Beranda / Romansa / Hati Yang Terluka / Bab 6 *Sungguh Tak Percaya*

Share

Bab 6 *Sungguh Tak Percaya*

Penulis: NhaRa02
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 16:28:15

Dito terlihat kebingungan sekaligus tidak percaya saat pak Ardi memberitahu jika perusahaan yang ia kelola sekarang ini adalah milik keluarga Laila.

"Bagaimana ini. Aku sudah menalaknya 5 jam yang lalu." kata Dito dalam hatinya.

Pak Ardi yang masih memperhatikan Dito, merasa keheranan. Sebab, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Dito, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tidak senang ya dimutasikan di perusahaan itu?" kata pak Ardi.

"Ti-tidak, bukan begitu, Pak" kata Dito gugup.

"Lalu, apa yang membuatmu diam?" kata pak Ardi lagi.

"Saya hanya bingung saja, bukannya Laila itu perempuan yang biasa? Kenapa mempunyai perusahaan sebesar ini?" kata Dito. Ia sengaja berbicara itu karena tidak mungkin mengatakan kalau dirinya sudah menalak Laila.

"Oh itu karena dia anak sulungku." kata pak Ardi dengan tegas.

"Apa." ucap Dito sembari membelalakkan matanya. Ia benar-benar syok mendengarnya.

"Ya selama ini, Laila dibesarkan oleh adikku. Karena dia tak kunjung dikaruniai anak. Seharusnya, Laila memanggil mereka dengan sebutan paman dan bibi, bukan ayah dan ibu.

Tapi saya harap, untuk soal ini kamu jangan menceritakannya dulu pada Laila. Sebab, dia belum mengetahui semuanya. Apalagi, sekarang ini dia baru saja melahirkan, jadi tolong kerjasamanya." kata pak Ardi dengan serius.

"Syukurlah, Laila belum tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ini kesempatan aku untuk mengatur strategi baru." kata Dito dalam hatinya.

"Oh ya satu lagi, jika suatu saat kamu bertemu denganku, bersikaplah seperti biasa saja. Karena yang Laila tahu, saya ini adalah pakdenya. Dan saat di kantor, kamu tetap karyawan saya. Jadi bersikaplah seperti biasanya." kata pak Ardi.

"Ba-baik, Pak. Saya mengerti." kata Dito dengan sopannya.

"Ya sudah, silakan lanjutkan pekerjaanmu. Saya juga masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan." ucap pak Ardi sembari mengambil berkas yang sudah siap diperiksanya.

"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." kata Dito.

Dia pun segera keluar dari ruangan pak Ardi. Ada rasa senang di hati Dito, karena sekarang ini dia menjabat sebagai direktur perusahaan. Namun, pikiran Dito belum bisa tenang karena Laila. Biar bagaimanapun juga, ia harus menemukan Laila sebelum pak Ardi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangganya.

"Langkah yang harus aku lakukan adalah mencari Laila. Ya, aku harus menemukan dia secepatnya." kata Dito dalam hatinya.

^^^

Sementara di tempat lain, Laila dan Rayyan serta Bu Fatimah sudah tiba di depan rumah. Meskipun terlihat sederhana, tapi suasananya membuat Laila nyaman. Apalagi di depan rumah itu banyak bunga-bunga yang bermekaran serta kolam ikan kecil yang menghiasi indahnya taman itu.

"Nah, ini rumah kami. Yah, meski jauh dikatakan bagus, tapi mudah-mudahan bisa membuatmu tenang." kata bu Fatimah saat turun dari mobilnya.

"Iya, Nek, tidak apa-apa. Lagi pula, saya tidak memandang bagus atau jeleknya. Toh, yang penting bisa berteduh dulu." kata Laila.

"Ya sudah, ayo kita masuk. Kamu pasti sudah lelah." kata bu Fatimah yang masih menggendong bayinya Laila.

"Sebentar, saya mau mengambil barang-barang dulu di dalam mobil." kata Laila.

