Mag-log in"Tenang saja, sepertinya mereka belum memata-matai sampai ke bagian paling dalam," ucap Erfan. "Semoga saja begitu! Kalau sampai mereka tahu bagian paling dalam, itu sangat berbahaya!" balas Tuan Surya. "Tuan Muda, anda dapat informasi ini sari siapa?" tanya seorang wanita dewasa yang cukup cantik. "Dari si bodoh Tuan Muda Wings itu. Aku banyak mengorek informasi dari dia. Bukan cuma mata-mata, aku juga dapat banyak informasi tentang keburukan Keluarga Wings!" ucap Erfan. "Benarkah?" tanya Tuan Surya dengan serius. "Tuan Muda coba ceritakan, apa saja keburukan yang pernah mereka lakukan," ucap seorang pria. Erfan menceritakan semua informasi yang dia dapatkan dari Tuan Muda Wings. Tak hanya menceritakan, dia juga memberikan bukti rekaman yang dia ambil. Setelah selesai mendengar, semua orang tampak sangat geram. "Sialan! Ternyata mereka yang memberikan akses narkotika di Ibu Kota. Mereka sangat pandai bersembunyi dari kita," ucap seorang pria tua. "Aku gak nyangka, ternyata K
Keesokan paginya, Erfan pergi memberitahu ayahnya tentang informasi yang dia dapatkan dari Tuan Muda Wings, serta informasi mata-mata yang dikirim oleh Keluarga Wings.Setelah mendengar itu, Tuan Wijaya tak tinggal diam lagi. Dia langsung pergi ke kantor pusat Keluarga Purnama, untuk menyelesaikan para tikus itu. Sebelum pergi, Tuan Wijaya berpesan, kalau nanti siang, Erfan harus pergi bersamanya ke istana pemimpin negara untuk mendiskusikan masalah Keluarga Purnama.===Di sebuah ruang mewah tampak seorang pria paruh baya duduk di kursi pemimpin. Di sisi kanan dan kirinya, duduk beberapa pria dan wanita."Ku dengar, bocah Erfan itu ada di ibu kota," ucap pria paruh baya itu dengan nada sinis."Iya ayah. Kalau kata berita sih, kemarin malem dia muncul di Club miliknya," balas seorang pria dewasa."Hmm... kalian ada yang tahu gak, dia pulang ke sini bawa para wanitanya, atau nggak?" tanya pria paruh baya itu."Nggak! Menurut informasi, dia pulang ke ibu kota sama ayahnya. Nyonya Kartik
Saat ini, terlihat Erfan yang bersandar di sofa sambil menikmati sebatang rokok. Sementara itu, Citra meringkuk di pelukan Erfan. Tubuh keduanya tampak sangat basah oleh keringat hangat. "Tuan Muda, kamu bakalan lepasin aku kan?" tanya Citra sambil menatap Erfan dengan tatapan ragu. Dia merasa takut, kalau Erfan tidak menepati janjinya dan akan membunuhnya setelah mendapatkan kenikmatan darinya. Erfan tersenyum jahat. "Kalau aku gak lepasin kamu, kamu mau gimana?" tanya Erfan. Citra menghela nafas sedih. "Kalau Tuan Muda gak lepasin aku, aku cuma bisa pasrah," balas Citra. "Kamu gak bakalan benci sama aku? Kalau aku membunuhmu," ucap Erfan. Citra menggelengkan kepalanya. "Nggak! Aku pasti menyalahkan pria sialan itu yang sudah membawaku ke masalah ini!" balas Citra sambil melirik mayat Tuan Muda Wings. "Hehe, oke... aku gak akan menggodamu lagi. Tenang saja, aku gak bakalan bunuh kamu. Tapi, asalkan kamu gak bocorkan rahasia aku. Kalau sampai berani..." Erfan menatap Citra den
