LOGINSetelah cukup mengobrol, Erfan ingin melajukan kembali permainan. "Sayang, ayo kita lanjut!" ajak Erfan, sambil meremas kedua payudara wanita itu. "Bentar, sayang! Sebelum lanjut, kita lihat suamiku dulu yuk!" "Eh, kenapa mengajakku?" tanya Erfan heran. "kalau dia udah bangun... pasti dia udah tau yang kita lakukan... kalau gitu, sekalian aja kita bercinta di depannya, udah terlanjur ini! Aku pikir juga, pasti itu sangat menggairahkan," ucap Bu Resti dengan nada main-main. "Apa gak keterlaluan?" tanya Erfan, ekspresinya tampak heran. "Keterlaluan sih... tapi kan udah terlanjur juga," balas Bu Resti. "Sayang... kamu istri yang sangat jahat!" ucap Erfan dengan nada lirih. "Sayang, ayolah! Apa kamu gak penasaran, gimana rasanya bercinta di depan suami selingkuhanmu?" bujuk Bu Resti. Erfan memikirkan ucapan wanita itu. Setelah di pikir-pikir, kalau hal itu dia lakukan, pasti memiliki sensasi yang berbeda. Pada akhirnya, dia pun menyetujui keinginan wanita itu. Mereka pun turun
Tak lama kemudian, Erfan mulai menggerakkan pinggangnya. Terlihat jelas, batang besar itu maju mundur di dalam apem wanita itu. "Ahhh.... ahh, enak sayang! Lebih cepat!" pinta Bu Resti. Erfan bergerak semakin cepat. Tangannya meremas payudara Bu Resti, agar wanita itu semakin terangsang, dan kenikmatan yang di rasakannya semakin besar."Ahh... ahh... beberapa hari gak main sama kamu... rasanya lebih... nikmati, ahh..." ucap Bu Resti."Itu pasti... soalnya... apem mu... sangat merindukan batangku," balas Erfan dengan nada main-main."Ahh... ahh, kamu... kamu benar," ucap Bu Resti.===Di kamar sebelah, tempat suami Bu Resti berada. Terlihat, seorang pria terbaring di atas tempat tidur. Bisa terlihat dari wajah, leher dan tangannya, pria itu sangat kurus kering.Pria yang tertidur itu perlahan terbangun. Penyebabnya, mungkin gara-gara suara-suara menggairahkan Erfan dan Bu Resti. Karena suara-suara itu
"Lagi pula... Frisa, Tesa, kedua gadis itu wanitaku. Mana mungkin aku menerima uang mereka, malah aku yang akan memberi uang kepada mereka," lanjut Erfan. Bu Resti terkekeh pelan. "Hihi, iya juga sih!" "Eh iya. Apa kamu suka di beri uang oleh Anne?" tanya Erfan. Karena saat ini, Anne lah yang bertugas mengatur keuangan Erfan. Jadi uang jatah para wanita, di kelola oleh Anne. Bu Resti mengangguk. "Anne suka mentransfernya rutin setiap minggu! Tapi... uang yang kamu kasih sangat besar, gak ke makan semua sama aku." "Ya sudah, kalau gak habis, simpan saja! Jadi kalau kamu mau beli sesuatu, tinggal beli," ucap Erfan dengan nada santai. "Makasih, yah... sudah membiayai Ku, jadi aku gak perlu cape kerja," ucap Bu Resti dengan nada manja. "Sama-sama," balas Erfan sambil tersenyum tipis. "Udah lama aku gak kasih kamu jatah... ayo, sekarang aku kasih kamu!" ucap Bu Resti dengan nada genit. Tangannya de
Erfan menyimpan ponselnya, lalu dia menyapukan tatapannya ke semua wanita. "Kalian udah denger kan apa yang dikatakan ibuku. Dia menyuruhku menikah, sama wanita yang sudah hamil... menurut kalian gimana?" "Kalau menurutku sih gak masalah... yang di katakan ibumu memang benar... kamu harus menikahi mereka agar gak jadi bahan omongan masyarakat, apalagi keluarga mu bukan keluarga biasa... kalau sampai tersebar kamu menghamili wanita yang belum jadi istrimu, pasti akan jadi kehebohan," ucap Bu Sandra, mengutarakan pendapatnya. Wanita yang lainnya pun mengangguk setuju dengan ucapan Bu Sandra. "Tapi... aku merasa gak enak... sama kalian," ucap Erfan dengan nada sedikit lirih. "Kenapa gak enak? Kan cuma nikah di kantor pernikahan saja! Kan gak sama resepsi," balas Jessy. "Aku yakin, semua wanita di sini gak ada yang keberatan, kalau kamu menikahi Dewi, Serina, sama Erlina. Udah denger kamu ingin me
