ANMELDEN"Ayahku... masih hidup?!" bisik Selina dengan suara tercekat di tenggorokan. "Samuel, tolong katakan padaku kalau kau tidak sedang bercanda!""Aku tidak pernah bercanda tentang hal seluar biasa ini, Selina," jawab Samuel tegas seraya condong ke depan, menatap lurus mata Selina. "Ayahmu, Harry, masih hidup dan sehat."Selina memegangi dadanya yang berombak kencang, berusaha mencerna rentetan informasi yang seolah memutarbalikkan dunia kenyataannya dalam sekejap mata."Beberapa tahun lalu, bisnis pengembangan milik Harry sempat dihantam sabotase besar-besaran oleh pesaingnya," lanjut Samuel menjelaskan secara detail. "Perusahaannya berada tepat di ambang kebangkrutan total.""Lalu apa yang terjadi pada Ayah saat itu?" cecar Selina dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya."Di saat semua investor membelakangi Harry, Edgar datang secara diam-diam menyuntikkan dana segar dan menghancurkan para sabotase itu," tutur Samuel meluapkan fakta. "Edgar menyelamatkan seluruh bisnis
"Wah, lihat calon Nyonya Anderson kita ini," panggil Samuel seraya bertepuk tangan pelan di area lounge penthouse. "Kau tampak sangat memukau, Selina!"Selina memutar tubuhnya perlahan di atas podium bundar berpijakan beludru, menatap pantulan dirinya di cermin besar.Gaun pengantin eksklusif berwarna putih gading itu melekat sempurna, memperlihatkan siluet tubuhnya yang amat anggun."Jangan menggoda terus, Samuel," cicit Selina dengan pipi yang mendadak memerah merona akibat malu. "Aku malah jadi makin gugup sekarang.""Kenapa harus gugup, Selina?" terkekeh Samuel seraya bersedekap dada menatap Selina yang tampak cemas. "Edgar tidak akan membiarkan ada satu pun debu yang mengganggu acaramu!"Tim perancang busana ternama dan para pengawal pribadi memenuhi area penthouse megah milik Edgar tersebut. Mereka bekerja dengan sangat cekatan, membetulkan setiap lipatan renda dan memastikan keamanan lokasi terjaga ketat.Edgar berdiri tidak jauh dari podium, mengawasi setiap detail keamanan da
"Aku sudah menyerahkan seluruh rahasia aset Theodore Group kepadamu, Raymond!" bentak Thomas seraya membanting berkas dokumen ke atas meja."Mana dana ganti rugi yang kau janjikan?!"Di sebuah ruang rapat privat serba tertutup di lantai teratas gedung pencakar langit, Raymond Vance duduk tenang seraya memutar-mutar cangkir wiskinya.Pimpinan utama Vance Corp itu menatap Thomas dengan pendar mata dingin yang sarat akan dominasi internasional."Tenangkan dirimu, Thomas, kau tidak sedang bicara dengan bawahanmu," tegur Raymond dengan suara bariton yang amat tenang namun menekan."Uangmu akan cair setelah aku memverifikasi seluruh data ini.""Aku tidak bisa tenang sementara anakku membusuk di sel tahanan dan namaku hancur total!" jerit Thomas dengan raut wajah merah padam dan napas tersengal-sengal."Iblis bernama Edgar Anderson itu telah merampas segalanya dariku!"Raymond tersenyum sinis, meletakkan cangkirnya perlahan sebelum membuka map dokumen rahasia yang diserahkan Thomas.Sosok da
"Edgar, lihatlah bagaimana cincin berlian ini melingkar sempurna di jari manisku," bisik Selina seraya memandangi jemarinya di bawah pendar cahaya lampu rooftop.Edgar mengusap lembut punggung tangan Selina, menatap mata wanita itu dengan pendar kasih sayang yang teramat pekat."Cincin itu memang diciptakan khusus untuk melengkapi dirimu, Selina," sahut Edgar dengan suara bariton hangat."Aku masih merasa seperti bermimpi bisa berdiri di sini bersamamu," tutur Selina seraya menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Edgar.Momen lamaran yang teramat manis dan penuh kehangatan itu memicu kepenuhan emosional di dalam dada Selina saat ini."Ini bukan mimpi, Selina, ini adalah kenyataan baru yang akan kita jalani bersama," tegas Edgar penuh kepastian."Dulu aku selalu dibayangi rasa takut dan keraguan yang amat menyiksa," aku Selina seraya menatap lurus ke dalam mata elang Edgar.Selina menyadari bahwa seluruh rasa takut, keraguan, dan trauma masa lalunya telah terkikis habis oleh konsistensi
"Apakah ini semua sengaja kau siapkan untuk malam ini, Edgar?" tanya Selina terpana seraya melangkah ke area rooftop garden penthouse.Edgar tersenyum tipis, kemudian merangkul lembut pinggang Selina untuk menuntunnya menuju meja makan privat yang dihiasi pendar cahaya lampu hangat."Ini malam istimewamu, Selina, kau berhak mendapatkan kebahagiaan murni tanpa ada bayang-bayang tekanan," bisik Edgar lembut."Cahaya lampu dan alunan musik klasik ini sangat indah," puji Selina seraya duduk di kursi beludru yang telah disiapkan.Kebebasan Selina tidak ditanggapi Edgar sebagai kesempatan untuk memaksakan status baru secara gegabah atau terburu-buru."Aku ingin menciptakan momen yang murni untuk kita berdua saja," sahut Edgar seraya mendaratkan kecupan hangat di kening Selina."Terima kasih untuk makan malam yang teramat elegan ini, Edgar," tutur Selina seraya menyesap minuman jus buahnya.Pria penguasa Anderson Group itu sengaja merancang malam yang privat ini jauh dari ingar-bingar media
"Apakah sidang putusan perceraian kita akan dimulai sekarang, Edgar?" tanya Selina seraya meremas jemari tangan Edgar di dalam ruang tunggu pengadilan.Edgar menatap wanita di sampingnya dengan pandangan hangat dan penuh kepastian."Benar, Selina, hari ini adalah langkah terakhirmu untuk melepaskan seluruh ikatan kelam itu," jawab Edgar mantap."Mari kita masuk ke dalam ruang sidang utama sekarang, Nyonya Selina," ajak Edward seraya membukakan pintu kayu jati pengadilan.Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Selina akhirnya tiba saat majelis hakim Pengadilan Agama menggelar persidangan putusan akhir."Aku akan selalu menggenggam tanganmu di dalam sana," bisik Edgar seraya menuntun Selina melangkah masuk."Di mana posisi tergugat Rafael Theodore saat ini, Pak Pengacara?" tanya Ketua Majelis Hakim seraya membetulkan posisi kacamata bacanya."Tergugat masih mendekam di sel tahanan kepolisian dan menolak hadir dalam persidangan ini, Yang Mulia," jawab Edward dengan tegas.Tanpa kehadiran
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus







