Inicio / Romansa / Hati Yang Terluka / Bab 5 *Pergantian Jabatan*

Compartir

Bab 5 *Pergantian Jabatan*

Autor: NhaRa02
last update Última actualización: 2026-01-12 22:37:22

"Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.

Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.

Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya.

"Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam.

"Sa—"

Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?"

"Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"

Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung."

"Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi.

"Lah, memang kenyataannya begitu. Semua orang tidak ada yang percaya, kecuali ucapan mertua kamu. Pantesan aja mertua kamu sewot terus, ternyata kelakuan kamu seperti ini. Udah gembel, kotor lagi." hardik bu Arini.

Berhubung, Rayyan jenuh dengan ucapan bu Arini, akhirnya dia langsung mengajak Laila untuk pergi. "Laila, ayo kita pergi saja!"

Laila pun mengangguk. Ia langsung masuk tanpa berpamitan kepada bu Arini.

"Dasar jalang. Aku laporkan hal ini pada mertuamu. Biar tau rasa." teriak bu Arini penuh emosi. Akan tetapi, hal ini diabaikan Laila, karena mobil Rayyan sudah berlalu jauh.

Laila mungkin menangis, tetapi tidak meneteskan air mata. Secara fisik ia hidup, secara mental telah lama mati. Begitu banyak kata yang terucap, dan begitu banyak beban yang harus ditanggung seorang diri. Bahu lemahnya tak lagi mampu menopang bahkan sepertinya sudah tidak ada harapan, karena Laila telah dihancurkan oleh penghianatan. Beruntung tidak ada benda tajam disekitarnya, jika tidak mungkin sudah lama ia goreskan pada lengannya.

^^^

Sementara di sisi lain, Dito dan Arimbi sudah tiba di kantornya. Mereka satu kantor, tetapi beda ruangan dan beda jabatan. Dito menjabat sebagai manajer keuangan, sedangkan Arimbi berada di posisi marketing pemasaran.

"Pak Dito." teriak seseorang dari belakang. Dia adalah Pak Andi, supervisor di perusahaan itu.

"Iya, Pak." kata Dito sambil melirik ke belakang.

"Kebetulan sekali anda sudah datang tepat waktu." kata pak Andi.

"Iya, Pak. Kebetulan hari ini di jalan tidak macet, jadi bisa berangkat pagi-pagi." kata Dito. Ia berbohong karena memang selama ini datang terlambat terus.

"Oh iya, dua hari ini kan pak Dito tidak masuk kantor, nah ada beberapa informasi penting mengenai perubahan jabatan dan perubahan sistem yang ada di perusahaan ini. Sekarang, pak Dito di mutasikan ke—"

Belum juga pak Andi selesai bicara, Dito langsung menyelanya. "Apa... Aku di mutasikan?"

"Iya, pak Dito. Tenang dulu, ayo kita bicarakan soal ini di ruangan saya." ajak pak Andi.

Pak Andi langsung masuk ke ruangan yang ditempati Dito. Tentu saja hal ini membuat Dito semakin tercengang.

"Tu-tunggu dulu, Pak. Kenapa anda masuk ke ruangan saya? Ini ruangan saya loh! Anda jangan semena-mena masuk tanpa seizin saya." kata Dito sedikit kesal.

" Iya, saya tahu. Kan tadi sudah saya bilang, dua hari ini sistem dan jabatan yang ada di perusahaan ini sudah berbeda. Kalau anda tidak percaya, silakan hubungi pak Direktur saja. Karena beliau yang mengaturnya." kata pak Andi.

Mendengar hal itu, Dito semakin geram. Jabatan manager keuangan yang ia kelola, kini sudah di pegang oleh bawahannya. Dito tidak terima, ia pun marah tanpa tahu jabatan apa yang akan ia pegang setelah dimutasikan ke perusahaan lain.

Dito langsung keluar dari ruangan yang selama ini sudah ia tempati. Ia melangkah dengan hati yang panas. Akan tetapi, saat hendak menuju ke luar pintu utama, Dito bertemu dengan Arimbi.

"Sayang." kata Arimbi senang. Ia memeluk Dito dengan hati yang begitu gembira. Namun, ekspresi Dito sangat bertolak belakang dengan ekspresi Arimbi. Untung saja suasananya masih sepi, jadi tidak ada yang melihat mereka berpelukan.

"Kenapa dengan wajahmu? Kelihatannya tidak senang. Ada apa?" tanya Arimbi saat melepaskan pelukannya.

"Aku turun jabatan. Entah jabatan apa yang pasti aku sudah tidak jadi manager di sini lagi." jawab Dito dengan ketus.

"Turun jabatan? Lah aku sekarang diangkat jadi sekertaris. Kamu tidak tahu jabatan apa yang akan kamu pegang?" tanya Arimbi lagi. Dito pun menggelengkan kepalanya.

"Kamu sudah menemui pak Direktur belum?" tanya Arimbi lagi.

"Malas, lebih baik aku pulang saja." kata Dito.