"Tidak perlu, biar Rayyan saja yang mengambilkannya." kata bu Fatimah lagi.

Laila pun mengangguk. Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah. Sementara, Rayyan langsung mengambil barang-barang milik Laila. Meskipun tanpa ucapan, Rayyan langsung melakukannya karena memang barang-barang Laila begitu berat.

"Kamu istirahatlah di sini dulu. Biar nenek buatkan kamu makanan." kata bu Fatimah. Ia pun memberikan Arsyila ke dalam pelukan Laila.

"Tapi, nenek tidak usah repot-repot buatkan aku makanan. Aku masih kenyang." kata Laila.

"Wanita yang sedang menyusui harus makan banyak, biar ASI-nya lancar." kata bu Fatimah lagi. Ia pun langsung melangkah keluar dari kamar itu.

"Tapi Nek ...."

"Biarkan saja, turuti apa yang dia inginkan. Karena nenekku tidak suka dilarang." Rayyan tiba-tiba saja masuk sambil membawakan tas milik Laila.

"Oh, maaf. Aku tidak tahu." kata Laila.

"Tidak masalah, selama kamu nurut, dia pasti akan senang." kata Rayyan. Ia masih terlihat kaku karena baru pertama kali ada seorang wanita singgah di rumahnya.

"Terima kasih ya. Berkat kalian, hari ini anakku bisa berteduh dari teriknya matahari. Aku tidak tahu kalau tidak ada kalian, nasibku entah aman seperti apa." kata Laila lirih.

"Istirahatlah, jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting. Fokus sama anakmu saja. Jika butuh sesuatu, kamu bisa panggil aku atau nenekku." Rayyan langsung melangkah keluar dari kamarnya.

Setelah Rayyan keluar, Laila pun segera menidurkan bayinya. Ia tidak mau berdiam diri apalagi di rumah orang yang baru dikenalnya. Meskipun tuan rumah menyuruhnya istirahat, tapi Laila tahu diri. Sehingga, setelah Arsyila tertidur, ia segera menemui bu Fatimah.

"Nenek masak apa?" tanya Laila saat dirinya masuk ke dapur.

"Masak sayur sop iga sapi. Ini sop kesukaan Rayyan. Tapi kamu juga pasti suka. Sayur sop bagus untuk yang sedang menyusui. Tuh, di meja udah nenek siapin labu siam yang sudah di kukus, nanti dimakan juga ya. Biar ASI-nya banyak." kata bu Fatimah sembari mengaduk sayur sop yang hendak matang.

"Nenek baik banget, aku jadi tersanjung." kata Laila dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kamu juga baik, andai tadi tidak ada kamu, mungkin nenek sudah pingsan." kata bu Fatimah.

"Itu hanya kebutuhan saja aku lihat nenek." kata Laila lagi.

"Ini juga kebutuhan saja kamu ada di sini, jadi nenek mau masak banyak. Biar kamu coba masakan nenek enak atau tidak, soalnya kalau nanya sama Rayyan, pasti jawabannya enak terus. Kan jadinya serasa gimana gitu, kurang greget." kata bu Fatimah.

"Memangnya nenek mau aku jawab apa setelah makan masakan ini? Tapi menurutku memang sepertinya enak." kata Laila sembari melihat sop yang ada di panci sayur. Kebetulan sop yang dimasak bu Fatimah sudah matang dan siap untuk disajikan. Sehingga, Laila pun ikut membantu bu Fatimah agar secepatnya beres.

"Pokoknya, kamu jangan bilang enak dulu sebelum mencobanya." kata bu Fatimah.

"Baiklah, nenek jangan khawatir. Aku pasti akan mencobanya. Tapi ada syaratnya." kata Laila. Dan hal ini membuat bu Fatimah keheranan.

"Syarat? Kok ada syaratnya." kata bu Fatimah mengernyitkan dahinya.

"Iya, tentu saja. Nanti, setelah aku makan masakan ini, nenek juga harus mencoba masakan aku." kata Laila dengan penuh semangat.

