MasukErfan menurunkan ritsleting celananya, lalu mengeluarkan senjata andalannya.Melihat benda besar itu, mata Kak Rita membelalak. Meskipun, dia sudah pernah melihat di video, tapi tetap saja dia merasa terkejut, saat melihatnya secara langsung."Kak, apa kakak yakin... gak mau mencicipi tusukan batangku?" tanya Erfan dengan nada main-main, sambil mengelus batangnya yang sudah tegak itu dengan tangannya."Fan... kamu!" Kak Rita buru-buru menarik pandangannya dari batang Erfan, lalu membuang wajahnya.Wajah Kak Rita semakin merah karena hasratnya yang terus meronta-ronta. Saat melihat langsung keperkasaan seperti itu, bahkan wanita sepertinya ~ sulit kalau tidak tergoda.Erfan meraih tangan Kak Rita, lalu dia meletakkan paksa telapak tangan wanita itu di batangnya.Merasakan batang besar itu secara langsung, membuat jantung Kak Rita semakin berdebar hebat. Matanya pun menjadi sayu, karena hasratnya yang sedikit demi sedikit menghapus akal sehatnya.Kak Rita menoleh ke arah Erfan."Fan, ka
Kak Rita menghela nafas panjang, berusaha menekan gejolak hasratnya yang meronta-ronta. Setelah sedikit tenang, dia dengan mantap mengarahkan pandangannya kepada Erfan. "Oke... jadi gini Fan, kakak punya rencana membuka toko aksesoris sama toko pakaian di Mal yang kamu bangun," ucap Kak Rita dengan serius. Saat Erfan hendak menjawab, Kak Gisel terlebih dahulu berkata. "Kalian ngobrol dulu aja, yah... aku mau menghubungi seseorang dulu," Kak Gisel turun dari pangkuan Erfan, sambil merapikan pakaiannya. Setelah itu, dia melangkah pergi ke arah pintu keluar kamar. Melihat kakaknya yang pergi, Kak Rita menjadi sangat gugup. "Dia... dia pasti sengaja membiarkan aku berduaan sama Erfan," gumam Kak Rita di dalam hatinya. Erfan tak gugup seperti Kak Rita. Pria itu malah tampak santai seolah-olah tidak peduli. Setelah Kak Gisel keluar dari kamar, Erfan bergeser semakin dekat dengan Kak Rita. Melihat pergerakan Erfan, Kak Rita sangat bingung ~ antara berusaha menjauh, dan hanya patuh teta
Kak Gisel terus menarik Kak Rita masuk ke dalam kamar. Setelah itu, dia mendudukkan Kak Rita di sofa yang ada di kamar itu.Erfan menutup pintu kamar, lalu dia buru-buru menghampiri kedua wanita itu."Katanya... mau... ketemu Erfan di desa, kenapa jadi di hotel?" tanya Kak Rita sambil menatap Kak Gisel dengan sorot mata serius."Hihi, kalau ke desa... aku agak malas, soalnya jauh. Ya sudah, aku suruh aja Erfan datang ke sini," balas Kak Gisel dengan nada main-main.Melihat gelagat kakaknya itu, berbagai tebakan terlintas di benak Kak Rita. "Apa dia sengaja mau jebak aku? Biar aku sama Erfan... kayak dia sama Erfan," gumam Kak Rita di dalam hati. Dia menggigit bibirnya, karena hatinya mulai kacau sekarang. Apalagi, bayangkan video Erfan dan Kak Gisel, terbayang kembali di benaknya. "Kalau benar, aku harus gimana?" Kak Gisel meraih tangan Erfan, "Sayang, sini duduk di samping aku!" ucapnya dengan nada genit.Tanpa sungkan Erfan duduk di samping Kak Gisel. Bahkan, dengan berani dia meli
Beberapa saat kemudian, terlihat mobil Erfan melaju meninggalkan hutan tersebut. Masuk ke jalan raya, mobil itu melaju ke arah kedatangannya tadi. Setelah mengantarkan Bu Nana ke tempat penjemputan awal, Erfan pun melajukan mobilnya menuju ke arah pulang. Setibanya di vila, Erfan langsung memberi tahu para wanitanya, kalau dia ada urusan di kota. Dia pun memberi tahu, kalau dia kemungkinan tidak pulang nanti malam. Tanpa banyak bertanya, para wanita Erfan langsung mengangguk mengijinkan. Mereka hanya berpesan, supaya Erfan berhati-hati di jalan. Karena kebetulan, di vila hanya ada para wanita yang tidak pernah banyak bertanya. Kalau di sana ada para gadis muda, seperti Shara, Diva, dan yang kainnya, mungkin para gadis itu mewawancarai Erfan terlebih dahulu. Setelah membersihkan diri, Erfan pun pergi dari vila. Kini dia mengendarai mobil Lamborghini Veneno Roadster nya, untuk pergi ke kota. === Setibanya di Kota, hari sudah menunjukkan sore hari. Erfan langsung pergi ke salah sat
Erfan meraih celananya yang tergeletak di bawah, lalu mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam kantung celana tersebut.Saat dia melihat layar ponsel, ternyata yang menelepon adalah kakak iparnya yang menggoda itu. Siapa lagi kalau bukan, Kak Gisel.Erfan melirik Bu Nana. "Kamu lanjutin goyang aja!" perintahnya."Tuan Muda gak angkat dulu telepon?" tanya Bu Nana."Aku angkat kok, ini wanitaku, gak masalah kalau menelepon sambil bercinta," balas Erfan dengan nada main-main."Emang... gak masalah? Gimana kalau wanita Tuan Muda tau?" tanya Bu Nana dengan ragu."Mereka udah terbiasa, jadi gak masalah," balas Erfan, lalu dia mengangkat telepon itu.Setelah mendengar perkataan Erfan, Bu Nana pun tak banyak berpikir lagi. Dia langsung melanjutkan goyangannya yang sempat terhenti. Namun, dia bergoyang tidak seliar sebelumnya, dan juga dia menahan desahannya.•••"Halo, sayang," terdengar suara sapaan genit Kak Gisel di seberang telepon."Halo, sayang... ada apa?" tanya Erfan."Sayang, kamu la
Bu Nana mengambil ponselnya yang ada di tasnya. Kemudian, dia melihat siapa yang meneleponnya. Setelah melihatnya, ternyata itu adalah panggilan video dari suaminya. Tanpa ada rasa takut ataupun khawatir, Bu Nana menyingkirkan ponselnya, tidak ada niat untuk mengangkat panggilan video tersebut. "Siapa? Kenapa kamu gak mengangkatnya?" tanya Erfan sambil mengangkat alisnya. "Suamiku!" balas Bu Nana dengan nada santai, sambil kembali berbaring, dan membuka lebar kakinya. Erfan berlutut di antar kakinya, lalu menempelkan batangnya di apem wanita itu. "Kenapa kamu gak mengangkatnya?" tanya Erfan. "Kalau mau angkat, angkat saja ~ gak apa-apa, Aku nanti ngumpat di depan," lanjutnya. "Aku malas! Dia pasti cuma mau teleponan sama aku! Kalau di angkat, pasti gak akan boleh di matikan sampai dia puas," balas Bu Nana. "Puas? Maksudmu..." kata puas yang di maksud Bu Nana, membuat pikiran Erfan mengarah ke hal-hal nakal. Bu Nana seakan tahu, apa yang sedang di pikirkan oleh Erfan. "
Erfan kembali ke vila terlebih dahulu. Sampai di vila, Erfan langsung berganti pakaian, lalu pergi ke perusahaan. Erfan tidak mampir untuk sarapan di warung Bu Susan, karena dia sudah sarapan tadi bersama Dewi.Sampai di perusahaan, Erfan seperti biasa saling sapa dengan para karyawan perusahaan.
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas
Erfan menjelaskan tentang Serina, yang mendapatkan kekerasan dari suaminya, dan ingin mengumpulkan bukti, agar Serina bisa cerai dari suaminya."Sial, si Deni itu dia memang buka manusia!" umat Bi Ayu."Ketiga gadis itu sekolah?" tanya Erfan."Iyah, mereka belum pulang, nanti jam 3 sore pulangnya,"
Mereka pun melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebelum pertempuran di mulai. "Sayang, milikmu ini membuat ku candu," ucap Anne sambil bermain dengan senjata Erfan. "Em. enak sayang," Erfan menikmati permainan Anne. Setelah dirasa penasaran cukup, dan Erfan juga, sudah membuat Anne mencapai pu







