Mag-log in"Surat penetapan eksekusi sita ini sudah ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Negeri, Tuan Thomas," ujar juru sita pengadilan seraya menunjukkan berkas berkop resmi."Kami diberi kewenangan untuk menyegel seluruh properti ini."Thomas berdiri mematung di lobi gedung perkantoran utamanya, menyaksikan belasan petugas berseragam menempelkan stiker penyitaan di dinding kaca.Wajah pria paruh baya itu pucat pasi dengan napas yang memburu ketakutan."Tunggu dulu! Beri aku waktu tiga hari untuk melunasi cicilan itu!" jerit Thomas dengan suara serak seraya mencengkeram lengan juru sita."Aku baru saja mendapatkan suntikan dana segar dari investor luar!""Tenggat waktu batas toleransi dari perbankan sudah melampaui batas akhir sejak kemarin sore, Tuan," sahut perwakilan konsorsium bank yang berdiri di samping petugas. "Seluruh rekening dan aset komersial Anda resmi dibekukan mulai hari ini.""Anda tidak bisa melarang kami memasuki gedung kami sendiri!" jerit Luna histeris yang baru saja tiba d
"Sidang lanjutan perkara perceraian dan hak asuh Penggugat Selina resmi dibuka," ucap Ketua Majelis Hakim seraya mengetuk palunya. "Agenda hari ini adalah penyerahan hasil bukti medis independen dari pihak Penggugat."Atas izin majelis hakim, Edward berdiri dari kursinya seraya membawa map tebal berstempel resmi laboratorium forensik nasional.Wajah Haris dan Rafael di meja Tergugat seketika menegang menatap langkah penuh percaya diri dari pengacara tersebut."Yang Mulia, kami menyerahkan berkas resmi tes DNA pra-lahir yang diproses secara independen," ujar Edward tegas di depan meja hakim. "Pemeriksaan ini dilakukan di bawah pengawasan hukum ketat dan diawasi oleh tiga ahli forensik independen."Hakim Ketua menerima berkas tebal itu, lalu membukanya dengan cermat di hadapan dua hakim anggota lainnya. Suasana di dalam ruang sidang mendadak hening total, menanti pembacaan hasil tes biologis yang menjadi penentu takdir tersebut."Berdasarkan hasil analisis kromosom dan pencocokan sampel
"Jawab aku sekarang, Selina!" bentak Luna seraya terus mengguncang bahu Selina. "Kau mau menurut atau nama ibumu yang kubuat busuk?!"Pintu unit penthouse terbuka kasar hingga membentur dinding dengan dentuman keras. Edgar melangkah masuk dengan langkah lebar, memancarkan aura membunuh yang teramat pekat."Tarik tanganmu dari tubuh calon istriku sebelum kupatahkan setiap jari tanganmu itu, Luna!" ancam Edgar dengan suara bariton yang teramat dingin dan menggelegar.Luna seketika membeku, menarik tangannya dengan napas tersengal saat melihat Edgar berdiri mematung beberapa meter di hadapannya.Raut wajah pria itu sangat kelam dengan tatapan mata elang yang mampu meremukkan mental siapa pun."Edgar..." bisik Selina lirih seraya memegangi perutnya yang tegang, tubuhnya gemetar hebat akibat kejutan emosional.Edgar melangkah maju mendahului Luna, langsung merengkuh pinggang Selina dan menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh. "Kau tidak apa-apa, Selina? Katakan padaku,
"Kartu akses eksekutif ini masih aktif, bukan?" tanya Luna dengan nada dingin kepada petugas keamanan lobi. "Jangan coba-coba menghalangiku untuk naik ke atas."Petugas keamanan lobi tertegun menatap kartu akses lama di tangan Luna. "Maaf Nyonya, tetapi area penthouse membutuhkan verifikasi ulang dari pengawal internal Tuan Edgar.""Aku adalah ibu mertua pemilik gedung ini dan urusanku sangat mendesak!" gertak Luna seraya membusungkan dadanya penuh dominasi. "Jika kau membuang waktuku, kubuat kau dipecat hari ini juga!"Petugas yang ragu-garu itu akhirnya mundur, membiarkan Luna melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif.Luna menekan tombol lantai teratas dengan sudut bibir terangkat memamerkan senyum culas. Dia tahu betul bahwa Edgar sedang memimpin rapat direksi luar kota yang tidak bisa ditinggalkan.Di dalam unit penthouse, Selina sedang duduk di sofa ruang tengah seraya menyesap teh hangat.Denting pintu lift yang terbuka di dalam unit seketika mengejutkan dirinya dan dua pe
"Surat teguran ketiga dari bank sudah tiba pagi ini, Tuan Thomas," ujar sekretaris dengan suara bergetar seraya meletakkan berkas di meja. "Jika kita tidak membayar cicilan utang sebelum akhir pekan, seluruh aset utama akan disita."Thomas mengepalkan tangannya kencang hingga kertas di hadapannya meremuk seketika.Pemutusan jalur bahan baku oleh Anderson Group telah membunuh seluruh pendapatan perusahaannya secara instan."Keluar dari ruanganku sekarang juga!" bentak Thomas dengan napas memburu dan mata memerah. "Biarkan aku berpikir mencari jalan keluar dari masalah ini!"Thomas membuka laci terbawah meja kerjanya yang terkunci rapat menggunakan kunci khusus. Jemarinya yang gemetar mengambil bundel dokumen tebal berkover hitam dengan stempel rahasia milik ayahnya, Anthony Theodore."Maafkan aku, Ayah," bisik Thomas pada ruangan yang kosong dengan raut wajah penuh keputusasaan. "Tetapi ini satu-satunya cara agar Theodore Group tidak punah digilas oleh Edgar Anderson."Thomas segera me
"Tuan Edgar melarang Anda melangkah ke area rooftop pagi ini, Nyonya," ujar seorang pengawal tegap seraya membentangkan tangannya di depan pintu kaca. "Mohon kembali ke dalam kamar Anda."Selina menghentikan langkahnya, menatap dua pengawal berseragam hitam yang berdiri kokoh menghalangi jalannya.Rasa sesak langsung memenuhi dadanya melihat barikade manusia yang mengawasi setiap gerak-gerikannya."Aku hanya ingin menghirup udara segar di taman atas selama sepuluh menit," pangkas Selina dengan nada suara yang mulai bergetar. "Aku tidak akan pergi meninggalkan penthouse ini.""Maafkan kami, Nyonya Selina," sahut pengawal kedua dengan raut wajah tanpa ekspresi."Perintah Tuan Edgar sangat jelas, Anda harus tetap berada di dalam ruangan utama."Seorang perawat pribadi berseragam putih mendekati Selina seraya membawa nampan berisi obat dan tensimeter. "Nyonya, saatnya pemeriksaan tekanan darah dan minum vitamin harian Anda."Selina membalikkan badan, menatap perawat dan tim medis pribadi
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar







