LOGIN"Wah..! Tapi Bos, kenapa tidak sekalian saja kita musnahkan Ganks Shadow itu dalam satu serangan..?" tanya penasaran Maux. "Itu karena aku tak mau jatuh banyak korban di pihak kita. Dan jika Yoga hendak menuntut balas, aku sendiri yang akan menghadapinya. Karena pastinya dia juga tak bisa banyak membawa anggotanya yang sudah kita bantai. Dan keuntungan lainnya bagi kita, khususnya bagiku. Berduel dengan orang yang tengah emosi dan kalap, tentunya akan lebih mudah untuk mengatasinya..!" jelas Bimo tegas. Evan pun langsung berdiri seraya menganggukkan kepalanya, "Ahh..! Rupanya begitu maksud Mas Bimo. Aku mengerti!" seru Evan antusias. Sementara para rekan lainnya kini juga bisa menerima alasan dibalik siasat yang akan dilakukan Bimo. 'Sungguh Bos sangat memikirkan keselamatan kami! Dan kemenangan pada serangan lusa besok juga sepertinya sudah di tangan', bathin para rekan semua. Merasa tak tahan, Alimsyah pun berkata, "Terimakasih atas kepedulian Bos pada kami semua. Tapi Bos juga
'Hmm. Pulau Duyung..? Di mana letaknya pulau itu ya? Sudahlah, lebih baik aku kembali secepatnya saja. Lagi pula informasi yang kucari juga sudah kudapatkan'. "Hehehe! Siapa bilang aku tak akan mengajak Yoga untuk mengawalku ke Mantankali, Winda. Yoga akan ikut serta bersama kita ke sana besok lusa," ucap terkekeh Prayoga, mendengar putri kesayangannya yang merajuk itu. "Waw..! Kalau begitu lain ceritanya Ayah..! Winda pasti siap berangkat..! Hihihi..!" seru Winda heboh, seraya tertawa senang. 'Hmm. Dapat info tambahan lagi. Mantap!' bathin Bimo senang. Lalu... Splaashp..! Sukma Bimo pun langsung melesat menembus dinding ruangan itu. Berniat kembali menuju raganya di kantor pusat Pijar Taruna. *** Malam itu Devi telah membulatkan tekadnya untuk sebuah keputusan. 'Baiklah! Sepertinya pergi sejauh-jauhnya dari Kajarta ini, adalah keputusan terbaik yang harus kuambil!' bathin Devi memutuskan. 'Pasporku masih berlaku, sementara visa untuk tinggal sudah diurus oleh Yuriko. Hanya ti
"Nah! Sebaiknya langsung saja kita buka bahasan kita kali ini. Bagaimana Freedy, apakah pihak aparat sudah memberi keterangan soal pemeriksaan di markas Gank Shadow itu..?" "Baik Mas Bimo. Pihak penyidik kepolisian memang telah menghubungi kami sore tadi. Mereka mengatakan sementara ini belum ditemukan satu bukti pun, mengenai keberadaan Gank Shadow di area kediaman Prayoga.Mereka hanya mendapati gudang logistik perusahaan, dan ruang-ruang kosong di area kediaman Prayoga itu! Ini sungguh aneh..!" ungkap Freedy yang diakhiri dengan wajah bingungnya. "Ahh..?!!" terdengar seruan heran serentak dari semua yang ada di ruangan lobi itu. 'Bagaimana bisa secepat itu Gank Shadow menghilangkan bukti bekas keberadaan mereka, di area kediaman Prayoga..?!' Ya, itulah keheranan dan kekagetan yang ada di benak semua yang hadir di lobi itu. Tentu saja terkecuali Bimo..! Karena dia sangat paham dengan kapasitas Prayoga, dan juga Yoga sebagai pimpinan Gank Shadow itu."Hmm. Sepertinya Gank Shadow
"Ya Ratri..? Ada kabar baik apakah..?" "Hihihi..! Kabar biasa saja kok Bimo. Aku berencana mau ambil liburan panjang ke kota Oslo, Bimo. Kuharap kau dan keluargamu selalu baik-baik saja Bimo." "Wah! Rupanya kau merasa jenuh juga dengan rutinitas ya Ratri. Seberapa panjang liburan yang akan kauambil Ratri..?" "Entahlah Bimo, mungkin setahun atau lebih. Sebenarnya aku hanya butuh ketenangan saja. Sengaja aku mengabarimu perihal ini, agar kau tak bingung jika kau ingin mencariku nantinya." "Wah! Panjang sekali liburanmu Ratri. Apakah cuti panjang seperti itu akan diijinkan oleh atasanmu?" Agak bingung juga Bimo mendengar masa liburan setahun yang akan diajukan Ratri itu. "Hihihi..! Jika tak diijinkan aku akan memilih resign saja Bimo. Rasanya aku memang membutuhkan masa rehat yang panjang dari kejenuhan rutinitasku ini." "Hmm... Ratri. Kalau kau sampai resign dari rumah sakit itu, nantinya aku pasti akan merekrutmu jadi Dokter khusus di perusahaanku dan juga perusahaan Lidya." "A
"Hoekssh..! Hoekksh..!" wajah Ratri nampak agak pucat, setelah dia memuntahkan isi perutnya yang mual di dalam closed kamar mandinya. Ya, sudah dua minggu belakangan ini Ratri kerap merasa mual tiba-tiba dan tak jarang hingga muntah-muntah. 'I-ini..! A-apakah aku.. hamil..?' bathin Ratri bergetar, dirinya merasa tak percaya dengan diagnosanya sendiri yang seorang Dokter. Cepat Ratri menuju ke kotak obat yang berada di ruang tengah rumahnya, diambilnya test pack yang tersedia di dalam kotak itu. Lalu dia pun kembali masuk ke kamar mandinya. Dan beberapa menit kemudian, "Ahh..!" terdengar seruan terkejut wanita cantik itu di dalam kamar mandinya. 'A-aku benar hamil..!' sentak bathin Ratri gugup dan pucat. Dan bayangan Ratri pun langsung teringat pada kejadian terakhir dirinya bersenggama dengan seseorang, Bimo! (Bab 202) Ratri memang merasakan suatu hal yang aneh, pada saat dia menatap wajah Bimo yang tengah diterpa orgasmenya saat itu. Karena sepasang mata Bimo saat itu tak lagi
"B-bimo..! K-kau ...?! Mmmhph..!" sentak terkejut Monica.Namun dalam sekejap Monika bisa merasakan hawa dan aura yang berbeda, bahwa yang ada di hadapannya saat itu bukanlah Bimo yang sejati. "Kau cantik sekali Monica sayang. Tak pernah aku seberairah ini terhadap wanita. Mmhhp.." ucap lembut Bimo di sisi telinga Monica, seraya memeluk erat dan menjalari leher Monica dengan kecupan-kecupan panasnya. "Hmmhhh..! S-siapa kau sebenarnya..?! Kau bukan Bimo..!" desis terbata Monica, ditengah desiran gairah yang ikut terbangkitkan mendapat perlakuan panas dan lembut dari Bimo. Ya, dasarnya Monica memang wanita yang selalu haus dengan pergumulan ranjang. Mendapat perlakuan seperti itu otomatis dia mulai merespon positif hasrat dari Ki Brajangkala, yang saat itu telah mengambil alih kesadaran Bimo. "Mmhhp. Aku adalah Brajangkala, Monica. Saat ini akulah yang berkuasa penuh atas kesadaran dan raga Bimo. Dan aku tahu kau juga bukanlah wanita biasa bukan..?" sahut Brajangkala, seraya hentika