"Punya kamu... masih sempit banget!" ucap Erfan sambil terus mendorong masuk batangnya. "Ahh... itu gara-gara punya Tuan Muda terlalu besar. Ahh... pelan-pelan saja, agak sakit!" ringis Citra. Setelah batang besar itu masuk agak dalam, Erfan menghentak keras ~ sampai batang itu mentok di dalam. "Ahhh..." Citra mendesah keras, dengan tubuh yang menegang hebat, dan mata membelalak. Erfan memejamkan matanya ~ fokus menikmati sensasi yang diberikan apem wanita itu ke batangnya. "Tuan Muda... dalam banget, sampai nabrak dinding rahimku," ucap Citra dengan suara serak. Mata wanita itu perlahan tertutup dan tubuhnya kembali rileks. Erfan membuka matanya, lalu melirik Tuan Muda Wings. "Punya pacarmu ini sangat nikmat. Sayangnya kamu gak akan bisa menikmatinya lagi," ucap Erfan. Tuan Muda Wings tak menjawab, dia hanya menatap Erfan dengan penuh kebencian. Citra membuat matanya, lalu dia berkata. "Tuan Muda, ayo mulai!" Erfan menatap Citra. "Mau main keras mau pelan?" "Terserah Tuan
Erfan menarik bibirnya dari ciuman panas itu. "Kamu wanita kesayangan dia, yah?" tanya Erfan. "Iya. Walau dia suka bercinta sama banyak wanita, tapi dia sangat mencintai aku. Bahkan, dia sangat memanjakan aku!" balas Citra. Erfan menoleh ke Tuan Muda Wings. "Terus tonton, biar kamu tahu, bagaimana cara aku menikmati wanita kesayanganmu ini." "Erfan, Citra, kalian pasti mati menyedihkan!" Tuan Muda Wings mengutuk. "Aku gak takut!" balas Erfan. "Tuan Muda, ayo ciuman lagi! Ciuman sama Tuan Muda enak banget," ucap Citra dengan nada manja. "Abaikan dia!" Mereka berdua kembali berciuman dengan panas, penuh gairah. Bibir mereka saling mengisap ganas dan lidah mereka saling bertarung sengit. Tangan Erfan meraih payudara wanita itu, lalu dia meremas-remasnya dengan keras. "Mmm... mmm..." desahan tertahan keluar dari mulut Citra dengan tubuh yang sedikit bergetar.Tangan Erfan masuk ke dalam celah keras dress Citra, lalu tangannya itu bergerak mengeluarkan kedua payudara Citra dari san
"Keluarga Wings, pernah... pernah membakar satu desah, yang ada di pinggir ibu kota, buat... di bangun pabrik. Ayahku juga... menyuruh orang membunuh para polisi, yang menyelidiki masalah kebakaran itu," ucapan Tuan Muda Wings terhenti. "Cepat, katakan semuanya!" bentak Erfan. "Sudah... cuma itu!" ucap Tuan Muda Wings. "Jangan bohong! Cepat katakan... atau aku kuliti kau lagi!" Karena desakan dan ancaman, akhirnya Tuan Muda Wings mengatakan kembali keburukan keluarganya. "Pamanku pernah memerkosa pegawai perusahaannya sampai hamil, lalu dia membunuhnya. Narkotika yang beredar di ibu kota ini, semuanya berasal dari Keluargaku. Ayahku juga... banyak memasukkan mata-mata ke militer negara, untuk mengetahui kekuatan militer dan rahasia militer, yang nantinya di jual kepada Keluarga Rex Negara A." "Siapa saja mata-mata itu? Katakan!" perintah Erfan. Tuan Muda Wings menyebutkan setiap
Tuan Gubernur mendekat ke Erfan. "Tuan Muda, anda dan putri saya...serius memiliki hubungan?" tanyanya dengan canggung. "Ayah, kenapa kamu bayak bertanya! tentu saja benar!" Diva menyela dengan kesal. "Gadis nakal, diam!" tegur Tuan Gubernur. "Itu benar! di masa depan anda tidak perlu sungk
Di dalam kamar, Desi melingkarkan tangannya di leher Erfan dengan berani. "Tuan muda, kamu harus melepas semua pakaian mu!" ucap Desi, dengan nada menggoda. Erfan menyeringai nakal, dia sudah yakin, pasti akhirnya akan berakhir di ranjang kenikmatan. "Kalo gitu buka saja!" balas Erfan, tanpa ra
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas
Mereka pun melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebelum pertempuran di mulai. "Sayang, milikmu ini membuat ku candu," ucap Anne sambil bermain dengan senjata Erfan. "Em. enak sayang," Erfan menikmati permainan Anne. Setelah dirasa penasaran cukup, dan Erfan juga, sudah membuat Anne mencapai pu







