampai di vila, Erfan membereskan semua yang ingin dia bawa. dia pun menelepon sekertarisnya itu. tut tut tut "Halo tuan muda," ucap Anne di seberan
Saat mobil sampai di jalan besa, Erfan melajukan mobil nya lumayan kencang. "Kenapa ayah mu tiba tiba kritis?" tanya Erfan penasaran, "Aku juga tidak tau! tiba-tiba Ayah sesak nafas," jawab Serina. "Bukannya baru kemarin, Ayah mu berobat?" tanya Erfan sedikit aneh. "Iyah, seharus nya baik-ba
Sampai di vila, Erfan masuk kedalam Vila sambil bersiul santai, "Selamat sore tuan muda," ucap Serina yang sedang melap meja. Erfan terkekeh, mendengar sapaan Serina. "Selamat sore cantik. Eh, Cantik kamu jangan kerja terus dong!" ucap Erfan, sambil memeluk Serina. "Jangan peluk! Tubuh ku
Erfan sampai di Vila. Erfan masuk ke dalam Vila, sambil membawa kantung belanja milik nya, dan milik Serina. Sementara belanjaan untuk wanita lainnya Erfan simpan di Mobil. Di dalam vila, Erfan melihat Serina, yang sedang duduk sambil menonton tv. Dia berjalan menghampiri wanita itu, dengan ekspr







