FAZER LOGINSuara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.
Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi. "Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang sudah ia hadapi, benar-benar sulit untuk diperbaiki. Tugas menjemur pakaian sudah ia lakukan. Dan ternyata, masih ada satu pekerjaan yang belum ia bereskan, yaitu memasak. Bagaimana bisa memasak, sementara bahan untuk dimasak saja masih belum ada. Belum juga masuk ke dalam rumah, ibu mertua sudah ngomel-ngomel lagi. "Sudah jam segini, kenapa kamu tidak masak, Laila?" "Sudah aku bilang, aku tidak punya uang untuk membeli bahan makanan." kata Laila datar. "Kamu ini menyebalkan sekali, Kamu sengaja mau mempermalukan ibu depan Dit–" Belum juga bu Salsa selesai bicara, Arsyila sudah terbangun dari tidurnya. Ia menangis sehingga membuat Laila berani meninggalkan ibu mertuanya yang sedang ngomel-ngomel itu. "Ck, dasar menantu tidak berguna." teriak bu Salsa kesal. Dan tidak lama kemudian, Dito dan Arimbi keluar dari kamarnya. Melihat mereka keluar secara bersamaan, bu Salsa langsung menyanjungnya. "Loh, Dito! Arimbi! Kalian sudah bangun?" kata bu Salsa dengan suara keras. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar Laila mendengarnya. "Iya Bu, hari ini kita berdua mau berangkat pagi-pagi. Soalnya banyak urusan di kantor." kata Arimbi yang sudah berpakaian rapi. Begitu juga dengan Dito, ia juga sudah siap untuk berangkat. Sementara, Laila tahu bahwa mereka tidur bersama. Tanpa bu Salsa berteriak pun ia sudah mengiranya, bahkan sedari awal wanita itu masuk ke dalam rumah, Laila sudah menebak kalau dia adalah perempuan selingkuhan suaminya. Tapi mau bagaimana lagi, ia hanya bisa pasrah dan sudah mantap untuk bercerai. Tidak perduli seberapa tebalnya sebuah kalimat penyemangat, tidak akan berguna pada besi yang telah berkarat. Tidak perduli seberapa banyak nasihat terucap, tidak akan didengar oleh orang yang hancur hatinya. "Ya sudah, tapi pagi ini belum ada makanan. Si Laila itu belum masak, dia lebih mementingkan anaknya daripada kita. Kesal ibu tuh, sama dia." kata bu Salsa dengan raut wajah yang terlihat sedih. "Belum masak?" tanya Dito sembari mengernyitkan alisnya. Sementara, Arimbi hanya bisa diam. Ia berharap Dito melakukan sesuatu agar membuatnya puas. "Iya, kamu lihat saja sendiri di meja makan, apa ada makanan yang sudah tersajikan?" kata bu Salsa dengan kesal. Dito pun langsung melangkah menuju kamarnya Laila. Ia sedikit emosi karena pagi ini belum sarapan. "Laila!" kata Dito sambil masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Laila hanya bisa diam. Ia sedang menyusui dan memeluk Arsyila dengan erat. "Kenapa pagi ini belum ada makanan? Harusnya ka–" "Kenapa? Kamu tidak lihat aku ini sedang apa?" sela Laila sambil menatap Dito dengan tajam. "Jangan beralasan apapun. Kalau kamu pintar, kamu bisa menyimpan anakmu dulu di tempat tidurnya. Toh, dia gak bakalan bisa kemana-mana." kata Dito dengan entengnya. "Kamu pikir, Arsyila itu boneka?" sentak Laila sambil melotot. "Kenapa gak suruh perempuan bawaanmu itu yang masak?" "Kamu! Berani-beraninya menyentakku?" kata Dito yang mulai emosi lagi. "Kenapa emangnya, gak boleh?" tantang Laila. Ia mulai berani melawan Dito sampai-sampai Dito terkejut mendengarnya. Dito terlihat menahan amarahnya. "Kamu seharusnya mengerti kalau situasi sekarang ini tidak seperti situasi sebelumnya. Masa iya, Arimbi yang harus masak? Dia kan baru semalam tinggal di sini! Gak pengertian banget sih jadi orang." "Kamu yang tidak pengertian! Seharusnya kamu mengerti keadaan aku, Mas. Aku ini baru saja melahirkan. Seharusnya kalian tidak memperlakukan aku seperti pembantu. Aku capek, Mas. Capek!" bentak Laila dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. "Kamu pikir, kamu saja yang capek? Aku juga capek cari uang buat keluarga." kata Dito yang tidak mau kalah. "Ck, keluarga? Keluarga mana yang sedang kamu nafkahi? Kamu hanya mementingkan diri