LOGIN"Sekarang... kalian semua jadi wanita pria itu. Jangan sampai kalian sia-siakan kesempatan ini! Soalnya... aku sangat yakin! Gak ada pria yang sebaik dan semampu dia!" ucap Tante Yurike dengan serius. Para wanita mengangguk, lalu satu persatu menyatakan ~ bahwa mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dan akan selalu setia kepada Erfan. "Apalagi... kalau ada di antara kalian yang sampai selingkuh, tanpa sepengetahuan dia. Saat dia tahu nanti... pasti kalian akan sengsara! Contohnya Viona... dia selingkuh begitu lama di belakang Erfan, saat Erfan dan keluarganya tau... sekarang dia hanya bisa menyesal!" lanjut Tante Turike. "Aku gak akan lakuin hal kayak gitu! Aku pasti selalu setia sama Erfan," ucap Dewi. "Aku juga," sahut Serina. Semua wanita pun menyatakan hal yang sama. "Kalian gak perlu mengatakan ucapan kayak gitu! Yang perlu, hanya tindakan kalian! Soalnya aku tahu pasti... semua wanita Erfan yang berselingkuh ~ mengatakan hal yang sama kayak kalian sekarang," ucap
Nyonya Tina, yang tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya, kembali menanyakan tentang Verona. "Emang, Verona itu siapa? Kayaknya Erfan... begitu peduli. "Dulu, Verona wanitanya juga!" balas Serina. Mendengar itu, para wanita yang belum tahu tentang Verona sangat lah terkejut. "Wanitanya? Terus, kenapa dia meninggal?" tanya Tante Yurike. Serina menjelaskan tentang kejadian tragis yang di alami Verona. Setelah mendengar itu, para wanita yang belum tahu tentang Verona, tentu saja sangat marah dan geram. "Sialan! begitu kejam!" umpat Nyonya Tina. "Gimana, keadaan pria mantan pacar Verona itu? Apa Erfan bertindak?" tanya Tante Yurike. "Erfan bertindak! Kayaknya, pria itu udah mati sekarang," balas Bi Ayu. "Soalnya, Erfan menyuruh polisi mengirim pria itu ke penjara, lalu dia menyuruh penghuni penjara untuk membunuhnya." Beberapa wanita yang baru tahu seberapa kejam Erfan, seperti Riana dan Nyonya Tina, sangat terkejut saat mendengar perkataan Bi Ayu. Namun, ada satu wanita yang
Sampai di dalam rumah, Erfan melihat jelas jenazah Pak Surya. Tampak, ekspresi wajahnya, tampak sangat murung ~ seakan-akan memiliki beban berat, sampai dia meregang nyawa. Setelah di rasa cukup melihat, Erfan dan para wanitanya keluar dari rumah tersebut. Bahkan, Frisa pun ikut keluar.Para warga dengan penuh perhatian, memberikan tempat duduk di luar untuk Erfan dan para wanitanya."Sayang, kayaknya aku gak bisa ikut ke pemakaman, ada yang harus aku kerjain buru-buru, gak apa-apa, yah," ujar Anne."Ya udah gak apa-apa. Tapi kamu bilang dulu ke Bu Resti," balas Erfan.Anne mengangguk."Sayang, aku juga," sahut Jessy."Gak apa-apa kak, kalau kakak sibuk, gak perlu ikut ke pemakaman," ucap Frisa kepada Anne dan Jessy.Anne dan Jessy mengangguk.Hanya Anne dan Jessy yang memutuskan untuk tidak ikut. Sementara, para wanita lainnya termasuk Tante Yurike, memutuskan ikut ke pemakaman.Tak lama kemudian, Anne dan Jessy pergi. Ada satu wanita lagi yang ikut bersama mereka, dia adalah Erika.