"Oalah, hanya itu?" kata bu Fatimah menyengir. Dan Laila pun mengangguk dengan senyuman.

"Baiklah, baiklah. Nenek setuju. Pokoknya sekarang kita makan bersama dulu, nanti kamu jangan lupa kritik masakan nenek, enak apa tidaknya. Harus jujur loh." kata bu Fatimah sumringah.

"Oke siap, Nek" jawab Laila lagi.

Mereka berdua terlihat akrab dan penuh sukacita. Perlakuan bu Fatimah pada Laila sangat jauh berbeda dengan perlakuan mantan mertuanya itu. Sehingga, belum juga sehari, Laila sudah sangat betah dan merasa nyaman.

Sementara itu, dari kejauhan ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua. Tatapannya begitu tajam dan seakan tak bisa berpaling dari yang lain.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hati Yang Terluka    Bab 6 *Sungguh Tak Percaya*

    Dito terlihat kebingungan sekaligus tidak percaya saat pak Ardi memberitahu jika perusahaan yang ia kelola sekarang ini adalah milik keluarga Laila."Bagaimana ini. Aku sudah menalaknya 5 jam yang lalu." kata Dito dalam hatinya.Pak Ardi yang masih memperhatikan Dito, merasa keheranan. Sebab, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu."Dito, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tidak senang ya dimutasikan di perusahaan itu?" kata pak Ardi."Ti-tidak, bukan begitu, Pak" kata Dito gugup."Lalu, apa yang membuatmu diam?" kata pak Ardi lagi."Saya hanya bingung saja, bukannya Laila itu perempuan yang biasa? Kenapa mempunyai perusahaan sebesar ini?" kata Dito. Ia sengaja berbicara itu karena tidak mungkin mengatakan kalau dirinya sudah menalak Laila."Oh itu karena dia anak sulungku." kata pak Ardi dengan tegas."Apa." ucap Dito sembari membelalakkan matanya. Ia benar-benar syok mendengarnya."Ya selama ini, Laila dibesarkan oleh adikku. Karena dia tak kunjung dikaruniai anak. Seharusnya, Laila

  • Hati Yang Terluka    Bab 5 *Pergantian Jabatan*

    "Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya."Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam."Sa—"Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?""Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung.""Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi."Lah, memang kenyataannya begitu

  • Hati Yang Terluka    Bab 4 *Entah Harus Kemana*

    Atas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin."Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar.Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah?"Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa ya

  • Hati Yang Terluka    Bab 3 *Cerai*

    Suara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi."Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang suda

  • Hati Yang Terluka    Bab 2 *Tamu Tak Diundang*

    Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk."Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya."Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek."Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila."Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi."Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersa

  • Hati Yang Terluka    Bab 1 *Tidak Pengertian*

    "Laila!" teriak sang mertua dengan lantang. Entah sedang apa dia, sampai-sampai seisi rumah geger dibuatnya."Laila! Kamu sedang apa sih? Dari tadi di panggil-panggil, ga denger apa!" teriak ibu mertuanya lagi."Iya Bu, Sebentar" sahut Laila dari dalam kamar.Saat ini Laila sedang menyusui buah hatinya yang baru saja lahir duam minggu yang lalu. Tidak bisa dibayangkan dua minggu ini waktunya seperti tidak ada habisnya. Tidak ada jeda atau hanya sekedar duduk dengan santai. Semua yang dilakukannya tidak ada gunanya bagi mereka. Di mata keluarga suami, sebagai musibah. Tapi hal itu tidak dipedulikannya, karena sekarang ini Laila sedang fokus mengurus bayinya sendirian. Jika ia memberontak, pasti semuanya akan kacau. Apalagi ancamnya sangat kejam, yaitu perceraian."Dasar menantu tidak berguna! Mencuci baju saja tidak becus! Di dapur masih berantakan, disini  banyak debu. Masa perkejaan seperti ini saja tidak bisa!" teriak mertuanya lagi. Dan hal itu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status