sendiri saja, Mas. Kamu tidak memikirkan perasaan aku. Jangankan perasaan, belas kasih sayang saja, aku tidak merasakannya dari kamu." kata Laila. Dan tentu saja hal ini terdengar oleh bu Salsa dan juga Arimbi. Mereka berdua segera menghampiri Laila dan Dito yang sedang bertengkar hebat. "Oh ... jadi kamu menyesal nikah sama anak aku, begitu?" sentak bu Salsa. "Tau nih, kamu harusnya bersyukur, bisa tinggal di rumah ini secara layak. Coba kalau aku tidak menikahi kamu, pasti kamu masih menjadi gembel!" kata Dito dengan hina. "Aku lebih baik jadi gembel, daripada aku harus tinggal bersama kalian di sini. Aku benar-benar menyesal, kalau tahu ujungnya akan begini, aku tidak akan sudi menikah dengan kamu, Mas." kata Laila dengan tegas. "Oh, ya sudah, kita cerai saja. Silahkan kamu pergi dari rumah ini! Aku juga tidak sudi punya istri gembel seperti kamu." sentak Dito sembari melotot. "Baik, aku akan pergi, tapi sebelum itu, talak aku dulu. Bila perlu talak tiga sekalian!" kata Laila sembari menangis terisak-isak. Arimbi dan bu Salsa hanya bisa melihat pertengkaran mereka. Ada rasa senang di hati keduanya karena pada akhirnya, Dito akan menceraikan Laila. Akan tetapi, saat Laila meminta talak tiga pada dirinya, Dito malah diam. Ia seperti kesulitan untuk melontarkan kata-kata itu, entah mengapa ada rasa yang sangat tidak bisa diungkapkan secara langsung. "Kenapa diam? Ayo talak aku! Aku dengan senang hati akan menerima talakmu itu, Mas. Biar kamu bisa berbahagia dengan perempuan ini." kata Laila sembari melirik ke arah Arimbi. "Ayo Dito, jangan lama-lama. Ucapkan talakmu itu, biar dia cepat-cepat pergi dari sini. Ibu sudah muak, dia tidak bisa diandalkan!" sambung bu Salsa kepada anaknya. Dito melirik ke arah Arimbi dan juga ibunya. Ia terlihat dilema sekali. Dan sesekali menatap Laila seakan mulutnya sulit mengatakan. "Dito! Jangan diam saja. Ayo ucapkan talak untuk wanita gembel ini!" sentak bu Salsa lagi dengan sorot mata yang tajam."Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya."Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam."Sa—"Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?""Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung.""Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi."Lah, memang kenyataannya begitu
Atas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin."Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar.Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah?"Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa ya
Suara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi."Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang suda
Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk."Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya."Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek."Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila."Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi."Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersa
"Laila!" teriak sang mertua dengan lantang. Entah sedang apa dia, sampai-sampai seisi rumah geger dibuatnya."Laila! Kamu sedang apa sih? Dari tadi di panggil-panggil, ga denger apa!" teriak ibu mertuanya lagi."Iya Bu, Sebentar" sahut Laila dari dalam kamar.Saat ini Laila sedang menyusui buah hatinya yang baru saja lahir duam minggu yang lalu. Tidak bisa dibayangkan dua minggu ini waktunya seperti tidak ada habisnya. Tidak ada jeda atau hanya sekedar duduk dengan santai. Semua yang dilakukannya tidak ada gunanya bagi mereka. Di mata keluarga suami, sebagai musibah. Tapi hal itu tidak dipedulikannya, karena sekarang ini Laila sedang fokus mengurus bayinya sendirian. Jika ia memberontak, pasti semuanya akan kacau. Apalagi ancamnya sangat kejam, yaitu perceraian."Dasar menantu tidak berguna! Mencuci baju saja tidak becus! Di dapur masih berantakan, disini banyak debu. Masa perkejaan seperti ini saja tidak bisa!" teriak mertuanya lagi. Dan hal itu







