Share

Hasrat yang Mematikan
Hasrat yang Mematikan
Author: King

Bab 1

Author: King
Pengalaman pertamaku dalam hubungan intim terasa seperti membuka dunia baru, sebuah pengalaman yang tak terkendali.

Aku menikmati getaran yang menyusuri tubuhku saat kenikmatan meluap, gemetar dengan kegembiraan atas sensasi yang tak kupahami. Perasaan ini hampir menghancurkan kehidupanku yang monoton, bahkan perasaan kekosongan setelah orgasme pun terasa sangat menagih.

Namun, lambat-laun, kekosongan ini tak lagi bisa diisi oleh suamiku. Rasa hasrat yang tak terpenuhi menjadi siksaan harian, bagaikan api yang membakar diriku.

Suamiku mulai mencari solusi lain. Kami mencoba mainan seks, menjelajahi posisi dan titik-titik sensitif. Kami mencoba segalanya.

Namun kemudian semuanya juga tak lagi efektif.

Suamiku bilang aku mengalami kondisi frustrasi seksual.

Dia bilang tak ada pria yang bisa memuaskanku.

Setelah mengetahui hal ini, sahabatku merekomendasikan sebuah salon pijat tradisional khusus. Dia mengatakan pijatan mereka bisa meredakan api dalam tubuhku dan menyembuhkan kondisiku.

Perasaan kesepian yang tak tertahankan dan ketidakpuasan sungguh menyiksa.

Setelah banyak perjuangan batin, aku memutuskan untuk mencobanya.

Salon pijat itu terletak di dalam gang yang dalam.

Cahaya redup menciptakan suasana intim di dalam ruangan yang sederhana namun elegan.

Seorang resepsionis wanita mengantarkanku ke ruangan pribadi yang kosong. Perabotannya sangat minim, hanya ada satu tempat tidur dan lemari kayu kecil di sampingnya, dengan berbagai botol dan toples di atas.

Aku mengganti pakaian dalam sekali pakai yang disediakan.

Pakaian dalam tersebut sangat tipis, hampir tidak menutupi putingku, sehingga bagian bawah payudaraku terpapar dengan bebas. Celana dalam terbuat dari jaring tipis dan halus, membuat bagian intimku sepenuhnya transparan.

Parahnya, saat pakaian tersebut menyentuh kulitku, aku merasa terangsang. Payudaraku yang sensitif langsung menonjol dengan jelas begitu kain itu dikenakan, sementara celana dalamku menjadi basah, samar-samar memperlihatkan lekuk tubuhku.

Aku mempertimbangkan untuk meminta pakaian yang baru di resepsionis, namun aku tahu itu sia-sia.

Aku hanya bisa menghibur diri.

Lagi pula, terapisnya juga seorang wanita, tak perlu merasa malu. Apalagi, aku di sini untuk pengobatan.

Tapi saat pintu terbuka, jantungku berdebar kencang saat melihat terapis yang masuk.

Sahabatku tidak pernah mengatakan bahwa terapisnya cowok.

Parahnya dia adalah pemuda tampan berusia dua puluhan, dengan rambut yang rapi, wajah cerah dan tampan, dan mengenakan singlet hitam.

Kontur dada yang lebar, bahkan otot perutnya, terlihat jelas.

Sejak dia masuk, aku langsung merapatkan kakiku dan mengangkat tangan untuk menutupi dadaku.

Aku bisa merasakan tatapannya yang intens tertuju padaku, seolah tatapannya bisa menembus pakaianku.

Ditatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki membuatku merasa lebih malu daripada jika dia menyentuh seluruh tubuhku.

Saat aku gelisah dan ragu-ragu, mempertimbangkan apakah harus meninggalkan pengobatan ini, dia berbicara. Suaranya sangat menyenangkan dan lembut.

“Bu Yani ya?”

“Halo, Bu Yani! Aku Markus, terapis nomor tujuh di salon ini. Senang bisa melayani Anda.”

Markus mendekatiku, tersenyum manis seperti adik tetangga yang ramah.

Entah kenapa, aku merasa lebih rileks, namun tetap tergagap, “Bolehkah ... bolehkah aku mengganti pakaianku?”

Kurasa jika terapisnya cowok, lebih baik aku mengganti pakaian yang lebih sopan.

Tapi Markus hanya tersenyum, dengan lembut mengambil tangan yang kuletakkan di dada.

“Jangan khawatir, aku mengerti.”

Suaranya yang lembut menenangkan hatiku yang sudah tersiksa oleh kekosongan.

“Kau di sini karena kecanduanmu, jadi wajar jika reaksi tubuhmu di luar kendali. Lagi pula, itulah mengapa aku di sini, bukan?”