Di pagi hari, saat Erfan sedang sarapan bersama semua wanitanya, tiba-tiba Bu Resti datang dengan langkah cepat ~ dari luar vila dan ada kepanikan di ekspresi wajahnya. Melihat itu, Erfan dan semua wanita merasa sangat penasaran. "Ada apa, Res? Kayaknya panik banget!" tanya Anne. "Su-suamiku... dia... dia meninggal!" balas Bu Resti, dengan nafas berat. Semua orang di sana tentu terkejut, mendengar jawaban Bu Resti itu. "Apa kamu serius?" tanya Erfan, sambil bangkit berdiri. Bu Resti mengangguk. "Kayaknya, dia meninggalkan udah beberapa jam lalu, tapi aku baru sadar pas tadi mau ngasih makan." "Kamu udah kasih tau Pak RW, sama warga?" tanya Erfan. "Udah... sekarang di rumah... para warga udah kumpul! Aku kesini, cuma mau kasih tau kalian," balas Bu Resti. Karena kepanikannya, dia tak memikirkan ada ponsel untuk mengabari Erfan dan para wanita. "Ya sudah, sekarang kita ke sana!" ucap Erfan buru-buru. "Fan, sarapan dulu saja! Gak apa-apa, kok!" ucap Bu Resti buru-buru. "Aku
Setelah cukup mengobrol, Erfan ingin melajukan kembali permainan. "Sayang, ayo kita lanjut!" ajak Erfan, sambil meremas kedua payudara wanita itu. "Bentar, sayang! Sebelum lanjut, kita lihat suamiku dulu yuk!" "Eh, kenapa mengajakku?" tanya Erfan heran. "kalau dia udah bangun... pasti dia udah tau yang kita lakukan... kalau gitu, sekalian aja kita bercinta di depannya, udah terlanjur ini! Aku pikir juga, pasti itu sangat menggairahkan," ucap Bu Resti dengan nada main-main. "Apa gak keterlaluan?" tanya Erfan, ekspresinya tampak heran. "Keterlaluan sih... tapi kan udah terlanjur juga," balas Bu Resti. "Sayang... kamu istri yang sangat jahat!" ucap Erfan dengan nada lirih. "Sayang, ayolah! Apa kamu gak penasaran, gimana rasanya bercinta di depan suami selingkuhanmu?" bujuk Bu Resti. Erfan memikirkan ucapan wanita itu. Setelah di pikir-pikir, kalau hal itu dia lakukan, pasti memiliki sensasi yang berbeda. Pada akhirnya, dia pun menyetujui keinginan wanita itu. Mereka pun turun
Tak lama kemudian, Erfan mulai menggerakkan pinggangnya. Terlihat jelas, batang besar itu maju mundur di dalam apem wanita itu. "Ahhh.... ahh, enak sayang! Lebih cepat!" pinta Bu Resti. Erfan bergerak semakin cepat. Tangannya meremas payudara Bu Resti, agar wanita itu semakin terangsang, dan kenikmatan yang di rasakannya semakin besar."Ahh... ahh... beberapa hari gak main sama kamu... rasanya lebih... nikmati, ahh..." ucap Bu Resti."Itu pasti... soalnya... apem mu... sangat merindukan batangku," balas Erfan dengan nada main-main."Ahh... ahh, kamu... kamu benar," ucap Bu Resti.===Di kamar sebelah, tempat suami Bu Resti berada. Terlihat, seorang pria terbaring di atas tempat tidur. Bisa terlihat dari wajah, leher dan tangannya, pria itu sangat kurus kering.Pria yang tertidur itu perlahan terbangun. Penyebabnya, mungkin gara-gara suara-suara menggairahkan Erfan dan Bu Resti. Karena suara-suara itu
Bu Jessy dan yang lainnya bingung mendengar perkataan Erfan. "Maksudnya gimana tuan muda?" tanya Bu Jessy, dengan ekspresi bingung. "Saya memiliki saran, bagaimana jika lebih memperbesar tempat hiburan tersebut! saya akan memberikan sisa modal yang di butuhkan!" ucap Erfan. Bu Jessy tersentak
Di dalam kamar.Erfan dan Bu Evi, saling berpelukan. Mereka belum melanjutkan permainan, karena Bu Evi ingin beristirahat terlebih dahulu."Sayang, simpanan mu sekarang ada berapa? aku penasaran hihi!" tanya Bu Evi, sambil terkikik genit."Emm, lumayan sih," jawab Erfan
Akhirnya Bu Resti mau masuk ke dalam vila. Di dalam vila, Erfan duduk di sofa, lalu menarik Bu Resti untuk duduk di pangkuannya, Ekspresi Bu Resti masih terlihat kaku."Sudah jangan terlalu dipikirkan, akan baik-baik saja kok!" jawab Erfan, tangan nakalnya menggapai gunung besar wanita itu lalu mer
Wajah komandan polisi itu, seketika memucat, saat mendengar suara marah di seberang telepon."Jenderal, saya saya tidak melakukan itu saya," komandan itu, sangat sulit untuk berbicara."Tidak tidak, tadi jenderal dari dari ibu kota langsung menelepon ku. Kau ingin menangkap tuan muda Erfan Purnama,