"Tunggu dulu, lebih baik kamu temui pak Direktur saja. Kan kamu belum tahu jabatan apa yang akan kamu pegang." kata Arimbi menyakinkan Dito.

"Ya udah deh, aku ke ruangan pak Direktur dulu." kata Dito.

"Ya udah, ayo buruan kesana. Tadi aku lihat dia sudah datang. Oh iya, hari ini aku mau pulang saja. Tiba-tiba mendadak gak enak badan." kata Arimbi.

"Kenapa pulang? Kan baru aja masuk." kata Dito mengernyitkan dahinya.

"Nggak tahu, tiba-tiba aja gak enak badan. Udah gitu mual-mual lagi. Ya udah buruan kesana, aku udah izin sama atasan kok. Nanti kamu pulangnya naik ojek online aja ya." kata Arimbi.

"Ya sudah deh, hati-hati di jalan ya." kata Dito.

Arimbi pu mengganguk. Ia pun langsung melangkah keluar pintu utama. Dan sementara Dito, ia langsung menuju ke ruangan Direktur. Setelah tiba di ruang Direktur, Dito mendadak tercengang. Sebab, ada sebuah foto keluarga yang membuatnya sulit dipercaya.

"Dito." kata pak Direktur. Ternyata, Direktur sebelumnya sudah digantikan oleh orang baru yang tidak Dito kenali.

"Silakan duduk." kata pak Direktur lagi. Ia bernama Ardi, selaku Direktur baru di perusahaan ini.

"Bapak ini ..."

"Iya, mulai sekarang perusahaan ini saya pegang kembali. Pak Hendri, sudah tua dan sudah mengundurkan diri. Sebenarnya, perusahaan ini milik saya, hanya saja saya percayakan semuanya pada pak Hendri. Berhubung ada pergantian jabatan, maka saya ubah strukturnya lagi." sela Pak Ardi.

"Oh begitu." kata Dito yang masih kebingungan. Sesekali matanya tertuju pada sebuah foto keluarga yang membuatnya penasaran.

"Nah, sekarang tugasmu mungkin lebih besar dari tugas sebelumnya. Karena ada pergantian jabatan, jadi kamu dimutasikan ke perusahaan yang ada di jalan Sudirman. Kamu tahu kan perusahaan itu?" kata Pak Ardi dengan serius.

"Iya tahu, Pak. Tapi ... jabatan saya sekarang apa?" kata Dito dengan polosnya.

"Jadi, kamu belum tahu?" tanya pak Ardi. Dito pun menggelengkan kepalanya.

"Selamat, mulai sekarang kamu menjadi Direktur di perusahaan Abadi Jaya." kata pak Ardi lagi sambil mengulurkan tangannya.

Dan Dito pun semakin tercengang. Ia juga langsung berjabat tangan dengan pak Ardi.

"Benarkah, Pak?" tanya Dito tercengang. Dan pak Ardi pun menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih." kata Dito sumringah.

"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu sudah menjaga dan menjadi suami yang baik untuk Laila." kata Pak Ardi tersenyum lebar.

"A..pa! Laila?" kata Dito tercengang. Ia mulai tidak enak hati apa yang telah diucapkan oleh atasannya itu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Hati Yang Terluka    Bab 5 *Pergantian Jabatan*

    "Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya."Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam."Sa—"Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?""Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung.""Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi."Lah, memang kenyataannya begitu

  • Hati Yang Terluka    Bab 4 *Entah Harus Kemana*

    Atas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin."Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar.Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah?"Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa ya

  • Hati Yang Terluka    Bab 3 *Cerai*

    Suara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi."Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang suda

  • Hati Yang Terluka    Bab 2 *Tamu Tak Diundang*

    Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk."Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya."Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek."Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila."Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi."Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersa

  • Hati Yang Terluka    Bab 1 *Tidak Pengertian*

    "Laila!" teriak sang mertua dengan lantang. Entah sedang apa dia, sampai-sampai seisi rumah geger dibuatnya."Laila! Kamu sedang apa sih? Dari tadi di panggil-panggil, ga denger apa!" teriak ibu mertuanya lagi."Iya Bu, Sebentar" sahut Laila dari dalam kamar.Saat ini Laila sedang menyusui buah hatinya yang baru saja lahir duam minggu yang lalu. Tidak bisa dibayangkan dua minggu ini waktunya seperti tidak ada habisnya. Tidak ada jeda atau hanya sekedar duduk dengan santai. Semua yang dilakukannya tidak ada gunanya bagi mereka. Di mata keluarga suami, sebagai musibah. Tapi hal itu tidak dipedulikannya, karena sekarang ini Laila sedang fokus mengurus bayinya sendirian. Jika ia memberontak, pasti semuanya akan kacau. Apalagi ancamnya sangat kejam, yaitu perceraian."Dasar menantu tidak berguna! Mencuci baju saja tidak becus! Di dapur masih berantakan, disini  banyak debu. Masa perkejaan seperti ini saja tidak bisa!" teriak mertuanya lagi. Dan hal itu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status