Markus berbicara sambil memegang tanganku dan perlahan-lahan mengekspos kondisi tubuh yang ingin kusembunyikan darinya.

Putingku yang menonjol terpampang di hadapannya.

Namun saat mengamatinya, Markus tidak menunjukkan perilaku yang tak pantas. Dia hanya memegang tanganku dan membimbingku menuju tempat tidur.

“Jadi, rileks-lah dan serahkan padaku. Aku sangat profesional dan pasti akan menyembuhkanmu.”

Telapak tangan Markus yang panas dan kontur ototnya yang halus hanya membuatku makin gelisah.

Namun suaranya membawa kehangatan yang tak terbantahkan.

Secara naluriah, aku menuruti dan berbaring.

Namun begitu aku berbaring, kain itu bergeser di atas seprai, dan payudaraku yang memang hampir tak tertutupi pun terpampang jelas.

Menyadari hal itu, saking malunya, pipiku terasa seperti terbakar.

Namun kenikmatan dari titik sensitif yang tersentuh membuatku mendesah tak terkendali, membasahi celana dalamku yang sudah basah kuyup.

Lalu muncullah kekosongan yang lebih menyiksa, menggerogotiku hingga hampir pingsan. Tetapi Markus tampaknya sama sekali tak tertarik pada tubuhku. Dia mengambil botol minyak esensial berwarna merah muda dan menjelaskan dengan tenang, “Pertama, aku akan menggunakan minyak ini untuk merilekskan tubuh dan pikiranmu. Minyak ini juga bisa merawat kulit.”

“Lalu aku akan pakai salep khusus untuk memijat seluruh tubuhmu untuk menghilangkan panas yang terpendam dalam tubuhmu.”

Minyak esensial itu dioleskan di antara telapak tangan Markus.

Kemudian, tangannya yang hangat itu menyentuh perutku.

Aku secara naluriah menegang.

“Jangan gugup. Aku akan mulai sekarang.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat yang Mematikan   Bab 9

    Namun karena pengaruh obat, suaraku lemah dan tak berdaya.“Jangan teriak lagi. Hanya ada tiga orang di kolam ini, dan Markus-mu sedang sibuk mengajar!” cibir Wilbert dan langsung menindihku di bawahnya. Lalu, dia merobek pakaianku, memperlihatkan pakaian dalam hitamku.“Seksi banget!”Wilbert meludah lalu menyeringai mesum. “Katanya perempuan jalang suka pakai hitam, ternyata itu benar!”“Salahkan dirimu sendiri karena selalu memamerkan diri di hadapanku!”Sony jarang bicara tapi jauh lebih kejam. Dia mengeluarkan pisau kecil dan menekan ringan di pipiku.“Jangan berontak, dan kami akan melepaskanmu setelah kami puas. Kalau nggak ....” Aku gemetar ketakutan. Lalu aku melihat Sony memotong pakaian dalamku dengan pisau. Dua payudara putih montok terekspos, dan senyuman kedua pria itu semakin cabul. “Sialan, dia benar-benar cantik!” “Cepat, robek roknya! Aku nggak tahan lagi, biarkan aku duluan!”Aku hanya bisa melihat dengan tak berdaya saat mereka melucuti pakaianku satu per satu,

  • Hasrat yang Mematikan   Bab 8

    Aku teringat hari itu di salon pijat dan tiba-tiba merasakan gelombang hasrat. Meskipun sudah bercerai dari suamiku, aku masih merindukan keintiman. Hanya saja persahabatan dengan Markus dan terapi pijatnya sedikit meredakan hasratku. Namun saat larut malam, aku tetap tidak bisa menahan diri dan menggunakan mainan pink kecilku sebagai penghibur.Tepat saat aku tenggelam dalam momen itu, salah satu rekan kerjanya tiba-tiba menghampiri. “Hai, Kak Yani, datang cari Markus?” Aku menoleh dan melihat rekan kerja Markus, Wilbert, yang sudah bekerja di sana dua tahun lebih lama darinya. Dia adalah seorang pemuda berkulit gelap dan berpostur tegap. Aku mengangguk sopan sambil menyapa, “Halo.”“Tunggu di sini saja. Markus masih lama, kelasnya sampai jam tujuh malam ini.” Wilbert dengan ramah mengantarkanku ke ruang istirahat di sebelahnya. Aku melirik jam tangan, baru lewat jam enam, dan mengikutinya. Ruang istirahat itu sederhana. Hanya ada dua tempat tidur tunggal, beberapa lemari be