Setelah memakan burger, Erfan mengeluarkan ponselnya, lalu dia menelepon ayahnya.Telepon pun tersambung."Halo, bocah sialan, ada apa? Apa kau merindukan ku," ucap ayah Erfan dengan nada santai."Cih! Jangan ngarep, siapa yang merindukanmu," balas Erfan dengan nada ketus."Terus, ada apa kau menelepon, jangan bilang kau ingin minta uang lagi... gak ada aku gak ada uang lagi," ucap ayah Erfan buru-buru."Siapa yang mau minta uang? Hey, orang tua bau... aku punya kabar gembira untukmu sama ibu," ujar Erfan dengan nada main-main, yang membuat orang penasaran."Cepat katakan! Aku gak ada waktu buat omong kosong denganmu."Erfan terkekeh pelan."Oke. Aku akan beritahu mu, kalau...." ucapnya berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Tiga wanitaku hamil! Kau akan segera punya cucu," ucapnya dengan suara keras."A-apaaaaa? Hamil? Kau serius bocah bau?" teriak ayah Erfan, terdengar dari nada suaranya, dia sangat terkejut.
Setelah menunggu beberapa saat di ruang tunggu, dokter Riana menghampiri. Saat ini, wanita itu sudah tak mengenakan pakaian dokter lagi. Karena dia mengenakan pakaian dres yang cukup ketat ~ lekuk tubuhnya pun masuk ke pandangan Erfan dengan jelas. "Maaf yah, kalian harus menunggu," ucap dokter Riana dengan nada tak enak. "Gak masalah, ayo pergi!" ajak Erfan, sambil menarik pandangan dari tubuh dokter cantik itu. Mereka pun melangkah pergi keluar dari rumah sakit, lalu pergi ke parkiran tempat mobil terparkir. Sesampainya di sana, mereka masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya masuk, Erfan menyalakan mobil, lalu melajukannya pergi dari parkiran tersebut. Di jalan, Erfan tak lupa mampir ke tempat makanan burger di jual. Dia membeli burger untuk Shara, dan untuk semua para wanitanya. Bahkan dia membeli jumlah burger yang lebih dari jumlah wanitanya, karena dia takut kalau hanya membelikan satu untuk setiap wanita, ada wanitanya yang masih mau makan. Setelah semua burger jadi, Erfa
Kakak perempuan pertama Diva yang bernama, Gisel, tampak ingin berkata, namun dia tampak ragu.Diva menyadari itu, lalu dia bertanya kepada kakaknya itu. "Ada apa kak? kalau ada yang mau kakak katakan, katakan saja!" "Sebenarnya... aku kepikiran membuka bisnis di sana. Tapi...
Beberapa saat kemudian, Bu Sumi bangkit, lalu menghampiri Erfan. Dia bergerak naik ke atas pangkuan Erfan dengan posisi kaki yang di lebarkan. "Tuan muda... aku belum pernah merasa senikmat ini saat bercinta," ucap Bu Sumi dengan nada menggoda sambil melingkarkan tangannya di leher Erfa
Tesa dan Frisa menunggu Bu Risma di samping gerbang sekolah dengan penuh sabar. Beberapa menit kemudian, Bu Risma pun datang. "Ayo..." ajak Bu Risma dengan nada santai. Frisa dan Tesa segera mengangguk, lalu berjalan lebih dulu memimpin jalan. Sepanjang perjalanan, b
Erfan menatap wanita dewasa itu, dengan mata panas. Karena wanita tersebut terlihat masih sangat muda dan segar, dia sangat penasaran dengan statusnya, yang akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Apakah anda memiliki suami?" tanya Erfan. "Aku seorang janda," Jawab Bu Evi dengan nada genit. Erfan