  • Hasrat yang Mematikan   Bab 7

    Pada hari-hari berikutnya.Proses perceraianku berjalan lancar.Berkat bukti yang disediakan Markus, aku berhasil memperoleh sebagian besar harta dan membeli secara tunai apartemen kecil yang sebelumnya aku sewa.Meskipun suamiku protes dan menuduhku berselingkuh di pengadilan, dia tidak dapat memberikan bukti apa pun.Masalah tersebut pun terselesaikan.Aku mendapatkan pekerjaan baru, dan kehidupan sehari-hariku perlahan-lahan menjadi lebih bermakna.Namun, salon pijat itu ditutup dua bulan kemudian.Markus menjelaskan bahwa semua salon pijat di sepanjang jalan itu telah tutup, kebanyakan terlibat dalam perdagangan seks, dan tempat mereka terimbas kali ini.Setelah itu, Markus bekerja sebagai instruktur renang.Atas saranku, dia meninggalkan apartemen lamanya dan pindah ke apartemenku.Namun, dia bersikeras membayar sebagian uang sewa setiap bulan.Aku tidak bisa menolaknya.Seiring waktu yang kami habiskan bersama, kami semakin dekat.Kami sering memasak bersama, berbelanja bersama,

  • Hasrat yang Mematikan   Bab 6

    Markus mendengus dingin. “Kau terus mengeluh istrimu yang polos itu jalang, tapi kau sendiri bersenang-senang di luar! Bahkan punya tiga atau empat selingkuhan!” “Kalau kau berani menyentuhnya lagi, aku akan langsung membongkar semua perilakumu!” “Apa maksudmu?” Aku menatap suamiku dengan tak percaya, seolah tersambar petir.Dia tidak berkata apa-apa, bahkan tidak menatapku, lalu pergi dengan lesu sambil mengambil ponselnya. “Kak, lihatlah sendiri.” Markus mendekat, mengeluarkan ponselnya. Layar menampilkan gambar-gambar eksplisit suamiku yang berpelukan dengan beberapa wanita berbeda di tempat tidur hotel, beserta berbagai video pendek. Hatiku hancur, dan aku hampir terjatuh.Selama ini, aku terjebak antara hasrat dan moralitas, takut mengkhianatinya. Tapi aku tidak pernah membayangkan dia sudah .…Huhuhu ....Aku menangis tersedu-sedu. Lalu, aku merasa ditarik ke dalam pelukan hangat Markus.“Gimana … gimana kau tahu dia selingkuh?” Markus mencibir, “Saat kupukul tadi, dia

  • Hasrat yang Mematikan   Bab 5

    Markus tinggi dan tegap, dengan tubuh yang kokoh dan tampang muda. Dengan sekali hentakan, pria itu meringis kesakitan. “Lepaskan!” Matanya melebar karena amarah lalu dia mencibir, “Aku melihat kalian berdua turun bersama tadi. Kau kekasih wanita jalang ini, kan?”“Lepaskan aku, atau kuhajar kau sampai babak belur hari ini!”Markus mengerutkan keningnya, menarikku ke belakangnya untuk melindungiku.“Pak, tolong jangan sembarangan menuduh. Ini adalah salon pijat yang sah.”“Bu Yani datang ke sini hanya untuk meredakan panas yang terpendam dalam tubuhnya melalui pijatan tradisional. Kondisi ini sepenuhnya disebabkan oleh ketidakharmonisan dalam hubungan kalian.”“Kalau Anda benar-benar peduli padanya, Anda akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, bukan menggunakan kekerasan terhadapnya.” Hatiku sakit. Orang asing yang baru pertama kali bertemu denganku bisa membelaku seperti ini. Tapi apa yang dilakukan suamiku yang telah bersamaku selama ini? “Awas!” Sebelum Markus seles

  • Hasrat yang Mematikan   Bab 4

    Aku sudah tenggelam dalam nafsu, sepenuhnya mengabaikan moralitas atau kesetiaan.Aku hanya ingin sepenuhnya tenggelam bersamanya dalam lautan nafsu saat ini.Namun di saat kritis ini, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang mendesak.“Kak Markus! Cepat buka pintu!”Gerakan Markus tiba-tiba berhenti, ekspresinya muram. “Ada apa? Nggak lihat aku sedang sibuk?”Aku juga menunjukkan kekecewaan.Tubuhku, yang masih terjerat dalam gairah, tak bisa menahan diri untuk sedikit menggeliat.“Maaf, Kak Markus.” Terdengar suara wanita yang lembut dari pintu. “Ada orang yang mencari Bu Yani. Dia bilang dia suaminya.”Suamiku?Api yang membara dalam diriku padam seketika, seolah-olah diguyur seember air dingin.Mana mungkin? Gimana dia tahu aku di sini?Seluruh departemen suamiku sibuk mengerjakan proyek besar belakangan ini. Dia selalu di kantor, biasanya baru pulang jam sepuluh malam. Sekarang baru pukul enam sore. Bagaimana mungkin! “Kak Markus, cepatlah keluar. Tamu itu sangat gelisah.” “Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status